Saat pagi hari menyapa, Rosa terusik oleh suara gemercik air, saat dilirik ke jendela yang masih tertutup hanya gorden yang setengah terbuka, ternyata hujan turun cukup lebat. Hal itu tentu saja membuat Rosa meringis, mengingat ia harus sudah kembali kuliah setelah beberapa hari izin. Rosa menoleh pada sampingnya dan terdapat Arka yang masih tertidur pulas dengan posisi miring menghadapnya. Rambut pria itu mencuat-cuat dengan mulut yang sedikit terbuka serta suara dengkuran halus membuat Rosa terkekeh. Tangan lentiknya terangkat mengusap pipi Arka dengan lembut. “Arka, kamu masih libur?” tanyanya pelan saat Arka terusik.
Mendengar pertanyaan dari Rosa, Arka membuka matanya dan menarik istrinya itu ke pelukannya. “Maunya sih masih libur, tapi harus masuk, kerjaan udah numpuk banget pasti,” jawabnya pelan karena suaranya masih tercekat.
Rosa mengangguk paham, baru saja hendak beranjak tubuhnya ditahan Arka. Dipeluk lebih erat hingga tak ada jarak, Arka menjadikan Rosa seperti guling. “Arka, aku mau masak, mau siapin baju buat kamu, aku juga mau kuliah.” Arka tersenyum, ia mengusap gemas kepala Rosa kemudian melepaskan istrinya agar bisa beraktivitas.
Setelah terlepas dari Arka, Rosa segera beranjak untuk membasuh wajahnya. Ia juga menyiapkan segala kebutuhan Arka. “Arka, kamu mau sarapan apa?” tanya Rosa sedikit mengguncang bahu Arka agar terbangun.
“Roti aja, pakai selai coklat, sama s**u coklat airnya banyakin,” jawab Arka seraya terduduk, ia menatap handuk yang sudah tersampir di hanger yang digantung di samping lemari.
Rosa mengangguk, ia turun ke lantai bawah dan tersenyum kecil menatap dapur yang luas ini. Arka berkata jika rumah ini baru ditempatinya selama enam bulan terakhir setelah kenaikan jabatannya tahun lalu. Tidak pernah ada pembantu hanya kadang-kadang go cleaning yang sering datang jika Arka rasa rumahnya sudah cukup berantakan. Karena Arka merasa kasihan jika harus mengadakan asisten rumah tangga, rumahnya jarang ia tempati karena Arka lebih sering di luar rumah. Arka juga menawarkan pada Rosa untuk mengadakan asisten rumah tangga.
Tentu saja Rosa menolak itu, ia ingin menjadi istri yang mandiri dan baik. Namun, tentu saja jika lain kali mungkin Rosa keteteran, baru ia akan mengatakannya. Mengingat hal semalam yang dilakukan Arka padanya membuat Rosa sedikit terdiam menatap roti yang sedang ia baluri selai coklat. Meski ia sudah dimiliki oleh Arka sepenuhnya, Rosa merasa jika ada unsur tertentu yang membuat Arka melakukan semua ini. Meskipun memang pernikahan mereka ini sangat terpaksa karena mendadak dijodohkan.
Tapi karena tidak mau berburuk sangka, Rosa tersenyum lembut, semuanya pasti bisa ia lewati, segala sesuatu baik ataupun buruk bisa dilewati dengan baik jika kita ikhlas menerimanya dengan lapang d**a dan segala keteguhan hati. Rosa siap menerima apa yang akan terjadi dalam hidupnya, sejak ayahnya meninggal, Rosa sudah banyak dibuat terkejut. Mulai dari stressnya mamanya hingga bisa bangkit kembali, masalah kakaknya dengan sang istri, hingga masalah dirinya sendiri yang menjadi korban perundungan.
Rosa memang tidak pernah menunjukkan jika dirinya adalah anak dari seorang pengusaha batubara hingga merambah ke emas serta berlian yang sudah terkenal brand-nya hingga keluar negeri. Rosa cukup trauma ketika ia menjadi alat untuk dimanfaatkan hartanya oleh teman-temannya. Bahkan sekarang di kampus pun Rosa selalu berusaha menutupi identitasnya sebagai anak dari seorang Listya pengusaha wanita yang meneruskan usaha suaminya. Rosa melindungi dirinya sendiri. Tentu saja ia sudah membicarakan hal ini pada mama dan juga kakak laki-lakinya itu.
Tepat saat roti serta s**u coklat buatan Rosa sudah siap, Arka turun dengan wajah bantalnya. Meski rambutnya berantakan, Rosa tetap bisa memuja ketampanan seorang Arka. “Kamu kok belum mandi?” tanyanya.
Arka duduk di kursi dan menumpukkan wajahnya di meja makan, memang sangat kentara jika ia masih mengantuk, terlihat dari matanya yang sepertinya sangat susah untuk terbuka menatap sarapan yang sudah ia pesan pada Rosa. “Arka, kamu gak bakal telat emang?” tanya Rosa lagi.
“Sssstttt … bentar aja, masih ngantuk banget.” Telunjuk Arka terangkat ke atas mengisyaratkan Rosa agar diam.
“Harusnya tadi cuci muka dulu, lebih bagus langsung mandi biar ngantuknya ilang. Nanti biar aku yang bawain sarapannya ke atas,” kata Rosa dengan pelan, ia menuangkan s**u bubuk untuk wanita yang baru menikah, yang beberapa hari lalu Arka belikan untuknya. Entah apa tujuannya, Arka bilang ia hanya berinisiatif karena melihat iklan di televisi. Oke, sekarang Rosa percaya the power of iklan.
Setelah siap untuk diminum, Rosa menatap Arka yang masih memejamkan matanya dengan nyaman meski pipinya sedikit tertekan karena menempel di meja makan kaca. “Arka, kalo telat jangan sampe kebut-kebutan di jalan ya,” kata Rosa lagi. Kenapa membangunkan Arka sesulit ini?
Tak ingin mendengar perkataan Rosa yang mungkin akan berakhir ceramahan seperti mamanya. Arka bangkit berjalan menuju wastafel, dan membasuh wajahnya di sana. Rosa hanya terkekeh melihatnya, ia menyodorkan roti dan s**u yang Arka mau tepat ke depan suaminya itu tadi duduk.
Setelah menyelesaikan sarapan dalam keheningan, Arka bangkit kemudian pergi dari hadapan Rosa tanpa kata. Sedangkan Rosa masih memantung di tempatnya, pikirannya melayang ke segala arah membuat kepalanya sedikit berdenyut. Tak ingin membuang-buang waktu akhirnya Rosa lebih memilih mencuci piring dan membereskan beberapa barang yang ia rasa tidak pada tempatnya.
Rosa segera ke kamar untuk menyiapkan dirinya berangkat ke kampus. Rosa menyiapkan bajunya dan baju untuk Arka, sesudah disusun di atas kasur, Rosa memilih untuk mandi di kamar mandi dapur. Saat kembali ke kamar dalam posisi rambut digulung handuk, ia cukup terkejut melihat Arka tak mengenakan baju yang ia siapkan. “Aku gak suka bajunya,” kata Arka saat melihat Rosa hanya diam di pintu.
Mengangguk kecil, Rosa menghampiri meja rias yang kini ada di kamar Arka dan mulai merias dirinya seraya mengeringkan rambut. Lagi-lagi Rosa melamun terdiam menatap bedak padat yang akan ia poleskan ke wajahnya. “Kenapa?” tanya Arka mengusap rambut Rosa.
“Hah? Nggak,” jawab Rosa gelagapan, ia langsung menepuk-nepuk bedak itu ke wajahnya, dan disusul riasan lain.
“Pake ini.” Rosa menatap Arka lewat cermin, laki-laki itu menunjukkan sebuah gaun berwarna biru muda sedikit di atas lutut tanpa lengan. Tentu saja Rosa terkejut dengan pilihan Arka, baju itu sangat terbuka di bagian atas.
“Aku gak biasa pake baju kayak gitu, gak betah.” Arka menyimpan baju itu di atas paha Rosa kemudian tersenyum miring. Tangannya terangkat mengusap bahu wanita itu.
“Who’s care? Aku tunggu sepuluh menit,” bisik Arka kemudian mengambil tas kerja yang sudah ia simpan di atas nakas.
Semestara Rosa hanya terdiam mendengarnya, jika ditanya terkejut atau tidak, jawabannya pasti. Nada Arka tadi bukanlah sebuah perintah yang bisa dibantah, melainkan sebuah bisikan lembut penuh paksaan. Ia menatap baju yang ada di pangkuannya dan tersenyum miris.
“Ini bukan masalah,” gumam Rosa pada diri sendiri, ia segera mengganti bajunya kemudian melanjutkan merias wajah dan menata rambutnya. Rosa menatap kembali tubuhnya yang dibalut gaun sederhana itu, terlihat mewah dipakainya. Sengaja ia menggerai rambut panjangnya untuk sedikit menutupi bagian atasnya yang cukup terbuka. Dengan sedikit tidak ikhlas Rosa menggantungkan celana jeans dan kemejanya ke kastop dan mengambil cardigan untuk nanti di kampusnya.
Saat sampai ruang keluarga, Rosa melihat Arka sudah rapi sedang memainkan ponselnya. Mungkin mendengar langkah sepatu Rosa. Arka menoleh, ia tersenyum lebar. “Good girl, sering-sering kayak gini, nanti belanja baju yang banyak,” katanya. Ia mengambil cardigan di tangan Rosa dan menyampirkan itu ke bahu Rosa.
“Pake cardigannya kalo udah di kampus, jangan tanya kenapa. Kaki kamu kecil, lebih bagus pake dress daripada pake jeans, dress paling bagus ya ini, dress kamu yang lain atas sopan tapi bawahnya terlalu pendek. So, aku gak mau istri aku kena hinaan nantinya,” kata Arka. Rosa tersenyum lembut, ah tadi ia sudah berburuk sangka pada suaminya sendiri.
Dengan segera Arka menuntun tangan Rosa ke luar rumah. “Pulang kuliah jam berapa?” tanyanya saat Rosa selesai menutup gerbang dan masuk ke mobil.
“Jam tiga aku baru selesai kalo dosennya gak ngaret,” jawab Rosa, ia membuka tas dan memeriksa apakah semua yang ia perlukan sudah masuk tasnya atau belum. Saat dirasa lengkap, Rosa merogoh saku cardigan yang ia pakai. Alisnya mengernyit saat tahu ponselnya tertinggal.
“Hp aku ketinggalan,” kata Rosa menatap melas pada Arka.
“Yah, puter balik jauh. Nanti pulangnya aku jemput aja.” Arka tersenyum kecil kemudian mengusap kepala Rosa pelan.
Rosa terdiam, ia sebenarnya sangat menyukai usapan kepala dari tangan besar Arka, hanya saja hal itu selalu membuatnya ingat akan mendiang ayahnya. Sejak kecil, Rosa sangat dekat dengan keluarganya karena semua hal yang Rosa lakukan selalu ada dalam pantauan orang tua serta kakaknya. Namun, hal itu sudah tidak ia rasakan sejak ayahnya meninggal dan ibunya sempat masuk rumah sakit jiwa.
Setelah terjebak keheningan, Arka memasuki daerah kampus Rosa membuat gadis itu tersadar saat mobil mewah milik Arka sudah berhenti di depan gedung utama kampus. “Fakultas kamu dimana?” tanya Arka saat ia sudah mematikan mesin mobil.
“Di sebelah kanan, aku duluan ya, kamu hati-hati, gak usah ngebut,” kata Rosa. Ia tersenyum dengan manis membuat Arka turut tersenyum. Saat Rosa hendak membuka pintu, Arka menahannya. Tentu saja hal itu membuat Rosa bingung.
Arka mengeluarkan dompetnya kemudian mengeluarkan satu kartu dan memberikannya pada Rosa. “Pinnya tanggal pernikahan,” ujar Arka menyimpannya di tangan kanan Rosa, lalu menarik Rosa agar lebih dekat dengannya dan mencium keningnya. “Nanti pulangnya aku jemput.”
Dengan wajah yang sudah menghangat, Rosa mengangguk. Dengan gerakan cepat ia mencium pipi Arka dan buru-buru keluar dari mobil, menyelamatkan wajahnya yang kian terasa panas. Arka hanya tersenyum melihat Rosa yang tengah berlari kecil.
Sementara itu, Rosa dengan senyum tertahan mencoba juga menahan dirinya agar berjalan normal. Kebiasaannya jika sedang bahagia maka akan jalan dengan sedikit melompat-lompat. Hal itu pasti membuat orang-orang akan menatapnya aneh jika ia lakukan. Sesampainya di kelas, ia bersyukur datang dua puluh menit lebih cepat dari dosennya. Meski tidak killer, kadang dosennya itu tidak toleran walau terlambat satu menit.
“Rosa, dicariin Winda,” kata teman kelasnya yang baru saja masuk kelas.
“Bilangin, kalo mau ribut, gue males,” jawab Rosa malas. Tidak, Rosa bukan orang yang diam saja jika dihina, ia cenderung tidak mau mendengar. Karena hal itu tentu saja akan berpengaruh pada dirinya dan mentalnya.
“Rosa,” panggil seseorang. Rosa mendongak dan tersenyum lebar melihat Gara sedang duduk di hadapannya.
“Hai, Gar. Apa kabar?” seru Rosa. Ia mengangkat tangannya dan disambut tepukan pelan persahabatan di telapak tangannya oleh Gara.
“Gue baik. Lo kemana gak masuk beberapa hari? Hampir dua minggu belakangan ini kayaknya lagi sibuk banget ya? Jarang liat lo nongkrong di selasar nyari wifi gratis soalnya.” Gara terkekeh saat Rosa meresponnya dengan tertawa.
“Gue sibuk banget, ngurusin laporan segala macem, ngurusin pernikahan juga,” jawab Rosa seadanya.
“Pernikahan?” tanya Gara lagi.
“Iya, gue udah nikah, empat hari yang lalu. Maaf gak ngundang, soalnya mendadak.” Rosa menatap sendu pada Gara yang juga menatapnya sama.
“Kok mendadak? Jangan bilang udah tekdung lo?” dengan cepat Rosa menepuk kencang tangan Gara. Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu.
“Secara gak langsung lo ngehina gue kalo gitu,” kata Rosa kemudian cemberut. Hal itu tentu saja membuat Gara tertawa, ia mengeluarkan sebuah buku.
“Ini ada catatan materi, gue rangkum dikit buat lo. Bulan kemarin, kan, lo yang bantu gue rangkum, sekarang gentian,” ujar Gara menyerahkan bindernya. Wajah kesal Rosa berubah seketika, sebenarnya ia tak mengharapkan yang namanya catatan dari Gara, karena tadinya Rosa memilih untuk meminjam temannya yang lain, tapi karena Gara sudah memberinya, tentu saja Rosa harus bersyukur.
“Ya udah, gue ke sana dulu,” kata Gara menunjuk kursi kosong yang biasa ia tempati. Rosa mengangguk, ia tersenyum lebar dan menjawab, “Gue balikin ini besok ya?” sebelum beranjak Gara turut mengangguk.
Setelah dua mata kuliah selesai, Rosa mendapat kabar bahwa dosen mata kuliah ketiganya sedang sibuk dan tidak dapat masuk bahkan menitipkan tugas pun tidak. Hal itu tentu saja membuatnya senang, Rosa akan pulang naik taksi aja ke rumahnya lalu memberi kabar pada Arka jika ia sudah pulang lebih cepat.
Rosa merasa sangat aneh saat banyak orang yang menatapnya di koridor, ia tak biasa menjadi pusat perhatian karena biasanya pun semua orang akan cuek dan sibuk dengan urusannya sendiri. Rosa menunduk melihat pakaiannya, ia sudah menutupi bagian atasnya yang terbuka dengan cardigan, juga rambutnya yang ia gerai menutupi bagian cardigan atasnya.
“Hai,” sapa seseorang dengan senyum manisnya.
Rosa menggulirkan matanya, ia hendak beranjak namun langkahnya dicegah oleh orang itu dengan menahan lengannya. “Ikut gue dulu, jangan sombong dong,” katanya.
Karena penasaran apa tujuannya, Rosa hanya mengikuti arah tarikan Winda yang entah akan membawanya ke mana. Rosa tersenyum kecil saat ia dibawa ke kantin yang tidak terlalu ramai dan tidak ada dosen di sana. Merasa tubuhnya dipaksa duduk, Rosa sedikit meringis karena harus duduk mendadak.
“Gue mau tanya sama lo,” kata Winda dengan suara yang cukup nyaring membuat beberapa orang menoleh padanya.
“Tanya aja,” jawab Rosa seadanya, ia paham dan sudah tahu apa tujuan Winda seperti itu.
“Lo hamil?” tanya Winda to the point dengan lantang. Rosa tersenyum dan menatap orang-orang di sekitarnya yang terlihat seperti terkejut.
“Belum, masa baru nikah udah hamil, aduh-aduh, pembodohan.” Rosa terkekeh karena Winda tampak terkejut dengan jawabannya. Jujur, sebenarnya Rosa takut dengan hal ini, tapi tentu saja memang harus ia jawab tenang, ia tak ingin terintimidasi oleh seorang Winda Maheswari.
“Gue kira lo hamil, makanya nikah mendadak banget sama om-om,” jawab Winda tenang.
“Miris, pikiran lo buntu banget. Umur gue udah di atas dua puluh tahun, gue udah matang untuk usia pernikahan. Gak bisa ya sedikit berpikiran baik tentang gue? Gue ada salah apa sama lo?” ujar Rosa.
Obrolan keduanya menjadi pusat perhatian secara diam-diam karena Rosa menyadari hal itu, ia tersenyum. “Ya abisnya gue kaget, lo yang gak pernah dikabarin deket sama orang, terus kalo ditembak cowok selalu nolak, tiba-tiba udah nikah aja. Gimana gak curiga, kan biasanya yang diem-diem tuh kayak uler,” kata Winda.
Rosa tertawa, lebih ke tertawa meremehkan, ia sungguh muak. “Bukannya itu harusnya jadi jawabannya ya? Gue tolak semua cowok bukan tanpa alasan, karena gue udah punya calon. Diem-diem aja yang penting nyebar undangan, daripada sering gonta-ganti pasangan, terkesan murahan,” jawabnya.
Wajah Winda sudah memerah menahan amarahnya dan juga malu, ia dengan cepat menampar pipi Rosa yang tentu saja membuat Rosa terkejut, ia memegangi pipinya yang berdenyut seraya diam menunduk. Sekelabatan masa lalu langsung terulang di kepala Rosa.
“Ada hak apa kamu nampar istri saya?” suara dari orang yang mengisi hari-hari Rosa beberapa hari terakhir ini membuat Rosa mendongak, kini ia kembali terkejut melihat Arka datang masih dengan setelan kemeja yang kancing atasnya terbuka satu dengan lengannya yang sudah digulung rapi sampai siku.
Winda terkejut, sungguh tatapan dan suara Arka sangat mengintimidasinya. “Malu? Oh pasti ya? Gak punya temen, malah mencoba mojokin orang. Oh, atau karena itu kamu gak punya temen?” perkataan dari Arka semakin membuat Winda malu.
Saat hendak melangkah pergi, tangan Winda ditahan cepat oleh Arka. “Saya bisa cabut izin magang kamu dari perusahaan, atau bahkan bisa bikin kamu di drop out tanpa hormat dari kampus ini. Mau pilih mana?” tanya Arka. Semua orang yang mendengarnya terkejut terutama Rosa dan Winda.
Winda baru sadar jika Arka adalah atasannya di perusahaan tempat ia magang, tak terlalu familiar karena jarang bertemu. Rosa pun bangkit dan menyentuh lengan Arka dengan ragu. “Udah, Arka. Biarin aja dia, ayo pulang aja,” kata Rosa.
Arka tersenyum. “Istri saya baik, tapi saya bukan tipe manusia yang mudah memaafkan. Jadi, nama kamu sebagai Winda Maheswari, saya catat ke daftar hitam sebagai orang yang penuh iri dengki,” ujarnya.
“Ayo pulang, nanti urusin surat pindah kalo kamu mau, di sini banyak pengecut. Ada orang pipinya ditampar, tapi diem aja kayak pajangan, gak guna,” kata Arka lantang menyinggung orang-orang di sekitarnya. Ia menarik lengan Rosa lembut dan meminta agar Rosa berjalan di sampingnya.
***
Arka meringis melihat pipi Rosa yang masih memerah, ia tadi melihat kejadian itu karena ia sengaja datang ke kantin kampus tadinya untuk membeli minuman, namun Arka sangat terkejut melihat Rosa ditampar saat ia masuk area kantin. Arka memang datang untuk menjemput Rosa dan berniat menunggunya di kantin karena Rosa bilang akan pulang pukul tiga sore, ia punya waktu satu jam setengah di kampus hitung-hitung mencari tahu informasi tentang istrinya itu. Dan satu informasinya adalah, Rosa menjadi bahan perundungan meski secara tidak langsung.
“Kamu kenapa diem aja?” tanya Arka.
“Aku kaget,” jawab Rosa menoleh pada Arka. Dengan lembut Arka mengusap pipi istrinya. Kemudian menarik lembut Rosa ke pelukannya.
“Jaga diri baik-baik. Pegang teguh prinsip diri kamu.” Rosa terdiam, ia mengangguk pelan kemudian membalas pelukan Arka.
Karena tak ada kegiatan lain, Arka membiarkan Rosa merasakan pelukannya lebih lama lagi. Tadi ia mengira jika di kantor akan banyak hal yang ia lakukan, ternyata hanya menandatangani beberapa berkas, karena besok adalah tanggal merah, jadi para pegawai dipulangkan lebih cepat. Yang tak ia sangka adalah pegawai magang di perusahaannya itu adalah orang yang tadi menampar Rosa.
“Rosa?” panggil Arka.
Rosa hanya bergumam kecil, ia hampir saja tertidur karena suasana yang sangat mendukung. “Mama Melina mau kamu ke rumah katanya besok,” kata Arka saat Rosa hanya diam. Rosa langsung melepas pelukannya dari Arka kemudian menatap pria itu bingung.
“Aku besok ada janji sama temen kelas, gimana dong?” Arka langsung mengernyit tidak suka, ia menggeleng menatap Rosa.
“Batalin, ketemu Mama dulu,” kata Arka kemudian langsung beranjak, membuat Rosa terdiam. Baru saja ia merasakan sisi lembut dari Arka setelah tadi di kampus ia melihat Arka dengan rahang mengeras, sekarang sisi itu kembali lagi, Rosa jadi berpikir apa Arka punya dua kepribadian?
“Arka,” panggilnya saat Arka kembali melewati belakang sofa.
Dengan tangan menenteng tas kerja, Arka berhenti tanpa menoleh. “Mas Arka, mau kemana?” tanya Rosa bingung dengan suara kecilnya.
“Kamu pikir aku bawa tas kerja mau pergi ke mall?” Arka langsung pergi meninggalkan Rosa tanpa sepatah kata lagi. Tanpa berpikir panjang Rosa langsung berlari mengejar suaminya. Ia mencium tangan Arka kemudian tersenyum tipis.
“Hati-hati, ini udah sore jangan terlalu cape kerja. Pulangnya jangan terlalu malem ya?” ujar Rosa dengan suara lembutnya. Ia menatap pada Arka dengan tatapan sendu berharap suaminya mau mendengarnya.
“Masak aja buat makan malam, nanti aku pulang jam 7, ada rapat mendadak, ada kesalahan target,” kata Arka kemudian memasuki mobilnya dan melesat pergi. Rosa diam di depan pintu, aura Arka tidak baik mungkin tengah kesal karena pekerjaannya. Rosa sedikit memahami emosi Arka yang mudah naik turun.
Setelah Arka pergi dengan mobilnya, Rosa bersiap pergi ke supermarket untuk belanja bahan masakan. Mengelilingi supermarket sendirian sekalian mengumpulkan bahan bulanan sekalian ia berbelanja mengenakan kartu yang Arka berikan padanya.
Memahami keadaan dan kondisi yang mungkin terjadi pada Arka, Rosa menyiapkan beberapa cemilan manis dan juga ia menyiapkan beberapa cup jus instan dan membuang beberapa soda milik Arka. Tentu saja itu haknya untuk mengatur apa yang akan dikonsumsi oleh Arka, ia yakin sebelumnya pasti pria itu sering mengonsumsi soda dan alkohol.
Rosa sangat lelah setelah selesai masak, ia menatap beberapa hal yang sudah tersaji. Juga sudah membereskan rumah dan cucian bekasnya memasak, jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang, segera Rosa membersihkan diri agar terlihat sedikit lebih baik di hadapan suaminya saat pulang nanti.
Setengah jam sudah berlalu, Rosa sudah menatap makanan di meja makan sendirian selama hampir 15 menit. Menatap dengan sendu masakannya yang sudah tidak mengeluarkan uap tipis. Apa Arka terjebak macet atau masih ada urusan di kantornya yang tak bisa ditinggalkan? Pertanyaan itu yang terus menerus terlintas di otak Rosa mengingat suaminya sudah melewati waktu janji. Bahkan saat jarum pendek sudah ada di angka 8 dan jarum panjang di angka tiga. Untuk menelpon pun ia tak punya keberanian. Takut jika Arka akan tambah kesal atau pusing karena telepon darinya, ia yakin pekerjaan Arka bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Saat menatap langit malam tanpa bintang lewat balkon tengah rumah di lantai dua, air mata Rosa menetes melihat Arka turun dari mobil dengan jalan sempoyongan dituntun seorang wanita berpakian minim. Sakit. Tidak tahu perasaan apa, yang jelas Rosa tidak rela menerka apa yang terjadi pada suaminya. Dengan langkah cepat ia keluar dan mengambil alih Arka dari wanita itu.
“Dandanlah sesuai kriteria suamimu, dia mencari wanita lain untuk memuaskan diri. Ah, aku lelah sekali, dia tipe pria yang kuat. Andai dia tidak memintaku untuk mengantar pulang jam segini, mungkin permainan kami akan sampai pagi,” kata wanita itu kemudian pergi setelah melempar kunci mobil Arka pada Rosa.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Rosa menuntun Arka untuk duduk di kursi luar rumahnya, ia mengunci gerbang dan mengunci mobil. Tentu saja sesekali ia menoleh pada Arka yang tengah menunduk.
“Kamu lupa kata-kata sendiri, Arka,” kata Rosa pelan, ia menatap Arka yang kian menunduk dalam.
Rosa membantu Arka kembali berjalan, sesekali menahan napasnya karena harus mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari Arka. “Arka,” lirihnya membukakan sepatu suaminya serta jas yang membalut, ia tidak peduli air matanya yang menetes melihat kemeja kusut Arka dan juga beberapa tanda kemerahan di leher suaminya. Sial, ia tidak ingin menangis tapi air mata itu jatuh dengan sendirinya.
“Istirahat, aku tidur di kamar sebelah,” kata Rosa setelah menyelimuti Arka. Ia menutup pintu dengan perlahan agar tak terlalu bising, membiarkan hanya hatinya yang terus bergemuruh melihat penampilan wanita tadi. Ia berkaca pada cermin yang menempel di lemari, tubuhnya tidak sebagus itu, ia tidak tahu harus apa. Hanya karena perkataan wanita tadi membuat Rosa tidak nyenyak hingga pagi.
Saat matahari menyapa, Arka bangun dari tidurnya, matanya langsung menerawang sekitar dan tubuhnya sendiri. Setelah sadar apa yang ia lakukan semalam, buru-buru ia bangkit dan mencari Rosa. Saat melihat ke dapur, di sana masih ada makanan yang tersusun rapi. Hal itu membuatnya mendengus. “Rosa?” panggilnya cukup lantang di depan kamar yang terkunci.
“Rosa?” Arka memanggil disertai ketukan. Baru saja kan bersuara kembali, ia mendengar suara kunci di putar dan knop pintu yang bergerak. Saat terbuka, tentu saja Arka terkejut dengan penampilan Rosa.
“Ka-kamu mau kemana?” tanyanya.
“Gak kemana-mana, aku gak ke kampus, lagi gak enak badan, maaf juga belum bikin sarapan. Ini baru mau masak,” kata Rosa pelan tanpa menatap Arka, ia menyembunyikan mata sembabnya.
“Semalem kamu udah masak, tapi gak aku makan, pagi ini gak usah masak, beli di online aja. Siang nanti baru masak, aku gak ke kantor har ini,” jawab Arka setelah berdeham singkat.
“Nanti kamu pergi lagi, terus kamu pulang malem lagi sama cewek, padahal udah minta dimasakin.” Rosa terkekeh, ia mengusap leher suaminya, lebih tepatnya pada kissmark sialan itu.
“Mandi, aku mau masakin kamu tiap hari. Gak peduli apa itu cape. Kamu juga kerjanya gitu, kan? Gak kenal lelah,” lanjut Rosa. Ia memandang Arka yang juga tengah menatapnya.
Setelah berkata seperti itu, Rosa berlalu dari hadapan Arka dengan senyum termanisnya, meninggalkan suami yang masih mematung mengingat kebodohannya sendiri. “Rosa,” panggilnya. Hanya dengan dehaman Rosa menjawab, ia terus menuruni tangga tanpa menoleh pada Arka. Karena sungguh, jika saja boleh ia ingin menangis melihat penampilan Arka saat ini. Hal yang membuat hatinya berdenyut nyilu. Apa iya ini yang namanya jatuh cinta? Kenapa sakit sekali? Bukankah harusnya pernikahan itu bahagia, susah senang dilalui bersama. Rosa merasa ini bukanlah awal yang baik untuk memulai kisah hidup barunya, hanya tinggal menunggu apa yang akan terjadi ke depannya.
Yang jelas, baik ataupun buruk suatu hal yang terjadi pada hidup kita, bukanlah perkara yang bisa diabaikan. Cobaan dan ujian itu ada untuk dilewati agar mengasah diri, mejadi manusia yang lebih kuat untuk ke depanya. Jadi, mau tidak mau, Rosa harus siap menerima resiko mempunyai suami seperti Arka yang sedikit demi sedikit sudah ia ketahui sikap aslinya.
“Ayo, Rosa. Ingat kata ayah, air matamu berharga hanya untuk tangis bahagia. Tak ada tangis sedih setelah kepergian ayah,” gumamnya pelan seraya memegangi dadanya sendiri, menatap cincin pernikahannya dengan Arka kemudian tersenyum.
*****
bersambung ….