Mine

2020 Words
Saat matahari menyapa, Arka sudah terbangun sejak lima menit yang lalu, ia menatap Rosa yang masih meringkuk di atas sofa besar di kamar hotel ini. Helaan napas terdengar jelas dari Arka. Ia bangkit dan menghampiri Rosa. Tangannya terangkat untuk menepuk bahu Rosa, belum sampai ke bahu, gadis itu sudah menggeliat membuat Arka mengurungkan niatnya. Saat Rosa membuka mata, tentu saja ia terkejut karena Arka ada di hadapannya. Rosa langsung menutup wajahnya dengan selimut. "Lagi ngapain?" tanyanya. "Kamu pikir lagi apa?" bukannya jawaban, Arka bertanya balik dengan pelan. Rosa membuka selimut yang menutupi wajahnya, ia duduk kemudian merapihkan rambut panjangnya. Ia berdiri. "Mau kamu dulu yang mandi atau aku?" tanya Rosa. Arka tersenyum miring. "Kenapa harus gantian?" pertanyaan dari Arka ini membuat Rosa mengernyitkan alisnya. "Ayo," kata Arka kemudian menarik Rosa masuk ke dalam kamar mandi. Tiga jam terlewat cepat, keduanya kini sedang sarapan plus makan siang dengan penampilan Rosa yang serba mengenakan celana panjang bahkan turtleneck. Arka hanya terkekeh melihatnya, tidak merasa bersalah sedikit pun atas perbuatannya. "Kan semalem gak ada malam pertama, jadinya pagi pertama aja." Rosa benar-benar dibuat tidak berkutik oleh Arka, sedari tadi Rosa terus menghindari tatapan menggoda dari suaminya itu. "Kenapa pake baju tertutup gitu? Kan ini di dalem kamar," kata Arka lagi membuat Rosa menutup mulut Arka dengan kedua tangannya. "Tolong, Arka, aku udah speechless banget. Kita cuma baru kenal seminggu yang lalu, masih ada rasa canggung. Aku masih gak nyangka, udah jadi milik kamu sepenuhnya." Rosa menatap Arka dengan tatapan sendu, terlihat raut lelahnya. Arka terkekeh geli, ia menurunkan tangan Rosa dari mulutnya. "Okey, maaf kalo aku terkesan terburu-buru. Sekarang ganti baju lagi, istirahat aja." Rosa mengangguk, ia meminum jus alpukat setelahnya beranjak ke walk in closet untuk kembali berganti baju yang lebih nyaman untuknya. Setelah selesai, ia melihat Arka sudah duduk rapi di sofa sedangkan nampan makanan mereka sudah tidak ada. Tanpa bertanya lagi karena benar-benar malu. Rosa langsung berbaring ke kasur dan menarik selimut hingga lehernya. Tubuhnya terasa linu untuk bergerak banyak, memang ada baiknya mungkin ia istirahat. Sedangkan Arka, sejak gadis itu keluar dari kamar mandi ia sudah melihatnya, meski menunduk, matanya mengikuti gerakan gadis itu. Selang beberapa menit Arka menghampiri Rosa, ia membenarkan letak selimut Rosa kemudian beranjak keluar kamar hotel. Senyuman tercetak jelas di bibirnya. Oh astaga, siapa yang tidak bahagia melepas masa lajang tanpa diduga bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan. Apalagi membayangkan Rosa yang tadi terlihat sangat menyukainya. Ternyata menikah tidak seburuk yang Arka pikir selama ia menginjak masa dewasa. Arka pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan. Mulai dari s**u untuk Rosa hingga deodoran untuknya. Rencana siang atau sore ini ia akan membawa Rosa pulang ke rumah yang sudah ia tempati enam bulan belakangan. Lokasinya dekat dengan kantornya. Tidak, Arka bukan seorang CEO. Ia hanya manajer utama pemasaran di perusahan papanya, hal itu tentu saja Arka ambil sesuai keputusan orang tuanya yang meminta Arka memulai semuanya dari hal sederhana. Arka tersenyum miring melihat kasir supermarket terus mencuri-curi pandang ke arah tulang bahu bawah lehernya yang memang sedikit memerah. "Kenapa, mbak?" tanyanya ramah. Kasir itu langsung gelagapan, ia menggeleng dan menunduk fokus pada belanjaan Arka. Ia pun merasa sangat malu saat melihat s**u untuk wanita yang baru menikah. Ternyata laki-laki di depannya ini sudah menikah. Setelah membayar, Arka mengambil kantong plastiknya dan mengedipkan matanya ke arah kasir tersebut membuatnya kian gelagapan. Ia kembali mengancing kemeja bagian atasnya dan tersenyum. Ah, maafkan kebiasaan buruknya. *** Rosa menggeliat saat merasakan ada yang menepuk-nepuk bahunya. Tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya. Di sampingnya Arka sudah duduk mengusap bahu Rosa. Senyumnya mengembang saat Arka tersenyum kecil padanya. "Kamu udah empat jam tidur, ayo bangun. Makan dulu," kata Arka. Rosa duduk dibantu Arka, rambut Rosa yang sedikit berantakan Arka tata dengan rapi ke belakang, ia mengusap wajah istrinya. "Cuci muka dulu, aku udah beli ayam goreng buat kamu." Arka tersenyum kecil kemudian beranjak membiarkan Rosa merapihkan dirinya. Rosa tersadar dari lamunannya karena ponselnya berdering, ia segera mengambil ponsel yang ia simpan di nakas. Ternyata mamanya. Beliau menanyakan kepindahannya bersama Arka sore ini. Sementara Rosa tidak tahu harus menjawab apa karena ia tidak tahu mengenai pindah rumah. Baru saja akan menjawab, Arka mendekat dan mengambil ponselnya. "Ma, kita pindahnya nanti sore, Rosa baru bangun tidur, kecapean," kata Arka pada Listya di line. Mendengar jawaban iya dari mertuanya dan sambungan sudah terputus. Arka tersenyum melihat Rosa tengah menatapnya. "Abis kamu makan, kita pulang buat ambil barang-barang kamu." Rosa mengangguk mengerti, tapi ada satu hal yang membuat ia tidak beranjak. "Arka, nanti mama aku sendirian di rumah dong," kata Rosa akhirnya. Arka duduk. "Kalo aku gak bawa kamu pindah, aku malu. Jadi, nurut ya," ujarnya. Meski ragu, Rosa mengangguk. Ia tidak ingin mengecewakan suaminya. Sebenarnya ia ingin terus tinggal bersama mamanya yang hanya sendirian. Dengan perlahan, Arka membantu Rosa bangun dengan menyingkap selimut dan menarik lengan gadis itu. "Masih sakit ya?" tanyanya. Rosa meringis kecil. "Sedikit." "Makasih udah jaga diri buat suami," kata Arka mengusap pipi Rosa yang sedikit memerah. "Itu udah kewajiban anak gadis. Aku, mau mandi lagi deh, aku duluan ya," ucap Rosa melepas tangan Arka yang mengusap pipinya kemudian berlari cepat setelah mengambil bathroop yang menggantung dekat lemari kecil. Arka mengambil ponsel Rosa yang belum terkunci, mencari kontaknya. Senyuman kecil tercetak saat ia melihat nomornya hanya diberi tanda hati warna merah. Ia yakin akan sangat mudah membuat Rosa jatuh cinta padanya. Pesonanya sejak dulu memang sulit dibantah. Apalagi Rosa yang saat ini sudah taluk di bawahnya. Selang beberapa saat, Rosa sudah rapi dengan dress selutut serta cardigan yang ia pakai pas di tubuhnya. Kini ia tak harus memakai turtleneck lagi karena kissmark di lehernya sudah bisa ia tutupi dengan foundation. Arka tersenyum, ia mengambil tas jinjing yang dibawa Rosa kemudian menggandeng lengan itu. "Tadi makan kenyang?" tanyanya. Rosa mengangguk cepat, tentu saja kenyang ia memakan dua porsi ayam goreng sendirian tanpa bantuan Arka sedikitpun. Keduanya berjalan bergandengan di lobi hotel dan mendapat sapaan hangat dari para pegawai hotel karena mengenal Rosa. Sesampainya di depan lobi, Arka mengeluarkan ponselnya menelpon supir keluarganya. Setelah selesai, ia mengajak Rosa untuk menunggu di depan gerbang agar lebih cepat karena supirnya sudah dekat dengan hotel. Baru saja sampai gerbang, Rosa dibuat terkejut karena ada teman-teman satu kelasnya di kampus menatap Rosa dengan tatapan terkejut. "Hey, Rosa. Gak kuliah karena ada janji sama om, ya?" tanya salah satu dari mereka. "Kalian ngapain di sini? Penting banget ngurusin hidup orang?" pertanyaan balik dari Rosa membuat Arka sedikit terkejut. Ia tidak mengira istrinya bermulut savage juga. "Kita abis dari restoran itu, sengaja nunggu taksi online di sini," jawab gadis berambut pirang dengan gaya songongnya. Arka berdecak, ia merangkul pinggang Rosa agar lebih dekat dengannya. "Jangan ganggu istri saya, pulang sana," katanya ketus. Tepat setelahnya mobilnya sampai, buru-buru Arka membawa Rosa masuk mobil bersamanya. Mendengar omongan mulut gadis seperti mereka bukanlah hal yang Arka sukai. Di dalam mobil, Rosa terlihat melamun menatap jalanan seakan-akan lupa jika di sampingnya ada Arka. "Gak usah dipikirin, omongan orang itu kadang bisa jadi pelajaran. Ditelan baiknya, dibuang buruknya," kata Arka. Mendengar itu Rosa langsung menoleh. "Aku gak mikirin omongan mereka, aku cuma miris aja sama angkatan aku di kampus. Mereka jahat," ujar Rosa. Memang itu yang ia rasakan, temannya suka merundung kaum-kaum mahasiswa pendiam dan menurut mereka bisa diandalkan. Itu membuat Rosa merasa miris, tentu saja Rosa bukan termasuk yang bisa diandalkan karena ia bisa menolak. Sedangkan yang lain apalagi mahasiswa baru, mereka seperti takut dan tunduk. Hal itu kadang membuat Rosa harus membela para maba dan membuatnya terlibat masalah dengan para geng-geng tidak jelas di kampusnya. Tidak jelas dalam artian bertingkah sesuka hati mereka. Kadang Rosa bangga pada dirinya sendiri saat orang-orang ada di pihaknya yang awalnya sendirian. "Jahat dalam artian apa?" tanya Arka. "Suka bullying, seakan-akan mereka itu mahasiswa paling ditakutin." Rosa menyandarkan tubuhnya. "Kamu takut?" tanya Arka lagi, kini ia menatap Rosa dari samping. Melihat Rosa menggeleng membuat Arka tersenyum. Istrinya itu terlihat lebih cantik dengan balutan make up naturalnya, bahkan ia melihat kini Rosa mengenakan lipstik yang sedikit lebih pekat daripada sebelum-sebelumnya. "Aku bukan takut, males aja terlibat masalah kalo ujungnya dipanggil dekan padahal aku gak salah," jawab Rosa. "Masuk kuliah lagi, pasti nanti rame gosip gara-gara tiga orang tadi." Rosa menoleh kemudian tersenyum kecil. Arka berdecak. "Kalo ada yang gosip, lewat aja. Bikin pusing," katanya. Hal itu membuat Rosa terkekeh, tentu saja ia setuju dengan pendapat Arka. Dan selama ini hal itu pula yang ia lakukan untuk menjaga agar pendengarannya terjaga dari segala macam bentuk gosip yang sering terjadi di kampusnya. Mungkin Rosa hanya sekadar tahu adanya gosip itu, kemudian mengabaikannya. Ia tidak terlalu peduli urusan orang. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Rosa. Tempat pertama kali keduanya bertemu untuk dijodohkan, tepat delapan hari lalu. Waktu terasa cepat, kini Rosa sudah menjadi seorang istri bahkan sudah benar-benar dimiliki seutuhnya oleh Arka. Saat keduanya turun dari mobil, pintu rumah terbuka cepat menunjukkan wajah senang Listya melihat anaknya. "Hai, Sayang. Astaga, cantik banget kalau dandan begini," kata Listya mencium pipi kedua anaknya. Hal itu memang benar-benar kenyataan yang ia lontarkan, dan Arka menyetujuinya. "Mama juga setiap hari cantik," ucap Rosa ikut mencium pipi Listya. Dengan penuh kelembutan Listya mengusap punggung anak bungsunya, ia juga tersenyum lebar pada Arka. Merasa ditatap, Arka turut tersenyum ia mencium tangan Listya kemudian mereka masuk bersama ke dalam rumah. Rosa menatap koper yang sudah siap dibawa olehnya. "Mama kok semangat banget anaknya mau pindah?" tanya Rosa kembali memeluk Listya dan merengek. Sedangkan yang dipeluk hanya terkekeh pelan. "Mama seneng, karena bakal ada yang tanggung jawab sama kamu. Mama seneng kalo nantinya Mama harus main ke rumah kalian, bawa banyak belanjaan, masak di rumah kalian, main sama cucu-cucu Mama di sana," jawab Listya. Ia menarik tangan Rosa agar duduk, tak lupa mengajak Arka untuk turut duduk. "Kalo Mama kesepian di sini, Mama harus ke rumah aku nanti, Mama harus sering main." Listya mengangguk menanggapi Rosa kemudian mengusap air mata yang baru saja lolos ke pipi anaknya. Ia tahu jika Rosa sebenarnya mengkhawatirkannya. Namun jika Rosa terus tinggal bersamanya, ia tidak ingin Rosa terus ketergantungan padanya dan juga membuat Arka sedikit kurang nyaman, apalagi mereka ini pengantin baru. "Kalo untuk buku-buku kamu tadi udah dibawa pindah sama Bibi ke sana, ini tinggal baju-baju rumahan aja, nanti kamu tinggal nempatin, Arka tadi sebelum ke sini udah nyuruh bibi buat ke sana duluan biar kamu bisa langsung istirahat lagi." Arka tersenyum ketika Rosa menoleh padanya. "Kamu pasti masih capek, makanya aku langsung nyuruh bibi ke sana duluan. Nanti makan malem di luar aja," kata Arka. Rosa mengangguk setuju, ia juga tidak ingin memaksakan tubuhnya yang masih lelah untuk beraktifitas lebih banyak. Ia harus sedikit lebih segar dari sebelumnya agar tubuhnya lebih fit lagi. "Arka, rumah kita jauh gak dari sini?" tanya Rosa yang membuat pahanya ditepuk pelan oleh Listya. "Yang sopan dong, sayang. Panggil Mas." Rosa membulatkan matanya, ia memanggil nama Arka saja sedikit canggung, apalagi menyebut namanya dengan embel-embel 'mas' "Maaf, M-mas Arka," cicit Rosa pelan. Ia menatap malu pada Arka. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Listya, Rosa memilih masuk ke kamar untuk memeriksa takut ada barang penting yang tertinggal. Sampai di kamar, ia menatap kamar yang sudah ia tempati selama hampir 23 tahun hidupnya ini. Bayangan-bayangan masa kecilnya langsung terputar, bersama Mamanya, Surya dan juga mendiang ayahnya yang sudah tiada sejak 5 tahun yang lalu. Rosa memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut saat bayangan-bayangan itu berkelebatan cepat di kepalanya. Baru saja akan melangkah, ia mendengar suara pintu kembali terbuka. Arka masuk dengan wajah tanpa ekspresi, ia langsung merangkul Rosa ke kasur. "Masih ngantuk, istirahat di sini dulu ya," kata Arka setelah keduanya berbaring. "Mama kemana?" tanya Rosa. "Mama mau ke minimarket dulu katanya." Rosa baru saja akan duduk tapi Arka menariknya agar diam. Diperlakukan seperti itu membuat Rosa bersemu malu, ia menatap Arka yang memejamkan mata sambil memeluknya.  "Aku mau cek beberapa barang, takutnya ada yang penting terus ketinggalan," kata Rosa. Namun bukan melepaskannya, Arka justru melingkarkan kakinya pada tubuh Rosa. Arka masih diam dengan wajahnya yang damai. Sungguh Rosa sangat memuji wajah tampan Arka dari sudut manapun. Mata tajamnya tertutup, hidung mancungnya bisa Rosa sebut sebagai jurang yang curam jika dilihat dari bawah, bibirnya terlihat seksi, alisnya yang hitam tegas, bahkan rahang itu menunjukkan kharisma yang sangat khas. Rosa yakin akan banyak wanita yang setuju dengan pemikirannya kali ini.  Sudah sepuluh menit Rosa hanya diam di pelukan suaminya hingga ia merasakan dengkuran halus dari Arka, karena sedari tadi ia hanya menatap d**a pria itu yang naik turun. Rosa mendongak menatap Arka yang ternyata sudah terlelap. Dengan perlahan Rosa melepaskan pelukan Arka agar tidak mengganggu tidur suaminya, karena ia yakin Arka pun pasti lelah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD