5. kepergian ibu Sartini

1146 Words
Datuk Batara menganggukkan kepalanya dan langsung tersenyum dengan puas. "Sepertinya akan ada kejutan yang lebih besar menanti kerajaan ini! Gadis itu benar-benar membawa keberuntungan!" "Benar-benar sebuah keajaiban! Gadis itu akan membantu kerajaan kita keluar dari semua masalah. Guru berharap kamu segera menemukan keberadaan gadis itu kembali dan segera bawa ke istana dan diberikan penjagaan yang ketat. Guru yakin ada beberapa orang yang tidak ingin kerajaan kita segera menemukan orang dalam ramalan itu dan Bahkan mereka bisa saja melakukan hal licik." "Baik guru! Aku akan kembali menelusuri tempat itu kembali dan kupastikan tidak ada yang kalau begitu berikan restumu guru." Ucap pangeran Tirta sambil membungkukkan badannya. "Baik berhati-hatilah! Guru merestui setiap langkah mu." Pangeran Tirta langsung menghilang dari pandangan datuk batara. "Semoga saja kalian segera menemukan keberadaan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja! Karena sebenarnya gadis itu kelak akan menjadi jodoh kalian. Maafkan guru yang tidak bisa mengatakan sejujurnya Karena guru takut itu akan menjadi perdebatan oleh para tertua di sini dan lebih parahnya lagi akan membuat perpecahan. Apalagi berapa wanita begitu menyukai kalian bahkan sampai rela melakukan apa saja agar bisa menyingkirkan para wanita yang berusaha mendekati kalian. Guru hanya ingin gadis itu selalu aman dan biarlah takdir yang menentukannya perjalanan cinta kalian. Semoga saja kalian bisa menerimanya Karena ini akan membuat langkah besar untuk kerajaan kulon." .....------****-----..... Pangeran Surya dan pangeran Satya segera menelusuri hutan setelah mendapatkan perintah dari gurunya. Mereka semua berteleportasi dari tempat satu ke tempat yang lainnya. "Bagaimana ini kanda? Kita belum juga menemukan gadis itu! Guru hanya memberikan petunjuk jika orang dalam ramalan itu wanita. Sedangkan wanita di kerajaan ini begitu banyak dan bagaimana kita membedakannya?" Ucap pangeran Satya sambil duduk di salah satu batu besar di dekat air terjun di hutan itu. "Bahkan kita sudah beberapa kali menjelajahi hutan ini tetapi selalu tidak ada hasilnya." Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya menikmati angin malam yang begitu menyejukkan. "Entahlah! Tetapi entah kenapa firasatku begitu yakin bahwa gadis itu masih tinggal di area hutan ini tetapi keberadaannya seperti disembunyikan oleh kekuatan yang besar. Hingga membuat kita tidak bisa menemukannya! Mungkin ini salah satu tantangan dan kita tidak boleh menyerah. Apalagi ini semua demi kebaikan kerajaan kita! Apa saja akan aku lakukan dan bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekali pun. Bagi ku itu semua sepadan." Ucap pangeran Surya sambil menatap langit yang penuh dengan bintang. "Benar sekali kanda! Apapun rintangan nya akan kita lewati bersama-sama! Nyawa kita tidak sepadan dengan penderitaan rakyat kita." "Ehmmm.." Demen pangeran Tirta menghentikan percakapan kedua pangeran itu. "Kanda!" Ucap pangeran Satya terkejut saat melihat kakak keduanya sudah ada di sampingnya dan bahkan ia sama sekali tidak merasakan auranya. "Sepertinya kekuatan kanda semakin meningkat Bahkan aku sampai tidak bisa merasakan aura kanda sama sekali." Ucap pangeran Satya dengan tersenyum bangga dan bahkan pangeran Surya pun menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan adik bungsunya itu. "Sebenarnya bukan kekuatanku yang meningkat tetapi aura dari gadis itulah yang menutupinya hingga membuatmu tidak bisa merasakan auraku. Bahkan di saat aku belum melihat wajahnya pun pesonanya begitu sulit di lupakan. Belum lagi aroma dari wanita itu benar-benar membuatku candu." Ucap jujur pangeran Tirta. "Gadis yang mana? Wah wah ini benar-benar kejutan! Seorang panglima kerajaan kulon yang terkenal anti wanita tiba-tiba memuji seorang wanita yang bahkan belum ia lihat wajahnya. Pesonanya sungguh mengerikan!" "Ckck jangan menggoda kanda mu seperti itu! Kamu tidak lihat matanya sudah seperti pisau!" Ucap Pangeran Surya sambil menggelengkan kepalanya dan jujur saja ia terkejut mendengar ucapan adik keduanya barusan. iya dan kedua adiknya dari kecil hidup bersama-sama dan ia sangat mengenal bagaimana sifat kedua adiknya yang mana selama ini adiknya tidak pernah memuji wanita manapun. "Sebenarnya aku sudah bertemu dengan gadis dalam ramalan itu!" Ucap pangeran Tirta Berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Di mana kau bertemu dengannya?" Tanya kedua pangeran itu serempak. "Dia menolongku saat aku terluka tadi siang!" "Benarkah di mana kamu mendapatkan luka? Kenapa kau tidak bercerita dengan kanda!" Ucap pangeran Surya dengan raut wajah yang khawatir. Tajam berbeda pangeran Satya pun menunjukkan ekspresi yang sama. "Luka itu sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun setelah gadis itu mengikat lukaku. Seolah-olah Luka itu tidak pernah ada! Sepertinya kita harus segera mencari keberadaan gadis itu karena gadis itu benar-benar memiliki keajaiban. Bahkan guru pun sampai memujinya." ......-----*****-----...... "Sebenarnya tujuan apa yang membuatku memasuki dunia ini? Rasanya aku seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apapun. Sampai kapan aku harus terkurung seperti ini dan bahkan untuk keluar pun tidak bebas. Sebenarnya aku begitu menyukai tempat ini karena di sini aku bisa mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus tetapi terkadang juga aku merasa takut. Takut akan kebenaran!" Ucap Della sambil menatap langit yang begitu cerah dengan begitu banyak bintang yang menerangi. "Kau tidak perlu bingung putriku! Karena kau sudah ditakdirkan. ikutilah takdirmu karena di situ kau akan menemukan kebahagiaan." Ucap ibu sartini dengan tersenyum menatap gadis cantik di sampingnya itu. "Maksud ibu?" Tanya Dela dengan raut wajah yang penasaran. "Kau akan mengetahui jawabannya suatu saat nanti. Yang jelas kau datang di sini karena sudah takdir dan kamu tidak bisa menolaknya. Kau ditarik ke sini pasti ada sebuah alasan yang jauh lebih besar dari yang kau bayangkan. Tapi ingatlah pasti juga ada rintangan yang harus kau lewati. Tetapi percaya lah semua pasti ada hikmahnya." "Apa ibu tahu jika dela buak bagian tempat ini?" Tanya dela memastikan. Ibu sartini mengganggukan kepalanya. "Ibu sudah tahu dan maafkan ibu kalau selama ini membohongimu. Karena ibu ingin kau terbiasa di dunia ini. Karena dunia ini berbeda dari tempat kamu berasal. Ibu tidak ada maksud buruk kepadamu. Ibu hanya berusaha melindungi mu." "Kenapa harus dela? Dari sekian banyaknya manusia di bumi. kenapa harus dela?" "Karena kau berbeda anak ku! Dan ibu tidak bisa memberikan jawaban yang banyak karena waktu yang akan menjawabnya. Sepertinya ibu juga harus pergi karena ibu masih memiliki tugas yang harus diselesaikan. Percayalah bahwa ini semuanya nyata dan takdirmu ini akan membawamu menuju kebahagiaan yang kau inginkan. Ingatlah setelah ini akan ada yang datang menjemputmu. Ikutlah mereka karena mereka yang akan melindungimu setelah ini. Percayalah pada orang itu karena orang itu yang akan menjadi takdirmu." "Ibu akan pergi ke mana? Kenapa tidak membawa Della saja! Dela tidak mau hidup sendirian lagi ibu! Hidup dalam kesepian. Dela bahagia hidup bersama ibu!" Ucapnya sambil meneteskan air mata. "Tidak bisa putriku! Kau harus tetap di sini karena takdirmu di sini. Percayalah suatu saat kita akan bertemu lagi. Ibu pergi dulu sayang. Ingat selalu tersenyum jangan menangis karena senyummu begitu cantik. Putri ibu adalah wanita yang kuat." "Tapi sebelum ibu pergi, pakailah kalung ini. Kalung ini akan menjadi pelindung mu. Maafkan ibu yang tidak bisa menemanimu seterusnya. Tapi percayalah ini semua demi kebaikan mu sayang." Ibu sartini langsung memberikan kalung itu dan memakaikannya yang mana membuat putrinya itu semakin bercahaya. Bahkan putrinya itu semakin menonjol kan kecantikannya. "Kamu benar-benar cantik putriku! Berhati-hatilah dengan kecantikan mu. Karena kecantikanmu itu bisa membawa petaka." Ucap ibu sartini sambil menghilang menyisakan angin dan rintikan hujan yang seolah-olah merestui kepergiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD