Ospek

1399 Words
  Mutiara beserta ratusan calon mahasiswa jurusan hubungan luar negeri itu duduk beralaskan lantai di aula jurusan itu, mendengarkan dengan seksama barang- barang apa saja yang harus mereka bawa untuk ospek esok hari sekaligus perkenalan senior- senior serta Dosen yang bertugas membimbing jalannya acara ospek nanti. Acara berlangsung sampai setengah hari dan kini gadis itu sedang duduk di kantin fakultas dengan ditemani segelas juice alpukat, bakso dan jemari kanan yang sibuk berkirim pesan bersama Andra serta kakaknya. “ Acaranya sudah selesai?” Nathan rela datang menemui sang adik yang berbeda gedung, duduk di depannya kemudian menyeruput jus milik adiknya itu tanpa sungkan. “ Heem!” gadis itu menganggukkan kepalanya dengan mulut mengunyah bakso. Masih enggan bicara pada sang kakak akibat ulah tak senonohnya tempo hari. “Hai, kamu masih marah pada kakak? Ayolah Mutiara Kakak sudah minta maaf dan kakak berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi.” “Harusnya bukan padaku kakak minta maaf tapi pada Nona cantik itu.” Kesal Mutiara. “Buat apa kakak minta maaf padanya kalau dia sendiri yang sengaja memulai semuanya.” “Ck!” mata bulat Mutiara melotot, menatap sang kakak galak. “Baiklah!” Nathan menarik nafas panjang, “Itu adalah kesalahan terakhir kakak. Setelah ini kakak janji tidak akan berbuat hal seperti itu lagi dan kakak akan minta maaf padanya jika kami bertemu lagi.” ‘Semoga itu pertemuan terakhir!’ pikir Nathan  Kelingking Nathan terulur, meminta sang adik untuk Pinky Promisse. “Ok!” “Good Girl!” Nathan tersenyum lebar,“Kamu catatkan barang- barang apa saja yang akan dibawa besok? Coba kulihat!” “ Sebentar!” gadis itu segera membuka tas selempangnya, memberikan notes pada sang kakak untuk dibaca. “ Ok! Mereka cukup baik tidak meminta sesuatu yang aneh. Kita bisa mencari barang- barang ini nanti malam.” Ujarnya setelah sekian menit memahami kata- kata aneh yang sering dipakai untuk membuat bingung para peserta ospek, “ Kakak masih ada satu mata kuliah, apakah kamu tidak masalah pulang lebih dulu?” “Iya, aku bisa naik bus atau ojek!” angguknya. “Naik taksi saja, lebih aman! Kirim pesan dengan segera saat sampai rumah, ya!” tepuknya pada puncak kepala gadis itu. “ Kakak pergi dulu, Bye!” Nathan bangkit, melambaikan tangannya sebelum pergi. Setelah selesai dengan makanannya, Mutiara langsung pergi. Memasuki taksi yang kebetulan mangkal disekitaran Universitas dan pulang dengan mobil berwarna biru muda itu. “ Buku kotak, Bolpoint hijau, pita warna merah putih, Roti Sobek rasa coklat, s**u putih, jeruk mandarin, kantong warna merah, tali raffia, kaos kaki belang.” Nathan mengabsen satu persatu barang yang sudah mereka beli. “ Done!” ujar Mutiara dengan catatannya. “ Hari sudah malam, cepat tidur sana karena besok kamu harus berangkat pagi!” “ Iya!” Setelah memasukkan semua barang dalam kantong kresek warna merah, gadis itu langsung beranjak dari sofa, menutup pintu kamar dan mematikan lampu. Pagi datang dengan cepat dan pintu kamar gadis itu digedor tak sabar oleh sang kakak, “ Muti bangun! Hari sudah siang!” gedoran sama sekali tidak bersaut hingga akhirnya pemuda itu kesal, membuka paksa pintu kamar sang adik dan membuka kordennya. Memberi cahaya pada kamar itu. “ Ya Tuhan Mutiara!” pemuda itu berkacak pinggang, “ Kamu ospek hari ini!” dengan kesal, pemuda itu membopongnya menuju kamar mandi dan mendudukkannya dalam bathtube. “ Bangun, Oy!” sungguh terlalu gadis satu ini, biasanya ada suara sedikit saja langsung terganggu tapi kini lihat apa yang terjadi? Adiknya itu tidur seperti orang pingsan! “Oy!” tepukan dipipi itu berulang kali dilakukan dan akhirnya manic hitam itu  terbuka, mengerjap dengan bingung. “Apa?” “Apa kamu lupa hari ini hari apa?! Hari ini kamu ospek!” pemuda itu hampir saja menepuk kasar pipi tembem gadis itu. “ Jam berapa sekarang?! Apakah sudah sangat siang?” “ Menurutmu?!” ekspresi membuat Mutiara panik. Dengan cepat dia bangkit dari bathtube menarik tangan sang kakak untuk keluar dari kamar mandinya. “ Tunggu aku lima menit!” pintu terbanting saat itu juga didepan wajah sang kakak. Dan benar saja gadis itu keluar dengan wajah yang segar. Nathan yakin dia hanya cuci muka dan gosok gigi saja. Jorok!  Tapi mau bagaimana lagi. Daripada gadis itu terlambat dan dihukum. “ Ayo cepat hari sudah siang!” Nathan segera menarik gadis yang sedang mengepang rambutnya itu, membawanya keluar dari apartement dengan membawa tas kresek merah dan beberapa takup roti untuk dimakan di jalan. “ Kak bisa cepat sedikit tidak!” gadis itu panik, menatap jam yang terpampang di dashboard mobil dengan wajah berkeringat dingin, “ Aku takut telat!” “ Itu salahmu!” kesal Nathan, menatap sang adik dengan tatapan tajamnya, “ Alarm-mu saja tergeletak diatas lantai begitu, pecah tidak berbentuk!” “ Maaf!” gadis itu menggigit bibirnya, mungkin tanpa sadar terlempar oleh tangannya saat merasa terganggu akan suara keras benda itu. “ Sudahlah!” percuma saja marah- marah toh sudah terjadi, yang terpenting sekarang mereka harus sampai universitas tepat waktu. Dengan penuh keahlian, Menyalip kanan kiri dan mengklakson motor- motor yang terus menyalip didepannya, Mobil itu akhirnya berhenti didepan gerbang kampus. “ Aku pergi! Bye!”  Mutiara langsung turun dari balik mobil, berlari tergopoh- gopoh tanpa perduli betapa jauh gedung yang dia tuju. Nafas itu terengah, dengan cepat dia menyelinap diantara kerumunan kelompok sembari mengelap keringat yang sudah membanjir disela- sela rambut yang terkepang itu. “ Selamat!” ucapnya lega pasalnya semenit kemudian para senior berkumpul dan suara keras yang berasal dari TOA itu terdengar keras, meminta seluruh peserta ospek untuk membentuk barisan sesuai kelompok masing- masing. Setelah upacara bendera, ospekpun dimulai. Seluruh tas keresek bertali raffia itu telah di cek oleh para senior pendamping kelompok, mencari kesalahan sekecil apapun termasuk  mengukur dengan penggaris setiap jeruk mandarin yang mereka bawa, apabila kurang dari ukuran mereka akan diminta kedepan dan menjadi tontonan para j*nior yang lain. Teriakan demi teriakan terdengar disepanjang penjuru fakultas itu, satu persatu j*nior maju kedepan dengan alasan- alasan yang aneh. “ Kami minta jeruk mandarin yang berwarna kuning! Kenapa kamu bawa jeruk ini?!” Senior berwajah sangar menunjuk jeruk Mandarin berwarna orange milik salah satu pemuda,“ Maju kedepan sekarang juga!” “ Tapi kak itu memang jeruk mandarin.” “ Yang senior disini siapa?! Maju kedepan!” bentaknya keras, membuat pemuda itu langsung mengkerut, menuruti perintah senior itu sebelum sang senior menghukumnya lebih berat lagi. Langkah kaki- kaki senior itu semakin mendekat dan sosok mengerikan berambut coklat itu berjongkok didepan Mutiara, menyeringai, menatap manic hitam itu lama kemudian menyusuri tubuh gadis itu sedikit lebih dari yang lain. “ Kelinci kecil?” membaca kertas bertuliskan nama gadis itu. “ Iya, itu nama saya!” gadis itu menganggukkan kepalanya. “ Bisa saya lihat yang kamu bawa!” “ Iya.” Gadis itu mengangguk, mengangsurkan tas kresek miliknya untuk diperiksa. Satu persatu barang didalamnya dikeluarkan dan senior itu hanya mengangguk. “ Kamu tahu apa kesalahanmu?” wajah itu sedikit mendekat yang reflex membuat Mutiara menjauhkan wajahnya, takut. “ Kepanganmu berantakan! Aku bisa membantu merapikannya supaya kamu tidak dihukum.”  jemari terulur itu hendak menyentuh rambut hitam Mutiara namun dengan cepat tangan lain menepisnya, menatap tajam senior kurang ajar itu sembari berkata, “ Sedikit saja kamu sentuh dia, kamu akan tamat dengan cepat! Pergi, kelompok ini biar aku yang urus!” usirnya kejam, membuat senior m***m memerah marah, mengepalkan jemarinya sebelum bertukar kelompok dengan senior itu. “ Tidak perlu takut, Nathan sudah menitipkan dirimu padaku! Sebisa mungkin aku akan menjagamu!” senyum itu tersungging dengan manis, melelehkan kaum hawa. “ Terima kasih Kak Sandi!” Ya senior itu adalah Sandi, salah satu Teman Nathan yang diperkenalkan padanya beberapa waktu yang lalu. “ Jangan sungkan, Ok!” Angguknya dengan seulas senyum lebar. Acara pengecekan barang bawaan itu usai dilakukan, beberapa j*nior yang kedapatan melanggar dipajang didepan dan bersiap menerima hukuman mereka. “ Untuk j*nior pria baris sebelah kanan dan untuk j*nior wanita disebelah kiri!” suara yang berasal dari toa itu terdengar dengan keras. Satu persatu dari mereka yang dihukum mulai memisahkan diri. “ Untuk j*nior pria, kalian harus push up sebanyak 30 kali dan untuk junior wanita Sit up sebanyak 20 kali! Hitungan akan dimulai setelah hitungan ke 3! 1 2 3!” Mutiara yang duduk dibawah panasnya matahari itu bersyukur, dia selamat dari hukuman serta senior m*sum yang entah siapa namanya itu. Dengan cepat, gadis itu menolehkan kepalanya, menatap Sandy yang tersenyum padanya. “ Terima kasih kak Sandy!” ­­­ Dan terima kasih padamu juga, kakakku tersayang!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD