Enzi : [Temani aku sepulang kerja. Jangan menolak. Ini perintahku sebagai kekasihmu.]
Dahi Iva langsung berkernyit membaca pesan yang dikirimkan oleh Enzi.
“Bukannya dia sudah membuat janji dengan sekretaris seksinya itu?” gumam Iva yang kemudian mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Tak ingin terlalu dipedulikan ajakan Enzi barusan. Dia sudah mendapat ultimatum dari Ibu Anne untuk tidak menaruh perasaan pada putranya itu. Dia hanya harus menjalankan tugasnya sampai hari pernikahan Enzi dan Bella berlangsung.
Sudah lima menit berlalu dan Enzi ternyata masih menunggu balasan pesan yang dikirimkannya pada Iva.
“Kemana sih dia? Apa pekerjaannya terlalu menumpuk sampai-sampai dia tidak bisa membalas pesanku?” geram Enzi.
Dari arah pintu Rachel berjalan masuk dengan melenggokkan pinggulnya berusaha menggoda Enzi. Dengan sengaja dia juga tersenyum sambil menggigit bibir bagian bawahnya dan melempar tatapan menggoda ke arah Enzi. Dia berhara Enzi akan mengajaknya untuk bersenang-senang di dalam ruangannya, atau mungkin mengajaknya ke tempat lain.
Saat Rachel sudah sampai di depan meja Enzi, dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk meletakkan dokumen yang harus diperiksa oleh Enzi. Dua buah kancing kemeja Rachel yang terbuka membuat Enzi dengan mudah mengintip keindahan buah dadanya Rachel.
“Kamu sengaja menggoda saya?” tanya Enzi dengan satu alisnya yang terangkat.
Rachel menjawab, “Saya tidak bermaksud seperti itu, tetapi apakah Pak Enzi merasa tergoda?” elak Rachel.
Namun, tidak seperti yang Rachel harapkan, Enzi malah mengusirnya keluar dari ruangan karena merasa kesal dengan kehadiran ibunya tadi dan juga kesal karena masih belum mendapat balasan dari Iva.
“Jangan ganggu saya! Enyah kamu dari hadapan saya! Keluar dari ruangan saya!” bentak Enzi mengusir Rachel.
Rachel terperanjat dengan nada suara Enzi yang lantang. Dia kemudian mengurungkan niatnya untuk menggoda Enzi lebih lanjut. Dia memilih menundukkan kepalaya dan melangkah pergi dari ruangan Enzi.
“Arrghh!! Sialan!!” teriak Enzi meluapkan segala kekesalan dalam dirinya.
Kemudian Enzi bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya dengan cepat keluar ruangan. Dia ingin segera menghampiri Iva karena gadis itu tak kunjung memberikan balasan atas ajakannya.
“Enzi!” seru seseorang memanggil Enzi.
Enzi berbalik dan melemparkan pandangannya mencari sosok orang yang memanggilnya. Dilihatnya seorang pemuda bertubuh tegap berpakaian rapi lengkap dengan jas kini berjalan mendekat ke arahnya.
“Enzi, lo mau kemana? Gue baru mau nyamperin ke ruangan lo,” ucap pemuda tersebut saat sudah berdiri di hadapan Enzi.
“Ada keperluan apa lo kemari?” tanya Enzi pada pemuda tersebut.
Sambil menyunggingkan senyum pemuda tersebut mendekatkan wajahnya ke telinga Enzi lalu berbisik, “Biasa, gue mau ajak lo senang-senang. Gue yang traktir.”
Mata tajam Enzi melirik pemuda yang ternyata tidak lain adalah sahabatnya Enzi.
“Gimana?” Pemuda tersebut menanyakan jawaban Enzi atas penawarannya.
“Okay, boleh saja. Sepulang kantor lo jemput gue, dan gue bakal bawa satu cewek buat nemenin gue,” jawab Enzi.
“Kenapa kita nggak cari cewek di sana saja? Mereka pasti akan melayani kita dengan senang hati,” tanya pemuda tersebut.
Bibir Enzi tersenyum miring. “Dia beda dari yang lain. Dia juga bisa dipastikan masih bersih tak tersentuh sembarang lelaki,” ungkap Enzi.
“Lo benar-benar bikin gue penasaran. Cewek mana sih yang bisa bikin seorang Enzi Cavero sampai memujinya kayak gini? Eh, memangnya benar masih ada cewek yang nggak tersentuh sama lelaki mana pun, termasuk lo?”
“Lihat saja nanti, dan gue harap lo jangan berani berniat mendapatkan cewek ini. Karena cewek ini hanya punya gue seorang.” Setelah memberi penegasan seperti tadi, Enzi kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruangan Iva.
Sahabatnya itu hanya bisa menatap lurus punggung Enzi yang kian menjauh lalu menghilang dari pandangannya.
Tok … tok … tok ….
“Iva, kenapa pesan saya tak juga kamu balas?” Enzi main masuk ke ruangan Iva setelah mengetuk pintunya.
Iva yang tadinya sedang sangat serius dengan layar laptop mendelikkan matanya kea rah pemuda tersebut.
“Anda tidak lihat jika saya sedang sibuk?” sinis Iva.
“Kamu bisa sebentar saja membalas pesanku dan kembali melanjutkan pekerjaanmu, Iva. Jangan banyak memberiku alasan.” Enzi tidak mau kalah.
Iva menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Iva kembali angkat bicara, “Baik, kalau begitu saya tidak bisa menerima ajakan anda, Pak Enzi.”
“Ini adalah sebuah perintah, kamu tak berhak menolaknya,” ucap Enzi dengan tegas.
“Perintah?” Dahi Iva berkernyit. “Tetapi jika tidak berhubungan dengan pekerjaan saya berhak menolaknya,” Iva melanjutkan.
BRAKK!!
PRAANG!!
Sekuat tenaga kedua tangan Enzi menggebrak meja Iva hingga gelas yang terisi air di atas sana terjatuh dan pecah di lantai.
“Hey, Iva. Tidakkah kamu malu? Kamu bekerja di perusahaan ini karenaku, lalu kamu menandatangani perjanjian dengan orang tuaku hanya demi segelintir uang.” Enzi menyindir Iva dan membuat gadis itu mengerling tajam ke arahnya.
“Sudah kubilang aku mengetahuinya, Iva. Tidak maukah kamu sedikit bekerja sama denganku? Turuti aku, bermanja padaku, dan aku tidak akan pernah membongkar rahasiamu dengan orang tuaku,” Enzi menambahkan.
Enzi berusaha menyudutkan Iva agar gadis itu mau menurutinya. Susah sekali bagi Enzi membuat Iva bertekuk lutut padanya. Tidak seperti wanita lain di luar sana yang dengan sukarela memberikan tubuhnya untuk Enzi.
Iva tidak merasa tersudutkan dengan ucapan Enzi. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh CEO muda kebanggaan Cave Company.
“Jadi, apa mau anda?” tanya Iva dengan tatapan matanya yang mendadak dingin.
Pertanyaan inilah yang sudah ditunggu-tunggu oleh Enzi sejak tadi. Enzi membawa bokkongnya duduk di atas meja kerja Iva. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan tangan kanan yang bertumpu di meja. “Kamu pasti tahu apa yang aku mau, Iva,” jawab Enzi dengan senyum misterius yang dia sunggingkan.
***
Malam pun tiba. Masih dengan kemeja dan jas yang dia kenakan saat bekerja, kini Enzi duduk di sebuah kursi bar sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi minuman beralkohol di tangannya. Suara musik yang menghentak memenuhi ruangan tempat Enzi berada saat ini
“Dasar wanita sialan! Pembohong!” Enzi berdecak kesal.
“Hahaha … nggak nyangka seorang Enzi Cavero bisa diperlakukan kayak gitu sama seorang wanita. Hahaha ….” Temannya yang mengajak untuk bersenang-senang tadi kini menertawai Enzi yang sudah seperti dicampakkan oleh seorang wanita.
Seorang playboy kelas kakap tidak bisa menaklukan seorang wanita bernama Iva Kalila. Hal tersebut cukup lucu untuk ditertawakan oleh temannya itu.
Minuman di dalam gelas yang dipegang Enzi ditenggak hingga tetes terakhir. Kemudian gelas tersebut diletakkan sedikit kasar ke atas meja.
“Tunggu pembalasan aku, Iva. Kamu akan menyesalinya,” geram Enzi.
“Sudahlah, Bro. Masih banyak wanita yang bisa kita ajak senang-senang kali ini. Lo lihat di tengah sana. Banyak banget wanita yang melirik ke arah kita minta kita panggil,” tunjuk temannya.
Enzi melirik ke arah yang dimaksud, lalu dia mendengkus dan berkata, “Andai mereka semua bisa bikin gue terpesona seperti Iva.”
“Lagian, bukannya lo sendiri udah dijodohin sama orang tua lo?” tanya temannya tersebut.
“Pokoknya, sebelum gue menikah gue harus bisa menaklukan Iva. Cuma dia satu-satunya cewek yang nggak mudah bertekuk lutut sama gue.”
Tiba-tiba seorang wanita dengan pakaian serba pendek seperti kekurangan bahan datang menghampiri Enzi dan temannya. Wanita itu membelai punggung temannya Enzi dengan lembut, lalu duduk di sampingnya dan meletakkan dagunya di bahu temannya Enzi tersebut.
“Lo yakin nggak mau nikmatin yang kayak gini?” tanya temannya sambil memasang raut wajah meledek.
Enzi mengibaskan tangannya. “Alvin, sudah deh lo pergi saja sana. Ajak tuh cewek senang-senang. Gue mau minum sendirian aja.” Enzi mengusir temannya itu kemudian.
Pemuda yang diketahui bernama Alvin itu langsung merangkul wanita yang menghampirinya barusan dengan manja dan membawanya pergi dari tempat tersebut. Tampak tangan Alvin sesekali meraba dan meremas bokkong empuk wanita tersebut hingga membuatnya terangsang.
Setelah Alvin sudah tak ada lagi di sana, seorang wanita yang tak kalah kekurangan bahan pakaiannya mulai menghampiri Enzi. Wanita itu sudah sangat tertarik pada Enzi sejak matanya tak sengaja melihat ke arah Enzi.
“Hai, boleh aku temani?” tanya wanita tersebut yang kemudian duduk di sebelah Enzi.
Wanita itu menuangkan minuman ke gelas Enzi yang sudah kosong. “Kamu pasti bukan orang biasa. Terlihat jelas dari minuman yang kamu pesan,” kata wanita tersebut.
Enzi tidak mengindahkan wanita tersebut. Dia menyambar gelas yang sudah terisi tiga per empatnya dan menenggaknya lagi sampai habis tak tersisa.
“Wow, kamu peminum yang hebat. Aku menyukainya,” kata wanita itu lagi.
Hanya saja Enzi masih belum mau menanggapi wanita tersebut. Dituangkan lagi olehnya sendiri gelas yang sudah kosong itu. Ditenggaknya lagi sampai habis. Enzi melakukan hal it uterus menerus sampai botol minumannya kosong.
“Kenapa botol ini isinya sangat sedikit sekali sih!” keluh Enzi sambil menyingkirkan botol kosong tersebut dari hadapannya.
Wanita tadi masih setia duduk di samping Enzi. Menunggu pemuda itu benar-benar mabuk.
Kepala Enzi mulai terasa berat. Dia meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Kesempatan wanita itu pun tiba. Dia mulai meraba punggung Enzi, menyandarkan kepalanya di bahu Enzi, dan juga sedikit mengecup daun telinga Enzi.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan di tempat lain?” bisik wanita yang sama sekali belum diketahui namanya oleh Enzi.
Pandangan mata Enzi sudah kabur dan tidak jelas karena pengaruh alkohol yang membuatnya sangat mabuk. Samar-samar siluet wanita tersebut tampak seperti Iva.
“Iva …,” panggilnya lirih.
“Ayo kita lanjutkan, Sayang.” Wanita tersebut masih berusaha mengajak Enzi.
Enzi tertawa meringis. Lalu dia berusaha menegakkan tubuhnya dan menghadap ke wanita yang sudah menunggunya itu. “Iva, kamu sudah mau bertekuk lutut padaku?” tanya Enzi pada wanita tersebut.
Sedikit penasaran, wanita tersebut pun bertanya, “Iva itu pacar kamu?”
“Iya. kamu pacar aku, Iva. Hehehe … Hanya kamu gadis yang aku inginkan,” jawab Enzi sambil tertawa kecil.
Dalam pandangan Enzi, wanita itu sudah benar-benar terlihat seperti Iva. Dengan cepat Enzi menarik tengkuk wanita tersebut dan melabuhkan ciuman panasnya. Bahkan tangannya juga bergerilya tanpa diperintah.
Merasakan kenikmatan yang Enzi berikan, wanita tersebut ikut memainkan tangannya meraba punggung Enzi.
“Pokoknya kamu harus menjadi milikku, Iva,” desis Enzi di sela-sela ciumannya.
Wanita tersebut tidak mau perduli siapa itu Iva sebenarnya. Wanita itu hanya menginginkan Enzi malam ini. Dia hanya ingin merasakan kejantanan Enzi yang sangat diyakininya bisa membawanya hingga ke puncak.
Drap … drap … drap ….
“Apa-apaan ini, Enzi Cavero!!” seru seorang wanita dari belakang Enzi yang sedang samngat menikmati aktifitas nakalnya.
Seruan lantang tersebut sontak membuat Enzi dan wanita malam tersebut menghentikan kegiatan mereka dan menolehkan kepala mereka ke belakang.
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi kiri Enzi hingga meninggalkan bekas kemerahan.
“Apa-apaan kamu ini!” bentak Enzi.
Namun, karena kondisinya yang masih sangat mabuk membuat Enzi bersiap membalas tamparan tadi. Tangannya sudah melayang di udara. Tak sampai hitungan detik balasan dari Enzi mendarat di pipi tirus wanita yang menamparnya terlebih dahulu.
“Ka-kamu berani menamparku?” lirih wanita tersebut dengan kedua mata yang tergenang.
Enzi mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Dia juga menggelengkan kepalanya beberapa kali berusaha mendapatkan kesadarannya dengan cepat.
“Loh, kamu? Iva?” Enzi tampak tak percaya. Dia menolehkan kepalanya ke arah samping, melihat siapa gadis yang tadi dia ci-um dengan penuh nafsu. Kemudian kepala Enzi kembali menoleh pada Iva. “I-iva maafkan aku. Aku tidak tahu kalau itu kamu,” ucap Enzi yang sudah mengenali siapa wanita yang ditamparnya tadi.
Tangan Iva memegangi pipinya yang terasa sakit. Tenaga Enzi sebagai seorang lelaki membuat sudut bibir Iva juga mengeluarkan darah.
Enzi merasa sangat bersalah tindakan yang sudah baru saja diperbuatnya. Dia berusaha meraba tangan Iva yang memegangi pipinya, tetapi langsung ditepis begitu saja oleh Iva.
“Maafkan aku, Iva,” lirih Enzi.
Namun, Iva hanya membalasnya dengan memberikan tatapan berkilat dan penuh kebencian pada Enzi.
Apa yang selanjutnya akan Iva lakukan? Apakah Iva akan memaafkan Enzi?
Bersambung ....