Semua barang yang akan dibawa gadis itu telah terpacking rapi dalam sebuah koper besar dan tas punggung berukuran medium yang kini sudah berdiam cantik didalam bagasi mobil.
“ Nona ada yang ingin saya bicarakan.” Langkah kaki Mutiara terhenti, seorang security berbadan tegap menghadang langkahnya.
“ Ada apa?” alis cantik itu mengerut bingung karena pria itu membawa Mutiara ke balik pos security.
“ Sebenarnya, saya ingin menanyakan hal ini sudah dari beberapa hari yang lalu.” Pria itu menggaruk pelipisnya, seolah bingung hendak dari mana dia bicara, “ Jadi seperti ini, sebenarnya saya melihat anda waktu itu. Pulang di waktu subuh hanya berbalut selimut dan sebuah jas pria.”
Tubuh Mutiara mematung, keringat dingin mulai mengalir disepanjang pelipisnya, “ Apakah bapak mengadu pada kakak?”
Semoga saja tidak!
“ Saya tidak berani bicara sebelum mengkonfirmasi langsung pada anda tentang kejadian yang sebenarnya, nona.”
“ Oh itu, Sebenarnya tidak terjadi hal serius, teman- teman saya sedang sedikit mengerjai saya jadi anda tidak perlu melapor pada kakak!”
“ Begitu.” wajah itu terlihat ragu namun dnegan cepat Mutiara berbicara, “Benar seperti itu, untuk apa saya berbohong?!”
Mendengar suara Mutiara yang mulai naik membuat Security itu tidak enak hati dan memilih percaya saja.
“Iya, Nona.”
“ Terima kasih telah membicarakan hal ini terlebih dulu dengan saya.” Mutiara tersenyum , membalikkan tubuh, meninggalkan security itu dengan mata terpejam dan jemari saling terkepal, memohon ampun pada sang Maha Kuasa karena lagi- lagi berbohong.
Mobil mewah itu berjalan dengan cepat, menembus kemacetan jalanan aspal yang membentang. Gadis yang duduk dibangku belakang itu menatap jalanan yang tidak akan pernah dilihatnya selama beberapa waktu kedepan.
Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke Bandara, mobil itu berhenti dan Narendra dengan cepat mengeluarkan barang yang akan dibawa gadis itu.
“ Hati- hati disana! Sering- seringlah untuk menghubungi rumah dan awasi Nathan dengan baik disana! Kalau bocah satu itu macam- macam kamu langsung lapor rumah, Ok!” senyum Andira, mengelus puncak kepala gadis itu.
“ Iya!” gadis itu mengangguk, kemudian mencium punggung tangan kedua orang dewasa itu takzim.
“ Hati- hati disana! Telepon ke rumah kalau terjadi sesuatu disana!”
“ Ya. Muti pergi! Sampai jumpa lagi!” gadis itu tersenyum melambaikan tangannya pada dua orang itu dan bergabung bersama ratusan penumpang lainnya untuk naik kedalam burung besi.
Perjalanan yang ditempuh hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dan kini gadis itu keluar dari pintu kedatangan dan disambut rentangan lebar pemuda yang berdiri didepannya.
“ Selamat datang!” meraih tubuh kecilnya disertai kecupan singkat di dahi, berulang kali. “ Senang rasanya kamu memutuskan untuk menyusul kakak tercintamu ini!”
“ Kak, lepaskan! Aku malu!” wajah cantik itu memerah, menyembunyikan wajahnya didada sang kakak sembari memukul pelan d**a bidang yang ada didepannya itu.
“ Maaf! Kakak lupa kita ditempat umum!” senyumnya lebar, “ Kita harus cepat pulang karena kamu pasti lelah!” ujarnya seraya meraih koper serta mengambil alih tas punggung gadis itu.
Mobil yang mereka kendarai berhenti didepan sebuah apartement mewah, jemari Nathan dengan cepat menekan Pin dan pintu itu terbuka.
“ Selamat datang dihunian kita!” senyumnya lebar, menarik gadis itu untuk mengikuti langkahnya, “ Dan ini adalah kamar milikmu!” ujarnya dengan membuka sebuah pintu.
“ Kenapa harus Pink, seperti kamar- kamar barbie?!” gadis itu menyergit, menatap sekeliling kamar yang lebih mirip seperti kamar anak kecil itu, bayangkan saja ranjang bertiang empat dengan kelambu pink dan tembok juga berwana PINK!
Kamarnya yang di rumah saja tidak seperti itu!
“ Hanya ini yang terpikir dikepalaku saat kamu akan datang!”
“ Baiklah untuk sementara tidak masalah!” gadis itu tetap cemberut sebelum melangkah memasuki ruangan dan melemparkan diri diatas ranjang yang empuk.
“ Tidurlah! Kalau sudah waktu makan malam, akan kakak bangunkan!” Pintu tertutup bersamaan dengan tertutupnya manic bulat itu.
‘ Semoga semuanya baik- baik saja setelah ini!’
Mutiara yang terbiasa bangun pagi langsung turun dari atas ranjang, merapikan selimut serta menarik kelambu yang membentang diantara tiang ranjang, melipatnya lalu memasukkanya kedalam almari paling bawah. Setelah selesai membasuh wajah dan gosok gigi, gadis itu membuka pintu, berjalan dengan perlahan kearah dapur dan membuka pintu kulkas.
Bahan yang tersedia didalamnya cukup lengkap mengingat sang kakak tidak bisa makan sembarangan. Dengan cepat gadis itu mengeluarkan bahan- bahan didalamnya kemudian mulai mengupas bumbu dan menyalakan kompor.
Suara sodet yang beradu dengan penggorengan itu mulai memenuhi ruangan disertai aroma harum dari bumbu yang berada didalamnya.
“ Hampir saja kuambil sapu dan melemparnya padamu!” suara mengantuk itu datang dari arah belakang, dengan rambut acak- acakan dan bibir menguap lebar, Nathan membuka pintu kulkas, mengambil air minum dingin dan meneguknya. “ Masak apa?” wajah pria itu mendekat, mengendus isi penggorengan.
“ Jorok! Cuci muka dulu sana!” kesalnya dengan mendorong wajah bantal itu menjauh.
“ Iya! Bawel sekali!” Nathan pergi dan kembali lagi setelah sarapan tersaji diatas meja bar.
“ Apakah kamu mau ikut ke kampus?”
“ Apakah boleh?!” manic itu berbinar.
“ Tentu saja boleh. Kamu bisa berkeliling dan melihat- lihat situasi disana.”
“ Ok! Jadi jam berapa kita berangkat?!”
“ Jam setengah Sembilan.” Tunjuknya pada jam yang tergantung diatas dinding, Mutiara mengikuti arah pandang sang kakak dan terpekik.
“ Ish!” dengan cepat gadis itu melahap sarapannya kemudian meneguk s**u miliknya dengan terburu- buru.
“ Pelan- Pelan!”
“ Ini salah kakak, kenapa tidak bilang dari tadi!” gadis itu kesal, pasalnya kini jam sudah jam 08.00, dia belum mandi, belum memikirkan baju apa yang akan dipakai, belum menata rambut juga!
“ Aku akan mandi, kakak bereskan semua, Ok!” gadis itu berlari menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Mandi sangat kilat, tidak sampai sepuluh menit dan kini gadis itu duduk bersimpuh di depan kopernya, mengobrak- abrik baju yang belum sempat masuk almari itu.
“ Pakai yang mana?!” satu persatu pakaian berhamburan dilantai hingga akhirnya pilihannya jatuh pada floral dress selutut berwarna Purple dan cardigan untuk menutupi lengannya yang telanjang.
“ Dek, apakah masih lama?!” teriakan dan ketukan pintu mulai terdengar.
“ Sepuluh menit lagi!” teriaknya kencang, masih sibuk menata rambutnya dengan catokan.
“ Sudah setengah Sembilan!” pintu dibuka dengan paksa dan pemuda itu bersendekap didepan pintu. “ Kita akan terlambat, taruh catokanmu itu kalau masih mau ikut denganku sekarang!”
“ Ish!” dengan kesal, Mutiara mencabut kabel yang terhubung dengan stop kontak, merapikan sejenak rambutnya dengan tangan kemudian memakai liptint serta memoles wajahnya dengan BB cream serta bedak tabur.
“ Satu menit!”
“ Iya!” Mutiara mengambil Sneakers putih dan langsung berlari mengejar langkah lebar Nathan.
“ Tunggu!” pemuda itu berbalik, berjongkok didepan gadis itu dan mengikat tali sepatunya.
“ Ceroboh sekali! Sejak kapan kamu lupa mengikat tali sepatu?!” omelnya.
“ Maaf, tadi terburu- buru!”
“ Jangan diulangi lagi!” tangan itu terangkat hendak mengacak puncak kepala gadis itu namun segera ditahan.
“ Aku sudah dewasa dan jangan merusak rambutku yang sudah dicatok!”
“ Kenapa kamu jadi centil, sih!” cubitan itu keras, membuat Mutiara berteriak kesakitan.
Mobil yang dikemudikan Nathan berhenti dipelataran parkir khusus mahasiswa.
“ Ayo!” tangan besar itu terulur, menggenggam jemari mungil Muti untuk mengikuti langkahnya.
“ Universitas ini sepertinya bagus.” Pujinya, sembari menoleh ke kanan dan kiri sepanjang jalan.
“ Duduklah disini!” Nathan membawa masuk sang adik kedalam sebuah ruangan dan memintanya duduk dibangku kosong disebelahnya.
“ Hai Nathan!” beberapa orang pemuda mendekat, menyapa pemuda itu akrab
“ Siapa? Apakah pacar barumu?” goda seorang pemuda, menaik turunkan alisnya kearah Mutiara, membuat wanita muda itu beringsut, menundukan kepalanya jemari bergetar, masih terlihat takut bertemu dengan orang baru
“ Sembarangan! Dia adik cantikku! Dan awas kalian, jangan pernah mendekati atau menggoda dia kalau tidak mau mendapatkan bogem mentah dariku!”
“ Galak sekali! Padahal aku hanya bertanya!” kekeh yang lain.
“ Dia Mutiara.” Ujar Nathan, “ Yang disebelah sana Sandy si ketua Basket, Anwar si anak BEM dan itu Santoso!”
“ Hai salam kenal semua!” Mutiara tersenyum tipis. Setelah semua temannnya pergi, Nathan langsung menolehkan kepalanya, mengelus puncak kepala Mutiara dengan lembut, “ Jangan takut, mereka orang baik!”
“ Iya.” Anggukan itu pelan.
Setelahnya sang dosen datang dan hampir 2 jam pria paruh bay aitu mengajar didepan kelas dan satu- persatu dari mereka keluar.
“ Ayo!” Nathan meraih tangan Muti dengan cepat membawa gadis itu untuk mendekat kearah pria paruh baya yang tadi telah memberikan bahan ajarnya.
“ Selamat Siang Pak Prambudi!”
“ Siang Nathan dan?”
“ Ini adik saya yang waktu itu saya ceritakan pada anda!”
“ Benarkah?” pria botak berkaca mata itu langsung tersenyum, mengulurkan tangan dan menjabat tangan Muti.
“ Selamat siang Pak, saya Mutiara.”
“ Senang akhirnya saya bertemu denganmu! Terlebih saat melihat nilai- nilai yang ditunjukkan kakakmu ini pada saya.” Ketiganyapun berjalan beriringan, “ Saya tidak bisa langsung memintamu untuk masuk ke salah satu jurusan begitu saja seperti apa yang kakakmu itu mau. “ pria itu membuka tas kerjanya dan mengulurkan beberapa buah brosur pada Muti.
“ Kamu bisa membacanya sembari memilah- milah jurusan apa yang ingin kamu ambil nantinya.”
“ Iya terima kasih!” manic jernih itu langsung bekerja, membaca setiap kata yang tertulis dalam brosur.
“ Pilihlah jurusan yang kamu mau dan hubungi bapak setelahnya!”
“ Baik Pak! Terima kasih!” Pertemuan itu berlangsung singkat karena beliau sudah harus kembali mengajar. Kedua saudara itu berkeliling dengan bebas disekeliling kampus dan berakhir di lapangan basket outdoor, disana sudah ada Sandy dan teamnya sedang berlatih.
“ Hai!” nafas pemuda itu terengah- engah dan duduk begitu saja di tribun, disebelah Nathan.
“ Jadi mau masuk jurusan apa?” pemuda itu bertanya sebelum meneguk air dinginnya.
“ Dia perlu berpikir, toh waktunya masih panjang!” ucap Nathan tersenyum sayang kearah gadis itu dan mengacak puncak kepalanya.