Alunan music klasik mengalun lembut memenuhi isi ruangan berdekorasi ala abad pertengahan itu dan semakin terlihat semakin mewah dengan adanya lampu- lampu kristal yang menggantung ditengah ruangan. Jarak mejanyapun dibuat sedikit berjauhan untuk menjaga privasi para costumernya. Dan jemari bercat merah itu dengan santainya mengiris daging tebal yang berada di piringnya, mengabaikan pria muda yang terlihat menatapnya kesal. “ Kenapa, apakah kau tidak suka makananmu William?!” Serena berujar pelan setelah menelan potongan daging itu. “ Jangan pura- pura sok tidak mengerti Serena!” wajah itu mengeram, membuat sosok lain yang berada di meja itu mengkerut takut. “ Jangan terlalu keras! Kau menakutinya!” ujarnya santai. “ Untuk apa kau membawa orang lain dalam jamuan makan malam kita!” “

