Chapter 14 - Alkohol Pembawa Masalah 2

2003 Words
“I-Iva … maaf, Iva,” Enzi masih terus memohon maaf dari Iva dalam keadaan setengah mabuk. Iva yang masih memegangi pipinya memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Sepertinya keputusannya untuk menghampiri Enzi adalah kesalahan besar. Awalnya Iva sedikit khawatir pada Enzi, tetapi nyatanya malah sebuah tamparan keras yang dia dapat di wajahnya. “Mau kemana kamu, Iva?!” Suara lantang menghentikan langkah kaki Iva. Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang. Dilihatnya Enzi berjalan terhuyung menghampirinya. “Kamu tidak boleh kemana-mana lagi, Iva. Maafkan aku. Aku antar kamu pulang sekarang,” ucap Enzi sembari melingkarkan tangannya di bahu Iva. Tidak sudi bahunya disentuh oleh lelaki yang sudah menamparnya, kemudian Iva menyingkirkan tangan Enzi dengan cepat. Namun, kondisi Enzi yang masih setengah mabuk membuatnya terjatuh ke lantai tepat di hadapan kaki Iva. Dipeluknya kedua kaki Iva dengan posisinya yang tengkurap. Kemudian Enzi meracau dengan suara yang tidak begitu jelas, “Maafkan aku, Iva … maaf …. Kamu harus maafkan aku, ini perintah.” “Apa aku tidak salah dengar? Dalam keadaaan mabuk saja kamu masih bisa memerintahku,” gerutu Iva. Kemudian Iva melemparkan pandangannya ke sekitar. Di dalam ruangan dengan alunan musik yang menghentak itu kini Iva dan Enzi sudah menjadi tontonan gratis. Iva sudah merasa sangat malu menjadi tontonan seperti itu. Inginnya Iva segera menghilang dari tempat tersebut. Tetapi melihat Enzi yang mulai menciumi punggung kakinya untuk meminta maaf membuatnya tak mudah untuk pergi begitu saja. “Enzi, ayo cepat bangun!” seru Iva. Gadis itu berjongkok lalu berusaha membantu Enzi untuk bangkit. Tubuh Enzi yang lebih tinggi dan lebih besar dari Iva membuat gadis itu cukup kesulitan untuk membantunya berdiri. Ditambah lagi kondisi Enzi yang masih mabuk, membuat bobot pemuda itu terasa lebih berat dari seharusnya. Iva membawa tangan kiri Enzi melingkar di lehernya, agar dia bisa lebih mudah membantu Enzi berjalan keluar. Langkah Iva ikut terhuyung karena Enzi yang mabuk dan tidak bisa berjalan tegak dan lurus seperti biasa. “Kamu tahu kamu itu sudah sangat menyusahkan aku,” keluh Iva saat berjalan sambil memapah Enzi. Enzi membalasnya dengan tawa kecil. Dia juga berkata dengan tak jelas, “Kamu adalah kekasih rahasiaku, jadi kamu harus menuruti perintahku.” Setelah perjuangan memapah Enzi sampai ke parkiran, Iva melemparkan pandangannya mencari dimana mobil Enzi terparkir. Matanya terhenti pada sebuah mobil mewah yang hampir setiap hari dia lihat. “Mobil kamu di sana. Ayo kita ke sana,” ajak Iva yang kembali memapah Enzi mendekat ke mobil Enzi yang terparkir di antara mobil-mobil lainnya. Namun, tiba-tiba Iva menghentikan langkah kakinya. “Tunggu sebentar, apa kamu bisa mengendarai mobil dalam keadaan mabuk seperti ini?” tanya Iva. Iva pun melirik pada Enzi. Dilihatnya pemuda itu masih tampak sangat mabuk. Kedua pipinya tampak kemerahan menandakan jika dia masih mabuk dan di bawah pengaruh alkohol. Ditambah lagi salah satu pipinya masih tecetak tipis bekas tamparan Iva tadi di dalam. “Kamu benar-benar menyusahkanku. Sungguh menyesal aku menyusulmu ke sini,” keluh Iva. Iva belum terlalu mahir mengendarai kendaraan roda empat. Dia juga tidak punya keberanian untuk mengendarai mobil mewah Enzi, karena takut menyerempet kendaraan lain dan membuat bagian mobilnya ada yang lecet. Pasti butuh biaya yang tidak sedikit untuk memperbaikinya. Iva berinisiatif menelepon supir kantor untuk datang menghampiri mereka. Sampai supir tersebut datang, Iva menemani Enzi di dalam mobil. Iva menjadi sangat waspada, Enzi tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mabuk. Jangan sampai ada orang jahat yang berniat merampok Enzi dalam keadaannya yang sedang mabuk. “Kenapa lama sekali dia datang?” Iva melihat jam di layar ponselnya yang sudah berganti hari. Di kursi belakang Enzi sudah tertidur lelap. Bau Alkohol masih sangat menyeruak dari dirinya. Iva sendiri duduk di kursi depan menunggu supir kantor datang dan mengantarkan Enzi pulang. Tak lama kemudian supir yang ditunggu-tunggu pun tiba. Iva langsung mempercayakan Enzi beserta mobilnya untuk diantarkan langsung ke kediaman Enzi. Tak lupa Iva memberikan selembar uang senilai seratus ribu rupiah pada supir tersebut untuk menggantikan ongkos ojeknya. *** Keesokan harinya Enzi terbangun di dalam kamarnya yang sangat nyaman. Di memegangi kepalanya yang sakit akibat mabuk-mabukan semalam. Matanya memindai seisi ruangan. “Dimana aku? Ini di kamarku?” tanyanya seperti orang kebingungan. Enzi memijat keningnya. “Argh … kepalaku sakit sekali. Sepertinya semalam aku terlalu banyak minum,” katanya sambil terus memijat keningnya untuk meredakan sakit di kepalanya. Kemudian Enzi menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, bermaksud untuk menatap ke jendela. Namun, betapa terkejutnya dia mendapati mamanya sudah duduk di kursi menghalangi jendela dengan kedua tangan yang bersedekap dan menatapnya sangat tajam. “Mama? Kenapa ada di kamarku?” tanya Enzi yang terkejut dengan kehadiran Ibu Anne yang secara tiba-tiba di sana. Dahi Ibu Anne mengernyit setelah mendengar pertanyaan putranya. “Seharusnya Mama yang bertanya, dari mana kamu semalam sampai mabuk berat?” “Bukan urusan Mama,” jawab Enzi. “Tentu urusan Mama. Kamu masihlah putra Mama. Pewaris tunggal Cave Company. Jangan kamu membuat Mama malu dengan sikap kampunganmu seperti mabuk-mabukan!” balas Ibu Anne dengan tegas. Bibir Enzi terkatup rapat, rahangnya mengerat, tangannya juga terkepal menahan emosi dalam dirinya. Seorang Enzi yang tegas, dingin, dan tak kenal ampun di perusahaannya tidak bisa membalas ucapan Ibu Anne yang adalah mamanya. “Mama tidak mau lagi mendengar apalagi sampai melihat kamu melakukan hal kampungan seperti itu, Enzi!” Jari telunjuk Ibu Anne mengarah lurus ke wajah Enzi. “Sekarang cepat bersihkan diri kamu. Hilangkan bau alkohol dari seluruh tubuh kamu. Karena hari ini Mama akan mengajakmu untuk menghadiri rapat penting dengan dewan direksi perusahaan milik keluarganya Bella,” perintah Ibu Anne kemudian. Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Ibu Anne bangkit dari kursinya lalu melangkahkan kakinya ke luar kamar Enzi. Tampak wanita paruh baya itu masih diselimuti oleh kekecewaan sekaligus amarah dalam dirinya akibat perbuatan Enzi yang mabuk-mabukan semalam. “Cih!” Enzi kemudian meremas selimut lalu melemparnya ke depan. “Perusahaan keluarganya Bella? Apa pernikahanku dengan Bella juga hanya sekedar urusan bisnis saja?” sungut Enzi. Di tempat lain, Iva sudah menerima kabar tentang rapat penting hari ini. Dia pun kini merapikan penampilannya di hadapan cermin. Setelan jas dan rok berwarna mocca dengan kemeja warna merah muda di dalamnya menjadi pilihan Iva untuk menghadiri rapat hari ini. Rambut panjang Iva dibuat sedikit bergelombang. Iva menarik sedikit bagian depan rambtutnya ke belakang dan dijepitnya menggunakan jepitan kecil berwarna merah muda agar terlihat lebih rapi tetapi tetap bergaya. Untuk wajahnya, dia hanya memulas makeup tipis seperti hari-hari biasanya. Iva tidak suka makeup yang terlalu mencolok. Dia ingin bekerja, bukan mencari perhatian lawan jenis. Tepat jam delapan pagi Iva sudah tiba di kediaman keluarga Cavero. Iva dipersilahkan menunggu di ruang tamu oleh pelayan keluarga di sana. Iva juga disuguhkan secangkir teh dan sepiring kudapan. “Apa Ibu Anne masih lama?” tanya Iva pada seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan piring berisi kudapan di atas meja. Pelayan tersebut menjawab, “Tidak, Bu. Sebentar lagi Nyonya akan datang.” Sesaat setelah pelayan tersebut menjawab pertanyaan Iva, Enzilah yang datang ke ruang tamu untuk menemui Iva. “Sudah lama menunggu?” tanya Enzi. Pemuda itu kemudian duduk di sofa yang sama dengan Iva. Hanya saja dia memberi jarak sekitar rentangan satu tangan. “Tidak juga, baru sekitar lima menit,” jawab Iva. Pelayan tadi sudah tidak lagi berada di ruang tamu. Enzi memanfaatkan kesempatan ini untuk menanyakan kejadian yang semalam. Enzi memang tidak mengingat terlalu jelas, tetapi samar-samar Enzi bisa mengingat Iva saat memapahnya masuk ke mobil. “Beri tahu saya, apa yang terjadi semalam,” pinta Enzi. Iva memegang pipinya yang masih terasa sedikit nyeri. Bekas tamparan Enzi juga sudah tersamarkan dengan blush on. Sudut bibirnya juga masih terasa sedikit sakit, tetapi sudah tidak terlalu terlihat bekas luka di sana. “Tidak terjadi apa-apa,” jawab Iva. “Kamu yakin? Yang kuingat kamu memapahku masuk ke mobil,” cecar Enzi. “Anda hanya terlalu mabuk, dan saya hanya membantu anda masuk ke dalam mobil,” ucap Iva. Merasa tidak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Iva, Enzi menggeser bokkongnya lebih mendekat pada Iva. “Jangan bohongi saya. Katakan apa yang teradi semalam,” paksa Enzi. Dengan anggun Iva menolehkan kepalanya pada Enzi lalu tersenyum simpul. “Anda tidak perlu memaksa diri anda untuk mengingat kejadian yang semalam. Tetapi anda perlu memperbaiki gaya hidup anda agar tidak lagi mudah menyentuh minuman beralkohol. Saya sangat tidak menyukai lelaki peminum seperti anda,” tegas Iva. Merasa kesal dengan ucapan Iva barusan, Enzi mencengkeram wajah Iva dan menatapnya tajam dengan kedua alis yang bertautan. Iva sampai harus menahan rasa sakit akibat cengkeraman Enzi yang mengenai pipinya. Bekas tamparan kemarin di pipi Iva kini semakin terasa nyeri karena hal tersebut. “Jangan mempermainkanku, Iva. Cepat katakan apa yang sudah terjadi semalam!” Enzi masih terus memaksa Iva agar gadis itu memberitahunya. Iva menarik tangan Enzi dan mengempaskannya. “Jaga sikap anda, Pak Enzi. Jangan terlalu kasar dengan wanita,” balas Iva dengan tegas. “Berani sekali kamu padaku, Iva. Jangan pernah lupa jika kamu masih bawahanku. Kamu juga kacung orang tuaku.” Kalimat yang dilontarkan Enzi semakin kasar. Entah memang disengaja atau tidak, tetapi kalimat tersebut pastinya menorehkan luka di hati Iva. Kesabaran Iva sudah tidak bisa disamakan dengan orang-orang yang lainnya. Mendengar Enzi mengatakan hal yang sangat menyakitinya, Iva masih bisa memasang raut wajah datar dan damai seperti dia tidak merasa tersakiti sama sekali. Iva memang sudah sangat pintar untuk mengendalikan dirinya. “Apa yang sedang kalian bicarakan? Ada sesuatu yang penting?” Tiba-tiba Ibu Anne datang bersama sekretarisnya. Iva bangkit berdiri dan menjawab, “Tidak ada, Bu. Hanya obrolan ringan saja.” “Kalian sudah siap? Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum kemacetan membuat kita terlambat menghadiri rapat penting kali ini,” titah Ibu Anne. “Baik, Bu,” jawab Iva. Mereka semua kemudian melangkahkan kaki keluar rumah mewah kediaman keluarga Cavero. Ibu Anne memimpin mereka berjalan di depan di damping oleh sekretarisnya. Sedangkan Enzi dan Iva di belakang mereka. Enzi sesekali melirik Iva, berusaha menemukan waktu yang pas untuk menggenggam tangan Iva. Tetapi Iva langsung membawa kedua tangannya memegangi tas yang dibawanya. Iva tidak mungkin lengah dan memberikan kesempatan pada Enzi. Apalagi sekarang ada Ibu Anne bersama mereka. Sayangnya, mereka semua tidak menggunakan satu mobil yang sama. Ibu Anne dan sekretarisnya diantar oleh supir pribadi mereka. Sedangkan Enzi dan Iva menggunakan satu mobil lainnya tanpa supir. Itu artinya Enzi yang mengendarai mobilnya. Enzi tersenyum senang sepanjang perjalanan. Tidak seperti Iva yang hanya menolehkan kepalanya ke sebelah kiri untuk menikmati pemdangan kendaraan di luar sana. “Hey, Iva. Lihatlah ke sini,” pinta Enzi dengan nada mengejek. “Apa yang bisa kamu nikmati di luar sana? Kemacetan? Ibu-ibu yang berboncengan dengan suaminya? Atau angkutan umum yang padat sampai orang-orang di dalamnya terlihat sesak?” lanjutnya. Iva tidak mau mengindahkan ucapan Enzi. Berada di satu mobil yang sama dengannya saja sudah membuatnya cukup tertekan, apalagi harus meladeninya. Akan menjadi satu jaminan jika Iva hanya akan menambah beban pikirannya. “Jalan di depan sudah ramai, sebaiknya kita belok ke kiri saja mencari jalan alternatif yang lebih jauh,” ucap Enzi sambil memutar stir mobilnya dan membawa mobilnya tersebut belok ke kiri. Sontak hal tersebut membuat Iva menolehkan kepalanya pada Enzi dan bertanya dengan raut wajah bingung. “Kenapa kita belok? Seharusnya kita lurus. Tidak ada jalan alternatif sepanjang jalan ini.” “Akhirnya kamu mau melihatku juga,” ucap Enzi. “Sudahlah, jangan seperti anak kecil. Cepat kita putar balik dan susul mobil Ibu Anne,” pinta Iva. Enzi tersenyum menyeringai. “Tidak ada jalan alternatif ‘kan? Itu artinya tidak ada tempat untuk berputar arah. Duduklah yang manis di tempatmu, aku akan membawamu ke tempat yang menyenangkan.” “Apa??? Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Iva dengan reaksi paniknya. “Sudah kubilang, duduk saja yang manis. Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Enzi. Kaki Enzi menginjak pedal gas lebih dalam dan membawa mobilnya melaju lebih cepat lagi. Jalur yang dipilih Enzi barusan cukup sepi dan tidak banyak kendaraan melewati jalan tersebut. Oleh karena itu Enzi bebas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mau dibawa ke manakah Iva oleh Enzi? Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD