“Apakah dia membalas pesanmu?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Nathan sesaat setelah Andra mengirimkan pesan. “Belum.” Pemuda yang datang dari pulau Dewata karena urusan sang ayah itu menyeruput lattenya dengan santai. “Kan sudah kubilang harusnya telepon saja!” Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu frustasi. “Kak, sebenarnya apa sih tujuanmu melakukan ini?” Andra menatap pemuda yang lebih tua darinya itu dengan mata menghunus. “Kau tidak sedang menggunakanku supaya Mutiara berpaling dari suaminya, kan?” “Ya tebakanmu benar sekali! Asal kau tahu saja, Suaminya itu orang jahat dan aku tidak suka Mutiara bersama dengannya!”Jemari Nathan terkepal. Seolah siap menghancurkan sesuatu. “Kak, Baik atau tidaknya hanya Mutiara yang bisa menilai.” Semakin bertambah umur Andra sel

