Bertemu lagi

1581 Words
Raldo sudah berdiri di depan mamanya. Hanya berbatas meja saja dengan Airin. Nyonya Sinta mendongakkan kepala, melihat wajah anaknya itu sekilas. “Duduk!” suruhnya kemudian. Langsung dituruti oleh Raldo yang saat ini tengah menarik sebuah kursi tepat berhadapan dengan Airin. Sengaja ia memilih duduk di posisi itu agar bisa menatap wajah kekasihnya dengan lebih jelas. Airin tersentak kaget, saat merasakan seseorang tengah menyentuh betis kakinya. Tubuhnya menegang seketika, perlahan ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Wajahnya langsung bersemu merah saat tatapan matanya bertemu pandang dengan Raldo yang tengah tersenyum ke arahnya. Tanpa bicara, Airin sudah bisa menebak jika orang yang menyentuh betis kakinya barusan adalah Raldo. Tentu saja, kekasihnya itu sangat suka menggoda dirinya. Raldo dengan sengaja merentangkan kakinya agar bisa menyentuh kaki Airin. Rasanya ingin sekali gadis itu melempar Raldo dengan sepatunya. Bisa-bisanya pria itu menggoda dirinya, padahal saat ini ada mas Ardi dan Nyonya Sinta sedang bersama mereka. Melihat wajah Airin yang merona seperti sekarang ini, Raldo mengulum senyum. Rasanya ia begitu gemas jika melihat wajah Airin yang memang terlihat sangat menggemaskan bila sedang merasa malu. “Do, lihat ini! Kamu pasti suka dengan rancangan acara pertunanganmu ini!” panggil Nyonya Sinta, langsung membuat Raldo dan Airin sadar jika mereka tidak sedang berdua saja sekarang. Raldo memajukan tubuhnya untuk melihat kertas yang sedang mamanya sodorkan. Pria itu membaca tulisan tangan yang sangat rapi tertulis di sana. Bibirnya tersenyum, menyadari jika itu adalah tulisan tangan Airin. “Bagaimana menurutmu?” tanya Nyonya Sinta lagi, ingin tahu bagaimana pendapat putranya itu, karena jujur, dia sangat menyukai rancangan yang Airin buat itu. Raldo menghela nafas kasar, bersikap seolah ia menganggap jika rancangan buatan kekasihnya itu terlihat biasa saja. “Biasa saja, Ma! Malah menurutku lebih bagus rancangan milik EO terkenal!” ucap Raldo bohong, dalam hati ia memuji kepandaian kekasihnya itu, karena rancangan konsep acara yang Airin buat memang sangat bagus. Jawaban asal Raldo membuat hati Airin langsung terluka. Tapi gadis itu memilih diam, bersikap senormal mungkin agar tidak mengundang kecurigaan orang sekitar. Nyonya Sinta yang merasa kesal karena Raldo terlihat tidak menyukai konsep yang ia tawarkan itu langsung memukul lengan putranya. “Bagaimana sih kamu, konsep bagus gini kok kamu bilang biasa saja!” dengus Nyonya Sinta, kesal. Sebenarnya Raldo memang sengaja menolak konsep pertunangan yang Airin buat untuk dirinya. Ia hanya ingin menjaga hati kekasihnya itu. Karena Raldo merasa sangat yakin jika ia mengatakan jika dirinya suka dengan konsep itu, maka Airin pasti akan langsung berpikir jika dirinya memang setuju dengan rencana pernikahan bisnis ini. “Ya gimana, menurutku biasa saja, nggak ada yang spesial yang bisa membuatku merasa tertarik!” balas Raldo cepat. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, wajahnya sengaja ia buat angkuh, agar mamanya tidak merasa curiga. Dalam hati Airin sudah hampir menangis, kata-kata Raldo terasa begitu tajam menusuk dirinya. Rasanya pria itu tidak menghargai kemampuan yang Airin miliki. “Tapi mama suka dengan konsep ini! Pasti ada alasan dong yang bikin kamu nggak suka! Coba bilang, di bagian mana kamu tidak menyukainya, agar Airin bisa mengubahnya sesuai dengan keinginanmu!” Nyonya Sinta menatap serius putranya. Masih bersikeras untuk memakai konsep acara yang Airin buat. Hari pertunangan sudah dekat, tapi anaknya malah terlihat sedang mempersulit acara pertunangan itu. “Aku tidak suka dengan semua konsepnya, Ma! Kenapa kita tidak menyewa jasa EO saja untuk mengurus urusan ini!” ucap Raldo, terdengar sangat ketus. Mata Airin memanas, wajahnya mulai tertunduk. Rasanya begitu kecewa dengan penolakan yang Raldo lakukan di depan mata. Semua yang pria itu lakukan justru membuat Airin berpikir jika Raldo sudah membohonginya kemarin. Janjinya untuk menolak pertunangan di hadapan Airin rasanya baru saja kemarin ia ucapkan. Kini Raldo malah terlihat begitu bersemangat untuk menggunakan jasa EO agar pestanya tidak mengecewakan. “Kenapa dengan Airin? Konsep buatannya tidak kalah dengan konsep buatan EO terkenal!” Nyonya Sinta terdengar membela Airin. Membuat hati gadis itu sedikit tersentuh. Karena walau wanita di sebelahnya itu terkenal sombong dan angkuh, tapi hari ini ia masih mau membela Airin yang hanya seorang pelayan. Sejak tadi ia sudah menahan diri dari segala perkataan Raldo yang begitu menghina dirinya. Semua masih bisa ia tahan, hingga pria itu berkata, “Karena dia hanya seorang pelayan, Ma! Aku tidak ingin pesta pertunanganku dirancang oleh seorang pelayan.” Hancur sudah hati Airin. Ucapan Raldo sudah sangat menyakitinya. Butir bening hampir lolos dari sudut mata, andai Airin tidak mampu menahannya. “Airin, kamu bisa pergi sekarang!” suara Ardi menyadarkannya. Sejak tadi pria itu terus menahan diri agar tidak marah, ketika mendengar Raldo terus saja menghina Airin. Ia merasa kasihan dengan gadis itu sekarang. Tidak tega, hingga menyuruhnya untuk segera pergi dari meja itu. Airin mengangkat wajahnya, melihat Ardi dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat pria itu merasa sangat iba. “Pergilah, pekerjaanmu masih banyak kan di belakang!” lanjutnya lagi dengan begitu lembut. Airin ingin sekali mengucapkan banyak terima kasih kepadanya karena sudah membantunya keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu. “Iya mas!” jawab Airin cepat. Sebenarnya Raldo sendiri juga tidak tega, mengatakan hal yang terdengar begitu merendahkan kekasihnya itu. Tapi pria itu merasa apa yang dilakukannya ini sudah benar. Dengan menolak Airin, secara tidak langsung ia sudah menyelamatkan kekasihnya itu dari tugas berat yang mungkin akan membuatnya sangat terluka nanti. Raldo sangat mengenal siapa mamanya, bukan tidak mungkin ibunya itu akan meminta Airin untuk mengurus semua keperluan acara pertunangan Raldo dan wanita pilihan orang tuanya itu. Jika itu sampai terjadi, Raldo yakin Airin pasti akan sangat terluka. Airin berdiri duduknya. “Nyonya Besar, Tuan Raldo, maaf, saya pergi dulu!” pamit Airin dengan hati yang ditegarkan. Nyonya Sinta menoleh pada gadis itu, sepertinya ia masih merasa keberatan jika Airin harus pergi sekarang. Urusannya dengan gadis itu masih belum selesai. Tapi Raldo malah mengacaukan semuanya. Sedang Raldo merasa tidak tega melihat kesedihan yang terpancar jelas di wajah kekasihnya. “Maaf Airin, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu! Saat kita bertemu di apartemen nanti, aku akan jelaskan semua kepadamu!” batin Raldo. Belum mendapat jawaban dari Raldo dan mamanya, Airin sudah langsung pergi dari meja itu. Tergesa membuat Airin tidak sengaja menabrak seorang pria yang berjalan ke arahnya. “Ah!” jerit Airin, hampir saja terjatuh ke lantai. Beruntung pria yang tidak sengaja bertabrakan dengan dirinya itu begitu sigap memegang dan menahan tubuh gadis itu agar tidak sampai jatuh. Airin yang merasa sangat terkejut, terdiam beberapa saat. Tidak sengaja pandangan keduanya bertemu selama beberapa saat. Raldo yang mendengar teriakan gadis itu sontak saja menoleh. Tak hanya dirinya, Nyonya Sinta dan Ardi juga langsung ikut menoleh. Melihat kekasihnya disentuh pria lain, membuat Raldo seketika meradang. Apalagi ia melihat Airin yang masih berada dalam pegangan pria itu, masih saja diam tanpa ingin melepaskan pegangan pria itu dari tubuhnya. Wajah Raldo memerah dan rahangnya mengeras, ia merasa sangat marah ketika apa yang menjadi miliknya di sentuh oleh orang lain. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berdiri dari duduknya, dan bergegas menghampiri Airin yang masih berdiri dengan posisi yang sama. “Airin!” teriaknya marah. Langsung menyadarkan Airin dari keterkejutannya. Gadis itu langsung melepaskan pegangannya pada pria yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tadi. Ia menjadi salah tingkah sekarang, karena sempat melamun tadi. “M-maaf Tuan, saya tidak sengaja!” ucap Airin gugup, sambil menyelipkan anak rambutnya ke telinga. Pria yang sedang berdiri di hadapannya malah tersenyum, melihat wajah Airin yang merona merah karena malu. Gadis itu jadi terlihat begitu menggemaskan di matanya. “Tidak apa-apa! Bagaimana denganmu? Apa ada yang terluka?” tanyanya balik. Airin menggeleng cepat. Ia memang tidak terluka sedikit pun tadi, hanya terkejut saja. Sedang Raldo yang sudah berdiri di belakang gadis itu terlihat tidak suka, ketika melihat interaksi yang dilakukan pria asing itu dengan kekasihnya. “Ada apa ini?” tanyanya ketus, membuat Airin tersentak kaget. Dari nada bicaranya, Airin sudah bisa menebak jika Raldo sedang marah sekarang. Jelas saja kekasihnya itu menjadi sangat marah sekarang, karena Airin tengah bicara dengan pria lain di depan matanya. Gadis itu sangat mengenal sifat Raldo, pria itu begitu posesif hingga terhadap dirinya. Ia tidak akan pernah suka jika melihat Airin bicara dengan pria lain, walau itu temannya sendiri. “Tidak ada apa-apa Tuan, hanya tidak sengaja tertabrak saja!” jawab Airin cepat. Tanpa menunggu Raldo bicara kepadanya lagi, Airin pergi dari tempat itu. Bukan tidak mungkin Raldo akan bertengkar dengan pria yang ada di depannya itu, jika ia masih saja berdiri di sana. “Saya permisi Tuan!” kata Airin, sambil berlalu pergi. Raldo menatap punggung kekasihnya yang semakin menjauh. Tidak sengaja ia melirik pria yang bertabrakan dengan Airin tadi. Matanya membulat sempurna, melihat pria itu terus menatap Airin tanpa kedip hingga gadis itu menghilang di balik pintu. Hampir saja mulutnya terbuka untuk menegurnya, andai sang ayah tidak tiba-tiba datang. “Tuan Bayu! Kenapa tidak bilang jika Anda sudah sampai di sini!” sapa Gunawan dari belakang Raldo. Pria yang dipanggil Bayu itu seketika menoleh ketika namanya di sebut, lalu tersenyum ramah pada Gunawan yang sedang berjalan melewati Raldo. “Tuan Gunawan!” Pria tampan itu menyambut jabat tangan yang Gunawan sodorkan kepadanya. “Saya baru akan menghubungi Tuan, ketika tadi tidak sengaja bertabrakan dengan gadis itu!” jawabnya sambil menunjuk ke pintu tempat terakhir dia melihat Airin sebelum menghilang. Gunawan mengerutkan kening, tidak mengerti yang sedang Bayu bicarakan. Membuat Bayu tertawa dan langsung menjelaskan jika ia baru saja bertabrakan dengan seorang gadis cantik di tempat itu. Raldo yang mendengar orang lain memuji kekasihnya cantik menjadi kesal. Tidak ada yang boleh mengatakan Airin cantik kecuali dirinya. “Berani sekali dia mengatakan Airin cantik!” geram Raldo dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD