“Nona Airin, perkenalkan, saya Yasmin!” Seorang wanita cantik mengulurkan tangannya dan mengajak Airin untuk berjabat tangan.
Tampak ragu tapi akhirnya Airin menyambut uluran tangan dan menjabat tangan wanita bernama Yasmin itu.
“Saya akan menjadi rekan Anda selama berada di proyek ini. Apa Tuan Gunawan sudah memberikan berkas materi yang akan digunakan untuk meeting hari ini?” tanya Yasmin kemudian.
Airin mengangguk, kemarin memang orang suruhan Gunawan sudah memberinya sebuah berkas dan meminta gadis itu untuk segera mempelajarinya dalam satu malam.
“Kemarin memang ada orang yang datang dan memberikan saya berkas yang katanya materi meeting hari ini.” Airin tersenyum simpul.
“Bagus, setidaknya Anda tidak akan terlalu buta dengan materi hari ini bukan,” Yasmin berjalan di samping Airin dan terus saja mengajak gadis itu untuk berbicara.
Sama sekali tidak mengindahkan Raldo yang berjalan di depan mereka sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan yang terbuka separo.
Salah satu bawahan Yasmin segera membukakan pintu untuk anak CEO itu masuk dan diikuti oleh beberapa orang yang akan terlibat dengan proyek bersama perusahaan Bayu. Melihat rombongan tuan rumah datang, Bayu beserta anak buahnya segera mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang datang.
Matanya beradu pandang dengan Raldo yang tengah menatap tajam kepadanya. Bayu mengerutkan keningnya, merasa sangat terkejut dengan kedatangan putra Gunawan itu. Karena yang ia ketahui jika pria itu selama ini tidak pernah campur tangan di dalam perusahaan milik ayahnya. Pria itu hanya fokus untuk mengembangkan rumah makan miliknya sendiri, daripada harus memegang perusahaan Gunawan.
Wajah datarnya tiba-tiba berubah ketika matanya menatap wajah cantik Airin yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu bersama Yasmin di sampingnya. Mata Bayu berbinar menatap Airin yang tidak sengaja juga melihat ke arahnya. Hingga kemudian pandangan mereka beradu dan membuat wajah Airin terlihat canggung karenanya. Gadis itu langsung menundukkan wajahnya sambil terus berjalan menuju kursi kosong yang tersisa, yang sialnya hanya ada satu dan tepat berada di seberang kursi Bayu.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Raldo terus memperhatikan sikap Airin dan Bayu. Mendapati seorang laki-laki menatap gadisnya penuh damba, otomatis membuat darah Raldo mengalir deras. Membuat gejolak dalam d**a dan emosinya berangsur meningkat. Bahkan telapak tangan pemuda itu sudah terkepal, menahan perasaan marah dan cemburu yang kini semakin membakar dirinya.
“Selamat pagi! Saya Yasmin, perwakilan dari BC Corp yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan Mercury Corp dalam proyek besar yang akan segera kita buka pembahasannya.” Yasmin berdiri di depan sambil memulai presentasinya.
“Terima kasih atas kedatangan Tuan Bayu Wibisono selaku CEO Mercury Corp yang sudah menyempatkan hadir di perusahaan kami. Sebelum rapat ini dimulai, biar saya perkenalkan dulu beberapa bagian penting dari BC Corp yang akan tergabung ke dalam proyek ini.” Yasmin melihat ke arah Raldo yang duduk di kursi sejajar dengan tempatnya berdiri sekarang.
“Saya perkenalkan, Tuan Raldo Anggoro, putra dari CEO BC Corp yang akan mewakili CEO dalam proyek kerja sama ini,” ucap Yasmin memperkenalkan Raldo pada semua orang yang hadir di tempat itu.
Pria tampan dengan perawakan yang sangat memesona itu segera berdiri ketika mendengar namanya disebut. Sontak saja semua mata memandang kepadanya. Beberapa pegawai wanita dari rekan bisnis mereka tampak berbisik lirih sambil tersenyum ke arahnya. Siapa wanita yang tidak akan jatuh hati pada pria tampan dan mapan seperti dirinya.
Sebagai seorang kekasih seharusnya Airin patut berbangga bisa menjadi satu-satunya wanita yang mampu memikat hati sang casanova. Sayang, perbedaan status hanya bisa menempatkan dirinya agar puas hanya sebagai seorang kekasih bayangan saja.
Setelah Raldo duduk, Yasmin kembali melanjutkan pembicaraannya. Wanita cantik yang menjabat sebagai manajer di salah satu bagian perusahaan BC Corp itu kini menggerakkan tangannya dan menunjuk ke arah Airin.
“Dan Nona Airin Yunita, selama tender ini berlangsung beliaulah yang akan menjadi penghubung diantara kedua perusahaan.” Yasmin mengenalkan Airin dengan singkat.
Mendengar namanya disebut, Airin segera berdiri dan tersenyum dengan ramah pada tamu perusahaan mereka. Bayu yang duduk tepat di seberang Airin langsung mengangkat wajahnya, menatap gadis cantik yang tengah tersenyum ramah pada semua orang. Entah mengapa tapi Bayu merasa jika Airin berbeda dengan wanita lain yang biasa ia temui.
“Gadis yang istimewa,” gumamnya pelan.
***
Sebuah notif masuk ke dalam ponsel milik Raldo. Pria terlihat kesal saat melihat ponselnya. Tiba-tiba saja berdiri dan membuat presentasi yang sedang berlangsung harus terhenti.
“Maaf, saya harus ke kamar mandi sebentar,” pamitnya sebelum melangkah keluar.
“Baik, saya akan lanjutkan lagi penjelasannya.” Yasmin meminta ekstensi dari semua orang termasuk Airin yang kembali fokus pada rapat hari itu ketika Raldo sudah keluar dari ruangan itu.
Tapi perhatiannya sedikit terganggu ketika sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponselnya. Walau tampak ragu karena pesan itu berasal dari nomor yang tidak ia kenal, tapi akhirnya Airin memutuskan untuk membuka dan membacanya juga. Kedua alis gadis cantik itu langsung terpaut saat membaca sebuah pesan aneh yang tertuju untuk dirinya.
[Siang ini aku ingin kamu bayar utangmu!]
“Hah, apa-apaan ini?” gumam Airin pelan, sambil terus berpikir siapa orang yang baru saja mengirim pesan bodoh itu kepadanya.
[Jangan pura-pura lupa seperti itu. Pokoknya aku mau siang ini juga kamu harus mengganti orange jus yang sudah kamu habiskan waktu itu!]
Sebuah pesan yang baru saja masuk membuat Airin dengan mudah menebak siapa pengirimnya. Gadis itu mengangkat wajahnya dan langsung melihat Bayu yang ada di seberang tempatnya duduk. Pria itu tampak tersenyum manis dan membuat Airin menjadi kesal.
‘Dia, bisa-bisanya disaat seperti ini malah meminta aku untuk membayar utangnya. Katanya CEO tapi membeli jus jeruk lagi saja dia tidak mampu.’ Sungut Airin dalam hati sambil melirik kesal ke arah Bayu.
[Iya, aku juga masih ingat. Kamu tidak perlu mengatakannya berulang kali. Katanya kamu seorang CEO perusahaan besar, tapi membeli segelas minuman yang baru saja kamu tidak sanggup!]
[Dari mana kamu tahu nomor ponselku?]
Airin membalas pesan yang Bayu kirimkan kepadanya. Membuat pria itu mengulum senyum ketika membaca pesan balasan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Jemarinya tampak sibuk mengetik balasan untuk Airin di bawah meja.
[Bukan hal yang sulit bagi orang sepertiku untuk mendapatkan nomor ponselmu.]
[Dan tentang minuman itu, bukan karena aku tidak sanggup membeli segelas lagi. Aku bisa saja membeli Cafe itu jika aku mau, tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya mau tanggung jawabmu. Pokoknya aku ingin kamu yang membelikannya untukku, karena rasanya pasti akan berbeda jika kamu yang membelinya.]
Mata Airin langsung membulat sempurna ketika membaca pesan balasan yang baru saja membuat ponselnya bergetar.
‘Apa-apaan ini, rasa yang berbeda? Yang benar saja. Bisa-bisanya dia menggodaku disaat rapat penting seperti ini,’ Airin mendengus kesal, tapi jemarinya kembali menekan tombol keyboard di ponselnya.
[Sejak kapan Anda belajar menggombal seperti itu!]
[Sangat tidak berkelas]
Airin langsung mengirimkan pesan balasan disertai emoji kesal pada nomor baru itu. Membuat Bayu langsung tertawa tanpa sadar jika kini mereka sedang menghadiri rapat penting. Tentu saja sikap Bayu itu membuat semua orang yang hadir di ruangan itu langsung melihat ke arahnya. Membuat CEO muda itu langsung terdiam dan berdehem serta memperbaiki cara duduknya.
“Maaf, silakan lanjutkan presentasinya!” pinta Bayu pada salah satu orang kepercayaannya yang sedang memberikan penjelasan di depan ruangan.
Ia merasa sangat bodoh karena bertingkah absurd. Airin menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa saat melihat Bayu menjadi pusat perhatian semua orang. Lagi sebuah pesan masuk membuat Airin langsung menundukkan wajahnya untuk melihat ponsel yang sedang ia pegang. Mengira jika Bayu baru saja mengirim pesan balasan kepadanya. Namun wajah gadis itu langsung berubah pucat saat membaca pesan itu.
[Siapa yang sedang kamu kirimkan pesan, honey?]
[Sejak tadi nomormu online terus.]
[Ai, jawab pertanyaanku! Siapa yang sedang kamu kirimkan pesan?]
[Screenshot dan kirim kepadaku, SEKARANG!]
Mata Airin membelalak, lalu perlahan melirik Raldo yang ternyata sudah duduk kembali di kursinya. Entah sejak kapan pria itu sudah kembali dari kamar mandi dan berada di dalam ruangan itu. Airin sama sekali tidak menyadarinya. Gadis itu menggeleng pelan ketika mendapat tatapan tajam dari kekasihnya itu. Rasa marah dan curiga jelas terlihat di wajah tampannya sekarang.
Airin berjingkat kaget ketika lagi-lagi ponselnya bergetar, tanda ada pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Mendadak ia merasa kerongkongannya sangat kering sekarang. Dengan susah payah gadis itu menelan ludahnya sendiri. Ada lebih dari dua puluh pesan yang sama dari pengirim yang sama pula dan membuat keringat dingin keluar dari kening Airin sekarang.
[Screenshot dan kirim kepadaku, SEKARANG!]