More Than

3508 Words
Sepulang dari restoran, keadaan jadi canggung antara Rosa dan Arka. Wanita itu hanya diam sepanjang jalan hingga sampai rumah. Dan Arka pun tak tahu harus memulai dari mana pembicaraan mereka kali ini. Setelah tadi Rosa bertanya seperti itu, di situlah keadaan mulai canggung hingga sekarang. Arka memilih langsung membersihkan tubuhnya, sedangkan Rosa menghapus make up nya. Benar-benar tidak tahu harus mengatakan apalagi. Rosa memilih diam seraya memegang piyamanya, menunggu Arka selesai mandi. "Udah tuh," kata Arka saat ia sudah keluar dari kamar mandi, tapi Rosa tak kunjung beranjak. Arka mengernyit heran melihat istrinya masih melamun menatap kasur. Ia turut melirik kasur, tidak ada yang salah. Kenapa Rosa menatapnya dengan wajah yang terlihat memerah. "Hey." Arka menyentuh bahu Rosa membuat wanita itu terkejut. "Ah, aku kaget banget." Rosa mengusap-usap pipinya yang terasa hangat, tanpa menatap Arka lama-lama. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Pikirannya melayang berkeliling ke hal-hal yang iya-iya dilakukan suami istri. Buru-buru Rosa menggelengkan kepalanya, memukulnya pelan dan juga mengusap wajahnya. "Rosa, gak boleh travelling pikirannya," gumamnya. Bibirnya yang ingin tersenyum coba ia tahan dengan menggigitnya. Sungguh, hal-hal yang ada di pikirannya tadi semakin melayang dengan melihat Arka shirtless setelah mandi. Sungguh, perut kotak-kotak itu meminta untuk diusap-usap. Sial, Rosa jadi ingat oppa Korea kesukaannya. Setelah selesai membersihkan diri, Rosa menggunakan skincare-nya dan melirik ke arah Arka yang sedang memainkan ponsel di kasur. Aih, andai bisa mengulang waktu, Rosa benar-benar akan mencabut pertanyaannya yang tadi. Itu terdengar mengesalkan dan juga memaksa. "Udah?" tanya Arka melihat Rosa hanya menatap serum yang sedang dipegangnya. Rosa buru-buru menutup tutup botol serum itu kemudian mengangguk. Dengan langkah yang terlihat sangat kaku, ia menghampiri Arka di kasur. Arka sendiri tersenyum kecil melihat hal itu, ia menyimpan ponselnya di nakas, kemudian membenarkan letak selimut untuknya dan untuk Rosa agar nyaman. "Sini," katanya membuka lebar kedua tangannya bermaksud agar Rosa masuk ke pelukannya. Wanita itu hanya mengerjapkan matanya berkali-kali seperti tidak mengerti apa yang akan dimaksud Arka. "Sini." Arka menarik lengan Rosa pelan. Membuat istrinya itu berbaring di sampingnya dengan setengah dipeluk. "Bikin aku nyaman, dan bikin aku bisa nerima adanya kamu di sini. Itu yang bisa bikin aku jatuh cinta sama kamu," gumam Arka pelan dengan mata yang sudah terpejam, menghirup aroma rambut Rosa yang masih menguarkan aroma stoberi yang khas. Aroma yang mungkin bisa saja nanti ia rindu-rindukan keberadaannya. Rosa mendongak menatap Arka. Hatinya bergemuruh seperti baru saja mendapat teriakan jika ia memenangkan lotre. "A-aku jadi canggung," kata Rosa jujur. Ia benar-benar tidak sanggup bertahan di pelukan hangat Arka. Meski terasa nyaman, tapi .... "Gapapa, biasakan diri, biar aku juga terbiasa." Bukannya melepas, justru Arka mempererat rangkulannya pada Rosa. Benar, Arka harus terbiasa dengan hadirnya Rosa, dulu ia bebas melakukan apapun karena belum punya tanggung jawab. Tapi sekarang ia punya Rosa, tanggung jawabnya. Urusan rumah tangga dan juga urusan cinta. Ia harus bisa mencintai Rosa agar rumah tangganya utuh. "Besok, aku cari asisten rumah tangga," kata Arka. Rosa kembali mendongak setelah sebelumnya ia menunduk menatap collarbone Arka. Pria itu tersenyum saat Rosa menatapnya tanpa bertanya. "Rumah segede ini gak mungkin kamu beresin sendiri dengan segala kebutuhan masak atau apapun. Biar kamu yang masak, urusan nyuci sama beres-beres rumah biar asisten yang urus." Rosa mengerti dan langsung mengangguk, syukur jika Arka mengerti itu. Meski sebelumnya ia tidak keberatan mengurus itu. Tapi jika dilihat lagi, rumah ini akan menguras waktu untuk dibersihkan setiap hari. Apalagi Rosa punya perkejaan serta pendidikan yang harus ia selesaikan. Sungguh, belum melakukannya saja Rosa sudah geleng kepala. "Arka, besok kamu kerja?" Dengan anggukan Arka menjawab, matanya kembali tertutup. "Pulang jam berapa?" tanya Rosa lagi. "Mungkin sore, tapi paling telat jam tujuh malem sih," jawabnya dengan suara yang lumayan parau, seperti sudah mengantuk. Dengan gerakan perlahan, Rosa mengusap-usap punggung Arka, seakan ia tengah menimang bayi yang sulit tidur. Karena terlihat sangat lucu ekspresi Arka sekarang ini saat memeluknya. Mungkin Arka adalah pelukan ternyaman ketiga setelah ayahnya dan kakaknya. "Tidur," kata Arka turut mengusap rambut istrinya. "Aku besok ada tugas kelompok, mungkin pulang telat juga." Rosa masih menatap Arka yang memejamkan matanya. "Nanti pas pulang kabarin aja, aku jemput." Perlahan Arka membuka matanya, suaranya kian memberat. Rosa menggeleng. "Gak usah, kamu pasti cape, nanti aku naik taksi aja." Arka menatap mata Rosa intens. Warna mata seperti madu itu sangat terlihat cerah dan berbinar. Entah, tak tahu apa yang menariknya, tapi dirinya seperti hanyut ke dalam tatapan lembut itu. Rosa menatapnya dengan penuh kelembutan, dan Arka merasa jika ia baru pertama kali melihat tatapan selembut itu. "Tugas kelompoknya dimana?" tanya Arka. "Di kafe sebrang kampus." Arka mengangguk. "Aku jemput ya, 'kan gak berlawanan arah sama kantor aku," ujarnya. Karena ucapan Arka benar, Rosa memilih mengangguk. Ia memutuskan tatapannya dengan kembali menunduk menatap bahu Arka yang dilapisi piyama yang sama dengan yang ia pakai. Sungguh, rasanya seperti ada di dunia lain. Dalam artian Rosa merasakan dunia yang baru. Sebelumnya ia belum pernah ada di posisi seperti ini. Tidur dengan memeluk seorang laki-laki asing. Meski kini laki-laki yang ia sebut asing itu sudah menjadi suaminya. **** Setelah sampai di kampus, Rosa tersenyum hangat saat Arka mencium keningnya, ia turun dari mobil dan melambaikan tangan saat Arka juga melakukan hal itu. Saat kaca mobil kembali ditutup, pria itu menekan klakson tanda pamit dan melesat pergi. Rosa langsung berbalik, ia mengabaikan beberapa tatapan untuknya. Mencoba tidak peduli apapun yang ia lihat dan ia dengar. Karena Rosa bukan tipe orang yang suka mencari masalah, ia memilih diam mendengar perkataan-perkataan yang tidak benar untuknya. Baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi Selasar tempatnya biasa bersantai atau memeriksa tugas sebelum masuk kelas, Rosa sudah dihampiri beberapa orang yang langsung menghujaninya pertanyaan. "Sa, beneran lo udah nikah?" "Lo gak hamil 'kan?" "Lo gak lagi ngibulin kita 'kan?" "Sa, cowok itu sugar daddy lo 'kan?" Geram mendengarnya, Rosa mendongak, menatap setiap mata yang ada di hadapannya. Kadang Rosa berpikir kenapa mereka berani bertanya, berasumsi sendiri, dan mengambil keputusan secara sepihak tanpa tahu fakta. Embel-embel mereka hanya untuk memastikan, pada kenyataannya rasa penasaran yang menguasai. Lagipula, manusia di jaman sekarang ini suka sekali mengusik kehidupan pribadi orang lain. "Udah nikah, dia suami gue, dan gue belum hamil." Rosa tersenyum, lebih seperti senyum evil, ia langsung bangkit meninggalkan empat orang yang ada di depannya itu. Merasa kesal dan risih tentu saja. Yang ditinggalkan merasa bingung, masih banyak pertanyaan yang ingin mereka dengar jawabannya, tapi Rosa seperti enggan menjawab. Sebenarnya wajar mereka terlihat sangat penasaran, Rosa anak yang tertutup, tidak pernah terlihat jalan bersama laki-laki kecuali kerja kelompok, tiba-tiba sudah menikah. Memangnya siapa yang menyangka, Rosa juga sedikit tidak yakin dengan hal yang sedang ia jalani sekarang, tapi apakah sudah ada waktu untuk menyerah? Bahkan kisahnya ini baru dimulai, kan? Memilih masuk ke dalam kelas sesuai yang diberitahu oleh ketua kelas, Rosa menyumpal kedua telinganya dengan earphone, dan menyalakan musik setengah dari volume, mencoba sedikit rileks untuk pagi ini. Melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda karena gangguan orang-orang tadi. Saat fokus bersama buku di hadapannya, ponsel yang sedang memutar lagu Someone You Loved yang dibawakan oleh Conor Maynard itu tiba-tiba berhenti dan bergetar pendek di atas meja. Senyumnya merekah melihat notifikasi dari mamanya. Buru-buru ia membalas pesan dari wanita yang sudah melahirkannya itu. Setelahnya, kembali pada pikirannya yang sudah lalu. Memikirkan jalan pernikahannya apakah akan berjalan dengan lancar seperti orang-orang yang ceritakan tentang bagaimana indahnya kehidupan berumahtangga. Rosa memijit kepalanya, ia melihat teman-temannya sudah banyak yang masuk kelas. "Oy!" Rosa terkekeh kecil mendengar sapaan setengah kesal dari Gara. Ia menepuk balik bahu pria itu. "Berantakan amat?" tanya Rosa melihat penampilan Gara, tak biasanya ia melihat rambut pria itu tanpa pomade. "Pomade gue abis," jawab Gara mengerti jika pertanyaan Rosa adalah untuk rambutnya. Sudah tiga orang yang berkata seperti itu padanya. Rosa mengangguk. "Lo belum gajian emang?" tanya Rosa lagi. Gara tersenyum miris seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian mengangguk pelan. "Ck, bos lo itu kenapa sih? Ini udah lewat tiga hari dari tanggal gajian lo." Rosa mendelik sebal. "Ya lo tau sendiri, emang aneh gue punya bos. Kemarin ada yang tanya, diceramahin sejam." Gara tertawa kecil, mengingat hal yang terjadi di tempatnya bekerja. Rosa hanya mendengus. "Lo kalo mau nerima ajakan gue, kerja aja di perusahaan mama, ntar gue minta Kak Surya, bilang aja lagi magang." Buru-buru Gara menggeleng. "Gak adil dong pake orang dalem!" ujarnya. "Sementara lo masih kuliah, buat nutup biaya kuliah sama sehari-hari, kosan lo juga perlu dibayar. Kalo udah lulus pake jalur dalem, baru gue slepet," kata Rosa malas. Dengan senyum manis Gara tertawa. "Tapi dengan satu syarat," lanjut Rosa. "Lo gak boleh bolos kuliah selama kerja, sekiranya gak sanggup, bilang." "Nye ... nye ... nye .... kayak mama gue aja lo lama-lama." Gara berkata demikian kemudian kembali tertawa melihat ekspresi Rosa yang kembali malas. "Serius gue, emang dikata kerja di kantor gampang apa?" Rosa memberikan buku catatan milik Gara yang ia pinjam tempo hari dengan mata mendelik tajam. "Nilai lo bagus, catatan lo juga selalu rapih, kalo misalnya kerja lo bagus, lulus kuliah maybe bisa ke sana lagi, bawa aja catatan magang bodong lo di sana." Rosa menatap kembali ke depan seraya mengucapkan kalimat-kalimat itu. "Apa nggak ada jalur halal yang bisa gue tes gitu?" tanya Gara. Rosa menggeleng. "Udah sebulan lalu untuk hiring pegawai baru. Bulan ini belum lagi." Gara terdiam sejenak, menimang kata yang akan ia keluarkan kini, dengan berat hati dan juga sedikit keraguan, akhirnya ia mengeluarkan kalimatnya. "Kenapa gak di restoran lo aja?" tanyanya pelan. Hal itu membuat Rosa menoleh cepat dengan mata yang sedikit membulat. "Lo?" gumamnya. Gara mengangguk pelan kemudian menunduk. "Nanti deh gue cerita, sekarang rame," ucapnya pelan agar tak terdengar teman-teman sekelasnya yang mendadak hening. Rosa menghela napas, ia sedikit terkejut. Tapi bukan masalah yang besar jika Gara yang tau, dia bukan pria bermulut banyak dan juga bukan orang yang pandai bergaul, Gara lebih pendiam jika sedang bersama teman-temannya. Jadi Rosa harap hal itu hanya Gara yang tahu, tentang siapa dirinya. Seketika lamunan keduanya buyar saat dosen masuk. Melewati jam-jam penuh cobaan, menahan rasa kantuk mendengarkan dosen menjabarkan teori adalah hal yang harus mahasiswa di kelas ini lakukan. Rosa mengangkat tangan saat dosen meminta mahasiswa mengajukan pertanyaan. "Saya Rosa Pradina izin bertanya, Pak. Saat sedang berbicara di depan umum, kadang kita bisa mengalami blank mendadak, itu kenapa dan bagaimana cara mengatasinya, Pak?" Dosen tersenyum dan mengangguk kecil. "Begini, Rosa. Blank saat berbicara di depan umum biasanya karena si pembicara ini kurang prepare. Tolong selalu diingat bahwa preparation is the part of the show, ada banyak caranya, dari segi kesiapan materi dipertajam, bisa research siapa audience, usia, latar belakang dan lain-lain. Terus, dari segi penampilan, siapkan baju yang nyaman dan pantas sesuai tema, serta biasakan membuat pointers. Paling tidak kalau sudah mulai blank, kita sudah tau di point apa kita haris melanjutkan." Senyum Rosa sumringah, ia mengangguk semangat. "Terima kasih atas penjelasannya, Pak." Setelah menutup mata kuliah pertama ini. Dosen pamit keluar dengan meninggalkan satu tugas kelompok. Gara tersenyum jahil menatap Rosa. "Gue sekelompok mulu sama lo, gak mungkin jodoh, kan?" Rosa memukul bahu pria itu kemudian mendelik. "Ayo keluar. Kerjain sekarang aja. Mumpung ada jeda dua jam buat ke mata kuliah selanjutnya. Gue pulangnya mau ngerjain tugas kelompok ekonomi." Gara berjengit. "Gue lupa belum ngerjain! Kelompok gue siapa ya?" paniknya. "Lo kelompoknya Genta," kata Rosa seraya beranjak. Benar-benar malas melihat tingkah Gara yang selalu aneh. **** Setengah jam keduanya fokus, hanya sesekali berdiskusi tentang kalimat yang akan diringkas. "Ini teori udah dijabarin sama ahli, malah suruh diringkas, aneh," kata Gara. "Sesuai pemahaman lo aja, dosen tau kalo gak dikasih tugas, buku lo itu coming soon bakal sisa setengah, setengahnya lo jadiin asbak." Rosa menjawab tanpa mendongak. Masih tetap fokus pada buku di hadapannya. "Sensi mulu, lo lagi ngidam apa gimana?" Rosa memukul kepala Gara dengan pulpen, terdengar cukup nyaring, sepertinya menyakitkan. "Sakit, Sa. Kira-kira dong, itu pulpen berat loh, gue beli harga dua puluh rebu." Gara mengusap-usap kepala dekat ubun-ubunnya. "Bodoamat. Buruan lanjut halaman seratus satu, ada materi komunikasi kelompok," kata Rosa kemudian membalik halaman buku yang ia pegang. Gara menurut dan mereka kembali fokus, saat sedang mencatat beberapa materi yang berhasil ia rangkum, ponselnya bergetar panjang di atas meja. Rosa membalik ponsel untuk melihat siapa yang menelpon, senyumnya merekah melihat nama Arka yang terpampang. "Masih ada satu mata kuliah, sama kerja kelompok sore, kan aku udah bilang." Rosa menjawab pertanyaan Arka mengabaikan Gara di sana. "Gak usah, aku pulang pake ojol aja." "Okay fine. Terserah kamu." "Iya, bye," kata Rosa menutup panggilan teleponnya, kemudian kembali menunduk membaca bukunya, mencoba tidak peduli dengan tatapan jahil yang diberikan Gara. "Stop, Gara. Gue tabok lo!" Rosa menatap balik Gara yang masih menatapnya jahil. Gara terkekeh saat Rosa kembali mengetuk kepalanya dengan pulpen. "Daripada jail, mending ke perpus, ambil buku logika komunikasi, di buku ini ga terlalu lengkap." Rosa mengacungkan pulpennya di hadapan Gara saat pria itu menggeleng. "Iya, oke," jawab Gara kemudian beranjak meninggalkan semua peralatannya di depan Rosa, alias dia pergi hanya membawa ponselnya. Baru saja dua menit tenang tanpa Gara. Rosa memutar bola matanya malas karena mendengar sapaan Winda. "Apalagi?" tanyanya pelan. Winda berdecih dalam hati mendengar jawaban dari sapaannya pada Rosa. "Please, bujuk suami lo buat gak D.O gue dari tempat magang sama dari kampus, gue cuma tinggal bikin laporan loh, cuma seminggu lagi, Sa." "Males," jawab Rosa seadanya. "Tega banget. Gak kasian sama gue gitu? Gue udah tiga bulan di sana, cuma tinggal seminggu lagi masa dikeluarin?" Winda menatap memohon pada Rosa. Setidaknya agar permohonannya ini diwujudkan. Rosa menyimpan pulpen di tengah-tengah bukunya. Menghela napas berat dan melipat tangan. "Gini ya, Winda. Lo tau hukum tanam tuai? Sebab akibat? Itu yang lo terima hari ini. Bukan semata-mata tega atau nggak. Tapi semua tentang tanggung jawab." Winda diam, menatap tajam pada Rosa. Gadis yang ditatap menyunggingkan senyum kecil. "Winda, lo bukan anak SMA baru gede yang perlu gue omongin gini. Ayolah, ini udah era milenial semuanya udah serba pintar, masa lo doang yang ketinggalan?" ujarnya. "Maksud lo gue bego?" Winda mencengkeram tangan Rosa. Tangan Rosa yang bebas, melepas dengan lembut tangan itu. "Gue gak ngomong. Tapi kalo lo merasa bukannya itu bagus? Lo punya hati berarti." Semakin kesal dengan Rosa, Winda memajukan tubuhnya hendak menjambak rambut gadis itu. Namun belajar dari yang sudah berlalu, Rosa dengan cepat menangkis tangan Winda dan menahannya. "Tangan digunakan untuk hal baik. Jangan sampai Tuhan ambil tangan lo karena lo selalu jahat sama orang." Rosa menghempas tangan itu dengan pelan kemudian kembali duduk. Menopang kedua pipinya dengan tangan dan menatap Winda dengan senyumnya. "Masih mau di sini? Gak malu lo?" tanya Rosa sadar mereka tidak hanya berdua di tempat itu. "Gue sumpahin, rumah tangga lo gak berjalan dengan lancar! Cerai-berai di tengah jalan!" Buru-buru Winda beranjak membawa rasa malunya. Niatnya datang untuk meminta bantuan tapi nyatanya tidak mendapat tanggapan dengan baik. "Emang paling keren sih temen gue!" Gara kembali duduk di tempatnya, ia sudah ada di sana sejak Winda hendak menjambak rambut Rosa. Sementara yang diajak bicara hanya diam, kembali melanjutkan ucapannya. "Gue sama suami gue gak bakal cerai 'kan, Gar?" gumamnya pelan. "Sssttt, lo pikir sumpahnya sampah bakal diijabah? Gak usah dipikirin, yang jalanin pernikahan 'kan lo sama suami lo, dia gak ada urusan. Lagian kalo sampe suami lo yang ngajak cerai, dia bego, bodoh, t***l dan semacamnya, lo ini cewek paling hebat yang pernah gue kenal." Gara memberikan buku yang tadi Rosa minta untuk ia ambil ke perpustakaan. "Apa dia juga berpikir kayak lo tentang gue nanti?" Gara menghela napas, tangannya mengepal, dalam hati merutuki Winda yang bisa-bisanya merusak mood semangat belajar Rosa. "Gak usah banyak overthinking deh lo, rumah tangga lo kalo diibaratkan masak mie, aernya aja belum panas." Rosa mendongak, tersenyum kecil. "Gue bakal berusaha jadi lebih baik lagi! Selalu ingetin gue ya, Gar!" Malas mendengar, Gara hanya berbicara tanpa suara seakan-akan meledek pada Rosa. "Sialan lo!" sahut Rosa kemudian tertawa bersama. "Tau gak sih? Gue tuh sebenernya rada aneh denger lo tiba-tiba nikah. Kan, gue yang temenan sama lo hampir 3 tahunan aja sama orang dianggap gue babu lo, padahal gue lebih cocok disebut bodyguard gak sih? Biar keren dikit gitu." Gara mengeluarkan isi hatinya. Merasa setidak pantas itukah dirinya berteman bersama Rosa? "Siapa yang bilang lo babu gue?" tanya Rosa heran. Selama ini ia tidak pernah meminta tolong hal-hal berat, lagipula ia hanya akan meminta tolong jika hal itu bersangkutan dengannya bersama Gara. Contohnya perihal buku tadi. "Banyak tau, lo aja gak peka, untung gue cowok. Seenggak pantes itu ya, Sa, gue temenan sama lo?" ujar Gara. Rosa menggelengkan kepalanya. "Lo nyuruh gue jangan overthinking, tapi lo malah overthinking sendiri. Asal lo tau juga, orang-orang bilang kita temenan, gue malah anggap lo sahabat, bahkan udah kek kembaran gue. Kita lahir di tahun, bulan, tanggal yang sama. Lo pikir tiga taun gak cukup kita saling kenal jadi sahabat? Gue udah bilang, jangan ada perasaan sama sahabat. Karena apa? Lo udah kayak Abang buat gue. Tengah malem jam 12, gue pengen minta anter ke rumah sakit karena mama collapse dan Kak Surya gak ada, siapa yang gue cari. Lo, Gar." "Seperti yang lo bilang tadi, hidup kita itu kita yang jalani. Orang lain cuma cameo, baik-buruknya, dia yang tanggung akibatnya." Gara menatap dalam pada Rosa. "Gue kira selama ini gue cuma beneran lo anggap temen karena lo gak pernah mau cerita siapa lo." Kepala itu menunduk, membiarkan Rosa hanya menatap rambutnya yang masih berantakan. "Gara, gue tau lo udah nyari informasi, walau gak dapet banyak. Tapi gue gak nutupin apapun dari lo selama ini, lo udah tau segede dan seluas apa rumah gue, lo pikir gue sebagai anak yatim bisa apa beli rumah segede itu kalo orang tua gue bukan dari orang berada?" "Gue pernah ngajak lo makan-makan ke restoran gue, gue dikasih tempat khusus, lo pikir gue ada duit kalo jadi pengangguran?" "Kalo pertanyaan lo selama ini adalah kenapa gue gak ngajak lo kerja di restoran, karena di sana gak ada shift, mereka kerja dua belas jam non stop! Yang artinya lo harus stay. Gue pake sistem itu karena restoran gue bukan nyediain masakan Indonesia, orang-orang di dalamnya gue pilih. Gue yakin lo bisa. Gue yakin banget lo pasti bisa! Tapi gue gak mau sahabat gue ada di balik meja kasir, bawain makanan ke hadapan orang-orang, Gara, biar bagaimanapun, lo tetep anak dari kalangan terpandang!" Gara terdiam, membisu, benar-benar speechless. Ia tidak tahu jika selama ini Rosa memikirkannya. "Gue bersyukur lo sekarang masih bisa kerja sebagai kepala bar, biarpun gaji lo mandeg terus, gue bersyukur bukan lo yang harus turun tangan ke kerjaan itu. Selama lo kerja di sana, gue juga mikirin kerjaan apa yang layak didapatin orang hebat dan multitalent kayak lo, kecuali masak." "Tapi dengan cara itu gue mandiri, Sa. Gue mau hidup sederhana dan bisa berusaha sendiri, mau ngebuktiin ke orang tua gue kalo gue bisa memulai semuanya sendiri," jawab Gara dalam tunduknya. "Lo udah lama berjuang, dari SMA kerja sana-sini, lo yang paruh waktu suka nganterin loundry, kan? Makanya pas pertama kita kenalan di kampus lo gak asing sama muka gue! Lo gak boleh egois, lo mau berjuang sendiri bukan berarti lo gak butuh bantuan. Setidaknya, lo punya rencana apa, target apa, lo planning, baru lo bisa mulai semuanya sendiri. Sejauh ini, bahkan lo masih sering kehabisan pomade, lo pikir gue gak tau lo kurusan? Gak makan berapa hari lo?" Rosa membuang napasnya setelah berbicara panjang lebar. "Soal pernikahan, maaf gue gak ngasih tau karena gue gak siap bilang," lanjutnya lirih. Gara benar-benar menangis meneteskan air matanya tidak sanggup mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Rosa. "Udah, Rosa, gue malu sampe nangis begini!" Rosa terkekeh, ia mengusap matanya yang berkaca-kaca kemudian memberikan tisu pada Gara. "Gak usah lagi lo ngomong begitu, kalo butuh duit bilang aja, kalo lo mau anggap itu gue ngasih atau lo anggap hutang juga terserah. Nih beli pomade, makanan, sama vitamin, kalo kurus jadi jelek, kek om-om kurang belaian." Rosa mengeluarkan uang dengan hati-hati dari dalam tasnya, melipat dan menggenggamnya, ia mengambil buku Gara kemudian menyelipkannya di tengah. "Udah gak usah nangis anjir, gue gampar pake buku mau?!" Rosa menarik rambut Gara agar mendongak. "Tidak berperikemanusiaan!" sahut Gara setelah berhasil menghapus air matanya. "Yang cewek tuh gue, masa lo yang nangis?" Rosa terkekeh meledek. "Lo pikir cowok gak boleh nangis?! Apalagi denger kata-kata lo tadi? Selama ini gue selalu anggap diri gue anak buangan, ternyata masih ada yang mau muji gue dan anggap gue hebat. Lo gak ada niatan punya suami dua gitu?" Rosa benar-benar melayangkan buku miliknya pada Gara. Buku yang tadi gara ambil dari perpustakaan. "Gue mau ke kelas, lanjut besok aja, atau nanti lanjut di rumah gue, ntar gue share loc, nunggu suami gue pulang dulu biar gak jadi omongan tetangga." Rosa langsung beranjak meninggalkan Gara setelah membereskan bukunya, ia menepuk tangan cowok itu. "Makan jangan lupa," ujarnya sebelum pergi. continue .... Sebulan ini bakalan update terus, stay tune ya xixixi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD