“ Mutiara!”
Gadis yang sedari tadi menyembunyikan tubuh dibalik selimut itu tersentak kaku, manicnya langsung terpejam, pura- pura tidur.
“ Anak ini jam berapa sampai rumah?” setelah itu terdengar suara korden yang terbuka lebar dan langkah kaki mendekat kearah ranjang. “ Muti, bangunlah sudah siang!”
“ Aku masih mengantuk, mbak!” Mutiara berujar serak, semakin merapatkan selimutnya sebagai perlindungan diri.
“ Memangnya semalam kamu pulang jam berapa, sih? Kok Pak Maslan ( Supir keluarga) baru sampai tadi dan bilang kamu tidak pulang bersamanya?” elusan lembut yang bersarang dikepala Mutiara itu serasa seperti jarum yang menusuk.
“ Oh, kemarin Pak Maslan tertidur lelap jadi aku pulang sendiri bersama Andra, sekitar jam 12 an, jadi kami meninggalkannya disana dan memesan taksi.” Ucap gadis itu bohong.
“ Oh!” Andira menganggukkan kepalanya, “ Cepat bangun dan sarapan!”
“ Iya!” gadis bersuara pelan, membuka sedikit selimutnya dan menatap wanita yang keluar dari kamarnya itu dengan perasaan amat bersalah karena berbohong.
“ Maaf!” gadis itu memilin kedua tangannya takut, mana mungkin dia bercerita tentang apa yang dialaminya semalam karena itu adalah aib. Aib yang sewaktu- waktu akan terbongkar dan membuat keluarga terpandang yang telah menjadikannya keluarga itu malu.
“ Ibu, apa yang harus Muti lakukan?”
Dan setelah selesai mandi, gadis itu memoleskan cream sebanyak- banyaknya disekitaran mata untuk menutupi efek tangisannya semalam beserta bercak ungu akibat ulah pria menjijikkan itu. Setelah memastikan semua tertutup dengan baik, Mutiara keluar dari balik kamar dengan langkah kaki terseok- seok.
“ Apa yang terjadi pada kakimu?” Narendra yang kebetulan libur hari itu segera membantu sang adik untuk duduk dimeja makan.
“ Oh, ini semalam tidak sengaja terkena pecahan gelas.” Ringisnya.
“ Keduanya?! Angkat kakimu!”
“ Kak, aku malu!”
“ Mutiara!” tatapan tajam itu membuatnya tidak berkutik, sedikit ragu gadis itu menaikkan kakinya keatas paha sang Kakak.
“ Sakit!” pekiknya keras saat Narendra menekan tepak yang berbalut hansaplast itu.
“ Ada apa?” Andira yang sibuk didepan kompor langsung mendekati dua orang itu dengan alis mengerut bingung.
“ Lihat kakinya!” tunjuk Narend, melepas benda yang melekat itu satu persatu dari telapak kaki Mutiara.” Kita harus ke rumah sakit!” dahi itu menyerngit dan menatap manic bulat itu.
“ Tapi aku tidak apa- apa! Ini hanya luka kecil, tidak perlu sampai ke rumah sakit!”
“ Mutiara!”Narendra menatapnya tajam, “ Apakah kamu yakin sudah membersihkan pecahan- pecahan itu dengan bersih? Melihatnya saja kakak sama sekali tidak yakin!” Narend mendesah.
“ Sudahlah, jangan membantah, ini demi dirimu sendiri!” sahut Andira.
“ Iya.” Gadis itu menunduk, mengikuti langkah lebar kakak laki- lakinya itu.
Mobil yang dikendarai sendiri oleh Narend itu berhenti dipelataran parkir rumah sakit terbesar didaerahnya, dengan telaten pria itu memapah gadis itu masuk, menuju ruang pendaftaran dan masuk kedalam salah satu ruangan dokter umum setelahnya.
Gadis itu meringis saat pinset kecil itu berhasil mengeluarkan beberapa serpihan kecil yang masih tersisa di telapak kakinya.
“ Tahan, ya!” pria manis yang menanganinya itu tersenyum, membuat Mutiara mengangguk pelan. Setelah hampir satu jam, kedua telapak kaki itu sudah bersih dan dibalut oleh kain kasa.
“ Tunggulah disini, Kakak akan ambil obat di apotik!” pesan itu singkat, meninggalkan Mutiara di taman. Gadis itu mendesah, mengamati kedua telapak kakinya yang berbalut kain kasa, seperti kaki mumi.
“ Nona!”
“ Ya?” wajah itu terangkat dan maniknya membulat, melihat sosok tadi pagi yang mengantarnya pulang.
Kenapa mereka harus bertemu secepat ini?!
“ Maaf menganggu anda!” pria paruh baya itu duduk disampingnya sembari menatap kedua kaki gadis itu. “ Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda disini!” pria itu basa- basi.
“ Iya.” Meskipun pria itu baik, tetapi Mutiara tetap saja tidak nyaman berbicara dengan orang asing. “ Apakah anda ditempat ini untuk orang itu? Lalu bagaimana keadaanya sekarang?”
‘ Apakah dia mati?’ pikiran itu melintas dikepala Mutiara.
“ Beliau sedang dalam penanganan medis.”
“ Oh!” Sayang sekali, kenapa tidak mati saja!
“ Nona, saya harap kejadian buruk yang anda alami tidak berdampak buruk untuk masa depan anda.” Pria itu tersenyum sendu, “ Maafkan saya yang tidak bisa membantu anda untuk keluar dari situasi malam itu.”
“ Bisakah anda tidak membicarakannya lagi?” Mutiara menunduk, meremat jemarinya bergetar.
“ Maafkan saya!” pria paruh baya itu membungkuk, penuh dengan penyesalan.
“Sudah saya katakan, Jangan pernah meminta maaf terlebih lagi itu untuk perbuatan yang sama sekali bukan salah anda!”
“ Karena saya juga anda mengalami hal mengerikan itu.” Pria itu menyesal, “ Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya!” kartu nama itu tersodor didepan Mutiara, meminta gadis itu untuk menyimpannya. “ Saya yakin anda akan membutuhkannya suatu saat nanti dan saya akan membantu anda sebisa saya!”
“ Ehem!” deheman keras itu memutus pembicaraan mereka, seorang pria tinggi besar bersendekap dibelakang keduanya dengan tatapan tajam.
“ Anda siapa? Dan apa yang anda bicarakan dengan adik saya?”
“ Tidak ada apa- apa! Bapak ini tadi hanya sedikit bercerita tentang anaknya yang dirawat!” senyum Mutiara gugup, jemarinya dengan cepat menyembunyikan kertas kecil didalam kantong baju.
“ Hanya itu?”
“ Iya!” ringisnya lebar. “ Sebaiknya kita harus cepat pulang, aku lapar sekali tadi belum sempat makan!”
“ Maaf, Kakak lupa!” pria itu lantas menggendong Mutiara, membawanya pergi begitu saja dari hadapan pria paruh baya itu.
Bahar menatap kepergian kedua orang itu dengan alis sedikit menyergit, merasa pernah melihat sosok lelaki yang membawa gadis itu. Dengan cepat dia menghubungi Daniel, meminta pria itu untuk menyelidiki kejadian di The Velvet sekaligus mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya karena jika dilihat dari sisi manapun mereka terlihat bukan seperti orang sembarangan ditambah lagi kediaman besar yang dilihatnya tadi subuh.
“ Cepat cari dengan informasi itu dan jangan sampai informasi ini bocor pada siapapun , termasuk Tuan Xavier!”
“ Apakah sekarang kamu sudah berani membangkang padanya?” suara diujung sana tersenyum mengejek.
“ Tentu saja Tidak!” pria itu memijat pelipisnya. “ Kumohon lakukan saja, setelah masalah disini selesai, secepatnya aku akan memberitahumu!”
*
Mutiara menatap cukup lama kartu nama itu dan membuka layar macbook yang ada didepannya, memasukkan perusahaan yang tertera dalam kertas itu. Tak butuh waktu lama, mesin pencarian itu menampilkan apa yang dicarinya.
El-XX Corp sekaligus beberapa tautan yang menampilkan beberapa gossip yang berputar sekitaran perusahaan itu.
Satu tautan diklik dan semua informasi tentang perusahaan itu terpampang, manic hitam itu membaca dengan cepat informasi dari perusahaan itu dengan seksama kemudian membuka lagi tautan yang lain, akhirnya satu tajuk berita yang tersebar begitu panas dan sempat menjadi trending.
“ Pewaris El-XX Corp dan Scandal yang membelengunya.” Beserta foto pria menjijikkan yang terpampang disana, terlihat memasuki club dengan beberapa orang wanita yang berbeda dan kelainan s*x yang diidapnya.
“ Menjijikkan!” umpat Mutiara menutup layar pencarian itu marah.
‘ Semoga kamu cepat mati saja!’ berdoa dalam hati untuk tidak pernah bertemu dengan sosok itu lagi dan berharap kejadian yang menimpanya kemarin tidak membuahkan hasil.
Semoga saja!