Hukuman dari Raldo

1414 Words
[Terserah, aku tidak mau tahu! Dua belas menit lagi Honey, jangan sampai aku ke atas dan menyeretmu turun!] Lagi ancaman yang kembali Raldo kirimkan pada Airin. Membuat gadis itu hanya bisa menghela nafas kasar karena sikap kekasihnya yang egois. Bayu yang sejak tadi memperhatikan Airin terlihat mengerutkan keningnya. Ia merasa jika saat ini gadis di depannya itu sedang merasa cemas entah karena apa. “Ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu?” pertanyaan Bayu yang sukses membuat Airin terenyak dari lamunannya. “Emm, itu, aku harus pulang sekarang,” Airin sedang berpikir keras, membuat satu alasan yang bisa menyelamatkannya hari ini. “Kau sakit?” Bayu terdengar khawatir sekarang. Apalagi wajah Airin yang sekarang tampak pucat dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori keningnya. “A-aku ... iya ...,” Tidak tahu lagi harus membuat alasan apa, jadi lebih baik mengiyakan saja pertanyaan Bayu. “Kalau begitu pulanglah, aku akan mengatakan pada Yasmin tentang kondisi tubuhmu! Apa kamu ingin aku antar?” Sebuah tawaran yang bisa membuat Raldo langsung mengamuk jika bisa mendengarnya. Airin menggeleng cepat, “Tidak usah, aku bisa pulang naik taksi,” tolaknya dengan halus. Karena tidak ingin semakin memperburuk situasi yang kini harus ia hadapi. Bayu mengangguk tanda mengerti, “Oh, oke.” *** Airin berdiri dipinggir jalan, tampak menyandang tas kerjanya di bahu kanan. Beberapa kali gadis itu melihat ke kanan dan kiri, sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang. Hingga sebuah mobil Pajero hitam berjalan ke arahnya serta terhenti tepat di depan Airin. Kaca mobil di depan gadis itu perlahan turun. Sampai akhirnya memperlihatkan seorang pria tampan yang kini menatap tajam tepat ke matanya. Membuat Airin berusaha menyungging senyuman walau jujur ia merasa sangat kesulitan. Membuat senyumannya malah terlihat kaku dan aneh. “Masuk!” bentak Raldo membuat Airin berjingkat kaget. Gadis itu menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Suara barito yang terdengar penuh emosi tingkat tinggi menandakan jika pria itu tengah menahan amarahnya dengan sekuat tenaga. Tangan Airin menyentuh pintu mobil, membukanya perlahan dan segera masuk ke dalamnya. Segera saja Raldo melajukan kendaraannya ketika kekasihnya itu selesai memasang sabuk pengamannya. Tidak ada pembicaraan selama kendaraan melaju menembus jalanan ibu kota yang panas. Airin juga lebih memilih menatap ke luar jendela dari pada harus memandangi wajah Raldo yang kini terlihat begitu menyeramkan menurutnya. “Dari mana pria itu tahu nomor ponselmu?” Akhirnya Raldo membuka mulutnya. Tidak tahan sejak tadi merasa gelisah ketika mengetahui gadis yang sangat ia cinta itu sedang bertukar pesan dengan pria lain tepat di hadapannya. Mengingatnya saja sudah membangkitkan perasaan marah dalam dirinya. Bahkan kini Raldo sedang mencengkeram kuat setir mobil dengan jemari tangannya. “Imel bekerja di Mercury Corp. Mungkin saja dia tahu nomorku dengan memaksa Imel untuk memberikannya,” Airin berusaha mengatakan yang sebenarnya karena ia tahu tidak ada gunanya jika berbohong pada pria yang sedang menyetir di sebelahnya. Raldo tersenyum tipis, kepalanya menggeleng pelan. Dari raut wajahnya pria itu sepertinya tidak percaya begitu saja dengan jawaban yang Airin berikan tadi. Ia masih saja menganggap jika Airin sudah berani menggoda COE muda rekan bisnis ayahnya itu. Kepalan tangan kanannya menghantam setir mobil sambil menengok ke arah sang kekasih, menatap mata Airin dengan tajam. “BOHONG! Sejak kapan kamu berani berbohong kepadaku Honey?” bentak Raldo penuh penekanan di setiap kata, sambil terus mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil. Airin menggeleng cepat. Ia memang tidak berbohong dan berusaha jujur terhadap kekasih tercintanya itu. “Aku memang tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan nomor teleponku, sampai tadi aku bertanya langsung kepadanya. Dan dia bilang kalau mendapatkan nomorku dari Imel, Sayang.” Airin mencoba memberi Raldo penjelasan. Berharap kekasihnya itu mau percaya dan tak lagi merasa cemburu kepadanya. Bukannya reda, emosi Raldo justru bertambah ketika mendengar Airin baru saja berbicara empat mata dengan pria bernama Bayu itu. Wajah Raldo semakin mengeras, bahkan kini urat lehernya semakin terlihat jelas. “KAU BICARA BERDUA DENGANNYA? Honey, wanita macam apa kamu yang bicara berdua dengan pria lain disaat kekasihnya pergi!” teriak Raldo penuh emosi. Bahkan kini nafasnya terdengar memburu dan bahunya naik turun, mengikuti irama nafasnya yang semakin cepat. Airin tersentak kaget, merasa tak percaya jika ucapannya barusan justru semakin memancing kemarahan kekasihnya itu. Wanita cantik itu semakin cemas, tidak tahu harus berbuat apa karena ini kali pertama Raldo bersikap cemburu buta. Semua ucapan yang keluar dari bibir tipisnya malah semakin mengobarkan api cemburu yang sudah tersulut sebelumnya. “Bu-bukan begitu sayang, aku sama sekali tidak bermaksud—“ ucapan Airin langsung terpotong ketika ia merasakan laju kendaraan tiba-tiba bertambah kencang. Gadis itu langsung merubah pandangannya, tak lagi menatap wajah sang kekasih tapi kini menatap pemandangan jalan di hadapannya yang terlihat begitu mengerikan. Karena Raldo semakin menginjak pedal gas kendaraannya hingga sampai batasnya. Menyebabkan mobil mewah itu bergerak melesat dengan kecepatan fantastis di atas rata-rata. “Raldo stop! Tolong hentikan mobilnya!” Airin menjerit ketakutan. Kedua tangannya berpegangan pada pintu dan dashbord mobil. Wajahnya terlihat semakin pucat, ketakutan karena kini Raldo sudah di luar kendali. Bukannya memperlambat laju kendaraan, Raldo justru terlihat puas melihat ketakutan di wajah gadis yang duduk di sampingnya. Lagi kakinya yang lain langsung menginjak pedal rem secara tiba-tiba, membuat kendaraan hitam mewah itu langsung terhenti saat itu juga. Berhenti mendadak membuat kening Airin terantuk dashbord mobil dengan keras, hingga gadis itu langsung mengaduh kesakitan. “Auch!” Airin memegang keningnya yang memar sekarang. Rasa sakit membuat kepala gadis itu terasa sedikit pusing. Hingga ia tidak menyadari jika saat ini mereka sudah sampai di basemen apartemen milik Raldo, bukan apartemen miliknya sendiri. Raldo melepas sabuk pengamannya, melirik Airin sekilas sambil tersenyum kecut karena merasa kesal sudah di khianati. Gegas CEO muda itu turun dari mobilnya, berjalan memutari bagian depan mobil hingga sampai di samping pintu tempat Airin duduk. Raldo membuka pintu mobil dan langsung menarik tangan gadis itu dengan kasar ketika melihat sabuk pengaman Airin sudah terlepas. “Turun!” titahnya sambil terus menarik tangan gadisnya. Membuat Airin hampir saja jatuh terjungkal dari dalam mobil, andai gadis itu tidak segera menguasai tubuhnya. “Raldo lepas! Jangan sekasar ini!” Airin berteriak protes, meronta dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Raldo yang semakin menguat. Seakan menulikan pendengarannya, Raldo tak bicara sama sekali sampai mereka berada di lobi apartemen dan segera masuk ke dalam lift. Airin meringis menahan rasa sakit dari pergelangan tangannya yang kini berwarna merah. Gadis itu melihat ke segala arah dan langsung tanggap jika kini mereka sedang menuju kamar apartemen pribadi milik sang kekasih. “Mau apa kita ke sini? Aku nggak mau ke sini, aku mau pulang!” teriak Airin dengan keras, menolak datang ke apartemen mewah itu. Dalam kondisi Raldo yang sekarang, diselimuti kabut cemburu yang menggelapkan pikiran dan pandangannya. Datang ke apartemen pria itu sama saja masuk ke kandang harimau. Karena gadis itu sangat tahu bagaimana menakutkannya kekasihnya itu jika sedang marah. “Raldo, aku mau pulang!” Airin berteriak keras, terus meronta agar Raldo mau sedikit saja mengendurkan cengkeraman tangannya. Sayang pria itu sama sekali tidak mengindahkan teriakan kekasihnya, Raldo justru menyeret tubuh Airin langsung menuju kamar miliknya ketika pintu lift terbuka. Hingga akhirnya di sinilah Airin sekarang. Baru saja Raldo menghempaskan tubuh kekasihnya dengan kasar ke atas tempat tidur lalu berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Airin merasa ketakutan dengan sikap Raldo yang sekarang. Hingga pria itu mulai melangkah mendekatinya sambil membuka satu persatu kancing bajunya dengan senyuman licik tersungging di bibir. “A-apa yang mau kamu lakukan?” Airin tergagap bertanya sambil bergerak mundur. Terus mundur sampai tubuhnya tak bisa lagi bergerak karena mencapai kepala ranjang. “Kamu bertanya apa yang akan aku lakukan?” Raldo memiringkan wajahnya agar dapat melihat wajah ketakutan yang tercetak jelas di wajah gadisnya. “Aku hanya ingin menghukummu, Honey! Gadis nakal sepertimu harus di beri pelajaran, agar kamu selalu ingat bahwa kamu hanya akan menjadi milikku saja!” Raldo membuang pakaiannya dengan asal ke sembarang tempat. Bahkan kini ia sudah melepas semua pakaiannya dan membuat dirinya terlihat polos di hadapan Airin. Pria itu merangkak, bergerak naik ke atas tempat tidur lalu langsung menarik kaki Airin hingga membuat gadis itu kaget dan gelagapan karena sikap Raldo. Dengan kasar pria itu menarik pakaian Airin hingga robek menjadi dua bagian dan membuat gadisnya mulai menangis ketakutan. “Raldo hentikan ... tolong jangan seperti ini ...,” Airin menangis ketakutan. Tidak pernah menyangka jika kekasihnya itu tega melecehkannya hanya karena cemburu yang tak beralasan. “Aku hanya ingin mengingatkanmu, jika tubuhmu, dirimu, hidupmu, itu semua milikku! Dan tidak akan aku biarkan pria lain coba merebutmu dariku! Kamu milikku, Airin! Hanya milikku!” desis Raldo sambil memulai aksinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD