Tok. Tok. Tok. Mendadak bunyi ketukan di pintu kamar Raya membuyarkan lamunan gadis itu. Senyumnya yang tadi sempat mengembang, redup seketika. Dengan tidak bersemangat Raya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Maaf mengganggu, Non," ujar salah satu ART yang ada di rumah ini.
"Tidak apa-apa, Bik. Ada apa ya?"
"Ada yang nungguin Non Raya di bawah."
"Nungguin saya? Siapa, Bik?" tanya Raya bingung. 'Apa mungkin ayah dan ibu? Yah, siapa lagi yang diperbolehkan menemuiku selain mereka,' batin Raya mengira-ngira.
"Ehms…. Sebaiknya, Non Raya turun saja. Nanti juga Non Raya tau sendiri," jawab si Bibik. Raya pun mengangguk mantap.
"Iya, kalau begitu saya turun sekarang."
"Baik, Non. Saya permisi dulu."
"Iya, silahkan."
Raya menatap wanita paruh baya yang sudah lima tahun ini mengabdi di rumah Dean. Lalu ia pun membalikkan badannya untuk menutup pintu kamarnya. Setelah itu Raya pun menghembuskan nafas berat. Jujur saja, ia masih belum terima dengan kenyataan kenapa kedua orang tuanya itu begitu membela Dean di hadapan Raya. Namun, apapun yang terjadi ia tetap harus menemui mereka. Selain sebagai hiburan dari kesendiriannya di rumah ini, rasa hormatnya juga lebih besar dari rasa kecewa pada kedua orang yang sudah menyayangi sejak dalam kandungan itu.
Raya berjalan menuruni tangga dengan langkah konstan. Matanya yang fokus menatap satu per satu anak tangga yang akan dilewati sehingga membuatnya terlihat menunduk sedari tadi. Sampai di lantai tujuannya Raya baru mengangkat kepalanya. Keningnya pun seketika berkerut sempurna, bahkan kedua alisnya nyaris bertabrakan. Tatkala memandang sosok wanita yang sama sekali tak pernah dilihatnya sebelum ini.
"Assalamu'alaikum, Nona Raya," sapanya dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan duduk," balas Raya sambil mempersilahkan wanita cantik itu duduk.
"Terima kasih," sahut wanita itu seraya menurunkan badannya lagi hingga terduduk.
"Maaf, Mbak ini siapa ya? Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya?" Raya bertanya tanpa menghilangkan ekspresi bingung di wajahnya. Wanita itu pun tersenyum.
"Benar, Non Raya. Perkenalkan saya Desika Rastanty, seorang Desainer sekaligus Makeup Artis Profesional." Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Raya. Tanpa merubah raut wajahnya yang semakin bingung, Raya menyambut tangan itu.
"Lalu ada perlu apa Mbak Desika datang ke sini?"
"Begini, Non. Saya diundang oleh suami Non Raya. Untuk meng-make over Non Raya hari ini. Menurutnya, nanti sore ia ingin mengajak Non Raya makan bersama untuk merayakan pernikahan kalian yang sudah berlangsung beberapa hari yang lalu," jelas Desika.
"Apa?!" Raya syok mendengar ucapan wanita itu. Sesaat ia pun membuang wajahnya sambil mencibir kelakuan Dean lirih. "Dasar muka dua," gumamnya.
"Jadi, apa Non Raya sudah siap untuk dirias sekarang?"
Sebelum menjawab, Raya menghirup nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan perlahan. Mana mungkin dia menolak perintah laki-laki itu. Selain, dalam agamanya melarang seorang istri membantah perintah suaminya kecuali untuk melakukan keburukan. Ia juga sedang tidak berselera berdebat dengan sang ketua gangster itu hari ini.
"Oke deh. Ayo, kita langsung ke kamar saja," ajak Raya.
Kruk! Kruk! Kruk! Tiba-tiba perut Raya berteriak-teriak mengingatkan sang pemilik tubuh. Bila mereka belum mendapat jatah nutrisi sejak pagi tadi.
"Apa apa, Non?" tanya Desika hati-hati.
"Gimana kalau kita makan siang dulu. Saya yakin Mbak Desika pasti suka masakan Bibik-Bibik disini. Mereka semua pintar masak." Raya memuji para ARTnya dengan wajah yang berbinar.
"Tap… tapi, Non?"
"Tidak usah canggung. Ayo!" Raya menarik tangan Desika agar segera mengikutinya ke ruang makan.
"Baik, Non."
"Eh, itu barang-barangnya taruh sini saja. Nanti kita bawa ke atas bersama-sama." Raya merasa iba melihat kedua tangan Desika yang terlihat kewalahan membawa perlengkapan make up dan beberapa gaun yang sudah dipesan Dean beberapa hari yang lalu. Raya segera meraih benda-benda itu lalu meletakkannya ke atas sofa.
"Yuk!" ulangnya sambil berjalan mendahului.
Sampai di ruang makan, ia baru sadar jika makanannya di kamar belum ia sentuh sama sekali.
"Oh, iya. Sebentar saya ambil makanan saya dulu di atas."
Raya bergegas kembali ke kamarnya lalu tak lama ia sudah terlihat memasuki ruang makan sambil membawa nampan yang tadi dibawa Dean.
"Aduh, Non. Sini-sini makanannya. Biar Bibik ganti yang masih hangat." Seorang ART yang melihat Raya pun langsung mendekat sambil meraih nampan itu.
"Jangan, Bik. Biar saya makan dulu yang ini. Nanti mubazir. Biar dingin rasa ayamnya tidak berubah menjadi ikan asin kok. Santai saja. Saya sudah biasa makan makanan dingin begini," elak Raya. Meskipun sekarang kehidupan mewah mengelilinginya, tapi tak membuat wanita berumur dua puluh lima tahun itu merasa tinggi hati, apalagi sampai kayak kacang yang lupa akan kulitnya. Dia tetap saja menjadi Raya yang sederhana dan tidak suka berlebihan.
"Tapi, Non. Kalau Mas Dean tau nanti Bibik yang kena marah."
"Bibik tenang saja. Dia nggak akan tau kok. Makanan segini, sudah pasti bisa saya habiskan sebelum dia datang. Pokoknya Bibik tidak usah khawatir. Sekarang, Bibik semua mending makan siang dulu. Sudah waktunya, kan?"
"Baik, Non. Kami permisi ke dapur dulu."
"Silahkan."
"Wah, sungguh beruntung ya mereka. Memiliki majikan yang sangat baik seperti Non Raya," celetuk Desika tiba-tiba.
"Ah, Mbak Desika berlebihan. Saya kira semua orang juga akan melakukan hal yang sama. Jika dalam kondisi seperti ini," timpal Raya merendah. "Ya, sudah. Ayo, silahkan dicicipi makanannya. Jangan sungkan-sungkan."
"Baik, Non."
Desika yang kebetulan memang belum makan siang pun tak mau melewatkan kesempatan ini. Ia memandang puluhan jenis masakan yang ia yakin rasanya pasti enak. Tanpa sungkan Desika pun segera mengisi piring di depannya. Sambil menikmati isi piringnya. Sesekali ia melirik ke arah Raya.
Tak terasa waktu terus berlalu. Dua jam kemudian Raya dan Desika sudah sibuk berkutat di dalam kamar Raya yang super mewah. Bagaimana tidak? Dengan perpaduan antara warna putih dan ungu yang mendominasi isi kamar. Memberinya kesan terang dan tidak membosankan. Sebuah lampu kristal yang menggantung di atas tempat tidur king size dengan head tinggi menambah rasa mewah dan juga elegan. Di kedua sisi tempat tidur pun dipasang lampu bergaya sama, tapi menempel di dinding kamar yang kokoh. Di sudut kanan ruangan terdapat kamar mandi yang tidak kalah mewah dari ruangan itu. Sementara di sudut kiri tempat Desika kini merias wajah Raya sebaik mungkin. Di depan meja rias yang Desika yakini Dean pesan langsung dari luar negeri. Sesekali Desika melempar pandang ke arah jendela yang ditutupi vitrase renda yang elegan.
"Dean itu benar-benar misterius ya. Kamar luas kayak gini saja nggak mau membuka tirainya langsung," ucap Desika spontan. Raya yang sedari tadi menutup mata dan pasrah dengan apapun yang akan dilakukan Desika pada wajahnya. Mendadak membuka mata. Mendengar ucapan Desika barusan, ia merasa wanita itu punya hubungan cukup dekat dengan suaminya.
"Mbak Desika seperti tau betul sosok Dean. Apa kalian berteman dekat?" tanya Raya penasaran. Bukannya segera menjawab, Desika malah tertawa renyah.
"Hahaha. Jangan cemburu ya, Non. Tapi dulu aku dan Dean hampir menikah," jawab Desika yang membuat mata Raya seketika membulat. 'Apa? Kalau dia saja punya calon istri? Kenapa dia merusak acara pernikahanku? Kenapa dia tidak menikah saja dengan Mbak Desika?' tanya Raya dalam hati. "Nah. Selesai," kata Desika yang langsung membuyarkan lamunan Raya. Raya menoleh ke arah kaca yang dipunggunginya sejak tadi. Ia pun tersenyum melihat wajahnya sendiri. "Gimana? Suka?"
"Iya, Mbak. Mbak Desika benar-benar hebat deh," puji Raya.
"Hahaha. Biasa saja, Non. Sekarang kita ganti baju ya. Dean juga sudah memesan baju untuk Non Raya sejak setengah bulan yang lalu."
"Benarkah? Tapi, pernikahan kita kan baru sepuluh hari ini?" Kening Raya kembali berkerut. Ia merasa pernikahan ini semakin janggal.
"Oh, kalau masalah itu. Saya tidak tau, Non. Mungkin nanti Dean sendiri yang akan menjawabnya."
'Ish. Sudah aku duga. Dean sudah merencanakan ini semua sebelum akad pernikahanku berlangsung. Dasar licik,' batin Raya semakin geram.