6

1716 Words
Tawa cantik terus mengalun dari bibir berpoles liptik warna cerry itu sembari bergerak tak beraturan bersama pemuda yang tengah menari didepannya. “ Senang?” pertanyaan yang hanya mendapatkan anggukan sebagai jawaban. Ya, Mutiara cukup rileks sekarang dan rasa takutnya menguap. “ Andra, aku ingin pergi ke toilet!” bisiknya pada cuping telinga si pemuda. “ Mau kuantar?” “ Tidak!” wajah gadis itu memerah dan kepalannya geleng keras karena malu. “ Baiklah, aku akan menunggumu di meja kita yang tadi!” tunjuknya pada sofa kecil tempat mereka tadi,” Cepat kembali!” “ Ok!” gadis itu langsung menghilang sedangkan Andra mulai berjalan menuju tempat duduk mereka tadi sambil bermain media sosial. 5 menit. 10 menit. 20 menit Gadis itu tak kunjung kembali, Andra yang duduk disofa mulai resah lantas mendial nomor Mutiara sembari berjalan menerobos kerumunan lantai dansa. “ Kemana sih ini bocah!” kesalnya, berulang kali mendial nomor gadis itu sama sekali tidak mendapatkan jawaban. “ Angkat teleponnya, Mutiara!” pada akhirnya pemuda itu telah sampai didepan toilet wanita. Melongok berulang kali dari samping pintu pasalnya dia tidak mungkin masuk begitu saja kearea wanita.  “ Hai, aku mau bertanya!” cegahnya pada dua orang gadis yang baru keluar dari dalam. “ Apakah kalian  melihat Mutiara didalam?” tanyanya langsung sembari menunjukkan salah satu foto Mutiara yang dia jepret beberapa waktu yang lalu. “ Tidak ada siapapun didalam sana! Coba saja cek!” ujar gadis itu, menunjuk toilet wanita dengan dagunya. Tanpa pikir panjang, Andra masuk, berpendar sekeliling ruangan dengan teliti dan memeriksa setiap bilik toilet yang nyatanya kosong. “ Sialan!” paniknya lantas. “ Apakah ada toilet lain di lantai ini?” “ Di lantai ini hanya ada satu toilet wanita, coba saja kamu cek kamar mandi di lantai 2 atau 3, mungkin dia ada disana!” “ Terima kasih!” pemuda itu berlari, menaiki satu- satunya tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2 dengan terengah- engah. Manic coklatnya berpendar, mencari lokasi toilet. Langkah lebarnya terhenti karena ada banyak wanita berlalu lalang disekitaran tempat itu, “ Maaf, apakah anda melihat teman saya?”sembari mengangkat ponselnya, wanita yang berada didepannya itu hanya menggeleng tanda tak ada. “ Apakah anda yakin? Saya mohon, lihat sekalli lagi!” pintanya memaksa. “ Tidak ada gadis remaja didalam sana, kamu bisa menanyakan pada orang yang masih ada didalam!” wanita itu menunjuk dengan dagunya. Dan memang benar satu persatu yang keluar dari sana tidak menemukan gadis itu. “ Mungkin dia di lantai 3!” Pemuda itu naik lagi ke lantai teratas gedung dan mendapati hal yang sama. “ Terima kasih!” lemas sudah, pemuda itu menunduk sebelum akhirnya menatap deretan room ekslusif yang berjejer sepanjang lantai 3 ini. “ Mutiara tidak mungkin berada disana!” dan bersamaan dengan itu ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.   Andra, maaf tadi perutku sakit dan aku harus pulang terlebih dahulu.   Hanya itu pesan yang tertulis disana. “ Ya ampun Mutiara, kamu bikin aku kena serangan jantung saja!” keluh pemuda itu, menghapus lelehan keringat yang perlahan turun disekitar pelipisnya.   Ok, hati- hati! Telepon aku saat sampai rumah!   Balasnya singkat. Mungkin Andra juga harus pulang, toh Ayahnya berpesan jangan pulang malam. Dan tanpa pemuda itu sadari, disalah satu ruangan tertutup dilantai itu Mutiara tengah bersimpuh diatas lantai, tangan dan kakinya diikat bersama dengan 3 orang lainnya, salah satu dari mereka adalah seseorang yang mengamatinya sedari tadi. “ Berhasil!” senyumnya lebar, meletakkan ponsel Mutiara diatas meja kemudian menatap gadis yang bersimpuh didepannya itu. “ Apa maumu, Nandya!” wajah gadis itu sudah pucat. “  Apakah seperti itu cara menyapa teman yang tak lama jumpa?” gadis itu tersenyum lebar. “ Kamu bukan temanku!” air mata itu perlahan menetes, mengingat dengan detail saat tubuhnya didorong kejurang sembari berkata, “ Gadis miskin dan menjijikkan sepertimu tidak pantas hidup, sebaiknya kamu mati dan masuk neraka!” itulah kata- kata Nandya sembari menginjak tangan Mutiara yang masih bergantung di bebatuan. “ Ck, padahal aku ingin memperbaiki keadaan dengan mengucapkan selamat padamu karena telah menjadi lulusan terbaik di mantan sekolahku dulu.” Gadis itu mendesah, kecewa.  “ Kalau kamu ingin mengatakan itu, kenapa kamu malah mengikatku seperti ini?” Mutiara bukan anak kecil yang bisa ditipu begitu saja, “ Katakan secara langsung apa maumu kali ini!” “ Oh kamu tidak ingin aku basa- basi, Baiklah kalau itu maumu!” gadis itu berjalan mendekat, jemarinya terulur, menyentuh dagu gadis itu untuk menatap manic hitamnya. “ Aku ingin kamu bersenang- senang dengan cara sebenarnya!” “ Tidak!” Mutiara menggeleng dengan keras, “Lepaskan aku sekarang!” “ Minta dilepaskan sekarang, tentu saja tidak mungkin karena kita belum mulai apapun!” senyumnya lebar. “ Apa salahku padamu sampai kamu tega seperti ini?!” “ Salahmu? Kamu masih bertanya!” satu jambakan dengan cepat bersarang disurai lembut itu, “ Kau masih bertanya? Kehadiranmu disekolah sejak awal sudah sangat salah! Ditambah lagi keluargamu itu sudah menghancurkan masa depanku, Jalang!” “ Kamu yang memulai semua! Itu karmamu!” “ Karma?” bibir itu mendekat, membisikkan sesuatu dicuping telinga berhias anting permata itu, “ Aku tidak percaya karma! Karena kalau aku hancur, kamu juga harus lebih hancur!” senyumnya lebar. “ Kamu jahat Nandya! Kakak dan Semua orang akan sadar kalau aku belum kembali, mereka akan dengan cepat mencariku dan menghukummu!” “ Benarkah? Kau yakin mereka akan mencarimu?” manic itu terbelalak takjub, berjalan menuju meja dan membuka ponsel Mutiara. “ Andra, maaf tadi perutku sakit dan aku harus pulang terlebih dahulu.”   “ Kak, acaranya mungkin berakhir sampai malam, maaf mungkin aku akan pulang terlambat. Jangan telepon Andra karena ponselnya habis baterai.” Nandya membacakan dua pesan yang dia kirim melalui ponsel Mutiara, “ Teman bodohmu yang bernama Andra itu benar- benar selalu bisa diandalkan karena kamupun tahu pemuda itu malas charge ponsel dan bisa dipastikan 10 menit dari sekarang ponselnya sudah mati.” Senyumnya lebar, “ Dan mengenai supir yang dikirim keluargamu, jangan banyak berharap karena mungkin sekarang dia sudah pingan karena meminum minuman yang mengandung obat tidur.” Nandya tersenyum, “ Menurutmu bagaimana?” Ceruk telaga Mutiara perlahan menetes, tak kuat menampung air mata yang sedari tadi ditahan oleh gadis kecil itu,“ Tolong aku, lepaskan aku!” “ Tentu saja Tidak! Guys, apakah kalian ingin bersenang- senang dengan gadis ini?!” menawarkan pada kedua pemuda yang berada diruangan itu, salah satunya adalah pemuda yang mengganggu Mutiara tadi. “ Kamu menawarkan gadis ini? Tentu saja kami mau!” seringai menjijikkan itu terbit. “ Tidak!” Mutiara yang terikat hanya mampu meronta dan menangis. “ Aku mohon lepaskan aku!” “ Tentu saja tidak, jalang!” tamparan itu bersarang dengan keras oleh si pemuda tadi. “ Kalian s*tan menjijikkan!” “ Diam!” “ Kita harus membuatnya mabuk dulu, Nan!” usul salah salah satu pemuda, memegangi Mutiara dengan kualahan. “ Kamu benar, hampir saja aku lupa!” Gadis itu lantas berdiri, mengambil gelas berisi alkohol dan memasukkan sebutir pil kedalamnya. “ Apa yang kamu masukkan?” salah satu temannya bertanya dengan alis mengerut. “ Obat yang akan membuat semuanya menjadi seru!” “ MMM!” mulut itu terkatup rapat, mencegah cairan itu masuk kedalam mulutnya. “ Buka mulutmu, jalang!” ujarnya kemudian mencengkram wajah Mutiara, cairan pekat itu masuk secara perlahan meskipun berulang kali Mutiara tersedak. “ Kalian Jahat!” tangisnya pilu, menatap ketiga orang didepannya dengan nyalang. “ Gadis itu milik kalian!” ujar Nandya, berjalan menuju meja, duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa- apa didepan matanya. “ Sepertinya dia melemah, Sebaiknya kita lepaskan tali ini!” usul salah satunya. “ Ok!” Tali yang mengikat kaki dan tangan itu lepas membuat Mutiara terbaring diatas lantai setengah sadar. “ Bukankah dia cantik? Bahkan lebih cantik darimu, Nandya!” “ Tidak usah memuji seperti itu b******k!Lakukan saja apa yang kalian mau pada gadis itu!” kesal Nandya, meraih gelas alkoholnya dan menegak sedikit. “ Tidak perlu kamu suruh, pasti akan kita nikmati!” seringai itu kejam tapi sebelum melancarkan aksinya lebih jauh, hak runcing langsung mendarat di pelipis pemuda itu. Darah segar secara perlahan turun dari sana. “ B*rengsek!” tangan itu terulur, hendak mencekik leher Mutiara tapi dengan cepat gadis itu meraih tangannya dan menggigitnya dengan keras. Lengkingan kesakitan itu terdengar keras diruang kedap suara itu. “ Apa yang kamu lakukan jalang!” satu pemuda lainnya mendekat dan mendapatkan lemparan hells dari gadis itu, “ Kalian menjauh, S*tan!” tangisnya pilu, “ Dan kamu!” menunjuk wajah Nandya yang berdiri kaget didepan mejanya, “ Apakah kamu pantas melakukan ini pada sesama perempuan?!” “ Tidak!”Nandya menggeleng dengan polos, “Tapi kau pantas mendapatkannya!” “ Apa katamu!”wajah Mutiara kecewa, sebenci itukah Nandya kepadanya? “Kau tahu aku sangat membencimu, kan? Jadi melihatmu seperti ini justru membuatku senang.” Mutiara bangkit menerjang tubuh Nandya, meraih botol yang ada diatas meja dan membantingnya keatas lantai kemudian memungut pecahan terbesar. Menarik lengan Nandya dan mendekatkan pecahan botol itu pada leher jenjang gadis itu. “ Aku juga bisa melakukan ini padamu!” teriaknya kencang diiringi tangis marahnya. “ Jauhkan benda ini, B*rengsek!” wajah gadis itu pucat, menelan ludah sembari melirik ujung runcing yang bisa merobek kulit lehernya itu. “ Dalam mimpi busukmu!” langkah Mutiara mulai tidak imbang berulang kali gadis itu mengerjapkan mata, berusaha sadar dari pengaruh alkohol dan obat busuk  yang masuk kedalam tubuhnya, membuka pintu yang terkunci itu masih dengan membawa Nandya dalam tawanannya. “ Kalian menjauh kalau mau satu teman kalian ini selamat!” ancamnya serius. “ Ok!” kedua pemuda itu tidak berani berkutik. Setelah jarak antar dirinya dan kedua pemuda itu aman, Mutiara segera mendorong tubuh Nandya dengan kasar di lantai. “ Jangan mendekat, aku bisa melukaimu, Nandya!” ancamnya keras, menggunakan pecahan botol sebagai tamengnya. Setelah dirasa mereka tidak bisa menjangkaunya, Mutiara lantas pergi. Gadis itu terus berlari, menyusuri lorong panjang itu dengan kaki mulai oleng, “ Kamu bisa keluar dari tempat ini, Mutiara!”ucapnya  berpegang teguh dengan botol yang dia pegang. Tapi semua jauh dari angannya, ketiga orang itu nyatanya tidak membiarkannya pergi begitu saja. “ Berhenti, kamu!” teriakkan itu keras sedangkan nafas dan langkah Muti mulai hilang kendali. “ Sedikit lagi!” ucapnya lirih, menatap dalam bayang buram sosok besar yang berjalan beberapa meter didepannya. “ Tolong!” manic itu dengan cepat hilang kesadaran dan jatuh dalam dekapan pria besar yang berada didepannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD