Untuk kesekian kalinya, Si cantik bermanic abu gelap itu menepukkan tangannya diatas air dengan kaki bergerak lincah didalam bak khusus miliknya, membuat sang ibu basah akibat ulah nakalnya. “ DADADA!” teriaknya senang, bibir merah cantik itu menjulurkan lidah kecilnya, senang karena air itu terasa segar dalam idera pengecapnya. “ Jangan julurkan lidahmu, sayang! Kamu bisa pilek!” keluh Mutiara, mengusap wajah kecil itu dengan jemari lembutnya, mengakhiri acara mandi si kecil dan membungkus tubuhnya dengan handuk tebal. “ Apakah sudah siap?” Mutiara menatap sosok suami yang sudah duduk diatas ranjang, ditemani berbagai peralatan tempur si kecil yang sudah disiapkan wanita muda itu. Kemudian meletakkan si kecil kecil didepan sang suami yang terlihat mengamati segalannya dengan bersende

