Airin membasuh mukanya dengan air dingin di wastafel kamar mandi. Menghilangkan jejak kesedihan di wajah. Hatinya masih terasa kesal tiap kali teringat dengan perkataan Raldo yang menghina profesinya. Bahkan setiap ucapan yang keluar dari mulut pria yang sudah tiga tahun mewarnai hidupnya itu terasa terus berdengung di telinga.
Dihembuskan nafas kasar guna menghilangkan rasa kesal yang masih tersisa dalam hati. Mencoba untuk tetap bersikap wajar walau hatinya merasa kecewa dengan kekasihnya itu. Saat merasa jauh lebih baik, Airin memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Mungkin saja sekarang ini teman-temannya sedang membutuhkan bantuan.
Dugaan gadis itu benar, baru saja Airin keluar dari kamar mandi seseorang sudah memanggil namanya. Membuat gadis itu otomatis menengok ke arah sumber suara.
“Airin!” panggil Naura sambil melambaikan tangannya. Temannya itu terlihat begitu tergesa menghampiri.
“Ada apa Naura? Kau mencariku?” tanya Airin.
Naura membungkuk, tampak mengatur nafasnya sebentar sebelum ia menjawab pertanyaan teman seprofesinya itu.
“Di cariin mas Ardi tuh, katanya penting!” jawab Naura sambil menegakkan kembali tubuhnya.
Dahi Airin mengerut saat mendengar jawaban dari Naura. Kenapa manajer divisi itu kembali mencarinya? Padahal mereka baru saja bertemu ketika membicarakan rencana pertunangan bos mereka.
“Dimana Mas Ardi sekarang?” tanya Airin lagi, kepalanya menoleh mencari keberadaan orang yang katanya sedang mencari dirinya itu.
“Di dekat pantry. Kamu ke sana saja, pasti masih ada di sana kok,” balas Naura.
Airin melangkah mendekati ruang pantry. Tampak pria yang selama ini menjabat sebagai manajer itu sedang bicara dengan beberapa orang pelayan yang memakai seragam sama seperti yang Airin kenakan.
“Mas, Mas Ardi cari saya?” tanya Airin, memotong pembicaraan Ardi dengan pelayan itu.
Seketika pria itu langsung menoleh ketika mendengar suara Airin yang sedang ia cari.
“Ah, iya Airin, untung kamu sudah ada di sini. Ini, tolong bantu Siska membawa pesanan untuk meja VIP sekarang. Teman yang lain sedang sibuk, Siska juga tidak mungkin membawa semua pesanan ini sendirian,” terang Mas Ardi sambil menunjuk troli yang sudah berisi penuh menu masakan terbaik di restoran itu.
Dalam hati gadis itu bertanya, siapa tamu yang ada di meja VIP dan memesan begitu banyak makanan mahal yang akan ia antar sebentar lagi.
“Ai, kamu dengar perintah saya?” ulang Mas Ardi ketika melihat Airin hanya diam sambil melihat ke arah troli.
Airin yang tersentak kaget menjadi salah tingkah, ketahuan melamun di saat kerja. Untung Ardi orang yang baik dan tidak terlalu mempersoalkan masalah sepele seperti itu.
“Iya mas, saya akan bantu Siska!” jawab Airin sambil tersenyum manis.
Selanjutnya kedua orang gadis itu mendorong troli menuju meja VIP yang berada di lantai 2. Tentu saja mereka harus menggunakan lift guna membawa troli itu naik ke atas.
“Kira-kira siapa yang memesan makanan semahal ini ya?” gumam Airin ketika berada di dalam lift berdua bersama Siska.
“Aku kurang tahu, tapi dengar-dengar orang itu sebenarnya tamunya Tuan Gunawan. Tuan Besar sengaja mengajak bertemu di resto ini untuk mengenalkan restoran ini kepada temannya itu.” Siska bicara panjang lebar, sedang Airin hanya mengangguk- angguk saja.
‘Jika teman Tuan Gunawan, pasti orang itu sudah tua dan keriput,’ kekeh Airin dalam hati.
Membayangkan jika teman dari Tuan Besarnya pasti seumuran atau mungkin jauh lebih tua dari ayahnya Raldo itu.
Tak lama pintu lift terbuka setelah terdengar bunyi dentingan, tanda jika mereka sudah sampai di lantai dua. Siska keluar lebih dulu, sedang Airin keluar belakangan sambil mendorong troli dengan kedua tangan.
Dari jauh ia bisa melihat saat ini Gunawan sedang bicara dengan temannya itu. Sayang Airin tidak dapat melihat wajahnya karena pria itu duduk membelakangi pandangan Airin sekarang.
Gadis itu sedikit merasa cemas, karena ia melihat tak hanya Gunawan dan temannya saja yang ada di meja itu. Tapi Raldo dan Sinta juga sudah bergabung bersama mereka.
Melihat kedatangan kekasihnya, Raldo yang sejak tadi hanya menjadi pendengar di tempat itu, karena tidak tertarik dengan pembicaraan yang sedang ayah serta temannya itu perbincangkan. Pria itu justru terus menatap lekat pada Airin yang kini sudah semakin mendekat.
Tak sengaja mereka saling bertukar pandang dan entah kenapa Airin merasa pandangan Raldo terlihat sangat tajam. Membuat gadis itu langsung membuang pandangannya dan melihat ke arah yang lain.
Troli yang Airin dorong berhenti di samping meja. Dengan cekatan kedua gadis pelayan itu memindahkan beberapa piring berisi makanan dari atas troli ke meja. Juga memberikan satu persatu desert pada masing-masing orang yang berada di meja itu. Semua baik-baik saja, sampai Airin meletakkan desert terakhir untuk orang yang sedang duduk di samping tempatnya berdiri.
Pria yang tadi bertabrakan dengannya itu tampak memperlihatkan senyuman termanis untuk Airin. Deretan gigi putih dan rata terlihat begitu rapi menghias mulut tipisnya. Membuat jantung
Airin langsung berdetak kencang. Tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang sudah membuat Raldo menjadi kesal kepadanya.
‘Letakkan lalu segera kembali ke dalam,’ rencana Airin dalam hati.
Airin menghirup nafas panjang dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Meletakkan piring kecil berisi desert di depan Bayu. Namun ketika baru berbalik hendak pergi, justru ia merasa ada orang yang sedang memegang pergelangan tangannya. Menahan agar dirinya tidak terburu-buru pergi.
“Tunggu, Nona! Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu?” tanya Bayu, tangan kanannya masih memegang pergelangan tangan Airin, agar gadis itu tidak buru-buru pergi.
Bukan hanya Airin yang terkejut dengan sikap Bayu, bahkan keluarga Anggoro juga sangat kaget melihat Bayu yang tampak begitu tertarik dengan pelayan restoran mereka.
Terlebih Raldo, melihat tangan kekasihnya disentuh laki-laki lain membuat emosinya seketika naik ke ubun-ubun. Tidak boleh ada pria yang boleh menyentuh gadis itu kecuali dirinya. Wajah Raldo seketika menegang, bahkan rahangnya sudah mengeras. Tangannya yang memegang garpu dan sendok terlihat menggenggam dengan erat, hingga otot tangan terlihat keluar.
Airin menatap penuh tanya pada pria yang sedang memegang tangannya, beberapa kali ia juga melirik ke arah Raldo yang menatapnya dengan pandangan membunuh sekarang. Ia bahkan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
“A-ada apa Tuan?” tanya Airin terbata. Merasa gugup sekaligus tidak nyaman dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang.
Bukan menjawab, Bayu malah tersenyum tapi belum melonggarkan pegangan tangannya.
“Tuan Bayu!” teriak Raldo yang sudah merasa kesal dengan apa yang pria itu lakukan pada kekasihnya.
Bayu tersentak kaget mendengar teriakan Raldo tadi. Refleks ia langsung melepaskan pegangan di tangan Airin.
“Maaf, aku tidak bermaksud kurang sopan terhadapmu. Tapi Nona, aku merasa sangat penasaran dengan dirimu. Tolong jawab dengan jujur, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Bayu sambi menatap hangat ke arah Airin.
Gadis itu menggeleng cepat, secara tidak langsung mengatakan jika mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Sikap Airin justru membuat Bayu terkekeh.
“Kalau begitu bagaimana jika sekarang kau bayar semua hutangmu kepadaku!” Bayu bicara dengan begitu entengnya.
Membuat semua yang mendengar langsung membulatkan matanya. Ketika mendengar kenyataan baru jika salah satu pelayannya memiliki hutang pada klien perusahaan Gunawan. Sontak semua langsung menatap Airin dengan pandangan yang tak bisa dikatakan. Terlebih Raldo yang sepertinya menyimpan banyak pertanyaan dalam kepalanya sekarang untuk gadis itu.
Airin sendiri sangat terkejut dan kaget dengan perkataan pria yang baru ditemuinya itu. Bagaimana mungkin dia dengan mudahnya menagih utang Airin, sedang dirinya merasa tidak pernah berhutang pada siapa pun.
“A-apa maksud Tuan? Aku tidak pernah berhutang pada siapa pun!” sangkal Airin dengan tegas.
“Cafe Rose, meja nomor 14, hari Saptu tanggal 5! Apa kau teringat sesuatu?” Bayu menoleh pada Airin yang kini terlihat begitu tegang setelah mendengar ucapan terakhir dari mulutnya.