Seolah disiram air dingin, manic hitam itu langsung tersentak dalam tidurnya, berpendar kesekeliling ruangan yang tampak asing.
Dengan cepat Mutiara bangkit dari tidurnya dan melirik sosok asing yang berbaring terlungkup disampingnya.
“ Tidak!” sekelebat bayangan buruk itu melintas seperti rangkaian film dipelupuk matanya dengan wajah pucat pasi, dia bangkit sekaligus menarik selimut yang membungkus keduanya tadi.
“ Tuhan! Ini semua bohong!” gadis itu terpekik melihat bekas darah yang terlihat mulai mengering diatas kasur, disamping sosok pria yang hampir telanjang itu.
Kaki itu berjalan semakin mundur dan menabrak meja besar sebelum bersimpuh, menangis dengan keras atas kejadian apa yang baru dialaminya.
“ Ini hanya mimpi buruk!” rancaunya parau dengan tangan terus meremat kepalanya. Takut, marah dan sedih bercampur menjadi satu, Mutiara tidak tahu salah apa dia sampai orang itu tega kepadanya.
“ Ibu!” tangis itu semakin menyayat tanpa perduli sosok diatas ranjang itu sudah terbangun dan menatapnya malas.
“ Apakah kamu akan menangis terus seperti itu?” suara berat yang langsung membuat Mutiara mengangkat kepala, “ Yang sudah terjadi biarlah terjadi, toh kau juga menikmatinya!” berjalan mendekat pada gadis itu.
“ Bukankah semalam sangat nikmat?” wajah itu mendekat, meraih dagu Mutiara dan membisikkan sesuatu didepan bibir gadis itu, “ Bahkan saat ini saya ingin kembali bersarang dalam tubuh mungilmu!”
“ Tidak!” menggeleng kuat sekaligus mendorong tubuh Xavier, “ Aku tidak mau!”
“ Kenapa? Apa saya kurang memberimu kepuasan?!”
“ Hentikan!” lolongnya keras, berdiri dengan panik dan meraih satu- satunya crystal cantik yang berada dibelakangnya.
“ Pergi! Aku bisa membunuhmu dengan ini!” ancamnya.
“ Benda kecil itu tidak akan bisa membunuh saya!” seringainya, dengan cepat meraih pergerangan kecil Mutiara, mengambil alih crytal itu sekaligus melemparnya ke dinding yang berada dibelakang gadis itu.
Prang!
“ Lihat!” senyumnya lebar, “ Benda seperti itu tidak akan bisa melukai saya!”
“ B*rengsek!”
“ Terima kasih atas pujianmu!” Xavier mengulurkan tangannya, mengelus pipi lembut itu namun sayang pekikkan kemarahan keluar dari bibirnya, manic tajamnya terasa perih akibat colokan yang dilayangkan jemari gadis itu.
“ Kamu benar- benar mencari masalah, anak kecil!”
“ Pergi!” Mutiara ketakutan, berusaha menjauh dari pria yang berjalan mendekatinya itu. Desisan demi desisan keluar tatkala tanpa sengaja kakinya menginjak pecahan crystal, meninggalkan jejak basah berwarna merah diatas lantai yang dingin.
“ Kemari, kau harus dihukum!”
“ Tidak mau!” teriaknya keras sebelum mengambil sisa crystal yang cukup besar.
“ Anak kecil sepertimu, memang pantas dihukum!” langkah itu semakin dekat dan dengan cepat Mutiara menghantam kepala itu.
“ Kau memukulku!” darah secara perlahan keluar dari pelipisnya tapi bukan mengaduh kesakitan, pria itu malah tersenyum lebar, mengusap darah itu dengan ujung jarinya kemudian memoleskannya pada bibir Mutiara yang pucat.
“ Apakah kamu puas melihat darah ini? Sekarang kamu harus mendapatkan hadiah dariku!”
“ Tidak!”
Mutiara lebih baik mati daripada harus seperti itu.
“ Siapapun tolong aku!” jeritnya pilu.
“ Teriaklah sampai suaramu habis! Ruangan ini kedap suara Nona, Tidak akan ada yang bisa mendengarmu!” senyum lebar itu mengejek. “ Lagipula, Kau tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini sebelum melewati saya!”
“ Tentu saja aku bisa melewati anda Tuan B*jingan! Anda manusia, bukan Tuhan!” marahnya, menatap tajam manic Xavier dan menarik keras, surai lebatnya.
“ Jalang sialan!” Xavier marah dengan cepat menarik selimut yang membungkus tubuh ranum gadis itu dan tebakannya benar. Gadis sepertinya pasti akan lebih melindungi tubuhnya daripada menghajar Xavier.
“ Lihat dirimu!” senyumnya lebar, menatap gadis yang dengan cepat melepaskan jemarinya, membungkuk dan menangis.
Tanpa aba- aba Xavier langsung menindih tubuh cantik itu, mengelus manic yang terus bercucuran air mata itu dengan lembut.
“ Menyerahlah!” ucapan itu tenggelam diceruk leher jenjang itu, menghisapnya dengan kuat.
“ Jahat!” Mutiara menangis, mengalihkan matanya kearah lain selain pria itu.
“ Apakah saya bisa dibilang jahat saat bisa membuatmu mengeram seperti seorang jalang semalaman? Kita bisa melakukannya lagi.” ejeknya.
“ Dalam mimpi anda!” manicnya dengan cepat menemukan pecahan tadi, tangannya yang bebas berusaha menggapainya.
“ Dan kamu adalah bintang tamu di mimpi erotis itu!”
“ Dan Mimpi erotis itu akan segera berakhir!” Mutiara memukul dengan keras kepala pria itu, berulang kali, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur dengan darah keluar dengan banyak disana.
Setelah itu tanpa kata, Mutiara mengambil selimutnya, berlari menuju pintu dan membuka pitu yangn terkunci itu.
“ Tuan!” Suara pauh baya langsung menyapa Mutiara dan sosok itu mengerjap, menatap sosok berbalut selimut didepannya yang terlihat kacau. “ Nona…” Bahar langsung luruh diatas lantai, berlutut didepan gadis itu dengan raut penyesalan yang dalam.
“Maafkan saya Nona!Karena saya anda menjadi seperti ini!”
“Ini bukan salah anda.” Mutiara menggigit bibirnya, menahan isak tangis.
“Saya benar- benar minta maaf!” Bahar menunduk semakin dalam dan secara perlahan air mata keluar dari balik mata senjanya.
“Berdirilah! Anda tidak bersalah dalam hal ini! Jangan pernah minta maaf untuk kesalahan orang lain!” jemari Mutiara terulur, membawa tubuh itu untuk berdiri.
“Nona berdarah!” dengan cepat Mutiara mengamati kakinya tak sadar akan kesakitan itu. “ Lalu Tuan?” Pria itu masuk, menatap dengan nyalang sang Tuan yang sudah tergeletak diatas lantai kamar yang sudah seperti hutan belantara itu.
Dengan cepat, Bahar menutup pintu, menatap manic gadis yang terlihat hampir mati itu.
“ Saya akan urus semua!” melepas jas yang membalut tubuhnya dan memakaikannya pada tubuh mungil didepannya sebelum berjalan meninggalkan The Velvet.
“ Cepat kirim bantuan ke The Velvet, Tuan ada di room 305!” ujarnya pada orang diseberang telepon dengan singkat.
“Kita kerumah sakit sekarangn untuk mengobati anda.”
“Tidak!” Mutiara menggeleng keras, “Aku ingin pulang!” namun sesaat gadis itu terpaku, apakah dia masih dianggap salah satu anggota keluarga Soetopo setelah hal ini terjadi? Apakah rumah besar itu masih pantas untuknya?
“ Apapun yang terjadi, anda harus pulang kerumah, nona!” pria paruh baya itu tersenyum sedih saat melihat ketakutan gadis disampingnya.
“ Tapi saya sudah tidak pantas berada disana!”
“ Yang namanya keluarga akann menerima apapun yang terjadi pada anda!” senyumnya tulus.
Apakah benar seperti itu?
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil berwarna silver itu berhenti di depan rumah besar itu. Secara perlahan Mutiara menatap rumah besar itu, manicnya secara perlahan menetes, menyesal telah membuat keluar itu malu dengan apa yang terjadi padanya kini.
“ Nona, Masuklah kedalam!” suara itu mengalihkan pandangan Mutiara, “ Anda jangan takut! Saya berjanji, jikalau Tuan menuntut anda atas apa yang terjadi padanya, saya akan siap menjadi saksi untuk membela anda! Dan saya juga akan membantu anda jika anda ingin melakukan tuntutan terhadap Tuan saya!”
“ Iya, terima kasih!” Mutiara turun, menatap dengan lekat pagar yang berada didepannya itu sebelum memasuk kedalamnya. Menyusuri rumah yang terlihat sepi itu karena hari masih gelap.
“ Nona?” Security yang berjaga menatapnya lama namun urung bicara saat melihat wajah pucat dan menyedihkan itu.
Dengan cepat Mutiara membuka pintu kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dengan deras itu, “ Tuhan!” dibalik dinginnya air itu Mutiara terpejam sekaligus berdoa, semoga pancuran air itu bisa membawa pergi kenangan buruk yang dia alami hari ini.
“ Semoga ini hanya mimpi!”