Siang hari di kala semua orang sibuk dengan pekerjaan karena hari produktif, berbeda dengan Arka yang saat ini tengah berbaring dan menatap layar televisi yang menampilkan berita bola. Sesekali ia menoleh pada Rosa yang sibuk di meja belajarnya dengan beberapa buku tebal yang sesekali wanita itu buka. Tangan Arka meraba lehernya sendiri. Menyentuh beberapa kissmark dari wanita sialan semalam.
Saat hendak mengambil remote televisi, ia dibuat sedikit terkejut karena gerakan mendadak Rosa yang sedikit membanting bukunya kemudian menelungkupkan wajahnya pada meja belajar. Keduanya belum terlibat obrolan lagi sejak selesai sarapan tadi pagi.
Rosa membereskan buku-bukunya kemudian berdiri cepat, membuka lemari dan mengambil baju. “Mau kemana?” tanya Arka karena Rosa terkesan terburu-buru mencari bajunya.
Tanpa kata, Rosa memilih mengambil tas yang memang ia simpan di atas nakas. Saat Rosa hendak keluar membawa baju dan tasnya keluar, buru-buru Arka bangkit dan menahan tangan istrinya. “Ditanya sama suami itu dijawab!” tukas Arka keras.
Rosa mendengus. “Aku ada kerjaan, kamu mau ikut? Ayo!” dengan perlahan Rosa melepas cengkraman tangan suaminya kemudian keluar dari kamar mereka. Arka turut mendengus melihatnya, ia buru-buru mengambil baju yang menggantung dan memakainya. Setelah menyisir rambut, Arka segera keluar dari kamar.
Rosa keluar dari dari kamar sebelah dan tersenyum pada Arka. “Jadi kamu mau ikut?” tanyanya. Hanya dijawab anggukan pelan oleh Arka.
Keduanya berjalan menuju mobil, setelah mengunci pintu gerbang, Rosa masuk ke mobil dan menyalakan GPS di mobil Rosa. “Kamu kerja apa?” tanya Arka saat melihat Rosa sedang mengetik alamat pada layar tab di mobilnya.
“Datang aja ke alamat ini,” jawab Rosa kemudian mengarahkan GPS untuk memulainya. Arka mengernyit bingung karena tidak asing dengan alamat itu. Tanpa bertanya lagi, Arka langsung melajukan mobilnya.
Hanya sepi yang menemani perjalanan mereka. Hanya sesekali Rosa bergumam menyenandungkan satu irama yang tidak terlalu jelas terdengar oleh Arka. “Baju kamu kenapa terbuka?” tanya Arka mengubur keheningan.
Rosa menoleh pada Arka dan menatap pakaian yang ia kenakan. “Sesuai sama tema,” jawabnya santai. Senyumnya tersungging dan terkekeh ringan.
Saat telah sampai di tujuan dan Rosa menghentikan mobil di sebuah bar. Arka baru paham, ia mengunci pintu mobil secara otomatis dari pintu kemudi saaat Rosa hendak keluar. “Selama ini kamu kerja di sini?” tanyanya marah.
Rosa mengernyit heran. “Becanda kerja. Aku mau ngajakin kamu minum. Atau mau aku cari cewek yang waktu itu anterin kamu pulang aja?” Lagi-lagi senyuman itu tersuguh di hadapan Arka. Karena merasa tersinggung, Arka menarik pipi Rosa. Mencengkeramnya pelan.
“Jangan berani. Kamu gak mau nyesel ‘kan atas keputusan yang kamu ambil ini?” Arka melepasnya dengan sedikit kasar. Rosa hanya diam, dia tidak bodoh. Tangisnya ia tahan. Jangan sampai ada derai air mata yang dilihat oleh Arka dan membuat pria itu menganggapnya lemah.
“Kamu butuh apa dari seorang istri? Bilang sama aku, jangan sama wanita lain.” Rosa mengangkat tangannya. “Aku minta uang buat perawatan dan glow up, biar aku sesuai cewek tipe kamu. Aku mau mulai rumah tangga dengan cara yang baik. Tolong kerjasamanya, Tuan Arka.”
Diam-diam Arka merasa bersalah, tapi ia tepis semua itu karena yang dikatakan Rosa ada benarnya. Ia tidak terlalu menyukai bentuk tubuh Rosa yang kecil. “Kamu nyinggung perasaan aku,” katanya.
“Dan kamu nyakitin perasaan aku. Istri mana yang rela suaminya pulang dianterin sama wanita lain dari sebuah bar, pulang mabuk dengan keadaan berantakan dan kissmark dimana-mana. Hey, itupun sakit, Arka.” Rosa terkekeh pelan dengan air mata yang jatuh menetes di pipinya.
Arka menghela napas. Ia kalah telak, dengan perlahan ia menarik gadis itu pada pelukannya dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Sesekali menyelipkan sebuah kecupan singkat di ujung kepala Rosa. Tak ingin memperkeruh suasana. Rosa pun diam dan memilih tidak memperpanjang masalah. Ia hanya ingin menegur Arka dengan cara yang berbeda agar pria itu sadar, jika Rosa bukan wanita yang bisa dipermainkan begitu saja.
*****
Dengan suasana hening, keduanya berjalan di sebuah mall yang ramai pengunjung. Menjadi heningnya malam di antara cerahnya matahari. Arka segan memulai pembicaraan sedangkan Rosa memanh tidak ingin mengeluarkan suaranya. Orang-orang yang melihat mereka merasa sedikit bingung karena berdampingan tapi keduanya tidak saling berkomunikasi. Mungkin, terkesan cukup berbeda di antara yang lain.
“Mau beli apa?” tanya Arka pada akhirnya karena tidak tahan dengan keadaan itu.
Rosa berhenti di depan satu toko, ia tersenyum kecil. “Ayo anter aku beli,” katanya. Tanpa ragu atau berpikir sejenak. Arka mengangguk, meskipun ia tahu, tak seharusnya ia masuk ke toko khusus pakaian dalam wanita. Toh, ia pikir ia bersama istrinya.
Wanita bercardigan warna carchoal itu terus berputar dan mengambil apapun yang menurutnya menarik tanpa melihat harga. Jika Arka tak mau membayarnya, Rosa bisa membayarnya sendiri.
Setelah barang cukup banyak yang dibeli. Rosa menoleh pada Arka yang sedari tadi terus mengikutinya dengan wajah datar. Ia tersenyum, kemudian menuntun Arka menuju kasir dan menjumlah semua belanjaannya. Arka sama sekali tidak terkejut, ia tetap dengan ekspresi datarnya, saat mengeluarkan kartu untuknya membayar semua belanjaan Rosa pun ia tetap diam. “Mas Arka baru ke sini lagi. Udah ganti aja ceweknya.” Kasir berpipi bulat itu tersenyum jahil.
Arka menoleh pada Rosa yang juga menatapnya, ia hanya tersenyum miring dengan salah satu alisnya terangkat. Saat itu juga senyuman Rosa hilang. Jika seperti itu berarti Arka sering ke tempat seperti ini bersama seorang perempuan.
“Kodenya, Mas.” Arka menekan tombol password kartunya kemudian menyodorkan kembali alatnya yang tadi diberikan padanya.
Saat selesai, Rosa kembali diam dengan pikiran yang terus berkecamuk karena perkataan kasir tadi. Tiba-tiba tangannya melemas dan gemetar. Tidak, ia tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dirinya itu memang lemah. Sekuat apapun ia mencoba, sekuat apapun ia berusaha tegar, hatinya selalu lemah jika berurusan dengan perasaan. Apalagi setelah kehilangan ayahnya.
Didikan yang baik dengan tutur kata yang tertata, membuat Rosa tumbuh menjadi anak yang baik dan juga lembut. Mama dan papanya selalu memberi yang terbaik untuknya, ia juga dijaga dan dilindungi dengan baik oleh kakaknya. Tempatnya selalu berkeluh kesah, dan juga menjadi layaknya seorang putri di rumahnya dulu.
Saat sudah sampai parkiran, ia melihat Surya, kakaknya sedang bersama istrinya dan juga anaknya. “Kak!” panggilnya langsung tanpa malu mengeluarkan suara yang cukup nyaring karena tempatnya sepi.
Arka mengikuti arah pandang Rosa, ia mendekat pada istrinya dan langsung merangkul mesra pinggang Rosa dengan lembut. Tersenyum hangat seraya berjalan menghampiri Surya yang juga tengah berjalan ke arah mereka. Rosa melepas pelan rangkulan Arka kemudian memeluk kakaknya. “Kangen banget, Kak,” gumamnya.
Hal itu membuat Surya dan istrinya terkekeh. “Kan udah punya suami, kalo kangen main aja ke rumah ya,” jawabnya mengusap kepala Rosa lembut.
“Kalian abis belanja juga di sini? Atau kamu abis mantau?” tanya Surya pada Rosa setelah ia memeluk sekilas adiknya. Pertanyaan dari Surya pada Rosa menyadarkan Arka di mana ia berdiri sekarang. Di mall yang dikelola oleh Surya. Ia yakin itu.
“Aku abis belanja aja sama Arka.” Rosa menjawab setelah ia selesai mencium tangan Kakak iparnya. Dengan tangan yang bebas, ia mengusap kepala keponakannya yang tertidur lelap di gendongan ibunya.
“Y udah pulang. Muka kamu pucet banget. Istirahat ya. Arka, titip Rosa ya. Kalo susah makan, paksa aja suapin,” kata Surya pada kedua orang di hadapannya.
Arka terkekeh pelan. Ia menjawab, “siap, Kak.”
Setelahnya, mereka berdua saling berpamitan dan memilih masuk ke mobil masing-masing. Keadaan kembali hening sama seperti mereka ketika berangkat ke mall ini.
Arka menghela napas, ia mendekat pada Rosa, mengulurkan tangan ke arah pinggang Rosa dan menarik sabuk pengaman, kemudian mengaitkan pada tempatnya. Rosa yang diperlakukan seperti itupun hanya diam karena tak tahu harus melakukan apa.
Pikirannya berkecamuk bercampur aduk serta tidak karuan. Otaknya terus mengingat apa yang kasir tadi katakan, sedangkan perutnya serasa tergelitik banyaknya kupu-kupu mengingat senyuman manis Arka, rangkulan di pinggangnya tadi, serta momentum memasangkan sabuk pengaman. Rosa benar-benar kacau dengan tingkahnya dalam diri sendiri.
“Mau sampe kapan senyum gitu?” Arka bersuara karena cukup bingung melihat Rosa menahan senyumnya sendiri.
Buru-buru Rosa mendatarkan ekspresinya dan menoleh pada Arka. “Sampe kamu jatuh cinta sama aku tanpa harus ngeliat fisik, dan gak ngebandingin aku sama wanita lain.” Jawaban itu langsung membuat Arka bungkam seribu bahasa.
Tadi saat di meja belajar, ketika ia fokus belajar, ada pesan masuk ke ponselnya yang memang ia mode getar karena ada di hadapan matanya. Pesan-pesan itu berisi tangkapan layar sebuah percakapan di aplikasi perpesanan antara Arka dan si pengirim. Awalnya Rosa biasa saja karena malas menanggapi, namun saat tangkapan layar yang kedua, hal itu membuat Rosa naik pitam saat Arka memandingkan fisiknya dengan fisik wanita yang mengirim pesan tersebut.
Wanita mana yang mau dibandingkan secara diam-diam dengan wanita lain oleh suami sendiri. Hey, harga diri istri dipertaruhkan. Hal itu membuat Rosa marah, namun ia memikirkan hal terbaik agar marahnya mampu menyadarkan seorang Arka. Tapi nyatanya malah ia sendiri yang terjebak oleh hal itu karena perkataan kasir tadi.
Benar-benar hening karena Arka tak menjawab perkataan Rosa. Sampai di rumah pun keduanya masih diam. Rosa masuk ke kamar, sedangkan Arka memilih duduk di ruang keluarga dan menyalakan televisi.
Pikirannya terus berputar dan mengingat apa yang Rosa katakana tadi, ia juga tidak paham menganai perasaannya saat ini. Tidak mungkin ia jatuh cinta secepat itu pada seorang wanita, terutama seorang Rosa yang jauh dari kriteria gadis idamannya. Tapi, saat melihat Rosa terdiam karena perkataan sang kasir tadi membuat Arka sedikit tidak enak hati dan merasa bersalah.
Tidak, sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Biasanya perlu waktu yang lama ia untuk jatuh cinta pada seorang wanita, dan juga biasanya ia hanya mempermainkan hati wanita. Ah? Apa ini karma? Jika iya, maka karma dengan jatuh cinta pada Rosa bukanlah hal yang buruk bukan?
Saat sedang bersantai dan juga menikmati tayangan televisi, ia dibuat terkejut dengan adanya tangan yang mengulurkan ponselnya. “Daritadi nyala terus,” kata Rosa kemudian duduk di samping Arka. Ia tersenyum kecil.
“Maafin aku ya, aku banyak nyinggung perasaan kamu hari ini. Kamu jangan ulangi kayak kemarin, ya?” Rosa memeluk lengan kiri Arka dan tersenyum manis menatap suaminya. “Ayo mulai pernikahan dengan baik.”
Saat hendak menjawab, Arka melihat ponselnya menyala dan juga menampilkan nomor tidak dikenal. Tanpa menunggu apa-apa, Arka langsung mengangkatnya dan membiarkan Rosa mendengarkannya. “Siapa?” tanyanya.
“Ini aku, Clara.”
“Mau ngapain?” Arka menjawab santai. Dan Rosa pun hanya diam mendengarkan suara perempuan yang menelpon suaminya itu.
“Minta uang, mau beli tas.”
“Kerja.”
Arka langsung mematikan sambungan telepon, kemudian menyimpan ponselnya di meja. “So? Kita mulai dengan baik ya?” ujarnya.
Rosa mengangguk, ia tetap di posisinya memeluk lengan Arka dan menyandarkan kepalanya pada bahu Arka. Tarikan napas Arka terdengar jelas oleh Rosa. “Makan malem mau makan apa? Aku mau masak.” Rosa bangkit kemudian kembali menatap Arka dengan senyumnya.
“Makan malam di luar yuk? Eum … candle light dinner?” Senyuman manis Rosa kian merekah. Ia langsung mengangguk semangat dan memeluk Arka.
“Besok kamu mulai kerja, kan? Aku ada kelas pagi. Jadi bisa anter aku ke kampus dulu gak?” Arka tersenyum mengusap punggung Rosa.
“Boleh. Aku tungguin sampe pulang juga boleh.” Kekehan pelan terdengar oleh Rosa. Kemudian ia melepas pelukannya. Tersenyum dan menempelkan bibirnya pada bibir Arka.
Jelas saja ia malu, namun hal ini memang harus ia lakukan demi rumah tangganya yang masih berusia harian. Dengan keharmonisan, mencoba saling mengerti dan juga memahami satu sama lain, itu akan jadi bekal yang baik untuk memperkuat ikatan rumah tangga. Rosa tidak ingin gagal dalam hal cinta, ia ingin selalu berjuang meski harus sakit. Karena pada kenyataannya jatuh cinta itu perkara mudah. Yang sulit adalah mengendalikannya.
Cinta bisa membawa kebahagiaan meskipun datang tiba-tiba dan tak terduga. Namun bisa juga menjadi tombak kesedihan yang terus merundung duka meski cinta itu ada sejak lama dan menciptakan banyak hal indah. Tergantung bagaimana setiap orang menyikapi rasanya. Karena cinta dan rasa sakit adalah hal yang saling berdampingan.
*****
Saat malam hari, Rosa dan Arka sedang dalam perjalanan menuju restoran yang sudah Arka reservasi. Ia meminta Rosa berdandan seadanya dan senyamannya. Rosa berusaha menjadi dirinya sendiri namun tetap dengan fashion yang disukai Arka. Ia menggunakan dress berwarna merah marun dengan rok yang sedikit mengembang dari pinggul hingga lutut. Dengan bagian atas yang tidak terlalu terbuka dan juga rambut yang ia urai menambah kesan cantik di wajahnya yang khas asia.
Arka pun mengenakan setelah kemeja rapi dengan bagian lengan yang ia gulung hingga siku dan kancing atas yang sengaja tidak ia kancingkan. Aura Arka sangat kuat menguar. Dengan parfum maskulin yang menyebar dan sudah tercium dari jarak 2 meter. Dengan hal itu, Rosa merasa sangat beruntung bisa berdiri di samping Arka saat ini.
Meski tidak memakai pakaian mewah dan juga branded. Tapi mungkin orang lain akan menilai mereka menggunakan baju-baju mahal. Arka memiliki tubuh yang proposional dan juga tinggi. Jika dalam hal fisik dan finansial, dari segi luar itu semua sudah dimenangkan oleh Arka. Hanya saja ….
Keduanya duduk di tempat yang cukup tertutup. Ruangan ini memiliki sekat dan juga tidak terlihat pengunjung lain. Dengan hal itu, Arka merasa nyaman dan juga cukup romantis untuk berdua. “Kenapa di sini? Kamu udah reservasi ya?” tanyanya.
Arka mengangguk singkat. “Reservasi tadi sore itu. Kebetulan lagi gak ada yang reservasi ini,” jawabnya.
Rosa pun mengangguk, ia mengampil tablet yang tersimpan di atas meja dan memesan makanan yang sudah terdaftar di sana. Arka hanya melihatnya, jika Rosa langsung hapal, apa mungkin gadis itu pernah ke tempat ini sebelumnya? Karena setahu Arka tempat khusus reservasi ini hanya boleh di pesan oleh sepasang kekasih atau pasangsan suami istri.
“Kamu pernah ke sini?” Arka menatap Rosa intens.
Dengan mudah dan enteng Rosa mengangguk seadanya. “Sama Mama, sama Kak Surya, sama istrinya. Ini restoran aku, Ka.”
Arka tidak tahu harus tersedak apa, tapi ia terkejut hingga membuat tenggorokannya tercekat. “Kenapa gak bilang?”
Hanya cengiran polos yang Rosa tunjukkan. “Aku mau bilang juga kamu gak nanya.” Arka hanya menggelengkan kepalanya bingung. Kenapa bisa-bisanya Rosa diam saja memiliki sebuah restoran sebesar ini. Eits tungu ….
“Cabang yang ada di Surabaya itu juga punya kamu?” tanya Arja lagi.
“Iya, aku yang pegang. Baru dua, satu cabang lagi masih dibangun tempatnya.” Tak ada tanggapan lain mengenai hal itu. Arka sedang terkejut. Ternyata jejak Rosa sama seperti dirinya yang memulai usaha saat masih menempuh pendidikan. Bahkan rosa sudah harus menikah di usianya yang masih muda dan juga memulai usaha dengan serius. Mamanya tidak salah, kan, memilihkan istri seperti Rosa.
“Arka, aku mau sesuatu boleh?” tanyanya.
Arka menatap Rosa kembali setelah sebelumnya ia menatap tablet untuk turut memesan makanan baru. Walau sebenarnya dari reservasi sudah ia cantumkan menu.
“Apa?” tanyanya santai.
“Bisa gak jatuh cinta sama aku?”
to be continue ….