Wanita cantik nan Arrogant

1862 Words
Mutiara telah menentukan jurusan yang akan diambilnya dan mengisi formulir pendaftaran beberapa waktu yang lalu. Dan kini setelah kembali mengecek situs Universitas gadis itu mematikan layar macbooknya, menghampiri sang kakak yang tengah bersantai di ruang tengah. “ Kapan Ospeknya?” “ Belum ada pengumuman resmi.” Gadis itu mendesah, meraih remote yang ada didepan meja dan mengganti siaran sesuka hati. “ Apakah kamu mau makan sesuatu?” pemuda itu bersuara, “ Mulutku gatal sekali ingin mengunyah sesuatu!” “ Boleh! Mau delivery?” “ Tidak, kita keluar saja sekalian cari angin!” Kedua saudara itu langsung bangkit dari atas sofa, berjalan menuju kamar masing- masing untuk mengambil jacket serta dompet kemudian bersama-sama keluar dari bangunan itu. Langkah lebar Nathan melambat, menyesuaikan langkah kaki kecil sang adik dan berhenti didepan minimarket tidak jauh dari apartement. “ Ambil yang kamu mau! Biar kakak yang bayar!” “ Ok!” Mutiara tersenyum lebar, mengambil keranjang kecil dan mulai berkeliling seorang diri, mengambil snack, mie instan, dan buah segar. Langkah kakinya yang semangat melambat saat didepan spot minuman dingin, seorang wanita menyandarkan dahinya di depan showcase cooler, mengukir dengan acak didepan kaca  sembari meracau tidak jelas. “ B*ngsat! Harusnya kalian membayar semua hal menjijikkan yang sudah kalian lakukan! Kalian harusnya membusuk di neraka!” teriakkan itu keras disertai pukulan-pukulan kasar pada tempat minuman itu kemudian jatuh tersungkur didepannya. Mutiara mendekat, menggoyangkan tubuh berbalut jacket denim itu berulang kali, memastikan apakah wanita itu masih hidup atau hanya sekedar pingsan. Dan benar saja, bau menyengat dari alkhol keluar dari sana. Mabuk dihari yang bahkan belum terlalu malam! “ Nona, bangun!”goyangankan tubuh itu sembari menahan bau. Goyangan itu semakin kasar namun wanita tidak sama sekali tidak merespon, “ Sebaiknya aku cari bantuan!” gadis itu bangkit, meninggalkan keranjangnya disamping si wanita dan berlari menuju arah kasir. “ Ada apa?” langkahnya terhenti, lengannya ditarik oleh sang kakak. “ Ada orang pingsan! Ayo ikut aku!” ajaknya menuju tempat tadi, menunjuk pada si wanita yang masih berada diposisi yang sama tadi. “ Itu!” Nathan mendekat, “ Wanita ini mabuk Muti!” “ Iya aku tahu! Tapi kita harus tetap menolongnya!” ibanya, dia tidak mau wanita ini mengalami nasib sama sepertinya dulu, dimanfaatkan oleh b*jingan menjijikkan saat dirinya tengah hilang kesadaran. “Nona, bangun!” Nathan, pria itu terpaksa menyandarkan tubuh wanita itu di bahunya. Tanpa ragu menepuk pipi cantik itu berulang kali sampai akhirnya mata abu-abu gelap terbuka “ Ambilkan dia s**u dingin!” “ Iya!” Mutiara bangkit, membuka wadah besar itu dan mengambil s**u yang berada didalamnya. “ Minum ini!” Nathan yang menerima s**u kalengan dingin itu segera membantu sang wanita untuk meneguk cairan putih itu. Uhuk! “ Perlahan!” tegur Nathan dan meletakkan botol itu setelah dirasa cukup. “ Apakah anda bisa berdiri?” Wanita itu mendorong tubuh Nathan menjauh, berdiri dengan sempoyongan, “ Tentu saja aku bisa berdiri! Jangan anggap aku lemah anak kecil!” seringainya, menepuk pipi Nathan berulang kali sebelum pergi menjauh dengan langkahnya yang sempoyongan. “ Tidak punya sopan santun!” kesalnya pada wanita itu. “ Biarkan saja! Anggap saja beramal!” senyum gadis itu lebar, menatap wanita itu lega, sepertinya wanita itu kuat dan bisa menghajar siapapun yang berani menganggunya. “ Benar, anggap saja tadi sejenis kucing liar yang kesasar!” mengacak puncak kepala itu,” Apakah belanjamu sudah?” “ Sebentar!” gadis itu mengambil beberapa botol minuman dingin dan memasukkannya kedalam keranjang, “ Sudah!” “ Kubilang beri aku rokok!” suara itu terdengar dengan keras, wanita mabuk tadi nyatanya tidak pergi, dia mencengkram kerah sang kasir ( wanita)  yang terlihat lebih pendek darinya itu. “ Maaf nona, tadi nona berkata tidak bawa uang jadi kami tidak bisa memberi anda barang yang anda pinta!” jelas pemuda yang berdiri disamping temannya itu. “ Aku bilang, aku akan membayarnya nanti! Apa kalian tuli?!” teriaknya keras. “ Beri dia barang yang dia mau, biar saya yang bayar!” Nathan mendekat, melepaskan jemari wanita itu dari si kasir wanita yang terlihat sudah keringat dingin sedari tadi. “ Ah, anak kecil ini lagi!” wanita itu mendekat perlahan, jemarinya terulur kedepan, mengelus kulit halus Nathan dengan kuku merahnya. “ Berniat menjadi Super Hero? Tapi tidak masalah berkatmu aku mendapatkan apa yang kumau!” manic abu gelap itu menatap tajam pemuda yang ada didepannya, seolah berusaha mengikat tanpa ketara. “ Ini rokok yang nona pinta!” suara kasir itu mengintrupsi dengan cepat. “ Kamu yang bayar!” wanita itu tersenyum merebut dengan paksa rokok yang masih berada ditangan si kasir kemudian berlalu begitu saja. “ Hitung rokok tadi sekalian dengan belanjaan kami berdua!” Nathan menyerahkan keranjang miliknya beserta milik Muti kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru dari balik dompetnya. “ Wanita tadi mengerikan!” ujar Nathan. Langkah mereka perlahan, menikmati dinginnnya malam dengan meneguk minuman dingin yang berada ditangan masing- masing. “ Apa itu?” Mutiara sedikit berlari, mendekat pada bangku taman yang terlihat tidak seperti biasanya. “ Muti!” adiknya melihat apa sih?! “ Eh!” Mutiara menyalakan senter pada ponselnya dan mendapati wanita mabuk tadi berbaring terlungkup disana, jemarinya yang bebas menggenggam sebatang rokok yang masih menyala. “ Sudah! Jangan hiraukan orang gila itu lagi!” “ Tapi kasihan! Tidakkan Kakak berpikir dia ini wanita depresi! Dia butuh pertolongan!” “ Lalu maumu apa?” “ Setidaknya kita bawa dia pulang, tidak aman membiarkan seorang wanita  secantik ini diluar begitu saja.” Ya patut diakui wanita itu sangat cantik dengan wajah tirus, hidung yang kecil, alis dan kelopak mata yang lebat disertai bibir tipis yang menggoda. “ Baiklah apapun maumu!” Nathan pasrah, dengan cepat pemuda itu merebut rokok dari genggaman wanita itu tanpa perlawanan kemudian meminta sang adik untuk membantu wanita itu naik keatas punggungnya. “ Berat sekali!” keluh pemuda itu. “ Amal!” kata Muti dengan senyum lebarnya. “ Iya, terserah apa katamu!” kesal Nathan, berjalan dengan beban dipunggungnya dan untuk barang belanjaan terpaksa harus Muti sendiri yang membawanya. “ Punggungmu hangat!” wanita itu merancau, mengendus tekuk Nathan berulang kali sebelum terkikik, bahkan kini hidungnya semakin mendekat berbisik ditelinga pemuda itu. “ Aku suka!” “ Hey, hentikan wanita gila!” Nathan berteriak kegelian dan ingin melemparkan saja wanita yang berada dipunggungnya itu ketempat sampah! “ Sialan geli!” “ Kak, biarkan saja! Dia mabuk!” “ Tapi geli Mutiara!” Pintu apartement itu terbuka, dengan kesal Nathan membanting tubuh wanita itu ke sofa ruang tengah dan berkacak pinggang. “ Harusnya tadi kamu biarkan kakak membuangnya ke tong sampah didepan sana!” “ Jangan jadi orang jahat!” kesal Mutiara, memukul punggung pemuda itu dengan kepalan tangan mungilnya. “ Ish, anak ini! Kita tidak selamanya bisa berbuat baik pada orang Mutiara! Siapa tahu wanita ini pencuri atau wanita nakal!” “ Terserah apa kata kakak, yang penting sekarang bawa dia  masuk kedalam kamar!” “ Tidak bisa! Biarkan saja dia disini!” Nathan masa bodo dan berlalu begitu saja. “ Baiklah biar aku saja yang membawanya!” Mutiara dengan cepat meraih lengan wanita itu, berniat membawanya sendiri kedalam kamar miliknya. “ Cukup!” Nathan tidak jadi pergi, pemuda itu mengambil alih tubuh wanita asing itu dalam rangkulannya. “Wanita gila ini akan tidur dikamar kakak dan kakak akan tidur di sofa depan tv. Kamu sendiri tidur sana, sudah malam!” “ Iya!” Mutiara mengangguk, mengamati langkah Nathan yang menghilang dibalik pintunya sebelum masuk kedalam kamarnya sendiri. “ Merepotkan!” kesal Nathan, sekali lagi membanting tubuh wanita itu keatas ranjangnya. Kemudian melepaskan sepatu hak tinggi yang membungkus kaki jenjang itu dan menarik selimut tebal untuk dia bawa keluar. Yah, malam ini pemuda itu harus rela tidur di luar! “ Baik sekali aku ini!” kesalnya pada diri sendiri, berjalan menuju arah pintu dan mematikan lampunya. “ Kamu bukan baik tapi bodoh!” “ Apa?” dibantu penerangan dari lampu ruang tengah, Nathan bisa melihat sosok itu, duduk dengan bersadar dikepala ranjang. “ Saya rasa anda sudah sadar, Nona! Sebaiknya anda pulang kerumah anda sendiri!” Sialan , harusnya Nathan tahu kalau perempuan ini pura- pura! “ Tidak mau!” wanita itu tersenyum, “ Apa yang akan dikatakan adik kecilmu saat tahu bahwa kakaknya mengusir wanita yang telah ditolongnya?” “ Sialan!” “ Kamu mengumpatiku?!” manic itu menajam sebelum bangkit dari atas ranjang dan mendekati pemuda itu. “ Apa maumu?!” Nathan terbelalak lebar, gadis yang tingginya tidak beda jauh darinya itu semakin mendekat, tersenyum dengan rona mengerikan. “ Mauku? Apakah kamu ingin tahu?” wajah itu mendekat, berhenti diceruk tegap pria itu cukup lama sembari mengendusnya pelan. Cup! “ Hey!” wajah Nathan memerah, menakup wajah wanita itu dan menjauhkan dari ceruk lehernya. Dalam sekejap mata, wanita itu menguasai keadaan, tubuh Nathan didorong dengan kasar keatas ranjang dengan tangan dicengkram dengan erat diatas kepala. “ Naif dan polos!” bisiknya ditelinga itu kemudian tertawa dengan jahat. “ Wanita sialan!” “ Hey jangan berteriak, apa kamu mau adik kecilmu itu mendengar suara kakaknya yang sedang bergulat dengan wanita?” “ Sialan!” “ Terima kasih!” “ Wanita gila!” teriak Nathan marah. “ Tenanglah anak muda!” dengan kurang ajarnya, jemarinya lentik itu masuk kedalam kaos Nathan, menyusuri d**a bidang yang terengah- engah karena amarah itu dengan belaian lembut menggoda. “ Jangan macam- macam kamu!” suara Nathan berubah serak, wajahnya kian memerah. “ Lihat, kamu seperti seorang gadis kecil yang pasrah dibawah kungkungan Om- om genit!” bisiknya lirih kemudian menggigit cuping telinga itu lembut. “ Nikmati apa yang ada didepanmu selagi bisa!” “ Dasar tante binal!” geraman itu semakin menjadi dan membalikkan tubuh wanita itu dalam kungkungannya. “ Lihat siapa yang kamu sebut gadis kecil, hah?!” wajah itu memerah marah siap menerkam wanita itu dan mencabik- cabiknya menjadi potongan- potongan kecil dan membuangnya ke tong sampah. “ Apa aku terlihat seperti itu? Lakukan saja, kalau kamu berani!” wanita itu tersenyum, menggigit bibir cantiknya menggoda. “B*tch!” Makian itu keras sebelum kepalanya ditarik kebawah, untuk beradu dengan bibir beraroma menyengat itu dan saling menautkan lidah dan menggigit satu sama lain disertai remasan sensual jemari wanita nakal yang berhasil melepaskan kaos yang membelit tubuh atas pemuda itu. “Ah!” Serena itu mengeram panjang saat bibir pemuda yang berada didepannya menyerang leher jenjangnya, menghisap dan menggigitnya dengan tidak sabar. “Kau seperti perjaka yang baru bertemu dengan wanita.” Ejek wanita itu dibalik desahannya. “Gigit yang keras!” perintah Serena lagi dengan jemari menjalar ke rambut tebal pemuda itu, menjambaknya dengan keras saat Nathan semakin nakal. “Krek!” suara robekan baju itu terdengar dengan keras, pakaian yang dipakai wanita muda itu robek karena ulah jemari Nathan. Dengan tidak sabar wajah pemuda itu langsung tenggelam, tersembunyi dalam lembah hangat sang wanita yang tersembunyi cantik di balik dalamannya yang berenda. “Pelan- pelan Boy, kita masih punya banyak waktu…” “ Kak!” Suara lain datang dan Wanita langsung menakup wajah Nathan sembari berucap dengan senyum cantiknya, “ Oh maaf, apakah suara kami sangat keras sampai membangunkanmu dari tidur?” Kalimat itu sontak membuat Nathan tersiram air dingin, pemuda itu langsung menolehkan wajahnya dan terbelalak lebar, menatap sosok kecil yang mematung didepan pintu kamar yang masih terbuka lebar. “Sh*T” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD