Bab. 3 Kenapa Seperti Ini?

1209 Words
"Jangan kau menghakimi Allah atas apa yang menimpamu saat ini. Sebab, Maha Tau Allah yang lebih mengetahui apa yang tidak pernah kau ketahui." …………. Rayana kembali menangis di depan kedua orang tuanya. Karena mereka datang ke rumah Dean untuk membawakan pakaian dan perlengkapan pribadi Rayana. "Ray. Sudah dong, Nak. Jangan nangis terus," ujar Bu Aisyah sambil mengelus punggung putri semata wayangnya yang terasa bergetar. Di pangkuan wanita empat puluh sembilan tahun itu Rayana terus menangis tersedu menggambarkan perasaannya yang semakin hancur. "Hiks…. Raya, kira. Ayah dan Ibu datang kesini untuk menjemput Raya. Tapi, kenapa kalian malah membawakan baju-baju Raya. Hiks…. Hiks…." Rayana berkata di sela tangisannya. Bu Aisyah pun melayangkan pandangannya ke arah sang suami. Tatapannya terlihat sangat bingung. Sebagai seorang ibu dan sesama wanita. Sudah pasti Bu Aisyah mengerti sekali kenapa putrinya sampai seperti ini. "Raya," panggil Pak Fahmi yang duduk tak jauh dari Rayana. "Kamu kan sudah besar. Sudah bersuami juga. Jadi, mulai sekarang kamu bukanlah kewajiban Ayah dan Ibu lagi, Nak. Kamu sudah menjadi kewajiban suamimu. Kami tidak lagi berhak membawamu kemana-mana sebelum mendapat izin dari suamimu, Ray," kata Pak Fahmi lembut. Mendengar perkataan sang Ayah, Rayana pun mengangkat kepalanya. "Tapi, pernikahan ini tidak sah, Yah. Raya nggak setuju menikah dengan Dean. Raya terpaksa. Hiks…. Hiks…. Hiks…," protes Rayana masih dalam sela-sela tangisannya. Wajahnya yang sembab membuat wajah cantiknya terlihat memprihatinkan. "Hust…." Bu Aisyah pun berusaha menenangkan dengan meraih kepala anaknya ke dalam pelukan. "Sayang. Kamu harus sabar. Mungkin ini garis takdir yang harus kamu lalui. Ikhlas, Nak. Ikhlas. Allah selalu bersama orang yang sabar," lanjut Bu Aisyah sambil terus memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. "Benar kata Ibumu, Nak. Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan. Namun, hanya Allah lah yang Maha Menentukan. Percayalah. Akan ada hikmah dari semua ini," sahut Pak Fahmi. Rayana pun mengurai pelukan ibunya. "Raya bingung deh sama Ayah dan Ibu. Kenapa tidak sedikit pun kalian berdua mengerti perasaan Raya. Raya hanya mencintai Alex, Yah, Bu. Raya hanya ingin menikah dan menghabiskan hidup Raya dengan dia. Dan sekarang kemana dia?" ujar Raya dengan penuh penekanan. Kedua orang tua itu pun menundukkan pandangan. Bingung mau jawab apa. Karena memang sampai saat ini Alex tidak ada kabarnya lagi. "Dia menghilang begitu saja, kan? Coba deh kalian berpikir sebentar saja. Alex tiba-tiba menghilang lalu Dean tiba-tiba datang. Apa kalian masih berpikir itu hanya sebuah kebetulan? Raya yakin ada yang tidak beres sama Alex, Pak. Dan Raya lebih yakin pelakunya adalah Dean. Bukan orang lain!" lanjut Raya meluapkan isi hatinya. "Kalau Ayah dan Ibu masih saja belain Dean. Silahkan! Tapi, itu tidak akan merubah kebencian Raya sama dia. Assalamu'alaikum," tambah Raya kemudian ia pun berdiri dan berjalan menjauh. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas kedua orang tua Raya bersamaan. "Raya tunggu sebentar!" panggil Pak Fahmi dengan nada tegas. Sampai-sampai ia pun berdiri dari sofa yang sedari tadi didudukinya. Semarah apapun Raya pada kedua orang tuanya. Tetap saja tak merubah kepatuhannya pada kedua orang yang sudah membesarkannya itu. Lihat saja langkahnya yang langsung berhenti seketika. "Kamu boleh marah sama kami. Kamu juga boleh kecewa sama kami. Tapi, kamu harus ingat satu hal. Cintailah kekasihmu sewajarnya saja. Karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang lain sewajarnya. Karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." Raya pun terdiam. Bukannya ia tidak bisa membalas ucapan sang Ayah, tapi ia juga ingat betul Hadits riwayat At-Tirmidzi itu. Jadi, Raya lebih memilih melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga yang akan mengantar wanita itu menuju kamar di lantai atas. Tepat di tengah-tengah tangga ia berpapasan dengan Dean. "Hai, Sayang," sapa Dean sambil meraih telapak tangan Raya. Saat lelaki itu hendak mengecup punggung tangan sang istri. Wanita itu lebih dulu mengibaskan genggamannya. "Nggak usah pura-pura bersikap manis padaku," ujarnya dengan jutek. Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya kembali. Begitu pula dengan Dean. Ia pun melanjutkan langkahnya untuk menemui kedua mertuanya di ruang tamu lantai bawah. "Ayah, Ibu. Sudah lama?" tanya Dean sambil mengulurkan tangannya ke arah Pak Fahmi. "Assalamu'alaikum, Nak Dean. Yah, lumayan," balas Pak Fahmi sambil menyambut tangan anak menantunya itu. "Eh, wa'alaikumsalam. Hehe," sahut Dean sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Silahkan duduk. Yah, Bu," ujarnya. Kemudian mereka bertiga pun duduk bersama. "Maafkan sikap Rayana ya. Dia kalau sedang ngambek memang suka seperti itu," kata Bu Aisyah merasa tidak enak. Rayana yang sebenarnya masih berdiri di ujung tangga pun mendengar ucapan sang ibu. 'Ibu apa-apaan sih. Kenapa dia pakai acara minta maaf segala. Emang salah aku apa?' batin Raya dengan kening yang berkerut sempurna. "Tidak apa-apa, Bu. Saya sangat mengerti kenapa dia seperti itu," balas Dean dengan cengiran khasnya. "Oh, ya. Saya mau berterima kasih pada Nak Dean. Karena bantuan Nak Dean. Perkara sengketa tanah panti asuhan yang saya dirikan jadi selesai," kata Pak Fahmi. "Hahaha. Itu hal mudah bagi saya, Yah. Mulai sekarang siapapun yang ingin mencari masalah dengan Ayah, Ibu atau panti asuhan itu. Akan menjadi urusan saya. Jadi, jangan sungkan cerita sama saya jika terjadi apa-apa," balas Dean dengan bangganya. "Apa?!" gumam Rayana setengah tidak percaya. Ia pun memepetkan badannya ke tembok. Sambil mempertajam pendengarannya. "Terima kasih, Nak Dean. Kami sangat senang mendengarnya," balas Pak Fahmi. "Oh, iya. Saya punya sedikit rejeki untuk anak-anak panti." Dean mengeluarkan sebuah amplop coklat yang terlihat menggembung. Mungkin karena isinya yang terlalu banyak. Pak Fahmi dan Bu Aisyah pun tak langsung mengambil benda itu. Mereka malah saling melempar pandang satu sama lain. "Tenang saja, Yah. Uang ini halal kok. Hasil kerja keras saya," tambah Dean. "Bukan seperti itu, Nak. Kita merasa tidak enak saja dengan Nak Dean. Kemarin saja kan Nak Dean sudah memberi kami banyak uang untuk melunasi pembayaran tanah panti itu." "Apa? Jadi, alasan Ayah dan Ibu sangat membela Dean hanya karena uang. Keterlaluan!" ujar Rayana geram. Lalu ia pun segera berlari ke dalam kamar dan membenamkan kepalanya di antara bantal-bantal empuk yang tertata rapi di salah satu ujung tempat tidur. Rayana pun menangis sejadi-jadinya. "Apa salahku, ya Allah. Hiks…. Apa dosaku padaMu? Hiks…. Kenapa kau pisahkan aku dengan Alex. Hiks…. Hiks…. Hiks…. Dia lelaki baik dan soleh ya Allah. Hiks…. Kenapa Engkau ganti dengan lelaki bermuka dua seperti Dean…. Hiks…. Ini nggak adil ya Allah. Aku selalu mentaati semua perintahmu…. Hiks…. Aku tidak pernah mendekati kemaksiatan…. Hiks…. Hiks…. Tapi, kenapa kau jodohkan aku dengan lelaki yang suka melakukan kemaksiatan ya Allah. Kenapa? Hiks…. Hiks…. Bukankah laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Hiks…. Seperti dalam firman Mu di Surah An Nur ayat 26. Hiks…. Hiks…. Tapi, kenapa aku tidak? Hiks. Tapi, kenapa aku tidak ya Allah? Hiks…. Hiks…," ujar Rayana dalam tangisnya. Tok. Tok. Tok. Bunyi pintu jendelanya tiba-tiba. Perhatian Rayana pun seketika beralih ke arah sumber suara. Matanya yang sembab pun menyipit saat menatap selembar kertas terjuntai di sela-sela kaca. Rayana pun mengusap kedua matanya yang penuh air. Lalu ia berjalan ke arah kertas itu. Rayana meraih kertas itu. Kemudian ia membaca beberapa baris kata yang mengisi kertas itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD