Raya terlihat sangat cantik dengan riasan wajah natural. Gaunnya yang berbahan moscrepe yang dipadu kain brokat tile. Membungkus badannya yang ramping dengan sangat proporsional. Sementara untuk hijabnya, Raya menggunakan pashmina berwarna mocca yang hanya dililitkan ke belakang beberapa kali. Di kakinya Raya menggunakan high heels bermodel selop dengan aksen renda di bagian depannya. Anggun dan tetap terlihat sederhana. Begitulah Desika mendadaninya tanpa merubah pribadi Raya yang tak mau berlebihan.
"Wah, Non. Cantik banget," puji para ART yang menatap Raya dengan tatapan terpesona.
"Non Raya belum diapa-apain saja sudah cantik. Apalagi didandani seperti ini tambah cantik deh," sahut ART yang lain.
"Aduh, terima kasih ya semuanya. Semua ini berkat keahlian Mbak Desika. Terima kasih ya, Mbak. Saya juga sangat suka dengan baju ini. Pas sekali dengan kesukaan saya."
"Syukurlah, Non Raya suka. Kalau mau kapan-kapan mampir ke Butik aku ya. Ini alamatnya." Desika memberikan sebuah kartu nama yang berisi salah satu alamat cabang butiknya yang paling dekat. Raya pun meraih benda itu dengan ragu-ragu. "Kenapa? Takut nggak diizinin Dean pergi ya?"
Raya langsung mengangkat wajahnya. Lalu mengangguk pelan.
"Nggak usah khawatir. Bilang aja mau ke butik aku. Pasti ntar kamu dianterin. Pokoknya aku jamin kamu bakal suka. Karena aku juga suka desain baju-baju gamis dan syar'i juga. Aku yakin kamu pasti nyesel kalau nggak mampir," ujar Desika terus memanas-manasi.
"Iya, Mbak. Kalau sempat dan diizinkan Dean aku pasti mampir."
"Oke. Pokoknya aku tunggu kamu. Oh, iya. Udah sore nih. Paling bentar lagi, Dean juga datang. Aku pulang dulu ya."
"Iya, Mbak. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Raya dan para ART menatap kepergian Desika hingga ia hingga di balik pintu keluar.
"Non Raya. Masih ada satu hal lagi yang Mas Dean minta Non Raya lakukan," kata salah satu ART yang langsung membuyarkan lamunan Raya.
"Satu hal yang harus saya lakukan? Apa, Bik?"
"Mari, Non. Ikut saya," ajaknya.
Kemudian Raya mengikuti arah Asisten Rumah Tangganya itu keluar rumah. Berjalan ke arah taman, menuju gazebo yang ada di tengah-tengah taman itu. Mata Raya pun terbelalak saat melihat gazebo itu sudah dihiasi bunga dan lampu berkelap-kelip. Karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh belas sore dan matahari sudah berada di ufuk barat. Suasana pun menjadi terasa sangat romantis dengan hiasan siluet warna jingga di langit senja.
"Wow… cantik banget. Siapa yang nyiapin ini, Bik?"
"Tadi ada orang-orang khusus yang sengaja didatangkan untuk menyiapkan ini semua, Non. Tugas saya hanya memberitahu dan mengantarkan, Non." Raya hanya manggut-manggut. Ia juga yakin kalau dekorasi sebagus ini. Pasti dilakukan oleh tangan orang-orang berpengalaman.
Raya berjalan mendekat dengan mata yang tak mampu berkedip. Sungguh, Raya tak henti-hentinya memandangi tempat itu dengan terpesona. Di atas sudah disediakan sebuah meja dan dua kursi yang saling berhadapan. Dan tentu saja, ketiga benda itu juga tak luput dari hiasan.
"Sekarang. Non Raya tinggal menunggu Mas Dean pulang," kata Bibik itu yang membuat Raya menoleh sekilas.
Waktu terus berlalu, tapi Dean tak kunjung datang. Raya yang masih duduk menunggu mulai merasa bosan dan gelisah.
"Aduh. Tuh orang mana sih kok nggak pulang-pulang? Bentar lagi waktu sholat Maghrib kan selesai," gumam Raya sambil mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke atas permukaan meja yang cukup keras.
"Sabar ya, Non. Tunggu sebentar lagi pasti Mas Dean pulang," ujar Bibik yang sedari tadi menemani Raya sambil berdiri di luar gazebo.
"Tapi, mau sampai kapan, Bik. Dia udah ngelanggar janjinya. Dia bilang sama Bibik sebelum Maghrib acaranya sudah dimulai, tapi sekarang? Tampangnya belum kelihatan juga. Saya kan harus sholat Maghrib, Bik."
"Iya saya tau, Non. Tapi, saya mohon sekali sama Non Raya tungguin ya. Lima menit lagi aja. Mungkin Mas Dean ada di perjalanan pulang," bujuk si Bibik dengan raut wajah panik. Ray pun menatapnya wajah ART itu beberapa saat. 'Mungkinkah Dean akan melakukan keburukan pada Bibik. Kalau aku sampai tak ada di tempat ini saat dia pulang?' batin Raya bingung.
Menurut kabar burung yang ia dengar Dean memiliki tangan besi. Siapapun yang berani membuat dia kecewa, merasa tak nyaman apalagi sampai membuatnya sakit. Orang itu pasti akan segera dihajarnya habis-habisan bahkan sampai meregang nyawa. Mengingat hal itu Raya menggidik. 'Aduh. Bisa-bisanya aku terjebak dalam rumah tangga tak berakhlak seperti ini. Dimana lelaki yang harusnya membimbing aku menjadi wanita lebih baik. Malah dia mengajariku keburukan. Huh. Aku harus cepat-cepat bisa keluar dari pernikahan ini,' batin Raya kesal.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa illaaha illallaah." Mendadak terdengar suara adzan isya berkumandang dari masjid Raya yang tak begitu jauh dari rumah ini.
"Tuh kan, Bik. Benar kata saya. Waktu magrib itu pendek jadi nggak boleh ditunda. Udah ya sekarang aku mau sholat isya dan nggak akan ada yang bisa menghalangi aku lagi." Raya beranjak dari duduknya. Lalu ia bergegas ke dalam.
"Tapi, non tunggu. Tunggu, Non. Tunggu!" teriak Bibik yang tidak digubris Raya.
***********
Chitt…. Dean mengerem mobilnya mendadak saat melihat gazebo rumahnya sudah ada di depan mata. Pandangannya sedikit kabur, makanya beberapa kali ia menggelengkan kepala sambil mengucek matanya agar kembali jelas. Hal itu terjadi karena darah yang terus mengalir di punggungnya. Setelah mengantar Yongki ke markas ia memang tidak menyempatkan diri untuk mengurus lukanya yang semakin menganga. Ia ingat betul hari ini ada janji dengan sang istri tercinta. Sehingga apapun yang terjadi dia harus segera sampai di rumah.
Blak! Dean membanting pintu mobil setelah ia berhasil keluar. Lagi-lagi Dean harus menggelengkan kepalanya sambil memfokuskan pandangannya ke arah jalan menuju gazebo. Ia tau Raya pasti akan sangat marah padanya yang sudah sangat terlambat pulang. Namun, ia berjanji akan menjelaskan semuanya nanti. Dean terus berjalan dengan sempoyongan. Selain karena perkelahian tadi sudah menguras tenaganya. Rasa sakit di punggungnya juga membuat langkahnya terasa semakin berat saja.
Akhirnya Dean sampai di tempat yang sedari tadi ia tunggu. Matanya menyapu area sekitar yang sudah kosong.
"Benar kan. Raya pasti marah banget sama gue. Makanya dia udah ninggalin tempat ini," gumam Dean.
"Syukurlah kalau kamu sadar," ucap Raya yang sudah berdiri di belakang Dean. Dean pun segera memutar badannya hingga mereka kini berhadapan. Dean berusaha menarik kedua ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman. "Nggak usah senyam-senyum. Kamu bangga sudah bikin aku nungguin lama disini. Kamu bilang sama Bibik bakal pulang sebelum Maghrib tapi nyatanya? Huh. Bikin sebel." Raya membuang pandangannya, sehingga tak melihat langkah Dean yang tertatih berusaha mendekatinya.
"Ma… maaf_"
Bruk!! Tubuh Dean limbung ke arah badan Raya sebelum menyelesaikan kalimatnya. Untung saja jarak mereka dekat. Sehingga, tubuh Dean jatuh tepat di dalam pelukan sang istri.
"Dean. Dean kamu kenapa?" tanya Raya panik. Tangan kanannya yang tak sengaja memegang punggung Dean merasakan sesuatu. Raya segera memeriksanya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat darah segar memenuhi tangannya.
"Dean. Kamu?!! Tolong!!! Tolong!!!"