bc

Forever with My Badboy

book_age18+
101
FOLLOW
1K
READ
dark
arranged marriage
arrogant
badboy
drama
bxg
campus
secrets
lonely
virgin
like
intro-logo
Blurb

Menikah di usia muda itu tidak mudah, apalagi mendapat suami seperti Arka. Tapi, Rosa akan terus bertahan, ia tidak mau kalah dengan laki-laki itu.

Apapun yang terjadi, tekad Rosa satu, ia akan selalu di sisi Arka. Kecuali, jika takdir memang benar-benar tak mengijinkan Rosa bahagia bersama Arka.

chap-preview
Free preview
Fall
Sejuk menyertai suasana sore hari setelah hujan mengguyur kota dengan derasnya, jejak-jejak air masih menetes dari atap rumah menimpa tanaman serta apapun yang ada di bawahnya. Keadaan seperti ini sangat pas untuk dijadikan momentum kumpul keluarga seraya menikmati teh hangat diselingi obrolan ringan yang mengundang gelak tawa. Di satu rumah, tepatnya di ruang tamu rumah tersebut. Ada pertemuan dua keluarga, suasana hangat tercipta ditemani suguhan-suguhan teh serta kopi. Mereka bercengkerama dan bertukar pikiran. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk dua pemuda di antara mereka. Orang tua sibuk dengan pembahasan mengenai kenangan masa muda, sedangkan mereka yang baru lahir setelah semua menjadi kenangan hanya bisa menyimak. "Arka, Rosa, kalian ngobrol dong, masa dari tadi diem-diem aja." Melina menatap anaknya agar mau menyapa gadis yang masih menatap meja dengan tatapan kosong. Meski malas, Arka menarik senyum manisnya kemudian menatap gadis itu. "Ngobrol di depan, yuk?" ajaknya mencoba sesantai mungkin.  Dengan ragu Rosa mendongak menatap laki-laki jangkung di hadapannya ini. Melihat tatapan menuntut dari pria di depannya membuat Rosa mau tak mau mengangguk. Ia tersenyum pada orang tua yang memandangnya dengan senyum geli, Rosa mengikuti langkah Arka keluar dari rumah. "Duduk," kata Arka ketika melihat Rosa hanya diam di samping kursi teras depan rumah tempat Arka sekarang duduk. Rosa mendaratkan bokongnya di samping Arka, kursi ini cukup sempit, membuatnya langsung duduk berdampingan dengan pria itu. "Apa tanggapan kamu soal perjodohan ini?" tanya Arka tanpa basa-basi lagi.  Ya, keduanya dijodohkan. Iming-imingnya karena orang tua mereka bersahabat dari kecil. Menolak pun tak bisa, karena tak mempunyai alasan yang tepat dan merasa tak enak hati. "Gak tau, aku masih speechless pas tau mau dijodohin." Jawaban Rosa membuat Arka menoleh cepat. Alis kanan pria itu naik disertai senyuman miring. "Kamu mau terima atau nggak?" tanya Arka lagi. Rosa ikut menoleh pada Arka. "Aku gak punya alasan untuk nolak. Dan aku takut sakit Mama kambuh lagi kalo aku nolak perjodohan ini," jawab Rosa. Arka mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, aku juga sama sih, gak bisa nolak, dan gak enak hati. Jadi mau kita jalani aja?"  Tak ada jawaban lagi dari Rosa membuat Arka terkekeh, wajah gadis itu berubah memerah. "Semua hal yang terjadi harus dilewati, kan? Jadi mau gak mau harus kita jalani," kata Rosa.  Setuju dengan pendapat Rosa, Arka mengangguk kembali. Keduanya terdiam. "Rencananya seminggu lagi kita dinikahin. Selama seminggu ini kita pasti sering ketemu. Anggap aja itu pendekatannya," kata Arka memecah keheningan. "Seminggu lagi?" beo Rosa terkejut. Ia tak tahu perihal pernikahan yang akan dilakukan secepat itu. Rosa mengira pernikahannya akan terjadi bulan depan atau dua bulan kemudian. Ternyata hanya dalam kurun waktu satu minggu yang akan datang. "Iya seminggu. Mendadak, aku kayak udah tua banget rasanya disuruh nikah cepet-cepet gini." Arka menatap langit yang masih sedikit muram. Rosa menunduk, ia menarik napasnya pelan. "Aku belum siap."  Pria itu terkekeh ringan. "Siapa yang siap dinikahin mendadak gini padahal belum saling kenal?" ujarnya. Karena ucapan Arka benar, Rosa ikut tertawa ringan. "Sebenernya aku gak paham sama pemikiran orang tua yang menjodohkan anaknya cuma karena iming-iming sahabatan biar jadi besan. Seharusnya kalo emang mereka bersahabat baik, tanpa ada ikatan apapun, persahabatan mereka bakal tetap terjalin baik."  Arka mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menatap Rosa, gadis itu kini terlihat lebih santai dengan senyum tipisnya. Meski hanya dibalut terusan simpel selutut berwarna abu-abu muda, dan yang Arka lihat gadis itu hanya memakai lipgloss, Rosa terlihat sederhana di dalam rumah mewah yang kini ditempatinya. "Orang tua cuma mau ngarahin kita biar lebih dewasa, tapi aku rasa kalo kayak gini caranya, kecepetan juga ya." Selesai dengan ucapannya, Arka menatap langit yang kembali menurunkan rintik hujan. Suara air menimpa genting dan tanah saling bersahutan.  "Aku masuk ya, di sini dingin," kata Rosa gugup.  Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Arka, kenapa pria itu mau dengannya? Sedangkan di luar sana banyak sekali laki-laki yang sering merendahkannya dari fisik yang bisa dibilang kurang bagus dari bentuk badan yang terlalu tipis, dan minder karena Rosa adalah anak orang kaya.  Setelah masuk ke rumah, Rosa kembali duduk di samping orang tuanya diikuti Arka yang melalukan hal yang sama. "Kok sebentar ngobrolnya?" tanya Surya mengusap kepala adiknya. Ia tersenyum untuk menguatkan gadis itu, karena ia tahu semuanya tidak akan mudah dilewati Rosa begitu saja.  "Di luar hujan, Bang. Dingin," jawab Rosa. Arka menatap Rosa, gadis itu terlihat sangat lugu dan sedikit terlihat tatapan polosnya. Meski baru melihatnya, Arka yakin jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis yang baik. *** Hari telah berganti, setelah kemarin menentukan tanggal pernikahan dan segala macam yang diperlukan dalam acara, kini Arka, Rosa, serta Listya sedang ada di butik untuk membeli gaun dan jas. Resiko segala sesuatu mendadak, Rosa kesulitan mencari gaun yang pas untuknya. Sedangkan Arka hanya tersenyum melihatnya, gadis itu terlihat lucu. "Makan yang banyak makanya," kata Arka saat Rosa sedang mencoba gaun terakhir yang dirasa cukup untuknya.  Arka menaikkan gaun Rosa di bagian bahu. "Ini aja sedikit dijahit, ditambah brukat baru atau pake hiasan lain," kata Arka pada pegawai butik seraya memegang gaun atas itu. Pipi Rosa bersemu karena malu, sedangkan Listya terkekeh melihat wajah anaknya. "Dan satu lagi, bagian dadanya jangan terlalu terbuka." Perkataan dari Arka sukses membuat Listya tertawa karena Rosa langsung menutupi bagian dadanya yang memang sedikit terbuka karena bagian bahunya terlalu panjang. "Gak keliatan kok, cuma sedikit," kata Listya saat anaknya semakin menunduk malu.  Arka terkekeh pelan. Ia melepaskan pegangannya di gaun bagian bahu Rosa, kemudian sedikit bergeser agar tidak terlalu dekat dengan gadis itu.  Setelah kembali berganti pakaian, Rosa menghampiri Arka yang sedang duduk sendirian di sofa. "Mama mana?" tanyanya.   Arka mendongak dari ponselnya, ia berdiri dan menuntun tangan Rosa. "Mama kamu ke kantor katanya. Ayo makan siang dulu," ajak Arka. Rosa hanya mengangguk, karena sebelum masuk ke ruang ganti ia mendengar Mamanya akan menyelesaikan pembayaran. Perjalanan menuju restoran terjadi hening. Rosa malu untuk bertanya, sedangkan Arka sudah terbiasa dengan sunyinya suasana di dalam mobil. Hingga sampai di restoran terdekat, Rosa turun terlebih dahulu saat ia melihat Arka akan memutari mobil untuk membukakannya pintu. "Pinter," kata Arka mengusap kepala gadis itu.  "Aku gak biasa dibukain pintu mobil. Sama supir juga aku minta buat gak kayak gitu, kecuali aku yang minta," ucap Rosa menjelaskan, sebenarnya ia merasa tak enak hati karena mungkin Arka akan tersinggung. "Bagus deh, jadi cewek mandiri lebih baik." Arka tersenyum, ia membawa Rosa masuk dengan menggenggam tangan gadis mungil itu. Jari-jarinya menghilang digenggam oleh Arka. Sedangkan Rosa yang diperlakukan seperti itu mendadak panas dingin dan salah tingkah. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya. Terlibat di dunia asmara tentu saja Rosa pernah, hanya saja itu terjadi saat ia masih di bangku sekolah menengah atas. Itu pun ia tak menghabiskan banyak waktu dengan mantan kekasihnya dulu, hanya hal-hal sederhana khas anak muda yang kadang ia lakukan.  "Pesen aja," kata Arka ketika mereka sudah duduk dan menerima buku menu. Rosa tersenyum. Ia membuka buku menu kemudian menunjuk beberapa menu makan dan minuman. Arka hanya memesan satu paket makan dan minum Jepang. Setelah pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan, Rosa menunduk menatap jarinya. Pipinya kembali memanas melihat jari manisnya tersemat cincin tunangannya dengan Arka yang disematkan tadi malam.  "Jangan keseringan nunduk, nanti mahkota jatuh," kata Arka. Rosa mendongak kemudian terkekeh, ia mengusap rambut depannya pelan seperti menaikkan sebuah mahkota. Arka tertawa. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kunci kemudian memberikannya pada Rosa. "Simpen nomor kamu," katanya. Rosa mengambil ponsel yang disodorkan Arka kemudian menyimpan nomornya. Semua hal yang terjadi sangat cepat. Rosa tak menyangka, masa mudanya, masa bebasnya, sebentar lagi akan selesai. Siap tak siap harus siap, hidup memang harus terus berjalan ke depan. Apapun yang terjadi, selagi itu baik, selagi itu tidak menyalahi aturan, maka Rosa harus mau menjalaninya. "Kamu udah bilang ke temen-temen kamu?" tanya Arka. Rosa menggeleng. "Aku gak punya temen deket, jadi ya udah biar aja nanti temen-temen kampus pada tau sendiri."  Tentu saja jawaban dari Rosa mengundang pertanyaan baru dari Arka. "Kenapa gak punya sahabat?" tanyanya lagi. "Gak ada yang mau sahabatan secara tulus sama aku. Mereka semua udah tau kehidupan aku, temenan cuma dimanfaatin, susah ke aku, senang menghilang," jawab Rosa. Arka tersenyum, ia berkata, "Kasian banget calon istri."  Hal itu disambut tawaan ringan dari Rosa. "Udah biasa, dari dulu. Hidup jadi orang yang punya banyak uang itu emang seneng kalo apa-apa bisa langsung beli. Tapi, gak bisa beli ketulusan," kata Rosa pelan. Tentu saja hal itu membuat Arka terdiam.  Arka setuju pada Rosa, ia menatap mata Rosa yang langsung menampilkan tatapan kosong ke arah meja. "Tuhan Maha Adil, kan? Setiap segala kelebihan pasti punya kekurangan. Di luar sana banyak yang kekurangan uang, tapi mereka gak menyerah sama kehidupan."  Mendengar itu, Rosa tersenyum, ia menatap Arka dengan senyum lebar di bibirnya. "Iya, aku sadar hal itu. Terkesan serakah kalo misal minta keduanya."  Anggukan kepala Arka membuat Rosa tertawa. "Gak usah khawatir, nanti bakal sibuk sama urusan rumah tangga, kalo butuh temen, ada aku, kan?" ujar Arka. Suasana siang hari di restoran yang tidak terlalu ramai membuat Rosa tak melunturkan senyumnya. "Aku harap, ini yang terbaik, aku mau nikah sekali seumur hidup. Kalo kamu emang jodoh aku, tolong nanti jaga kepercayaan aku." Rosa mengulurkan tangannya menyentuh tangan Arka. Tangan Arka menggenggam balik tangan Rosa. Meski baru kemarin bertemu, ia sangat bisa merasakan aura positif dalam diri Rosa. "Anggap aja, seminggu ini kita pacaran mulai hari ini sampai nanti kamu jadi istri aku," katanya. Rosa mengangguk. Ia berdoa, semoga Arka adalah yang terbaik untuknya, semoga perkenalan singkat ini menjadi berkah untuk kehidupan kedepannya. *** Setelah melewati masa melelahkan persiapan pernikahan, kini sudah hari dilaksanakannya pernikahan. Usai mengucapkan janji suci, Rosa dan Arka sekarang berbaur bersama teman-teman Arka. Ia tersenyum dengan bangga mengenalkan Rosa pada teman-temannya.  "Diem-diem sebar undangan aja lo, mana mendadak banget h-5 ngundang," kata salah satu teman Arka. "Sebenernya mau dari h-7, karena ada beberapa kendala, keundur jadinya. Yang penting diundang, protes aja," jawab Arka kemudian mereka tertawa. Rosa hanya tersenyum menanggapinya. Ia merasa benar-benar canggung.  "Lo kok gak pernah ngenalin dia ke kita sih?" tanya lagi salah satu temannya. Arka terkekeh, ia merangkul pinggang Rosa agar lebih dekat dengannya. "Spesial, takutnya ntar kalian mau, gue gak mau ambil resiko."  Teman-temannya kembali tertawa, Arka tersenyum pada Rosa kemudian menarik gadis yang sudah sah menjadi istrinya beberapa saat yang lalu menjauh dari temannya setelah pamit. Ia mengajak Rosa pada orang-orang yang lebih serius dan formal.  "Berhenti dulu," kata Arka. Rosa langsung menghentikan langkah kakinya. Ia melihat Arka berjongkok dan menyingkap gaunnya. "Sakit ya?" tanya Arka menyentuh kaki Rosa yang mengenakan sepatu hak tinggi, ia melihat ada tanda kemerahan di mata kaki gadis itu. Arka sadar hal itu karena merasakan jalannya Rosa sedikit tertatih. Rosa tersenyum canggung kemudian mengangguk. "Lumayan," jawabnya. Ia menarik Arka pelan agar kembali berdiri.  "Ayo ganti sepatu dulu, acara formalnya udah selesai, pake yang lebih santai aja." Tentu saja sikap Arka ini dilihat oleh banyak orang yang ada di gedung pernikahan mereka. Mereka tersenyum bahkan teman-teman Arka tadi sampai bersiul jahil.  "Digendong dong, Pak!" Seru salah satu karyawannya mengundang tawaan yang lain. Arka tersenyum melihat wajah malu-malu Rosa. Ia menuntun gadis itu ke ruang tata rias setelah ia tersenyum pada para tamu undangan.  "Kalo gak sanggup, jangan memaksakan diri," kata Arka. Rosa mengangguk, ia mengambil salah satu sepatu hak yang lebih pendek yang biasa ia pakai sehari-hari.  "Pake krim dulu kakinya, atau pake plester biar gak sakit," ucap Arka saat melihat Rosa langsung memakai sepatunya dibantu penata rias. "Iya, mbak, ini lecet soalnya," kata penata riasnya menatap luka merah di kaki Rosa. Ia mengambil plester khusus kemudian memasangnya dan membantu Rosa mengenakan sepatunya kembali.  Setelah selesai, Arka kembali ke tempat duduknya bersama Rosa, ia membiarkan tamu menghampirinya, karena ia melihat Rosa pun sudah kelelahan. "Acara malam ini, jangan pake sepatu kayak tadi lagi. Jangan menyakiti diri sendiri dan terlihat baik-baik saja di depan orang lain." Arka mengusap bahu istrinya kemudian menuntun Rosa agar bangun saat ada yang datang menghampiri mereka. Rosa tersenyum lebar melihat salah satu dosen terdekatnya datang. "Rosa, selamat ya. Ibu gak nyangka, waktu kamu jadi mahasiswa baru masih polos banget, sekarang cantik banget gini," kata dosen berkacamata itu. "Bu Indry, makasih banyak ya udah dateng." Rosa mencium tangan dosennya kemudian memeluknya sekilas setelah cipika-cipiki.  "Sama-sama, Rosa. Semoga bahagia, Tuhan memberkati," katanya mengusap bahu Rosa kemudian menatap Arka. "Saya masih gak nyangka, Rosa jarang dikabarin deket sama cowok, sekalinya ada yang suka katanya ditolak, ternyata udah ada calonnya," kata Bu Indry dengan kekehan di ujungnya.  "Saya yang larang, Bu," bisik Arka pelan dan masih bisa didengar oleh Rosa.  Ya, mereka setuju untuk tidak membeberkan jika mereka itu dijodohkan. Arka berkata jika ia dan Rosa sudah terlibat hubungan lama, hanya saja menjalinnya secara diam-diam. Rosa pun setuju dengan pendapat Arka, karena rasanya akan sangat canggung jika mereka bilang jika keduanya dijodohkan. "Saya lanjut ya, mau cari makanan enak," kata Bu Indry pada Arka dan Rosa diselingi kekehannya. Rosa mengangguk cepat. "Makan yang banyak ya, Bu. Kalo ada yang liatin, cuekin aja," katanya. Bu Indry mengacungkan dua jempolnya kemudian turun dari pelaminan.  "Deket banget ya?" tanya Arka.  Rosa menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya. "Kamu sama dosen tadi?" tanya Arka lagi menjelaskan pertanyaan singkatnya.  "Iya." Setelah jawaban singkat Rosa, keduanya sama-sama terdiam sampai para tamu datang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat. *** Kini acara malam hari tiba, gaun pengantin serta tuxedo berwarna putih gading melekat indah di tubuh Arka dan Rosa. Gaun ini pun terlihat lebih pas di tubuh Rosa meski bagian dadanya sedikit terlihat.  "Aku udah bilang, kan? Bagian d**a jangan terlalu terbuka." Arka menarik gaun di bagian bahu gadis itu agar sedikit ke belakang. Rosa terdiam, matanya menatap gerakan tangan Arka yang mengambil kain berwarna putih di saku jasnya. Saat Arka menyentuh gaun bagian depan, Rosa langsung menahan tangan pria itu.  "Hey, kenapa? Kamu istri aku," kata Arka menurunkan tangan Rosa. Ia sedikit menyingkap gaun atas Rosa kemudian menyelipkan kainnya di sana.  Rosa kembali menahan tangan Arka. "Nanti pasti copot, soalnya gak pake penyangga, lebih baik gini nanti aku atur sendiri. Kalo copot pas acara, lebih malu lagi," jelas Rosa pelan agar Arka mengerti. Laki-laki itu terdiam sejenak kemudian tersenyum. "Itu cuma modus kok," ujar Arka kemudian mengedipkan sebelah matanya. Ia menarik kembali kain itu dan berlalu dari hadapan Rosa. Gadis itu terdiam, matanya mengedip beberapa kali. Untung ia hanya berdua di ruangan ini, buru-buru Rosa keluar saat sadar ia ditinggalkan. Di depan pintu, Arka sudah menyiapkan tangannya di pinggang. Melihat itu Rosa tersenyum. "Lagi ngapain?" tanyanya. "Lagi nunggu tuan putri, lama banget, pake ada acara ngelamun," jawab Arka mengaitkan lengan Rosa ke lengannya kemudian berjalan bersama.  Saat tiba di ruangan, keduanya di sambut meriah dengan musik dan tepuk tangan. Rosa tersenyum manis dan Arka tersenyum gagah. Keduanya benar-benar menikmati pesta ini.  Arka menggandeng Rosa ke tengah gedung yang disediakan untuk berdansa, diikuti beberapa pasangan lain yang akan mendampingi mereka. Dengan pelan-pelan mengikuti alunan lagu semua mulai bergerak. Kilatan kamera sesekali terlihat menyorot Rosa yang memang terlihat sangat cantik. Arka menarik pinggang Rosa agar lebih dekat dengannya. Dengan ragu, Rosa mengangkat tangannya ke bahu Arka. Meski tadi saat pemberkatan dirinya sudah dicium oleh Arka dan itu adalah ciuman pertamanya. Rasa canggung sangat jelas masih dirasakan oleh Rosa, sedangkan Arka terlihat lebih rilex setelah mengucap janji sucinya. "Rilex," kata Arka pelan seraya mengusap punggung Rosa. Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk, ia mundur ketika musik berganti sedikit lebih cepat. Arka menggenggam tangan Rosa kemudian mengangkatnya saat istrinya itu berputar. Para pendamping penari mulai menepi, membiarkan raja dan ratu di pesta ini menikmati lagunya. Setelah selesai, Rosa tersenyum dan mengangguk ketika Arka menatapnya. Pria itu menciumnya kembali di tengah lantai dansa di hadapan banyak tamu undangan. Singkat saja karena Arka kemudian memeluk Rosa. Rosa benar-benar berdoa dalam hatinya agar semua ini memang yang terbaik dalam hidupnya. Sekarang segalanya sudah terjadi, ia sudah menyandang gelar istri seorang Arka Prawira.  Para tamu undangan bertepuk tangan meriah melihat pasangan itu, terutama kedua orang tua Arka dan mamanya Rosa. Surya sebagai kakak Rosa hanya tersenyum kecil, dalam diamnya Surya turut berdoa semoga adiknya bisa bahagia. Ketika acara dansa telah selesai, Arka dan Rosa dibanjiri permintaan foto bersama. Banyaknya adalah teman-teman Arka dan rekan-rekan bisnis mamanya. Bahkan kakak ipar Rosa terlihat sangat antusias saat menghampiri Rosa dengan menggendong anak kecil.  "Selamat ya, adikku," kata Wulan memeluk Rosa dengan sebelah tangan karena ada Jeno di gendongannya. "Makasih, Kak Wulan." Rosa tersenyum lebar dan menciumi pipi Jeno berkali-kali. Anak kecil berumur satu tahun itu hanya tertawa-tawa geli dibuatnya. "Arka, jagain Rosa ya. Kalo bisa nanti rumah pasang genset, takutnya mati lampu ntar berabe," ujar Wulan ditujukan pada Arka. Rosa menyenggol pelan lengan Wulan mengisyaratkannya untuk tidak berkata apa-apa lagi. Tapi memang kakak iparnya sedikit jahil, Wulan justru berkata, "Rosa itu phobia gelap. Jadi jagain ya," kata Wulan kemudian mengedipkan matanya pada Rosa. Ia segera turun karena sudah banyak orang yang hendak menghampiri Rosa dan Arka. "Bye, Jeno!" seru Rosa pada keponakannya yang menatapnya dari gendongan Wulan seraya melambaikan tangan. "Bener kamu punya phobia gelap?" tanya Arka menatap Rosa yang lebih pendek darinya. Rosa tak menjawab karena ada orang yang menghampiri keduanya. Setelah mereka turun lagi. Arka kembali menatap Rosa yang justru seperti menghindari tatapan darinya. "Aku tanya sekali lagi, kamu beneran phobia gelap?" tanya Arka pelan. Kali ini Rosa menoleh, ia mengangguk pelan. Rosa tidak menjawab karena ia tak ingin banyak orang tahu kelemahannya.  Arka berkata pada salah satu orang yang memantau acara ini untuk menahan dulu tamu yang datang agar tidak naik, ia ingin berbicara dengan Rosa. Arka meminta mereka menikmati dulu hiburan yang ada. "Awalnya kenapa?" Arka bertanya pelan, ia meminta Rosa untuk duduk di sampingnya.  "Aku pernah kekunci di gudang sekolah seharian, a-aku takut," jawab Rosa pelan. Ia menatap Arka agar pria itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Arka menghela napas, ia sedikit kasihan melihat tatapan gadis itu. Daripada memperpanjang pertanyaan, lebih baik Arka diam. Ia mempersilakan orang-orang untuk naik menghampirinya dan Rosa. Setelah selesai berfoto dan acara telah selesai. Para tamu undangan sudah tidak ada, Rosa pun telah selesai melepas gaunnya dan berganti ke gaun biasa ia pakai. Acara ini diadakan di ballroom hotel milik keluarga Rosa. Jadi tinggal pergi ke kamar yang sudah dipesan untuk menginap saja.  Rosa merasa lebih canggung pada Arka saat pria itu tak banyak berkata padanya. Hanya beberapa kata saja. "Arka?" panggilnya ragu. Arka yang sedang memainkan ponselnya di sofa menoleh pada Rosa yang ada di kasur, alisnya terangkat. "Kenapa diem aja? Kamu gak suka denger aku punya phobia ya? Aku lagi terapi kok," ujar Rosa pelan. "Bukan gak suka, cuma aku harap, kamu gak terlalu manja nantinya." Arka berkata seraya duduk di kasur bagian kiri sedangkan Rosa di bagian kanan. Rosa mengangguk singkat, ia mengambil bantal. "Kamu istirahat dulu. Kalo masih canggung, biar aku yang tidur di sofa," katanya. Tanpa Rosa duga, Arka menjawabnya, "Iya."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

HYPER!

read
635.3K
bc

Rise of Love

read
359.4K
bc

Nikah Kontrak dengan Cinta Pertama (Indonesia)

read
450.8K
bc

I LOVE YOU HOT DADDY

read
1.1M
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

No Escape, Honey (BAHASA INDONESIA)

read
19.3K
bc

I Love You, Doctor

read
635.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook