Kembali berbaikan

1936 Words
Terdengar suara kunci di buka dari dalam dan pintu di depan Raldo mulai terbuka. Wajah Raldo yang tadinya merah padam karena marah mendadak melunak, ketika melihat gadis yang muncul dari balik pintu dengan penampilan yang begitu kacau. Matanya yang sembab dengan jejak basah di pipi, jelas sekali memperlihatkan kalau ia baru saja menangis. Ada bekas eyeliner berantakan di wajah, mungkin luntur terkena air mata tadi. Baju yang dipakai pun sudah tidak serapi ketika Airin keluar dari kantor Raldo. Pria itu langsung paham, jika gadisnya itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Tangan Raldo langsung merengkuh tubuh mungil Airin. Ingin memberikan pelukan untuk menenangkan gadisnya itu. Namun Airin sudah lebih dulu beringsut mundur, bahkan sebelum tangan Raldo menggapai tubuhnya. Gadis itu mundur beberapa langkah, Menjauh dari jangkauan kekasihnya. “Ngapain kamu ke sini? Sebaiknya kamu pergi, aku tidak ingin bicara denganmu!” sinis Airin, membalik tubuhnya, dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dengan cepat Raldo langsung menarik tangan gadis itu, menahannya untuk tidak pergi. “Kita harus bicara, kamu nggak bisa menghindar kayak gini! Dengarkan dulu penjelasanku! Lagi pula aku tidak akan pergi sebelum salah paham ini terselesaikan!” seru Raldo, menolak pergi. Airin memutar kedua bola matanya dengan malas. “Apalagi yang mau kamu jelaskan? Aku sudah mendengar semua dengan jelas tadi, apa yang Nyonya Sinta katakan di ruanganmu!” balas Airin cepat. “Dan aku rasa, kamu juga tidak merasa keberatan dengan rencananya itu. Buktinya kamu juga tidak menolak bukan untuk di jodohkan! Jadi selamat menikah dengan calon tunanganmu itu, Tuan Raldo yang terhormat!” sindir Airin terdengar menusuk di hati Raldo. Gadis itu menarik tangannya dari genggaman Raldo dengan kasar, lalu melenggang masuk ke dalam kamar. Pria itu meringis, menyadari kalau ternyata kekasihnya itu bisa juga mengatakan kata-kata pedas ketika sedang marah. Ingin segera masalah mereka selesai saat itu juga, Raldo mengekori Airin dari belakang. Ia harus bisa meyakinkan kekasihnya itu, agar hubungan diantara mereka kembali baik seperti semula. “Setidaknya dengar dulu penjelasanku! Kamu tidak boleh bicara seperti itu Airin, aku tidak suka!” geram Raldo sambil berjalan di belakang Airin. Gadis itu menghempaskan bokongnya dengan kasar, duduk di tepi tempat tidur dengan muka ditekuk. Jelas sekali kalau dia sedang benar-benar marah sekarang. Raldo menelah ludahnya sendiri dengan susah payah, sepertinya ia harus berusaha keras untuk membujuk Airin agar mau memaafkannya kembali. Raldo duduk di samping gadis itu, lalu berdehem sebentar. Mengatur kata-kata, agar tidak salah bicara dan membuat keadaan semakin kacau. “Airin, aku tidak setuju dengan rencana mama, hanya saja saat di kantor tadi, aku tidak mungkin untuk menolaknya! Jika mama dan papa bertanya, apa alasanku tidak mau menikah dengan gadis itu, aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang kalau sekarang aku sudah memiliki gadis pilihanku sendiri untuk aku jadikan istri!” terang Raldo. ‘Memang itulah yang seharusnya kamu katakan jika memang benar mencintaiku!’ teriak Airin dalam hati. “Kamu tahu sendiri kan bagaimana papa dan mama, jika aku menolak permintaan mereka! Bisa-bisa semua aset yang sudah papa berikan, ditarik kembali! Lalu aku harus hidup dengan apa? Aku masih belum siap jatuh miskin, Airin!” lanjut Raldo tadi. Airin mendengus kesal, selalu saja cinta mereka bisa dikalahkan oleh uang. Sikap Raldo yang seperti ini yang paling Airin benci. Pria itu terlalu pengecut untuk mengambil keputusan hidup mandiri dan takut jika harus merasakan hidup miskin. Airin selalu malas meladeni Raldo yang seperti ini. Tak mendapat respons dari gadisnya, Raldo memegang kedua lengan Airin, lalu membalik tubuh gadis itu yang tengah membelakanginya, agar menghadap ke arahnya. Ia tidak suka bila Airin terus mendiamkannya seperti ini. Ditangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan. Sungguh melihat wajah Airin yang seperti ini, Raldo merasa tidak tega. “Sayang, dengarkan aku! Aku akan temui mama! Aku akan minta mama untuk membatalkan rencana gilanya itu! Mana mungkin aku bisa menikah dengan gadis lain, jika hati dan cintaku hanya untuk dirimu! Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai, yaitu dirimu, Airin! Bukan yang lain!” tekan Raldo dengan sangat lembut. Selalu saja kata-kata pria itu mampu melelehkan hati Airin, walau semarah apa pun dirinya. Nyatanya kini wajah gadis itu sudah merona merah ketika mendengar pernyataan cinta yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya. Melihat wajah Airin yang mulai melunak, Raldo merasa sangat lega. Ia yakin, dalam hatinya, Airin pasti sudah memaafkan dirinya. Ia sangat mengenal bagaimana sifat dari kekasihnya saat sedang merajuk setelah tiga tahun mereka menjalin hubungan. Direngkuhnya tubuh Airin ke dalam pelukannya. Raldo mendekap kekasihnya itu dengan erat, seakan sangat takut ada orang yang akan merebutnya. “Aku mencintaimu sayang, hanya kamu! Aku selalu memuja dirimu dalam setiap embusan nafasku! Kamu maukan memaafkan kesalahanku tadi?” bisik Raldo di samping telinga Airin. Gadis itu mengangguk, membuat satu senyuman langsung terbit di bibir pria itu. Ia sudah berhasil membujuk kekasihnya itu agar tidak lagi marah kepadanya. Raldo mengurai pelukannya, ditatap wajah Airin yang sejak tadi hanya menunduk saja. Dalam hati pria itu merasa sangat bersyukur, gadis itu sudah mau memaafkannya. Entah bagaimana jadinya jika tadi Airin benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka. “Aku akan membujuk mama, agar mau membatalkan pernikahan ini! Aku tidak ingin menikah dengan wanita pilihan mama itu. Aku hanya ingin menikah denganmu, hanya bersamamu saja aku akan merasa bahagia!” imbuhnya lagi, sambil menempelkan dahinya ke dahi Airin. Gadis itu memejamkan kedua matanya, meresapi setiap perkataan yang Raldo tujukan untuk dirinya. Rasanya tubuh Airin selalu saja dibuat melayang dengan berbagai kata indah yang Raldo bisikkan hanya kepadanya. Kemarahan Airin sudah mencair, tak lagi merasa kesal saat Raldo berhasil meyakinkan dirinya jika cinta pria itu hanya untuknya saja. Lama mereka saling diam, menikmati embusan nafas masing-masing yang terasa begitu hangat menyentuh kulit wajah. "Tapi Raldo, aku rasa kamu tidak akan mungkin bisa menolak pernikahan itu.” Tiba-tiba Airin bicara. Membuat dahi Raldo yang masih menempel pada dahi gadis itu mengerut. “Kenapa bicara seperti itu, sayang?” tanya Raldo tidak mengerti. Memundurkan wajahnya kembali agar bisa menatap Airin dengan jelas. Airin menghela nafas kasar. “Karena aku sendiri yang sudah merancang pesta pertunangan untukmu,” jawab Airin cepat. Raldo tidak mengerti dengan maksud ucapan kekasihnya itu. “Merancang pesta pertunangan?” ulangnya. Airin mengangguk. “Tadi mas Bayu memintaku untuk membuat rancangan untuk pesta pertunangan yang Nyonya Besar minta. Dia bilang pestanya akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Karena tidak tahu untuk siapa, aku langsung menyanggupinya! Tidak tahu kalau ternyata pesta itu ... adalah pesta pertunanganmu,” terangnya. “S**l!” umpat Raldo spontan. Mukanya langsung berubah pucat pasi. Tidak tahu jika mamanya sudah melangkah sejauh itu. Jika mamanya sudah merancang sebuah pesta untuk dirinya, itu berarti sebentar lagi dia akan benar-benar bertunangan dengan gadis pilihan orang tuanya. *** Ardi berjalan mendekati meja yang berada di tengah ruangan. Seorang wanita yang berpenampilan anggun, terlihat duduk di sana seorang diri. Ketika sudah dekat, Ardi menghentikan langkahnya sambil menyapa wanita itu dengan sangat sopan. “Selamat siang Nyonya Besar! Apa yang bisa saya bantu?” tanya Ardi, sambil tetap berdiri di tempatnya semula. Nyonya Sinta melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidungnya. Lalu dengan hati-hati meletakkan di atas meja. “Duduk!” titahnya singkat, yang langsung dilaksanakan Ardi. Pria itu menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya, lalu segera duduk seperti yang diperintahkan. “Bagaimana, kamu sudah punya rancangan pesta seperti permintaan saya kemarin?” tanya Nyonya Sinta terdengar begitu angkuh. Ardi mengangguk cepat, tangannya merogoh saku celana depan. Dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah ia siapkan sebelumnya. “Maaf Nyonya Besar, saya masih belum sempat menyalinnya! Ini hanya coretan sederhana yang ditulis oleh salah satu anak buah saya!” terang Ardi, sambil menyodorkan kertas yang ada di tangannya ke arah Sinta. Tangan Sinta terulur, mengambil kertas yang Ardi letakkan tadi. Perlahan ia baca pelan-pelan tulisan tangan yang sangat rapi di dalam lembaran kertas itu. Tampak beberapa kali wanita itu mengangguk-angguk, lalu kembali melanjutkan membacanya. Wajahnya terlihat sangat puas ketika meletakkan kembali kertas itu ke atas meja. “Ini bagus sekali, Ardi! Rencana pesta pertunangan yang sangat indah!” pujinya dengan senyuman yang mengembang di bibir. Ardi menghela nafas lega, bersyukur Nyonya Besarnya itu suka dengan hasil rancangan Airin kemarin. Memang benar apa yang sudah Ardi duga, Airin memiliki daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi. Karena sebetulnya gadis itu sangat cerdas dan juga pandai. Memang Airin selalu bisa diandalkan. “Siapa yang membuatnya? Panggil dia Ardi, aku ingin bertemu dengannya!” pinta Nyonya Besar lagi. Penasaran dengan orang yang begitu pandai merancang sebuah pesta. “Baik Nyonya Besar!” jawab Ardi segera. Ia melambaikan sebelah tangan, memanggil salah satu anak buahnya untuk mendekat. Seorang pelayan berjalan tergesa ke arah mereka sekarang. Lalu berdiri di samping meja sambil menunduk hormat. “Ya Mas?” tanya pelayan itu dengan ramah. “Tolong panggilkan Airin! Suruh dia datang ke sini sekarang juga!” pinta Ardi kemudian. Pelayan itu mengangguk, lalu bergegas pergi meninggalkan Ardi dan Sinta sendiri. Tak lama, seorang gadis cantik dengan rambut dicepol rapi ke atas terlihat datang tergesa mendekati mereka. Wajahnya terlihat bingung, karena tiba-tiba saja seorang teman pelayannya memberitahu jika Ardi dan Nyonya Sinta sedang mencarinya sekarang. “Mas Ardi! Nyonya Besar!” sapa Airin sambil membungkukkan tubuhnya sebentar. Mendengar ada yang menyapa, Sinta langsung menolehkan kepalanya. Melihat gadis pelayan yang sedang berdiri di samping meja mereka dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Nyonya Besar, ini Airin! Orang yang sudah membuat rencana pesta pertunangan untuk Tuan Raldo!” ujar Ardi, memperkenalkan Airin pada Nyonya Besarnya. Jantung Airin langsung terhenti. ‘Jangan bilang kalau aku di panggil karena Nyonya tidak suka dengan rancangan yang aku buat!’ keluh Airin dalam hati, merasa was-was jika sebentar lagi akan mendapat omelan dari Nyonya Besarnya itu. Airin mencoba tersenyum semanis mungkin, walau akhirnya malah jadi terlihat aneh. “Aku suka dengan apa yang sudah kamu tulis itu!” ucap Nyonya Besar, tiba-tiba. “Kamu memang gadis yang sangat cerdas, pesta yang kamu buat ini sungguh luar biasa! Aku belum pernah melihat pesta seindah ini!” puji Sinta dengan jujur. Membuat hati Airin langsung merasa lega, ternyata dipanggil bukan untuk dimarahi. “Terima kasih jika Nyonya Besar menyukainya!” jawab Airin singkat. Senyumnya langsung terkembang, pujian ibu dari kekasihnya itu sungguh membuat dirinya merasa sangat senang. Begitu juga Ardi ikut memuji kemampuan yang Airin miliki. Mereka bertiga terlihat berbincang tentang rancangan yang Airin buat. Karena Nyonya Besar begitu antusias, ingin tahu lebih detail tentang acara pertunangan itu. Ia ingin, pesta pertunangan Raldo dan Maura akan menjadi pesta terbesar yang pernah ada. Sinta sengaja meminta Airin menjelaskan semua ide yang ia miliki untuk pesta itu. Hingga kemudian pandangan Sinta teralih, dan bibirnya langsung memanggil seseorang yang terlihat baru saja masuk ke dalam restoran itu. “Raldo!” panggil Nyonya Besar dengan kencang. Membuat Raldo yang baru saja datang langsung menoleh ke arah orang yang sedang memanggilnya. Wajahnya langsung memucat ketika melihat ada mamanya yang sedang duduk bersama Ardi di salah satu meja, dengan Airin yang ikut bergabung bersama mereka. “Kesini cepat!” panggil Nyonya Besar lagi, sambil melambaikan tangannya. Raldo menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Rasanya tubuhnya membeku sekarang. Tak hanya Raldo, Airin juga merasakan hal yang sama. Jantungnya langsung berdetak kencang ketika mendengar Nyonya Besar meneriakkan nama kekasihnya tadi. Tak ingin membuat mamanya merasa curiga, Raldo langsung berjalan menuju meja tempat mamanya duduk. Ia buat sikap dan wajahnya sewajar mungkin. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan dimata sang ibu. “Ada apa, Ma?” tanya Raldo, sudah berdiri di depan meja, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Jantung Airin rasanya berhenti sejenak saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Suara yang selalu membuat hatinya terbang ke awan. Perlahan diangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menghadap meja. Hingga akhirnya ia dan Raldo saling bertatap mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD