Hari terus berjalan, waktu dengan cepat berlalu dan perut yang awalnya datar itu sedikit membuncit dan beberapa pakaian miliknya sudah tidak muat lagi. Mutiara mendesah, menatap ranjang kecilnya yang sudah penuh dengan tumpukan baju.
“ Lihat nak apa yang kamu lakukan pada perut ibu sampai semua baju- baju ibu tidak ada yang muat lagi!” keluhnya, calon ibu itu mengelus perutnya penuh sayang diiringi senyum tipisnya, “ Sehat- sehat kamu didalam sana, ya!”
“ Mutiara, apakah sudah siap?” pintu itu dibuka dan sang Kakak melongok kedalam, “ Mau berangkat jam berapa? Kita bisa telat!”
“ Maaf, aku kesulitan mencari baju. Bajuku tidak ada yang muat lagi!” Mutiara menunjuk arah ranjang dengan meringis.
“ Ya ampun!” pemuda itu mendesah berat, “ Tunggu sebentar disini!” pemuda itu sepertinya kembali kekamarnya dan datang lagi dengan membawa hoodie dan celana jogger yang tentu akan membuat tubuh kecil Mutiara seperti dikarungi, “ Pakailah ini dulu, nanti sepulang dari kampus, kita akan sempatkan belanja beberapa baju!”
“ Iya!”
Pintu apartement tertutup setelahnya, kedua saudara itu masuk kedalam mobil dan menuju tempat mereka belajar.
Sementara itu disudut lain, Jemari besar itu secara perlahan merapikan dasi yang membelit lehernya kemudian meraih jas yang telah disodorkan oleh sang Personal Assistant.
“ Beritahu mereka, saya ingin sarapan dengan omelette dan kopi!”
“ Baik Tuan!” Bahar menunduk, menekan nomor khusus yang terhubung didapur, memerintahkan mereka untuk segera menyiapkan sarapan yang diinginkan sang Tuan.
Langkah tegap diikuti Bahar itu secara perlahan turun dari lantai atas dan duduk didepan meja makan. Dihadapannya kini sudah tersaji apa yang diinginkannya tadi.
Dengan perlahan, jemari besar itu meraih garpu dan pisau, memotong telur berisi irisan daging dan mengunyahnya.
“ Apa yang kalian masukkan kedalamnya?”
“ Maaf Tuan?” Bahar mengerutkan dahi, bingung dengan pertanyaan sang atasan.
“ Panggil mereka semua!” teriaknya marah sembari membanting alat makan yang ada di tangannya.
Semenit kemudian satu persatu pegawai dapur datang, berbaris rapi dengan kepala menunduk.
“ Mohon maaf Tuan Xavier apakah ada masalah sampai anda mengumpulkan kami semua?” sang kepala pelayan akhirnya bicara, menatap bingung pada pria didepannya itu.
“ Apakah kalian berniat membuatku marah?!” piring yang ada diatas meja itu juga turut melayang, membuat pekikan terkesikap itu terdengar, “ Siapa yang membuat makanan menjijikkan itu?!” tunjuknya pada piring yang terongkok diatas lantai itu.
“ Saya tuan!” seorang pria berbaju putih mendekat, “ Maaf Tuan, tapi apa ada yang salah dengan olahan masakan saya?”
“ Kau chef baru?” Xavier tajam, “ Kau bertanya apa salahmu?!” Xavier bangkit dari duduknya, berjalan bak singa mengintai mangsa pada bawahannya itu, jemarinya dengan cepat mencekik leher kurus itu, “ Kamu berniat meracuniku dengan makanan amis seperti itu?!”
“ Apa maksud tuan?” wajah itu memucat, menatap dengan takut wajah pria yang lebih besar darinya itu, “ omelette memang seperti itu Tuan, kami membuatnya dari telur, daging dan campuran s**u!”
“ Jadi maksudmu hidungku yang bermasalah?!” teriakan itu menggelegar.
“ Maafkan saya Tuan Xavier!” Bahar memberanikan diri mendekat, menatap sang Chef dengan kasihan, “ Para donator Universitas sudah mengkonfirmasi untuk hadir hari ini!” Dengan cepat Bahar memberikan tabletnya yang berisi data- data donator baru itu untuk dipelajari.
Dengan cepat, jemari besar yang melingkari leher itu terlepas, “ Berterima kasihlah karena hari ini kamu selamat!” Xavier tahu sekali Bahar berusaha mengalihkan perhatiannya dan itu berhasil.
Mobil berwarna hitam itu sudah siap, sang supir langsung membukakan pintu dan Xavier masuk kedalamnya, menatap dengan malas pemandangan luar selama perjalanan.
Hanya butuh beberapa menit untuk sampai didepan gerbang besar itu, kedatangannya dengan cepat disambut oleh beberapa orang pengurus Yayasan.
“ Selamat datang Tuan Xavier!” senyum pria tua itu, menyalami dengan takzim sang penguasa nomor satu tempat itu.
“ Apakah semua berjalan dengan lancar?”
“ Tentu saja Tuan!” senyum cerahnya, “ Silahkan!” membungkuk dan mempersilahkan pria itu untuk jalan didepannya. Bukan memakai lift, Xavier memutuskan berjalan menaiki tangga sambil sesekali mengamati Universitas yang berdiri atas nama almarhumah ibunya itu.
“ Tampan sekali!”
“ Apakah dia model tapi dari majalah apa?!”
“ Cepat ambil fotonya, t***l!”
“ Apakah dia salah satu dosen kita?”
“ Jangan ngawur, dilihat dari sisi manapun itu tidak mungkin! Mau jadi apa para mahasiswi jika punya dosen yang bisa membuat kita menari Stripstis dan berhalusinasi yang tidak- tidak seperti itu?”
Tentu saja kedatangannya itu mencuri itensitas gedung besar itu, beberapa pasang mata terang- terangan memandangnya dengan cukup lama diiringi kekaguman yang ketara.
Dan Xavier tidak perduli hal itu.
“ Para donator baru sangat kagum dengan profil dan image baru Universitas kita, mereka berencana menyumbang dana lebih besar lagi untuk menunjang program yang diusulkan oleh yayasan!” beritahunya sebelum membuka pintu dan beberapa orang yang sudah duduk diatas sofa itu berdiri, menyalami dengan takzim pria itu sebelum duduk.
Manic tajam itu segera menilai beberapa orang berpakaian mewah yang duduk didepannya itu, seringai tipis itu tersungging dibibirnya.
“ Jadi langsung saja berapa dana yang akan kalian berikan untuk Universitas ini?” tanyanya langsung, membuat mata- mata itu segera melirik satu sama lain dengan bingung.
“ Maaf, apa maksud Tuan Xavier?” seorang wanita paruh baya memberanikan bertanya, “ Kami sama sekali tidak mengerti apa maksud anda!”
“ Bukankah anda mempunyai seorang putri yang akan menempuh Pendidikan di universitas ini? Dia tidak bisa diterima masuk ke SMA manapun di Indonesia karena kasusnya beberapa waktu yang lalu. Dan kami dengan baik hati meloloskannya untuk bisa masuk ke Universitas kami tanpa adanya ijazah SMA!” cemooh Xavier, mengabaikan raut wajah yang memerah malu dari nyonya bertas mewah.
“Saya harap anda memberikan dana yang setimpal karena kami telah membantu putri anda itu, Nyonya!” seringainya sebelum menatap tiga orang lain yang duduk didepannya itu. “ Lalu bagaimana dengan kalian semua?”
Tidak mau dikuliti seperti sang Nyonya bertas mewah itu, ketiga orang itu segera mengeluarkan cek yang sudah mereka siapkan, meletakkannya diatas meja sebelum membungkuk hormat dan keluar dari dalam ruangan itu.
“ Para parasite!” ejeknya.
Matahari sudah tinggi dan perut pria yang sedari tadi duduk didepan meja penuh berkas itu berbunyi dengan keras, jemarinya dengan cepat menekan nomor Bahar, meminta pria untuk masuk kedalam ruangan.
“ Selamat Siang Tuan Xavier, apakah ada yang anda butuhkan?”
“ Siapkan makanan sekarang!”
“ Baik Tuan!” pria itu segera memesan apa yang diinginkan si Tuan. 15 menit kemudian berbagai macam makanan tersaji didepan meja itu, Xavier segera mengambil garpu dan memotong daging yang ada didepannya, mengunyahnya dengan perlahan.
“ Apakah ada makanan lain?”
“ Maksud Tuan?” alis tua itu menyerngit, terutama saat melihat sang Tuan langsung meletakkan alat makannya begitu saja, “ Mohon maaf Tuan, anda ingin kemana?” Bahar segera mengikuti langkah tegap Xavier yang keluar dari ruangan.
“ Dimana kantin berada?”
“ Untuk gedung ini berada di lantai dasar Tuan!” dengan cepat Bahar menujukkan arah lift, menekan tombol ruang besi itu dan mempersilahkan Xavier masuk kedalamnya.
Ting!
Setelah keluar dari sana, kedua orang itu berbelok kearah kanan dan sampailah di kantin. Manic tajam itu memindai tempat yang sedikit sepi itu dan memilih bangku kosong yang berada diujung.
“ Siapkan apapun yang menurutmu enak!” perintah itu membuat Bahar menyerngit namun dengan cepat pria itu pergi, memesankan apa yang dimau sang atasan.
Bubur Ayam, bakso, gado- gado, kwetiau, nasi goreng dan masih banyak lagi, semua itu tersaji didepan Xavier yang hanya bersendekap dengan kaku.
“ Kamu sebut semua ini makanan?!”
“ Maaf Tuan Xavier, memang seperti inilah makanan yang tersedia kantin ini!”
“ Singkirkan semua!”
“ Apa?!” Bahar ingin marah, sungguh sebenarnya apa mau pria satu ini! Dia ingin makanan kantin kampus serasa hotel bintang lima atau apa?!
“ Kamu membentakku?!” Suara Xavier menggelegar.
“ Tidak Tuan!” dengan cepat Bahar menggeleng dan meminta tolong pengurus kantin untuk menyingkirkan piring- piring yang ada diatas meja.
“ Memang apa yang kamu harapkan dari tempat seperti ini Xavier!” gerutunya pada diri sendiri.
“ Apakah kamu kemari ingin mengecek makan siang adikmu?”
“ Tebakanmu benar sekali!”
“ Kakak yang sangat baik sekali! Oh ya, Bagaimana kandungan adikmu, rasanya sudah hampir seminggu aku tidak bertemu langsung dengannya?” suara itu hinggap ditelinga Xavier, manic tajamnya melirik dua pemuda yang duduk beberapa bangku disampingnya itu.
“ Dia baik.” desahan panjang itu terdengar, “ Wanita hamil memang merepotkan, dia suka sekali makan bakso yang masih mengepul panas dengan banyak sambal, bayangkan itu, aku takut perutnya bermasalah. Kasihan baby yang dikandungannya! Bisa kamu bayangkan perutnya yang itu sudah mulai membuncit bahkan beberapa baju sudah tidak muat lagi masih ditambah dengan makan makanan berlemak seperti itu, mau jadi apa dia?!” omelan panjang itu melebar kemana- mana disertai desahan panjang, “Mau jadi gentong berjalan?”
Manic Xavier menyipit, ‘ apakah makan bakso dengan banyak sambal itu enak?’
“ Sial!” Entah kenapa Xavier ingin makan itu sekarang!
Bahar pria yang sudah membersihkan meja itu kembali dipanggil, “ Bahar! Saya ingin makan bakso yang masih panas dengan banyak sekali sambal!”
“ Apa Tuan!”
“ Apakah kamu tidak mendengar apa kataku?!”
“ Iya, akan segera saya siapkan!” pria paruh baya itu dengan cepat pergi dan kembali lagi dengan semangkuk bakso lengkap dengan sambal yang berada diwadah kecil.
“ Silahkan Tuan!”
Xavier menganggukkan kepalanya, mengambil sambal dari wadah kecil itu kedalam mangkuk dan mencicipinya.
“ Bleh!” kuah yang baru masuk kedalam mulut itu segera dilepeh, dengan wajah memerah marah, dia menatap Bahar.
“ Apakah tidak ada makanan yang benar benar manusiawi ditempat ini?! Kau berniat meracuniku?!”
“ Tapi maaf Tuan itu anda sendiri yang memintanya tadi!” Bahar ingin lenyap saja. Dia tahu Xavier itu gila, hari ini pria itu lebih gila lagi dan hampir membuatnya ingin memukul kepala pria itu dan membuangnya ke laut!
“ Buang itu semua!” perintahnya tegas dan berlalu begitu saja.