Makan Malam Keluarga Danudirja

1937 Words
Mobil mewah itu berhenti dipelataran rumah, sang supir dengan cepat keluar dari balik kemudi dan membukakan pintu untuk sang nona yang duduk dibangku belakang. Serena, wanita muda itu dengan akuhnya masuk kedalam rumah. Ketukan sepatu hak tinggi yang dipakainya itu menarik perhatian pria yang duduk di ruang tengah itu. “ Dimana semalam kamu menginap?” suara berat itu membuat si wanita menghentikan langkahnya. “ Untuk apa kau berada di rumahku, Xavier?” wanita itu melepas kaca mata hitam yang dipakainya, bersendekap menatap sang kakak yang duduk angkuh diatas sofa single berwarna hitam. “ Dan dimana semalam aku menginap itu sama sekali bukan urusanmu!” “ Pikirkan pandangan orang apabila mereka menangkapmu berbuat cacat Serena!” “ Aku cacat? Lalu bagaimana dengan dirimu? Tukang tebar benih! Bagaimana jika suatu hari ada seorang p*lacur datang dengan membawa bayi hasil hubungan menjijikkanmu?!” wajah wanita itu menyeringai, “Xavier, kita berdua tidak seakrab itu untuk saling khawatir, jadi jangan pura- pura sok perduli padaku!” ujarnya culas sebelum pergi kelantai 2 dimana kamarnya berada. “ Wanita mengerikan!” pria itu bergumam lirih, kemudian kembali membaca tablet yang berada ditelapak tangannya. Sedangkan Serena sendiri membanting tubuhnya diatas ranjang, menatap langit kamarnya yang tinggi dengan pandangan menerawang kejadian beberapa waktu yang lalu. Dua pasang saudara itu duduk didepannya, menatap dengan pandangan yang berbeda padanya yang satunya kesal yang satunya marah. “ Katakan dimana rumah anda, saya akan pesan taksi!” tanduk kepala pemuda itu muncul, menatap tajam seolah siap menghancurkan Serena kala itu. “ Tapi, ..” “ Apa sih Dek, wanita ini harus pulang ke rumahnya sekarang!” “ Tapi ini sudah hampir tengah malam, sangat tidak pantas, kita tunggu saja matahari terbit.” “ Kita tidak bisa menahan wanita mengerikan ini lebih lama! Lihat sendiri apa yang dilakukan wanita itu padaku, dia mencoba memperkosa kakakmu ini!” “ Tapi yang kulihat malah sebaliknya.” Manic hitam itu menatap sang kakak menuduh. “ Kakak yang akan berbuat seperti itu!” “ Demi Tuhan! Dia sendiri yang mulai, dia bahkan yang membuka baju kakak tadi!” Nathan frustasi sendiri. “Dan kakak merobek bajunya!” wajah Mutiara semakin tajam.” Kakak berniat melakukan sesuatu yang terlarang!” “Ok. Kakak khilaf!” Nathan menarik nafas panjang, meredakan emosi yang menguasai dirinya. Ya, ini salah Nathan juga. Dia kelepasan kontrol dan hampir berbuat sesuatu yang tidak pantas. Contoh yang buruk sekali untuk adiknya! “ Sudahkan kalian berdebat?” Serena sudah bosan, mendengar perdebatan tidak penting dua saudara itu. “ Anda harus pulang sekarang nona!” “ Kak, tidak baik wanita naik taksi seorang diri tengah malam seperti ini! Lagipula sebagai laki- laki, Kakak harus bertanggung jawab atas apa yang kakak perbuat tadi!” “Arg!” Nathan lantas bangkit dari duduknya kesal. “Kakak mau kemana?” “Keluar sebentar!” Karena Mutiara melarang wanita itu pergi maka Nathan saja yang pergi dari sana.   Nathan menatap wanita yang duduk disamping adiknya itu dengan kesal sebelum menghilangn dari balik pintu apartment. “ Karena ranjangnya kecil, Nona tidur saja diatas saya yang dibawah!” ujar gadis itu sebelum membuka almari, mengeluarkan beberapa selimut tebal dari balik almari besarnya,  menata dengan nyaman di atas karpet kemudian berbaring diatasnya dengan boneka beruang kecil sebagai bantal. “ Selamat tidur!” gadis itu tersenyum sebelum memejamkan mata bulatnya sedangkan Serena sendiri menatap langit- langit kamar yang gelap itu dengan sedikit menerawang, berpikir kapan dirinya dan sang kakak akrab seperti itu, rasanya tidak pernah. Mereka sudah bermusuhan sejak kecil, sejak keduanya sadar dilahirkan dalam rahim yang berbeda serta mengerti arti kata uang dan kekuasaan. Terlalu lama mengenang masa lalu membuat Serena menguap lebar kemudian terlelap tidak lama setelahnya dan mungkin matahari sudah tinggi saat wanita  itu bangun, sedikit menggeliatkan tubuh sembari mengamati keadaan sekitar dengan senyum mengejek, anak kecil seperti ini mana mengerti tentang uang dan kekuasaan, Serena yakin sekali kedua orang itu masih sangat suci. “ Nona sudah bangun, apakah anda lapar?” langkah kakinya disambut oleh si gadis kecil dengan alat vacumnya. “ Saya buat nasi goreng seafood tadi, nona tunggu sebentar di meja makan biar kuhangatkan dulu nasinya!” Serena tidak menjawab, manic abu gelap itu hanya mengamati apa yang dilakukan gadis itu sembari duduk dimeja bar. Sepiring nasi goreng seafood tersaji dengan dengan apik didepan Serena, aroma harum dan warna menggoda membuat perut dan mulut wanita itu tidak menolak makanan yang tersaji didepannya itu. “ Mana ponselmu!” tangan Serena terulur. “ Sebentar!” gadis itu terlihat masuk ke dalam kamar pinknya kemudian datang dengan benda layar datar, “ Ini!” Serena segera menekan sederet angka dan tidak butuh waktu lama bagi penerima diujung sana untuk menjawab. “ Selamat pagi, dengan kediaman Wijaya ada yang bisa kami bantu?” “ Kirimkan supir sekarang! Alamatnya akan kukirim nanti!” “ Baik Nona Serena!” sambungan tertutup, dan wanita bernama Serena itu mengembalika ponsel pada pemiliknya. “ Nona, bisakah saya mendapatkan nomor anda?” “ Untuk apa?” “ Untuk berjaga- jaga, seandainya sesuatu terjadi pada anda!” gadis itu memilin jemarinya dibawah meja, “ Kakak saya harus bertanggung jawab, kan?!” Polos sekali kau! “Tidak perlu! Anggap saja kau tidak melihat apapun semalam!” ucap wanita yang kini memakai salah satu kaos longgar Mutiara itu. “Tapi kalian berdua …” “Kami tidak melakukan s*x jadi kau jangan terlalu khawatir tentang hal sepele seperti itu!”  Sekitar 15 menit kemudian sang supir datang, menekan bel apartement, membawa Serena pergi dengan mobil mewahnya. Dan kini waktu berlalu Serena mematut penampilannya didepan cermin besar, sebuah gaun merah sepanjang mata kaki dengan belahan panjang setengah paha, rambut hitam panjang ditata bergelombang ditambah warna liptik merah darah sukses membuat tampilan Serena semakin memukau dan menggoda. “ Done!” wanita itu mengambil clutch warna  hitam yang berada diatas nakas kemudian turun kelantai satu menemui sang Ayah yang telah menunggu dengan setelah jas armaninya dan jangan coba tanyakan Xavier, Serena tidak perduli dengan kakaknya itu. Mobil mewah yang membawa dua orang Wijaya itu menyusuri jalanan yang padat dan berhenti sebuah rumah mewah, pagar tinggi berwarna hitamnya menjulang tinggi seolah menunjukkan kekuasaan yang dimiliki keluarga besar itu. “ Selamat malam, Tuan Wijaya. Kami senang sekali anda beserta keluarga bersedia hadir dikediaman kami yang sempit ini!” Danudirja, pria paruh baya itu menyambut sang tamu dengan senyum lebarnya. “ Kami yang harusnya berterima kasih karena anda berkenan mengundang kami untuk hadir dikediaman anda.” Senyum itu terukir di bibir Mitch, tapi Serena tahu sang Ayah hanya tersenyum basa- basi. “ Dan ini? Apakah dia Serena?” menatap putri Mitch dengan kagum, “ Kamu tumbuh dengan baik dan cantik sekali!” “ Uncle memang tidak salah memuji saya. Saya memang ditakdirkan untuk itu!” ujarnya kaku. “ Lalu dimana putra anda? Xavier?” manic tua si pemilik rumah berpendar, mencari pria menawan yang menjadi anggota keluarga Wijaya itu. “ Xavier mungkin akan sedikit terlambat, ada beberapa hal penting yang harus dia urus!” “ Ya, saya sangat maklum. Sebaiknya kita segera masuk kedalam!” dengan sopan meminta sang tamu masuk dan membawanya ke ruang tengah, disana sang Nyonya rumah terlihat sibuk menata kudapan untuk para tamu bersama beberapa orang pelayan sedangkan putra dan putri keluarga itu hanya duduk dengan bosannya di sofa. “ Sayang, mereka sudah datang!” seruan itu menghentikan sang istri. “ Ya ampun, maaf masih sangat berantakan!” wanita paruh baya itu tersenyum, menyambut Serena dan Mitch dengan senyum lebarnya, “ Selamat datang dikediaman kami yang sederhana ini!” senyumnya sungkan, “ Apakah kamu Serena?” tanyanya lagi, manic tuanya bersorot kagum menatap wanita yang terlihat rupawan itu, “ Kamu tumbuh dengan sangat baik, Nak! Persis sekali dengan Almarhumah Martha, sangat cantik!” jemarinya menakup wajah Serena. “ Terima kasih aunty!” Tidak nama Mamaku Ratna Ayu Ningrum bukan Martha Kaleana! “ Kemarilah, Aunty akan memperkenalkanmu pada putra- putri aunty!” “ William dan Carrol!” Wanita bernama Carrol itu hanya menjabat tangannya acuh sedangkan William, pria yang nyatanya genit itu meraih jemari lentik Serena, mengecupnya lama dengan wajah menyeringainya yang menjijikkan. “ Lalu dimana kakakmu?” manic tua Nyonya rumah menatap seseorang yang berjalan dibelakang tamunya dengan senyum lebar, “ Xavier!” dengan sok akrab menepuk lengan Xavier dengan bangga. “ Maafkan atas keterlambatan saya, Tuan dan Nyonya Danudirja!” “ Tidak masalah, Ayah dan adikmu juga baru datang.” Senyumnya kemudian mempersilahkan para tamu untuk duduk di ruangan hangat itu. Acara basa- basi hanya berlangsung singkat diruang tengah sebelum sang tuan rumah membawa ketiga tamunya untuk santap malam. “ Maaf hanya ini yang mampu kami sajikan untuk anda Tuan Wijaya!” “ Anda terlalu berlebihan dalam menyambut kami sekeluarga Tuan dan Nyonya!” Senyum Mitch. Hidangan mewah dan beraneka ragam tersaji diatas meja makan, dentingan alat makan  serta senyum ringan dan puja- puji palsu terus menggaung ditengah acara itu. Dan dari sudut manic abu gelapnya, Serena melihat itu dengan seringainya, Xavier sang kakak terlihat duduk dengan dengan tenang sembari memotong daging yang ada diatas piring namun dibalik itu semua, Serena tahu, Carol wanita kegenitan yang terus menempel pada kakaknya itu sangat tidak santai bahkan berulang kali mencoba menggoda sang Kakak dengan senyum manis dan sentuhan- sentuhan kecil dibawah meja. “ Menjijikkan!” ujar Serena pelan sembari menyesap Wine yang berada ditangannya. Makan malam usai dan para orang tua membiarkan para muda- mudi untuk melakukan kegiatan sesuka mereka. Serena dengan cepat pergi, menghindari William, pria mata keranjang yang terus mencoba menjeratnya dengan cara kampungan. “ Apakah kamu suka menonton film horror? Ataukah kamu suka menghabiskan waktu dibawah lampu club?” pria itu bertanya sembari memotong dagingnya. “ Tidak, aku lebih suka menghabiskan malam panjang di ranjang hangat bersama seorang pria!” ujar Serena kala itu. “ Liar juga!” “ Berhenti menggodaku kalau kau masih sayang dengan apa yang ada dibawahmu itu, Tuan Willian Danudirja!” Dengan melepas hak tinggi yang dikenakannya, Serena berjalan disekitaran halaman belakang Danudirja yang amat luas itu. Duduk dengan santai di atas ayunan dan menyesap Wine yang dibawanya sekaligus menikmati taman yang tersusun cantik hasil dari tangan dingin Cassandra Danudirja. “ Disini sepi!” suara itu terdengar ditelinga Serena. Dan benar saja didepan pilar yang tinggi itu, dua orang berdiri saling menatap penuh nafsu. “ Lihatlah siapa yang menjijikkan sekarang Xavier!” seringainya sembari menyesap Winenya dengan santai,  seolah menonton pertunjukan opera. Sementara itu Xavier menatap wajah cantik perpaduan darah Sunda dan Inggris itu, menyusuri setiap sudutnya dengan mendetail dengan dingin.      "Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau sekarang!" Carol, wanita bergaun hitam dengan belahan d*da rendah itu semakin memojokkan Xavier di pilar,” Coba lihat mereka!” Tanpa tahu malu, Carrol menurunkan tali gaunnya menyuguhkan asetnya untuk dinikmati pria tampan itu.      "Sebegitu bernafsunyakan kau sampai tidak bisa menahan diri?" ejeknya, bukan hal aneh memang pasalnya sejak bertatap muka tadi wanita ini seperti ulat bulu, menggeliat, menggoda serta berusaha merangsang Xavier.      "Aku sudah tidak bisa menahan gejolak ini, sejak melihat tatapan tajam dan sikap angkuhmu!" bisiknya lirih dicuping telinga itu. " Bagian bawaku sudah basah, Lakukan dengan cepat sekarang!" “ Kau berusaha memerintahku?” “ Iya!” Carrol mendesah, “Aku sudah sangat lama ingin bersatu denganmu!”      Kesalahan!     Xavier bukan seseorang yang suka diperintah!     “Memang kau pikir, dirimu itu siapa?!” Dalam sekali gerakan, rahang tirus itu dicengkram dengan kuat, didorong dengan keras kearah pilar, membuat Carol terpekik meringis kesakitan sekaligus takut.      "Jalang sepertimu memang tidak tahu malu. Sayang sekali Ibumu  harus melahirkan wanita menjijikkan sepertimu ini!"      "Sakit Xavier, lepaskan!"      "Sakit?!"      "Xavier lepaskan!" wajah itu semakin pucat, keringat dingin mengalir sepanjang wajahnya. Dan Xavier menikmati ketakutan itu.      "Ingat satu kata dariku, jika kau haus belaian lelaki sebaiknya kau jajakan dirimu di pinggir jalan!" ucapnya angkuh, mendorong dengan kasar wajah itu dan berlalu pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD