Surat yang ditukar

1368 Words
“ Mutiara, apakah kamu telat lagi?” “ Iya, maaf!” “ Sudahlah, cepat masuk barisan sebelum para senior yang lain datang!” ujar Sandy, menepuk puncak kepala gadis itu dan memintanya cepat masuk kedalam barisannya. Semenit kemudian para senior yang lain datang, berbaris didepan dan mengingat ini hari terakhir ospek, para senior sedikit melonggarkan peraturan. Dan yang paling seru adalah, diundangnya penyanyi lokal untuk mengisi acara penutupan. Hari semakin gelap dan para mahasiswa j*nior sudah duduk dengan tenang dibawah panggung, menyambut satu persatu senior untuk naik panggung dan menyanyikan lagu andalan mereka. Ada yang memang bakat bernyanyi ada yang tidak tapi para j*nior tidak berani memprotes suara- suara aneh yang masuk kegendang telinga mereka itu, anggap saja pengalaman sekali seumur hidup. Dan diantara kerumunan itu, Mutiara sesekali mengecek ponselnya, berkomunikasi dengan sang kakak yang menunggu di salah satu caffe yang tidak jauh dari Universitas karena selain peserta ospek dan Senior yang bersangkutan dilarang untuk masuk kearea ospek. “ Yeyyy!” Suara keras yang berasal dari sekelilingnya itu membuat Mutiara langsung menyembunyikan ponselnya, menatap kedepan pada seorang penyanyi lokal yang telah berdiri manis diatas panggung, mengajak mereka semua untuk ikut bernyanyi. Suara lembut dan manis pemuda didepan itu membuat bibir Mutiara bergerak, bersenandung lembut serta mengangkat kedua tangannya diudara mengikuti j*nior yang lain. Lagu usai dan salah satu senior yang menjadi pembawa acara malam itu naik keatas panggung. “ Semakin malam, acara akan semakin panas, teman- teman!” gadis bertubuh tinggi diatas sana berteriak dengan keras, berusaha menumbuhkan semangat para j*nior yang dia tahu sudah kendor itu. “ Apakah kalian ingin sesuatu yang seru?!” Tangan yang memegang Microfon itu terangkat diudara, meminta para j*nior menjawab pertanyaannya itu. “ Iya!” teriakan itu terdengar harmoni. “ Ok- OK!” Senyumnya lebar, “ Bagaimana kalau begini, kita pilih satu dari ratusan surat cinta yang kalian tulis untuk kami ini!” gadis itu beralih, mengambil kardus yang berisi ratusan amplop PINk dan Biru Muda hasil karya para J*nior untuk senior mereka yang ditulis tadi siang. Apalagi kalau bukan karangan surat cinta! “ Kita akan acak- acak, memilih tiga untuk amplop berwarna Pink dan tiga untuk warna biru muda! Dan kita akan lihat seberapa jauh kalian berani mengungkapkan isi hati kalian pada Senior- senior aduhay didepan sana!” senyumnya nakal, menunjuk deretan senior yang berdiri di ujung panggung. “ Sudah langsung saja Angelica!” suara teriakan itu dari arah senior yang disambut tepukan dan siulan dari senior yang lainnya. “ Lihat ada yang sudah tidak sabar rupanya! Apakah senior kita itu sudah punya incaran!” Seringainya jahil, menunjuk deretan gadis- gadis yang berdiri dibawah panggung. “ Lama!” Sandy langsung naik keatas panggung dan mendapatkan teriakan dari para J*nior wanita yang mengagumi ketampanan paras pemuda itu. “ Sabar Bung!” “ Bercandamu itu akan memakan waktu dan kami akan pulang semakin larut karenanya!” wajah itu menatap Angelica tajam. “ Baiklah, sebagai perwakilan para senior ambil satu amplop warna Pink dan Biru muda!” kardus itu langsung diserahkan kehadapan Sandy, tanpa mengacak pemuda itu langsung mengambil dua amplop dan menyerahkannya pada si pembawa acara. “ Baiklah sudah dua!” dua amplop ditunjukkan, “ Sekarang aku akan minta senior wanita untuk mengambil dua amplop dan dua amplop lagi dari perwakilan J*nior!” senior wanita mengambil dua amplop dan si pembawa acara mulai berbaur dengan para J*nior, mengamati wajah- wajah lugu itu untuk mengambil amplop yang ada di kardus. “ Hai anak manis , apakah kamu mau mengambil dua amplop untuk Kakak?” wajah itu tersenyum manis, menatap manic hitam Mutiara. “ Dua saja!” perintahnya. Tangan itu segera masuk kedalam kardus, mengacak isinya kemudian menyodorkan dua amplop yang dimaksud. “ Terima kasih, semoga kamu bisa mendapatkan senior tampan di fakultas kita nanti!” senyumnya genit sebelum pergi kembali keatas panggung. Satu persatu identitas amplop itu terpanggil dan naik keatas panggung. Dengan wajah merah menahan malu mereka mengungkapkan isi dalam surat yang mereka tulis itu, entah kepada Senior maupun pada sesama J*nior. Dan didepan sana, sosok berkaca mata menunduk dengan malu, membaca surat tinta merahnya dengan sedikit tersendat gagu. “ Aku tahu banyak sekali pria tampan berkeliling disekitarmu, menjagamu dengan baik layaknya anak kelinci mungil. Tapi apa mau dikata aku suka padamu sejak pertama kali mata kita bertemu kala itu, kamu dengan senyum manis dan wajah cantikmu. Mungkin sebagai anak yang culun, aku terlihat tidak tahu diri dimatamu, tapi aku benar- benar bersungguh- sungguh atas perasaanku.” Keringat dingin mulai mengaliri pelipis pemuda itu, menarik nafas panjang sebelum kembali berucap, “ Meskipun aku sendiri tidak tahu namamu yang sebenarnya, Kelinci kecil maukah kamu menerima perasaan polosku?” “ HUUUUUUU!” teriakan itu bergemuruh, tawa dan ledekan terus berkumandang diudara, menanggapi si culun yang tengah berani menyatakan perasaannya. “ WOOO!” teriakan si pembawa acara menggema, “ Adakah yang bernama kelinci kecil disini?!” godaan itu semakin menjadi dan Mutiara memerah, gadis itu segera menundukkan wajahnya, malu sekaligus menutupi pandangan beberapa pasang mata yang tahu nama IDnya. “ Tenang teman- teman semua! Biarkan pemuda manis ini turun dari atas panggung kita dengan wajah tegak!” godanya dengan senyum lebar. “ Baiklah hanya tersisa satu amplop Pink, kita lihat punya siapa ini dan untuk siapa?” godanya. “ Oh Kelinci kecil?” manic itu membulat, menatap deretan j*nior dengan tatapan menggoda. “ Setelah si Tuan Pemalu tadi menyatakan cinta apakah si Nona membalasnya atau malah menulis surat untuk orang lain.” suara riuh langsung terdengar. “ Kita panggil kelinci kecil kita!” Teriakan- teriakan silih berganti, meminta si pemilik amplop untuk maju kedepan dan membaca surat yang telah ditulis itu. Namun, berkali- kali dipanggil si pemilik ID itu tidak kunjung naik, membuat sang MC berdecak, “ Ayolah kelinci kecil maju kedepan! Tidak ada serigala merah yang akan menerkammu, tenang saja!” “ Maju!” “ Maju!” “ Maju!” Teriakan itu semakin memekakkan telinga, membuat Mutiara semakin mengkerut takut, sampai akhirnya tepukan kecil mampir dipundak kurusnya, membuat gadis itu terpekik. “ Kau yang dipanggilkan? Maju saja supaya acara ini cepat selesai dan kita bisa pulang dengan cepat juga!” “ Tapi...” Mutiara menggigit ujung bibirnya, manic hitamnya melirik sekitar, mencari keberadaan Sandy yang terlihat menangkap sinyalnya. Pemuda teman kakaknya itu menganggukkan kepala pelan dengan senyum tipisnya. ‘Baiklah Mutiara, naik saja! Toh kamu menulis surat itu untuk Kak Sandy dan Kak Sandy juga tahu hal itu. Kamu tidak perlu khawatir!’ Gadis itu mencengkram ujung bajunya erat sembari menembus kerumunan  dan akhirnya berdiri didepan ratusan orang dengan wajah menunduk, takut. “ OOO ini dia!” senyum itu menggoda, “ kita bertemu lagi!” “ Iya!” Mutiara menganggukkan kepalanya singkat. “ Maukah kamu membacakan surat yang telah kamu buat?” amplop itu terulur dan Mutiara menerimanya dengan jemari sedikit bergetar. Amplop itu dibuka dan manic bulat itu segera sadar. Tulisan bertinta hijau itu bukan tulisannya, ini tulisan orang lain yang sengaja dimasukkan kedalam amplop milik miliknya. Tapi, Siapa yang berniat melakukan ini padanya? “ Ayo bacalah!” “ Tapi ini..” gadis itu menelan ludah, matanya bergerak dengan cepat membaca setiap kata yang tertulis disana. “ Maaf Mungkin ini terdengar sangat aneh, tapi sejak kakak menatapku dengan tajam dan berniat membenarkan kepanganku yang berantakan, aku tidak bisa melupakan wajah tampan kakak. Meskipun ini sangat mendadak, aku tulus dengan perasaanku. Aku mau Kakak Mark menjadi kekasihku sekarang. “ Terima kasih!” Mutiara segera meremat amplop yang ada ditangannya itu, berniat turun dari atas panggung namun dengan cepat lengan kurusnya dicekal oleh si pembawa acara. “ Tunggu si kelinci kecil!” seringai itu jahil, membuat Mutiara menelan ludahnya serat, karena mendapatkan firasat buruk. “ Karena ini adalah moment yang sangat langka, Mark naiklah keatas panggung sekarang dan jawab si Nona Kelinci Kecil ini supaya dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini!” Wajah Mutiara memucat, dengan cepat Mutiara menoleh kearah para senior dan mendapati wajah senior yang bernama Mark itu. Dan apapun yang terjadi kini,Mutiara sangat yakin Sandypun tidak akan bisa membantunya. Dan langkah tegap itu maju kedepan, mengambil alih Microfon yang berada ditangan sang MC dan menatap wajah Mutiara dengan senyum lebarnya. “ Terima kasih telah berani menyatakan perasaanmu padaku meskipun dengan cara seperti ini!” Pria itu menarik nafas disertai senyumnya yang lebar, “ Baiklah mulai hari ini, kamu adalah pacar saya!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD