Chapter 15 - Perhatian Yang Sudah Lama Dinanti

1604 Words
“Enzi, cepat katakan mau ke mana kita?!” tanya Iva dengan nada sinis. Mata tajam Enzi hanya melirik untuk beberapa detik ke arah Iva lalu kembali fokus memperhatikan jalan di depan. “Jika kamu masih tidak mau menjawab dan tidak mau berbalik arah, maka akan aku telepon Ibu Anne sekarang juga.” Iva mengancam Enzi. “Silahkan kamu telepon wanita tua itu, dan katakan jika kamu ingin bersenang-senang dengan putranya,” tantang Enzi. Kemudian Iva membuka tas yang berada di pangkuannya, lalu tangannya merogoh isi tas mencari ponsel miliknya di dalam sana. Setelah dia mendapatkan ponselnya, dia langsung mencari kontak Ibu Anne untuk dihubungi. Namun, degan sigap Enzi merampas ponsel Iva dan memasukkannya ke saku celana sebelah kanan. Enzi tidak akan membiarkan Iva menghubungi mamanya. “Kembalikan ponselku!” Iva menengadahkan tangannya ke arah Enzi. “Ponsel itu sekarang menjadi milikku. Jika kamu menginginkannya, kamu boleh mengambilnya langsung,” balas Enzi yang kemudian menyunggingkan senyum miring. “Jangan bercanda. Cepat kembalikan ponselku!” pinta Iva lagi. Enzi pun membalas, “Sudah kubilang, kamu boleh mengambilnya sendiri. Aku hanya berharap tanganmu nanti menyentuh sesuatu yang salah di dalam saku celanaku ini. Hahaha ….” Tangan menengadah Iva kini ditariknya kembali. Dia tidak mungkin merogoh saku celana Enzi karena posisi yang akan terjadi nantinya akan membuat Enzi mengambil kesempatan lain. Iva memilih memalingkan wajahnya lagi dan menatap ke arah kiri. Enzi tersenyum senang. Akhirnya dia bisa membuat Iva bungkam dan tidak lagi berisik menanyakan akan dibawa kemana gadis itu. Laju mobil Enzi masih tetap cepat seperti sebelumnya. Iva memperhatikan jalan yang dilewati Enzi. Iva sangat mengenali jalan tersebut. Iva pun angkat bicara, “Jangan-jangan kamu mau membawaku ke ….” “Tepat sekali!” Enzi memotong kalimat Iva yang belum selesai dia ucapkan. “Aku ingin ke rumahmu,” sambungnya. “Mau apa kamu ke rumahku?” tanya Iva yang kini menjadi sangat waspada terhadap Enzi. “Bisakah kamu tutup mulutmu dan tidak banyak melemparkan pertanyaan padaku? Aku sedang fokus menyetir. Jangan ganggu konsentrasiku.” Bukannya menjawab Iva, Enzi malah memakinya dan memintanya untuk diam. Kesal dengan ucapan Enzi barusan. Iva pun kembali membungkam mulutnya. Otaknya langsung menyusun rencana. Jika memang Enzi benar-benar membawanya kembali ke tempat tinggalnya, saat turun dari mobil nanti Iva akan berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Iva tidak akan membiarkan pemuda itu untuk mencuri kesempatan sedikit pun. Sementara itu mobil yang ditumpangi oleh Ibu Anne dan sekretarisnya akan tiba di perusahaan milik keluarga Bella dalam waktu yang tidak akan lama lagi. “Coba tengok ke belakang, apa mobil Enzi masih berada dekat di belakang kita,” pinta Ibu Anne pada sekretarisnya. Sekretaris tersebut langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Dari jendela belakang mobil sekretaris tersebut tidak bisa melihat mobil Enzi di luar sana. “Sepertinya mobil Pak Enzi tertinggal cukup jauh,” ucap sang sekretaris. “Hubungi Iva, tanyakan padanya posisi mereka saat ini,” titah Ibu Anne kemudian. Sang sekretaris menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dikenakannya. Segera dicari kontak Iva di daftar kontak yang dia miliki dan langsung dia coba menghubunginya. Ponsel Iva yang kini berada di saku celana Enzi berdering kencang. Merasa terganggu dengan nada deringnya, Enzi mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat siapa yang menghubungi Iva. Nama sekretaris Ibu Anne tertera di layar ponsel tersebut. Enzi menyodorkan ponsel tersebut pada Iva. “Jawab teleponnya, katakan padanya jika mobilku mogok dan saat ini kita menunggu mobil derek datang,” pinta Enzi. Iva menerima kembali ponselnya yang diberikan oleh Enzi. Namun, Enzi memperingati sekaligus memberikan ancaman pada Iva sebelum dia menerima panggilan telepon tersebut. “Ingat. Bilang mobilku mogok. Jika kamu tidak menurutiku, maka akan aku lakukan hal yang kuinginkan saat ini juga.” Tanpa menjawab sepatah kata pun Iva langsung menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan masuk tersebut. “Halo,” ucap Iva. Di tempat lain sang sekretaris bertanya, “Dimana posisi Ibu Iva dan Pak Enzi sekarang? Saya dan Ibu Anne sebentar lagi sampai.” Iva melirik ke arah Enzi dan menjawab, “Tolong katakan pada Ibu Anne jika saya dan Enzi tidak bisa hadir dalam rapat penting kali ini karena mobil Enzi tiba-tiba mogok. Kami sedang menunggu mobil derek untuk mengangkut mobil Enzi.” Jawaban yang disampaikan Iva barusan tentu membuat Enzi tersenyum senang. Tidak disangka jika Iva akan menurutinya. “Baik jika begitu, akan saya sampaikan pada Ibu Anne,” balas sang sekretaris yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya. “Apa katanya?” Ibu Anne menanyakan hasil pembicaraan sekretaris tersebut dengan Iva. “Mobil Pak Enzi mogok, dan sekarang mereka sedang menunggu derek untuk mengangkut mobil Pak Enzi,” jawab sang sekretaris sesuai dengan apa yang Iva katakan. Ibu Anne tentunya tidak langsung percaya akan hal itu. Dia menengadahkan tangan ke arah sang sekretaris meminta ponsel miliknya. Kemudian Ibu Anne menghubungi seseorang untuk mengintai Iva dan Enzi. Nantinya orang tersebut akan melaporkan semua hasil intaiannya pada Ibu Anne. “Sepertinya saya sudah harus mulai mewaspadai Iva. Saya harus memastikan jika Iva menjalankan tugasnya dengan baik,” desis Ibu Anne. Beberapa saat kemudian mobil yang membawa Ibu Anne dan sekretarisnya berhenti di lobi sebuah gedung tinggi pencakar langit. Gedung tinggi tersebut adalah gedung perusahaan milik keluarga Bella. Seorang lelaki mengenakan kemeja dan celana hitam membukakan pintu untuk Ibu Anne dan juga sekretarisnya. Lalu Ibu Anne dan sekretarisnya didampingi masuk ke dalam gedung tersebut oleh lelaki tersebut. Dalam waktu yang tidak jauh berbeda mobil yang dikendarai Enzi juga berhenti di depan rumah Iva. Enzi kemudian menyandarkan kepalanya di kursi lalu memejamkan kedua matanya. “Jika ingin tidur, bukan di sini tempatnya,” sindir Iva. Dengan mata terpejamnya Enzi pun membalas, “Lalu jika bukan di sini, dimana? Di kamarmu?” “Jangan sembarangan. Aku tidak akan mengizinkan kamu masuk ke dalam rumahku,” ketus Iva. Iva membuka kunci pada pintu mobil Enzi dan bergegas keluar dari dalam mobil tersebut meninggalkan Enzi. Iva harus tetap bersikap dingin pada pemuda itu. Jangan sampai pemuda tersebut menemukan kelemahan Iva dan mengetahui perasaan Iva yang sebenarnya. Semua ancaman dan perilaku Enzi masih belum seberapa jika dibandingkan oleh ancaman dari Ibu Anne yang bisa berakibat pada kelangsungan hidup Iva dan keluarganya. Juga pada masa depan Iva nantinya. Saat masuk ke dalam rumah, Iva melirik jam yang menempel di dinding. Masih banyak waktu baginya untuk melanjutkan pekerjaan. Mungkin sekitar satu jam dari sekarang Iva akan kembali ke kantor. Begitulah yang kini ada dalam pikiran Iva. Iva menyempatkan diri untuk mengoles selai cokelat pada dua lembar roti yang disatukan setelahnya. Kemudian Iva memotong roti yang berbentuk persegi tersebut menjadi dau buah segitiga siku-siku. Kemudian Iva memasukkannya ke dalam sebuah tempat makan dan menutupnya dengan rapat. “Lumayan buat ganjal perut,” gumamnya. Gadis itu kemudian teringat jika dia menyimpan cappuccino dalam kemasan sachet di dapur. Dia pun mencarinya lalu menyeduhnya ke dalam sebuah gelas dengan tutup. Gelas dengan tutup tersebut terbuat dari bahan plastik yang tahan panas, produk keluaran dari merk yang sudah cukup dikenal di kalangan para wanita, dan memiliki beraneka warna yang cerah. Kotak makan berisi roti dan segelas kopi panas kini dibawa oleh Iva ke luar rumah. Langkah kaki Iva membawanya mendekat pada mobil Enzi yang masih terparkir di depan rumahnya. Menggunakan kotak makan tersebut Iva mengetuk kaca jendela mobil Enzi. Tok … tok … tok …. Kedua mata Enzi yang terpejam langsung terbuka dan melirik ke sebelah kanan. Dilihatnya Iva sudah berdiri tegak di luar sana menunggu Enzi membukakan kaca jendela mobilnya. Enzi menekan tombol yang berada di pintu bagian dalam mobil untuk membuka kaca jendela mobilnya tersebut. “Ada apa?” tanya Enzi ketus. “Ini untuk kamu, sepertinya kepalamu masih sangat pusing karena alkohol semalam. Atau mungkin kamu masih mengantuk. Jadi silahkan dimakan roti dan diminum kopinya,” jawab Iva sembari memerikan kotak makan dan segelas kopi pada Enzi. “Ternyata kamu masih memperhatikanku,” goda Enzi. “Jangan salah paham. Setelah kamu menghabiskan semua itu aku mau kamu mengantarkanku ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku tidak mau kamu mengantuk dan membahayakan nyawaku,” ucap Iva dengan tegas. Enzi menyunggingkan senyum di wajahnya lalu berkata dengan lembut, “Aku terima alasanmu itu. Terima kasih untuk roti dan juga kopinya.” Hati Iva terenyuh mendengar ucapan terima kasih yang lembut dan tulus dari Enzi. Dia tak menyangka jika seorang yang dikenal ketus dan selalu memerintahnya itu bisa berkata lembut seperti tadi. Namun, Iva harus tetap mengatur perasaannya. Dia tidak boleh terbuai hanya karena ucapan lembut yang keluar dari bibir Enzi. Iva kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumahnya. Saat Iva sudah tidak ada lagi di sekitar Enzi, pemuda itu menatap secara bergantian ke arah kopi dan juga roti yang kini ada di kedua tangannya. Tersungging lagi senyum lembut di wajah Enzi. Dilahapnya roti yang dibuatkan oleh Iva dengan perasaan senang. Perhatian kecil Iva yang seperti ini yang sudah lama dinantikan oleh Enzi. Dari balik jendela rumahnya Iva mengintip ke arah luar dan melihat Enzi menyantap pemberiannya dengan lahap. Iva seolah bernafas lega. Gadis itu kemudian menjauh dari jendela menuju ke kamarnya. Dia ingin merapikan penampilannya sambil melihat dirinya di cermin yang berada di dalam kamarnya itu sebelum kembali menemui Enzi dan berangkat ke kantor. Mungkin hati mereka berdua kini sedang diliputi rasa senang untuk sesaat. Namun, sayangnya hal tersebut tidak lepas dari perhatian seorang pria yang mengintai mereka dari kejauhan dan bersiap memberikan laporan pada Ibu Anne. Orang suruhan Ibu Anne memang hebat. Dalam waktu singkat dia bisa menemukan keberadaan Enzi dan Iva. Tugas yang diberikan oleh Ibu Anne pun bisa diselesaikannya tanpa ada kendala sedikit pun. Bagaimana nasib Enzi dan Iva setelah orang suruhan Ibu Anne memerikan laporan atas hasil intaiannya tersebut? Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD