Please ini Dewasa Sekali! Mohon yang under 18 jangan baca!
**
Bahar, Pria berusia 45 tahun itu tengah sibuk menelepon Management The Velvet pasalnya wanita yang telah dibooking untuk sang Tuan tiba- tiba men-cancel sepihak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“ Saya tidak mau tahu kalian mencari dimana, yang jelas harus ada wanita di room 305 sebelum Tuan Xavier datang!” perintahnya diujung telepon.
“ Akan kami usahakan secepatnya Tuan!!” dan sambunganpun tertutup.
“ Ya Tuhan, akan jadi apa nasibku nanti kalau mereka tidak sanggup memenuhi permintaan Tuan Xavier!” pria itu mengeluh, memijat pelipisnya yang berdenyut. Xavier dengan kelainan bersenggamanya itu membuat kepala Bahar berdenyut, tidak sekali dua kali wanita panggilan yang telah dibooking menolak setelah mendengar rumor yang beredar tentang pria satu itu.
Langkah tegas Bahar menuntunnya ke lantai 3, saat naik ke lantai itu manic tuanya langsung mendapati seorang gadis berlari kearahnya, tampak sangat menyedihkan dengan wajah yang sudah tidak beraturan, tanpa alas kaki dan membawa botol yang telah pecah di tangan kanannya.
“ Tolong!” gadis itu limbung, dengan cepat pria paruh baya itu menangkap sosok gadis yang sudah hilang kesadarannya itu.
“ Nona!” tangan besar itu menepuk pipi halus itu berulang kali namun tiada hasil, sekian detik setelahnya langkah kaki yang terlihat terburu- buru itu terdengar, tiga orang remaja tertangkap oleh manic Bahar. Untuk sesaat ketiganya berhenti dan menatap pria itu dengan seulas senyum licik. Entah apa yang diucapkan gadis di depan sana, yang jelas setelah itu mereka pergi begitu saja.
“Apakah mereka menganggunya?”Bahar menerka-nerka. “Ya ampun anak jaman sekarang!”
Merasa kasihan, pria itu lantas membawa masuk kedalam room yang telah dia booking dan meletakkan tubuh mungil itu diatas ranjang serta menaikkan selimutnya sampai d*da.
“ Kasihan sekali, apa yang sebenarnya terjadi padamu?” mengambil beberapa lembar tissue dan membersihan wajah gadis yang terlihat berantakan karena tangis itu seadanya.
“ Sst!” gadis itu mulai mendesah dan semakin lama desahan itu semakin intese.
“ Nona?”
“ Tolong saya! Badan saya panas sekali! Sakit!” manic hitam itu terbuka, air mata secara perlahan membasahi wajah mungil itu dengan menyedihkan. “ Tolong saya!” mencengkram lengan pria itu keras.
“ Tenangkan dirimu, atur nafas dengan baik, saya akan mengatur AC!” Bahar kalang kabut, pria itu mendapat firasat bahwa gadis yang bersamanya itu menegak obat perangsang karena terlihat jelas dari wajah yang memerah serta tingkahnya yang tidak biasa, seolah ingin dipuaskan.
“ Tolong, saya tidak mau seperti ini!” tangis dan desahan itu menjadi satu. Suhu ruangan yang siap membuat tubuh seseorang menggigil kedinginan itu nyatanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
“ Tenanglah, saya akan meminta bantuan!” hiburnya, mengelus surai lembut itu dalam. Bahar segera keluar dari ruangan dan menguncinya dari luar, berniat meminta tolong pada petugas The Velvet untuk membantu menangani kemalangan gadis itu.
“ Mau kemana kau?” suara itu menggaung, tanpa perlu menolehpun Bahar tahu, pria yang berdiri dibelakangnya itu adalah sang Tuan.
“ Maafkan saya Tuan, saya harus segera turun untuk meminta bantuan dari pegawai The Velvet.” Ujarnya dengan sopan.
“ Ada masalah apa?” alis tebal Xavier naik, menatap sang Assistant tajam.
“ Mohon maafkan keteledoran saya kali ini, saya belum sempat memberi tahu anda.” Ujar Bahar kaku, “ Dan wanita yang bertugas melayani anda sedang dalam halangan, untuk itu mereka akan segera mencari pengganti secepatnya Tuan Xavier!”
“ Lalu kenapa kamu mengunci ruangan yang telah kau booking? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu?” wajah itu mendekat, menguliti pria itu dengan tatapannya.
“ Tidak ada yang saya sembunyikan Tuan!”
“ Kau pikir, saya bodoh?” tanpa perasaan Xavier mendorong tubuh Bahar yang menghalangi pintu dan memutar kunci yang masih terpasang di lubangnya itu.
Ceklek.
Pintu terbuka, langkah kaki lebar itu masuk kedalam ruangan, wajahnya yang tampan langsung menyeringai licik, menatap sosok menyedihkan yang sudah meringkuk dilantai dengan pakaian yang hampir tak sempurna beserta pecahan crystal disekelilingnya.
“ Inikah yang coba kamu sembunyikan?”
“ Mohon maaf Tuan Xavier, nona itu bukan wanita yang bertugas melayani anda!” pernyataan yang membuat Xavier mengalihkan pandangan.
“ Jadi dia bukan bertugas melayaniku tapi dia melayanimu?”
“ Bukan begitu Tuan, dia gadis yang saya temukan sedang dalam pengaruh obat dan saya..” ucapan itu belum selesai karena Xavier menatapnya tajam.
“ Apakah kau mencoba mencari alasan?! Bahar, bukankah dia seusia putramu?”
“ Saya bukan orang seperti itu Tuan! Saya masih punya moral.”
“ Moral? Jadi secara tidak langsung kamu menghina moralku?!” tubuh itu dengan cepat terdorong kedinding dengan tekanan kuat, mencengkram wajah yang jauh lebih kecil darinya itu tanpa ampun.
“ Maafkan saya Tuan Xavier, tapi bukan seperti itu maksud saya…!” nafasnya sudah mulai putus, pasalnya jemari besar Xavier sudah beralih ke leher berjasnya.
“Tuan, tol...ong saya…tidak bisa..be..nafas…”
“Apa kau bilang?” Xavier tersenyum, mendekatkan telinganya pada bibir Bahar yang berusah terus bersuara.
“ Jangan jahat!” pekikan itu nyaring, mengalihkan perhatian Xavier dari Bahar. “ Kamu orang jahat, pergi!” teriaknya keras diiringi tangisan keras.
“ Pergilah Bahar, biar saya yang urus gadis itu!” usirnya pada Bahar.
“ Tapi Tuan, saya mohon jangan nona ini!” Xavier bukan orang yang sabar, dengan tanpa perasaan satu hantaman mendarat diwajah pria itu, darah segar perlahan keluar dari hidungnya. “ Keluar!” sentaknya kasar, mendorong tubuh paruh baya itu keluar dan mengunci pintunya dari dalam.
“ Pergi! Kamu orang jahat!” gadis yang bersimpuh dilantai itu berteriak keras, air mata tiada henti keluar dari ceruk telaganya.
“ Kau memintaku pergi begitu saja? Padahal kita belum bersenang- senang!” kaki itu melangkah semakin dekat, menginjak pecahan yang berserakan, tak perduli.
“ Menjauh!” tangan kecil itu meraih pecahan dan menodongkannya pada Xavier. “ Aku bisa melukaimu dengan ini!”
“ Melukaiku sama seperti kamu mencoba melukai dirimu sendiri?” mengambil dengan cepat pecahan yang berada ditangan mungil itu.
“ Pria tua itu bilang kau sedang berada dalam pengaruh obat lalu Apakah kamu berniat untuk mati untuk meredakan obat yang mengalir ditubuhmu?” tangan besar itu terulur, menghapus lelehan air mata yang terus mengalir diwajah mungil itu. “ Saya bisa membantumu untuk lepas dari pengaruh obat sialan itu!”
“ Tidak!” Mutiara menggeleng dengan keras.
“ Obat itu tidak akan berhenti bekerja sebelum kamu mendapatkan kenikmatan duniawi!” Xavier mulai mengecup ceruk leher jenjang dihadapnya dengan lembut dan desahan panjang nan menggoda itu sedikit terdengar merdu dibalik isak tangisnya.
“ Pergi!”
“ Bukankah rasanya sangat panas, sakit dan tersiksa dibawah sana! Jujurlah, sayang!”
“ Tidak!”
“ Pembohong kecil!” dan tubuh mungil itu dengan cepat terangkat dan direbahkan diatas Kasur yang empuk.
“ Saya bukan p*lacur! Lepaskan saya! Saya mau pulang!” isakan itu keras, memukuli tubuh besar yang menindihnya itu.
“ SST! Jangan menangis!” Xavier membasuh air mata itu dengan ujung jarinya, “ Santailah, sayang! Saya akan membuat efek obat sialan itu pergi dengan cepat!” rayunya basi.
“ Aku tidak mau! Aku bukan p*lacur!” rontaan itu semakin keras, bahkan tanpa rasa takut menampar wajah Xavier yang tampan itu. “ Kamu membuat saya marah nona!” dengan cepat Xavier melepas dasi yang mengikat lehernya dan mengikat kedua tangan gadis itu diatas kepala.
Tangis itu dengan cepat berubah, desahan panjang mulai mengalun dari bibir ranum itu saat dengan nakalnya bibir Xavier menghisap lehernya yang jenjang, meninggalkan beberapa tanda merah keunguan yang tidak akan bisa hilang selama bebeberapa hari.
“B*ajingan!”
“ Terima kasih, nona cantik!” senyumnya lebar, menatap manic gadis itu dengan senyum lebarnya sebelum memangut bibir cerry yang terlihat segar itu. Dan terima kasih pada obat perangsang yang ada dalam tubuh gadis itu karena secara tidak sadar menyambut dan membalas setiap cumbuan Xavier meskipun sangat amatir.
Keduanya larut dalam gairah, bahkan tak segan Xavier melepaskan tali yang membelenggu tangan gadis itu, mengecupi setiap sisinya dengan lembut warna lebam yang tercipta disana.
“ Aku mau pulang!” desahnya pelan namun Xavier sama sekali tidak menggubrisnya.
“ Tidak sebelum semua ini selesai!” Xavier menunduk dan sedikit menarik turun bagian depan gaun itu, mencium belahan ranum yang terlihat mengintip malu.
“ Jangan!” tangannya menakup wajah Xavier, menjauhkan wajah pria itu dari aset atasnya.
“ Saya hanya ingin memberi penghargaan kepada mereka yang cantik.” Bibir itu menyeringai, mengecup jemari gadis itu lembut sebelum menjauhkannya dari apa yang dia mau.
Biasanya Xavier akan merobek atau meminta jalangnya untuk menelanjangi diri mereka sendiri sebelum bersenggama namun kali ini pria itu melepaskan gaun yang membalut tubuh gadis itu dengan perlahan sembari mengecup setiap inchi kulit seputih pualam yang terpampang didepannya.
“ Cantik sekali!” pujian yang akhirnya membuat gadis itu mendesah, mencengkram surai lebat yang ada didepannya untuk melampiaskan rasa asing yang baru dirasakannya.
“ Apakah kau ingin saya membuatnya semakin besar?” Xavier tersenyum , menakup buah segar yang masih terlihat belum tumbuh sempurna itu, meremasnya lembut sambil sesekali memainkan puncak pinknya yang menjulang dengan malu.
“ Tidak!” Mutiara menggeleng keras, menahan desahannya yang kian keras.
“ Sayang sekali! Padahal saya berniat baik hati membantumu!” Xavier tersenyum, menundukkan wajahnya dan mengecupi gumpalan lembut itu sambil sesekali mengeluarkan lidahnya, membelai gumpalan itu dengan gerakan memuja.
“ Saya akan melakukannya sekarang!” nafas itu memburu, nafsunya sekan sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Dengan tidak sabar melepas kain yang masih membalut tubuhnya dan melemparkan semua ke lantai.
“ Tidak!”gadis itu kembali meronta tapi sama sekali tiada hasil.
“ Bibirmu bicara tidak tapi lihat wajah dan dibawah sana berteriak ingin dimasuki! Jangan khawatir, saya akan melakukannya dengan lembut!” Perlahan bibir itu merayap menuju perut datar yang tersaji didepannya dengan kecupan- kecupan panjang dan jilatan lidahnya. Sampai akhirnya Xavier sampai dicelah terintim itu. Manic tajamnya semakin gelap, wajahnya sedikit menunduk untuk menghirup aroma terintim gadis itu.
“Virgin!” pria itu tersenyum, naluri lelakinya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Secara kurang ajar lidahnya keluar, menjilat bagian intim itu sampai sang gadis mendesah dengan kerasnya.
Mutiara tidak tahu, dia seperti bukan dirinya sendir kali ini, dia menggeliat dan mendesah seperti jalang saat pria menjijikkan itu mulai melakukannya.
“Show time!” Dengan perlahan menyatukan pusat keduanya.
“ Sakit!” teriaknya sembari berusaha menjauhkan tubuh Xavier.
“ Sedikit lagi sayang!” Xavier mengeram semakin menekan intim juniornya saat penghalang itu semakin terasa.
“ Saya akan sedikit lembut. Ok.” Ucapnya lembut dengan mengecupi setiap lelehan air mata yang keluar dari mata indah itu. “ Ini akan terasa enak nanti! Tahan sedikit, Ok!” Rayunya.
“Tidak, aku tidak mau! Aku mau pulang!” rontaan itu masih terjadi tapi tidak keras seperti tadi, tenaga Mutiara sudah terserat habis.
Setelahnya semua berjalan seperti apa keinginan Xavier, tangis itu berubah menjadi desah nikmat. Xavier terus bermain sangat liar, membuktikan keperkasaannya yang rasanya tidak akan pernah surut. Pergulatan panas itu seakan tidak sanggup dia akhiri, berulang kali dengan nakalnya dia menggoda gadis cantik itu untuk lagi dan lagi mereguk indahnya malam mereka. Dan kini setelah hampir pagi, gadis itu telah jatuh terlelap akibat rasa lelah dan tangis.
“ Sial, kenapa dingin sekali!” pria itu baru menyadari suhu yang kelewat dingin itu, manic Xavier menatap AC yang terpasang kemudian mengutuk Bahar yang menyetel suhu sampai 16℃.
Tanpa malu, tubuh yang tidak berbalut kain itu berdiri, mengambil remote dan mengubah suhu ruangan dan kembali lagi keatas ranjang, menarik selimut dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.