Dua Garis Biru 2

1562 Words
“ Apakah kamu tidak mendengar dengan baik pertanyaanku?!” pemuda itu bangkit dari sofa panjang yang didudukinya, berjalan dengan langkah mematikan seolah menjadi malaikat pencabut nyawa pada sosok yang tengah berbaring lemah itu. “ Siapa ayah dari anak yang ada dalam perutmu itu, MUTIARA?!” manicnya menghunus, mencengkram lengan wanita muda itu sekaligus meluapkan emosi yang merajainya. “ Siapa, MUTIARA?!” teriakan keras, mengundang air mata turun diceruk telaga berwarna hitam pekat sang adik. “ Kenapa kamu malah menangis? Apa susahnya berbicara sejujurnya, hah?!” “ Aku hamil?” isakan Mutiara semakin keras, jemarinya yang bergetar secara perlahan menyentuh perutnya yang masih rata, “ Ada bayi disini? Aku menjadi seorang ibu?” secara perlahan rasa hangat itu mengalir, memikirkan sosok kecil yang mungkin sudah mulai berbagi hidup dengannya itu. “Ya, kau hamil!” Nathan yang dikuasai amarah mulai melunak, dengan bergetar jemari besar itu menghapus lelehan air mata yang mengalir sepanjang pipi cubby itu. “ Apakah yang sebenarnya terjadi?” “ Maafkan aku!” hanya kata itu yang terucap dan Nathan langsung membawa tubuh itu kedalam dekapan hangatnya, mengelus surai panjang itu dengan lembut. “ Maafkan aku?” “ Bisakah kamu bicara, apa yang sebenarnya terjadi?” manic itu menatap sang adik, berusaha berbicara dengan matanya. “ Apakah dia hadir atas dasar keinginanmu atau tidak?” “ Apakah kakak akan membenciku saat aku bicara yang sebenarnya?” bibir mungil itu bergetar, jemarinya saling memilin takut. “ Aku diperkosa!” gadis itu menunduk, tak berani menatap manic itu lagi. Ya Mutiara sudah tidak gadis lagi sejak kejadian itu. “ Apakah kamu mengenalnya? Apakah Kak Narendra tahu semua ini?” “ Tidak!” tentu saja Narendra tidak tahu, dia berhasil menutup rapat semuanya dan mengenai pria menjijikkan itu, Mutiara sudah tidak mau mengingatnya lagi. Dia ingin mengubur kenangan pahit itu seorang diri. “ Bagus, Gugurkan janin itu sekarang!” “ Kak?!” “  Mutiara dengarkan aku, kamu masih terlalu kecil untuk menanggung itu semua dan janin dalam perutmu itu hasil perbuatan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Pikirkan masa depanmu!” “ Kak!” Mutiara kecewa, itu bukan jawaban yang ingin didengar Mutiara itu dari bibirnya. Mutiara tahu dia kini sudah tidak suci lagi dan menggugurkan janin yang baru mulai tumbuh diperutnya itu sama dengan membunuh! Mutiara tidak mau itu! Sebencinya dia pada pria menjijikkan yang telah melakukan hal ini padanya, Mutiara tetap tidak berhak menghilangkan nyawa janin yang mulai berkembang dalam perutnya. “ Tidak, aku tidak mau!” jemarinya dengan cepat melindungi perut yang masih rata itu, menatap wajah sang Kakak dengan kekecewaan yang dalam. “ Kamu tidak mau?! Ya memang seperti itulah jawabanmu!” Nathan berdiri seulas senyum getir tersemat dibibir dan pergi begitu saja, meninggalkan Mutiara yang duduk diatas bangkar seorang diri. *   Ponsel yang berada didalam saku itu bergetar dan nama Sandy terpampang disana. “ Bagaimana keadaan adikmu, apakah dia sudah sadar? Apakah dia baik- baik saja?” “ Ya, dia baik- baik saja.” “ Syukurlah!” desahan lega terdengar, “ Untung kita datang tepat waktu saat itu. Kirimkan salamku untuknya ya. Katakan maaf, aku sudah lalai menjaganya!” “ Ya!” sambungan itu tertutup dan Nathan meremat kepalanya yang tampak berdenyut, memikirkan hal yang terjadi hari ini. Andai Mark si b*jingan tengik itu tidak memulai semua, pasti Mutiara tidak akan berakhir pingsan dan terbongkarnya kejadian yang menimpa si cantik itu. “ Siapapun orang itu, dia tidak pantas hidup!” Nathan memukul dengan keras stang mobilnya dengan marah sebelum melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, mengklakson dengan keras motor- motor yang selalu saling salip tanpa tahu aturan. Dan disinilah pemuda itu sekarang, menerobos kerumunan manusia yang menggila diatas lantai untuk sampai di sebuah meja depan bartender. “ Hai anak muda! Apakah kamu sedang banyak pikiran?” sang bartender berusia 30 tahunan itu menegurnya dengan ramah. “ Kulihat dari sisi manapun, kamu bukan tipe pemuda yang suka datang ke tempat seperti ini, Seberat itukah harimu hingga memutuskan lari ketempat seperti ini? Pulanglah, ini bukan tempatmu!” “ Apakah selain menjadi bartender, pekerjaanmu itu menjadi tukang ceramah? Cukup berikan aku minuman beralkohol tinggi atau kulaporkan kau pada bosmu!” “ Kamu lucu sekali! Tidak ada yang bisa memecatku anak muda!” “ Apakah kamu mau kuhajar?!” Nathan lantas berdiri, meraih kerah kemeja pria itu dan menatap manic birunya marah. “ Kalau kau hanya berniat membuat keributan ditempat ini, sebaiknya kau pergi saja atau kupanggil Security untuk menyeretmu keluar!” “ Kau tidak akan berani!” “ Oh ya!” bartender itu tersenyum, menunjuk pada dua orang Security berbadan besar yang terlihat berjalan mendekat kearah mereka. “ Sekuat apapun dirimu, kau tetap akan kalah menghadapi dua algojo itu!” “ B*ngsat!”  Nathan lantas melepaskan cengkramannya, berlalu dari balik ruang gemerlap itu dengan mendorong kasar setiap orang yang menghalangi langkahnya. “ Ya ampun Nicholas, bijak sekali kamu hari ini!” senyum sang bartender, menatap sosok yang sudah menghilang dari balik manic birunya. *   Tiga hari, ibu  muda itu diminta tetap dirumah sakit untuk dipantau kondisinya dan selama itu pula Nathan tidak memunculkan batang hidungnya. “ Selamat pagi bu Mutiara, apakah tidur malam ada nyenyak?” seorang perawat datang, memeriksa infus,denyut jantung dan tensi darahnya. “ Baiklah semuanya normal, sepertinya anda bisa pulang sore ini juga.” “ Terima kasih!” Mutiara tersenyum pada perawat muda itu. Dan kini didepannya sudah ada sarapan pagi, makanan sehat tanpa rasa itu secara perlahan masuk kedalam mulut kecilnya, meskipun dia tidak berselera dia tetap memaksakannya untuk masuk kedalam mulut. Ingat Mutiara tidak boleh egois, dia sekarang sudah berbagi tubuh dengan sosok mungil yang mungkin masih berbentuk kecambah. Apartement itu terbuka setelah jemari kecil itu menekan password, hanya ruang sepi yang menyambut kepulangan. Dengan perlahan kaki kecilnya masuk kedalam kamar dan duduk termenung diatas ranjang empuknya. Sampai kapan sang Kakak tidak mau menemuinya? Apakah sampai Mutiara menurut permintaan pemuda itu? Tapi sampai kapanpun Mutiara tidak mau melakukan hal yang jelas- jelas dosa! Klik! Suara pintu terbuka, dengan cepat Mutiara keluar dari balik kamar, menemui sang kakak yang baru pulang dari kampus. Melongos, pemuda itu langsung berlalu saat mellihat sang adik sudah berada di rumah. “ Apakah kakak mau bicara denganku kalau aku menuruti perintah Kakak?” pertanyaan itu membuat Nathan berhenti, “ Kamu tahu dengan jelas hal itu Mutiara!” “ Jadi kakak ingin aku menjadi seorang pembunuh?”  menunduk menahan air  matanya yang berebut ingin keluar. “ Maaf, aku tidak bisa melakukannya!” wanita muda itu berjalan mendekat, memeluk punggung didepannya itu sebagai tempat bersandar. “ Aku tidak bisa! Aku tidak bisa melenyapkan sesuatu yang berhak untuk hidup juga!” “ Dan mengobankan masa depanmu sendiri?” “ Tidak! Aku tidak mengorbankan masa depanku!” Nathan melepaskan jemari kecil itu, membalikkan tubuhnya, menatap wajah sang adik dengan wajahnya yang keras. “ Kak, janin ini juga berhak hidup meskipun kehadirannya sama sekali tidak diharapkan.” Mutiara tersenyum, “ Dan jujur aku tidak bisa bohong, ada rasa senang karena seseorang yang terikat pertalian darah denganku hadir disini!” mengelus perutnya disertai senyum lebar. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti tapi aku mau anak ini lahir dan memanggil aku Ibu.” Imbuhnya lagi dengan senyum. “ Lalu bagaimana dengan orang rumah Mutiara, pikirkan itu! Kak Narendra tidak akan tinggal diam begitu saja!” “ Karena itu, Sebagai calon Uncle yang baik, kakak akan membantuku, kan?” manic itu memohon. “Kak!” menggenggam jemari hangat Nathan penuh permohonan, “Lakukan semua ini untukku.” “Tidak!” rahang Nathan mengeras, enggan menatap wajah sang adik karen tahu sedikit  saja dia berpaling, dia akan luruh begitu saja. “Oh.” Nada itu terdengar kecewa, secara perlahan Mutiara bangkit dan masuk kedalam kamarnya. Didalam ruangan itu cukup lama sebelum akhirnya dia keluar dengan membawa sebuah koper kecil. “Mau kemana kamu?” “Pergi.” “Pergi kemana?!”Nathan bangkit dari duduknya dan mengcengkram lengan adiknya itu, “Jangan macam- macam kamu!” “Bukankah ini keputusan terbaik.”Mutiara menundukkan wajahnya, menahan tangis yang terus berebut ingin keluar. “Bukankah dengan aku pergi semua masalah usai?” “MUTIARA!” Bentakan itu kembali terdegar sebelum akhirnya Nathan memejamkan matanya, mengendalikkan emosi, “ Baiklah kakak akan turuti apa mauamu!” Nathan kesal, “ Tapi dengan satu syarat! Katakan siapa orang itu! Orang yang melakukan hal menjijikkan itu padamu!” “ Tidak ada, aku tidak tahu!” Mutiara menundukkan wajahnya dengan menggigit bibirnya keras, “ Aku tidak ingin mengungkit b*jingan menjijikkan itu lagi.” “ Kau bodoh Mutiara! Kita bisa menjeratnya atas kasus pemerkosaan!” Dan membuat semua orang tahu? Membuat nama baik Soetopo tercoreng?! Tidak Mutiara tidak ingin melakukan hal itu. Nathan mendesah panjang, meremas kepalanya yang berdenyut, “ Baiklah urusan kak Narendra anggap saja mudah diatasi lalu bagaimana dengan semua orang yang ada disini? Mereka tahu kamu belum menikah! Kakak tidak mau kamu menjadi bahan olokan!” Iya, Mutiara tahu itu, wajahnya menunduk, memilin dengan kecil ujung bajunya sebelum mendongak, “ Kakak bisa bilang kalau aku sudah menikah dan suamiku sedang berada diluar negeri.” Jemari itu menggenggam tangan Nathan, meminta pemuda itu menyetujui idenya. “ Mutiara!” “ Kumohon!” “ Baiklah!” Nathan mengalah, “ Kita berdua akan menjaga dia dan merawat bersama, calon keponakanku yang akan lahir 7 bulan kedepan!” Nathan tersenyum, memeluk calon ibu itu dengan sayang. Nathan dan sindrom Sistercomplexnya itu tidak akan pernah membuat adiknya sedih atau menderita. Dia akan melakukan apapun untuk membuat adiknya itu tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD