A little bit

1539 Words
Arka tersenyum menatap Rosa yang tengah memasak, rambut panjang itu diikat di pas leher dengan celemek warna biru tua itu terlihat sangat eye catching pada Rosa. Ia berdeham membuat Rosa menoleh, senyum keduanya sama-sama merekah memandang satu sama lain. "Masak apa?" tanya Arka, ia duduk di kursi pantry. "Wangi banget tau sampe ruang kerja." Rosa terkekeh. "Masak capcay sama udang." Ia kembali berbalik pada kompor. "Eh, kamu gak alergi udang, kan, Mas?" Arka menggeleng. "Aku pemakan segala sih," jawabnya. "Eh, omnivora dong?" tanyanya tertawa. Keduanya larut dalam obrolan ringan selama Rosa memasak. Lebih tepatnya Arka yang mendengarkan cerita tentang keseharian istrinya itu selama di kampus. "Jadi si Gara ini sebenernya kerja apa?" tanya Arka saat Rosa terdiam. "Kepala bar, dia yang urus bar, tapi yang punya barnya agak aneh, uang gajinya mentok-mentok padahal barnya rame loh." Arka menganggukkan kepalanya singkat mengerti. "Gara ini udah kenal sama aku sejak SMA, cuma kita temenan pas masuk kuliah bareng. Aku kira awalnya dia tuh anak bandel anak yang suka foya-foya, ternyata 180° kebalikannya." Rosa menceritakan hal itu, tentang cara pandang ia pertama kali pada Gara. Siapa sangka, penampilan Gara yang terlihat cukup sangar jika dari luar saja. Ternyata punya pribadi yang bersahaja bahkan memiliki senyum yang sangat manis. "Gapapa ya? Aku temenan sama Gara?" gumam Rosa. Arka tersenyum. "Gapapa, kamu lebih tau siapa dia dan kayak gimana sikapnya. Aku gak berhak larang, tapi ya satu hal, tau batasan. Kamu udah punya status," jawabnya. Dengan semangat Rosa mengangguk, ia menyajikan masakannya di hadapan Arka dan menyendokkan nasi untuk suaminya itu. "Malem ini aku mau ke rumah temen, Henry. Udah ada janji mau barbeque-an. Mau ikut gak?" tanya Arka di sela makannya karena terlalu sunyi. "Nggak deh, kamu mendadak banget ngasih taunya, Mas. Aku ngejar banyak tugas. Gapapa, kan, kalo gak ikut?" Arka mengangguk mengerti. "Tapi nanti anter dulu beli bahannya ya, pas udah selesai aku anter kamu balik lagi. Okey?" Tidak ingin memperburuk suasana, Rosa memilih mengangguk dan tersenyum manis pada suaminya. Setelah selesai makan, Rosa mencuci piring dan membersihkan dapur. Sementara Arka pergi ke halaman rumah untuk merokok. Pikirannya tiba-tiba melayang pada hal-hal yang sudah lama memutar di kepalanya. Tentang bagaimana kehidupan rumah tangganya ini akan berjalan, konflik dan masalah berat apa yang akan ia hadapi, akankah ia bisa memperlakukan Rosa dengan baik? Hal itu terus menerus berputar di kepalanya, sungguh, jika saja Arka bisa istirahat sejenak dari pikiran itu, ia ingin tenang. Harusnya hal itu tidak ia pikirkan, ia hanya menjalani apa yang akan terjadi ke depannya, apa yang akan menjadi puncak masalahnya, ia temukan titik terangnya untuk menyelesaikan masalah itu. Bahkan sekarang semua berjalan dengan lancar, Rosa adalah istri yang baik, menyiapkan bajunya untuk bekerja, handuk, sarapan, bahkan makan malam yang pernah ia kecewakan pun Rosa masih tetap memakannya. Rumah tangganya baru berjalan segaris kecil, selangkah hewan, tidak perlu khawatir tentang apa yang akan terjadi jika saling percaya satu sama lain itu kunci keberhasilannya, kan? "Mas, udah malem, masuk." Arka tidak sadar ia sudah menghabiskan tiga puntung rokok selama ia melamun di depan rumahnya. "Iya," jawabnya singkat menanggapi Rosa yang masih berdiri di pintu. Dengan segera ia mematikan puntung terakhir dan menyimpannya di asbak. Dengan senyum kecil ia ikut masuk ke dalam setelah memastikan jika gerbang rumahnya sudah terkunci rapat. "Gosok gigi bareng?" ajak Rosa yang langsung ditanggapi dengan senang hati oleh Arka. Keduanya berdiri di depan wastafel dan berkaca. Arka mengambil ponsel dan memfoto moment ini. Tawa keduanya menguar mengisi kamar mandi yang tadinya sangat sepi. "Bulat-bulat-bulat," gumam Rosa mengikuti alur gerakan tangannya memutar sikat gigi. Saat selesai, Arka merangkul Rosa berjalan menuju kasur. Saat sudah duduk berhadapan, ia mendekatkan wajahnya pada Rosa, dan menghapus jarak. Menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik sang istri yang sejak makan tadi sangat menggoda. Is better more than cigaratte, feels so deep, and sweet. "Kamu kapan pake lipbalm?" tanya Arka pelan. "Pas kamu ngerokok di luar." Jawaban dari Rosa membuat Arka terkekeh, ia kembali menyatukan bibirnya dan bahkan ini lebih menuntut dari sebelumnya. Tangan Rosa yang tadi hanya memegangi otot-otot lengan Arka, kini naik melingkar di leher, ia tersenyum di sela ciuman itu. Setidaknya, laki-laki yang sedang menciumnya itu menganggapnya ada dan nyata. **** Saat pagi hari Arka terbangun, ia mendapat serangan notifikasi di ponselnya dari teman-temannya. Dia menepuk jidat karena melupakan janjinya semalam yang berniat BQQ-an. Ia malah menghabiskan malam yang panjang bersama Rosa. "Rosa!" panggilnya nyaring. Rosa yang sedang di dalam kamar mandi dengan cepat menyahut. Sedikit terkejut karena Arka tiba-tiba masuk. Untung ia sudah mengenakan pakaiannya. "Kamu gak ingetin aku semalem mau barbeque?" Wanita itu membulatkan matanya, karena ia juga melupakan hal itu. "Sumpah deh, aku juga lupa. Temen-temen kamu marah ya? Maaf aku gak ngingetin kamu." Arka menghela napas. Ia berjalan lebih mendekat pada Rosa. "Gak usah kuliah dulu. Ramalan cuaca hari ini panas banget, kamu gak mungkin pake turtleneck." Rosa mengangguk, lagipula ia sekarang tengah menggunakan pakaian rumahannya setelah mandi. "Kamu ga marah 'kan?" gumam Rosa takut. Ia takut Arka marah. "Nggak, bisa malem ini kok. Aku udah bilang lupa. Ada urusan sama istri. Hehehe." Arka mengedipkan sebelah matanya dan terkekeh. Ia mendorong Rosa keluar dari kamar mandi, karena ia yang berniat akan mandi. "Ambilin anduk aku ya," katanya. Rosa menjawab dengan gumaman kemudian tersenyum kecil. Ia berhasil. Handuk sudah menggantung di knop pintu kamar mandi. Rosa mempersiapkan baju, celana dan dasi untuk Arka berangkat bekerja. Kemudian turun untuk membuatkan suaminya sarapan. Seperti biasa. s**u coklat dengan air yang banyak. Arka menyukai s**u coklat tapi yang tidak terlalu manis, jadi ia sangat hapal betul takaran jumlah s**u dan airnya. Seraya menunggu Arka bersiap, ia memilih menyapu dan membersihkan ruang santai. Ia mengangkat satu persatu bantal sofa dan menepuknya. "Pelan-pelan aja, Rosa," kata Arka ketika melihat Rosa sedikit bar-bar dan tidak santai menepuk bantal sofa. "Hehehehe." Kekehan itu membuat Arka tersenyum. Ia menunjuk dasi yang sudah menggantung di lehernya dengan senyum. Memberi kode pada Rosa untuk merapihkannya. Rosa mengangguk, ia menyimpan bantal sofa yang masih dipegangnya kemudian menghampiri Arka dan memasangkan dasi dengan rapi. "Semangat ya kerjanya!" Rosa mencium singkat bibir suaminya kemudian mengusap kemeja atas dan membenarkan letak kerah. "Aku pulang kerja langsung ke rumah temen gapapa? Kamu gak mau ikut 'kan?" tanya Arka. Rosa mengangguk. "Aku mau ke Kak Surya, mau ngurusin kerjaan buat Gara, gapapa, kan?" Kini gantian Arka yang mengangguk setuju, ia mengusap kepala istrinya lembut, mengecup kening dan mendekap sejenak tubuh mungil itu. Rosa menghirup aroma Arka dalam-dalam. "Kamu jangan ganti parfum ya? Aku suka banget wanginya." "Hm?" Arka bertanya pelan. Rambut Rosa masih sedikit basah. Wanita itu mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum. "Jangan ganti parfum, aku suka." Mendengar itu, Arka terkekeh, ia mengangguk dan mencium kening Rosa. Tiba-tiba terlintas kembali pikiran-pikiran semalam. Apa bisa ia bahagia bersama Rosa, apa bisa ia membahagiakan Rosa? Apa bisa ia ada di tahap laki-laki idaman yang baik dan pandai mengayomi? Nyatanya ... itu masih jauh dari pemikirannya. "Ya udah, ayo sarapan dulu." Rosa melepas pelukannya, bisa-bisa Arka kesiangan, karena jalanan juga bisa jadi macet. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan. Rosa menyodorkan piring nasi goreng dan juga s**u hangat yang ia buat sesuai request suaminya. "Kamu udah hapal ya," kata Arka setelah sedikit mencicipi s**u buatan Rosa. "Aku inget-inget apa yang suami aku suka dan gak suka." Arka mengangguk sekilas kemudian fokus memakan nasi goreng dari Rosa itu. *** Menunggu Gara menjemputnya di depan rumah, Rosa diam memandangi ponselnya. Ini sudah pukul 8 malam. Ia ingin setidaknya Arka menghubunginya jika ia sudah bersama teman-temannya atau sekadar basa-basi jika ia telah sampai. Baru saja hendak menelpon Arka. Ia dibuat terkejut dengan klakson motor Gara yang baru saja sampai di rumahnya. Rosa tersenyum kecil kemudian mengangguk, menutup gerbang dan menaiki motor Gara. Tenang saja, ia mengenakan jaket dan helm seperti yang biasa ia lakukan jika naik motor bersama Gara. "Gar, lo nanti jangan ngomong apa-apa ya sama abang gue. Biar gue aja yang jelasinnya." Rosa bersuara dengan cukup nyaring karena sudah hampir memasuki jalan raya. "Iye, awas aja lo bikin gue malu." Rosa terkekeh, ia menepuk bahu Gara kemudian kembali memandang jalanan yang ramai lancar pada malam hari ini. Pandangannya menelisik setiap gedung-gedung yang menjulang tinggi dan berdekatan. Orang-orang yang berjalan cepat dan santai di trotoar. Dan juga banyak hal yang ia lihat sepintas-sepintas. "Gar, lo pernah gak kepikiran kalo kita gak lahir dari anak orang kaya, apa kita bakal kayak mereka?" ujar Rosa. "Pernah, sekali. Gue kadang mikir, kalo gue gak lahir dari orang tua gue yang sekarang, apa gue bakal lebih bahagia, atau lebih sengsara." Jawaban Gara membuat Rosa tersenyum. "Tapi gue kadang balik mikir. Ngapain gue mikirin itu ya? Bahagia setiap orang beda-beda, lagipula kita liat mereka senyum dari luar. Belum tentu mereka bahagia kenyataannya." Gara mengangguk. Ia menunjuk satu pemulung yang tengah makan bersama teman-temannya. "Bahagia sederhana, di sampingnya ada karung hasil mulung, tapi di sekelilingnya ada orang-orang yang tulus senyum sama-sama," ujarnya santai. Rosa mengangguk. Ia harap, ia ingin hidup sederhana dan bahagia. Semoga, semoga dan semoga, harapannya ini jadi kenyataan, jadi hal-hal yang harus ia syukuri keadaannya. Tidak terbayang masa lalu yang buruk. Tidak terpaku pada masa lalu yang kelam. *Continue ... Update lagi!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD