Chapter 12 - Titah Mutlak Ibu Anne

2146 Words
Pagi-pagi sekali Iva sudah datang ke kantor dan masuk ke dalam ruangannya. Dia harus memeriksa laporan karyawannya yang kini sudah tertumpuk rapi di atas meja. Siang ini dia juga ada janji meeting dengan salah satu klien yang sudah cukup lama menjalin kerja sama dengan CAVE Company. Iva menandatangani semua dokumen yang ada di hadapannya. Tetapi gerakannya terhenti pada selembar dokumen penting yang harus dikirim pagi ini. Mata Iva tertuju pada kolom tanda tangan bertuliskan nama Enzi. “Apa dia sudah datang?” tanya Iva pada dirinya sendiri. “Sepertinya belum,” jawabnya sendiri. Mata Iva melirik ke jam yang menempel di dinding. Kemudian berpindah lagi melirik lembaran dokumen yang harus segera dikirimkan pagi itu. “Huufff ….” Iva menghela nafas kemudian beranjak dari tempatnya dengan membawa dokumen tersebut di tangannya. Kakinya melangkah ke luar ruangan menuju pintu ruangan Enzi. Iva hanya berharap pemuda itu sudah berada di tempatnya. Jika belum ada, maka Iva akan menunggunya sebentar di dalam ruangan Enzi. Dahi gadis yang berjalan dengan anggun dan penuh wibawa itu berkernyit saat menemukan kursi yang masih kosong di depan pintu ruangan Enzi. “Bukankah seharusnya Rachel sudah tiba? Enak sekali menjadi sekretaris kesayangan CEO, bisa datang terlambat dari yang seharusnya,” sindir Iva pada Rachel yang belum berada di tempatnya. Iva membuka pintu ruangan Enzi dan masuk ke dalamnya tanpa memerlukan izin dari siapa pun. Kemudian Iva menarik kursi yang berada di depan meja kerja Enzi lalu duduk di sana. Punggungnya di sandarkan pada sandaran kursi, dan kini Iva membaca ulang dokumen yang dia bawa tadi. Tak lama kemudian terdengar suara pintu ruangan Enzi terbuka. Dengan segera Iva menolehkan kepalanya ke arah pintu dan menemukan Enzi yang masuk ke dalam ruangan sambil merangkul mesra sekretarisnya. Enzi tampak mengecup kepala Rachel dan membuat Rachel tersenyum senang. Rachel balas mendaratkan kecupan di pipi Enzi sehingga tercetak bekas lipstik Rachel di sana. Alis kiri Iva sedikit naik ke atas. Dia pun menghela nafas nafas. “Ehem!” deham Iva menyadarkan mereka berdua jika Iva sudah berada di dalam ruangan tersebut. Tubuh Rahel mendadak kaku saat melihat Iva yang sudah duduk manis di kursi menatap mereka dengan sinis. “I-ibu Iva? Selamat pagi, Bu,” sapa Rachel yang tampak gugup. “Pagi,” balas Iva singkat. Tersungging senyum miring di wajah Enzi. Namun, bukannya melepaskan tangannya yang merangkul Rachel, Enzi malah semakin menarik tubuh Rachel agar semakin merapat padanya. Kedua bola mata Rachel membulat, tetapi dia tidak berani melepaskan rangkulan Enzi. Lebih tepatnya tidak mau. “Tumben sekali kamu sudah berada di ruangan saya, Iva. Ada keperluan mendadak apa ini?” tanya Enzi. Iva bangkit berdiri dari kursinya. Menghadapkan badannya ke arah Enzi dan Rachel dan menyodorkan dokumen yang dibawanya. “Saya ingin anda segera menandatagani dokumen ini. Karena pagi ini sudah harus dikirimkan ke yang bersangkutan,” jawab Iva. “Apa yang akan kamu berikan jika saya mau menandatangani dokumen itu?” tanya Enzi dengan tatapan kedua matanya yang menggoda. Mendadak dahi Iva berkernyit. “Maksud anda?” Iva menanyakan maksud dari ucapan Enzi. “Huh,” dengkus Enzi. Kemudian Enzi menghadapkan tubuh Rachel padanya. Menarik dagu Rachel dan mendaratkan kecupan di bibir Rachel. Kecupan tersebut mendapat sambutan yang baik dari Rachel. Sontak Iva langsung memejamkan kedua matanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Seperinya mereka melupakan jika masih ada Iva di dalam ruangan tersebut. Sial! Berani sekali mereka melakukan itu di hadapanku, decak Iva di dalam hatinya. “Bekerjalah dengan baik, dan kita akan melanjutkannya pulang kerja nanti,” bisik Enzi setelah menyudahi kecupannya. Rachel tampak membawa tangannya menyentuh bibirnya yang kini tersenyum senang. Sekretaris itu pun kemudian mengangguk dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dia harus memoles kembali lipstick di bibirnya yang terhapus karena kecupannya dengan Enzi barusan. Ibu jari tangan kanan Enzi kini membelai bibir bagian bawahnya saat kakinya melangkah mendekati Iva. Melihat Iva yang memalingkan wajahnya membuat hatinya tergelitik senang. “Apa yang kamu lihat di sana? Cicak yang merayap di dinding?” goda Enzi. Iva pun menjawab, “Cicak di dinding masih lebih layak untuk kupandangi daripada kelaukan kalian berdua.” “Hahaha … bilang saja kamu iri dan juga ingin menikmati bibirku ini.” Enzi tertawa menanggapi jawaban Iva tadi. Kemudian pemuda itu duduk di kursinya yang besar dan empuk. Begitu juga dengan Iva yang kembali duduk di kursinya tadi. “Mana dokumen yang harus ditandatangani?” Enzi mengulurkan tangannya ke hadapan Iva. Dokumen yang dimaksud pun diberikan pada Enzi. Tanpa membacanya terlebih dahulu Enzi langsung mengambil pulpen dan menandatanganinya. Setelah itu dokumen tersebut dikembalikan pada Iva. “Kamu seharusnya membacanya terlebih dahulu sebelum menandatanganinya,” tegur Iva “Aku tidak perlu membacanya lagi jika kamu sendiri yang meminta tanda tangan,” sahut Enzi. “Kenapa begitu?” tanya Iva yang sedikit bingung. Enzi meletakkan pulpen yang digunakannya tadi. Kemudian dia melipat kedua tangannya di atas meja dan membawa tubuhnya sedikit maju dan menempel ke meja. “Iva, apa kamu tahu jika kamu sudah menjadi ujung tombak dan salah satu orang kepercayaan perusahaan ini? Jadi semua dokumen yang sudah melewati pemeriksaanmu pastinya tidak akan merugikan aku dan perusahaan ini. Kamu pasti sudah memeriksanya terlebih dahulu dan meminta revisi pada staf yang bersangkutan jika memang menemukan kesalahan,” jelas Enzi. Kalimat yang baru saja diucapkan Enzi membuat Iva terdiam. Ujung tombak? Sejak kapan? Tetapi jika orang kepercayaan Iva tidak memungkirinya. Bahkan Ibu Anne saja sudah sangat mempercayai Iva untuk mengemban tugas rahasia yang diberikannya. “Kenapa sekarang kamu bengong? Bukannya dokumen itu harus segera dikirim pagi ini?” Teguran Enzi menyadarkan Iva akan hal tersebut. Iva pun berdiri dan sedikit menundukkan tubuhnya sebagai tanda hormat sebelum melangkah ke luar ruangan Enzi. “Nanti sore, sepulang kerja, ikutlah bersamaku,” ucap Enzi membeikan ajakan pada Iva. Namun, Iva tak langsung terbawa perasaan. “Anda bicara pada saya? Bukankah nanti sore anda ada janji dengan sekretaris anda?” tanyanya seperti sedang menyindir Enzi. “Jika kamu menerima ajakanku, maka nanti sore aku akan menjadi milikmu sepenuhnya,” jawab Enzi. Iva menyunggingkan senyum simpul kemudian berkata, “Sayangnya nanti sore saya ada janji dengan klien. Hmm … mungkin walau tidak ada janji sekalipun saya juga tidak tertarik dengan ajakan anda. Saya permisi.” Tangan kanan Enzi terkepal menahan kesal karena perkataan Iva barusan. Matanya memincing tajam memperhatikan Iva yang melangkah melewati pintu ruangannya. “Cih! Sial! Susah sekali untuk mendapatkanmu, Iva,” geram Enzi. Sesaat setelah Iva keluar dari ruangannya, Rachel mendampingi seorang wanita paruh baya bersama seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan tersebut. “Permisi, Pak. Ibu Anne datang ingin bertemu dengan Pak Enzi,” ucap Rachel yang kemudian membungkukkan badannya mempersilahkan Ibu Anne masuk. Rachel sendiri sudah mengetahui siapa itu Ibu Anne. Dia sangat menghormati founder perusahaan tempatnya bekerja. Aura Ibu Anne yang sangat berwibawa membuat Rachel tidak berani menatap wajah wanita tersebut. “Tinggalkan saya berdua saja dengan putra saya, kamu silahkan tunggu saya di luar,” titah Ibu Anne pada wanita yang datang bersamanya. Wanita yang diketahui adalah sekretaris Ibu Anne mengangguk hormat lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti oleh Rachel. Pintu ruangan tersebut juga ditutup rapat agar perbincangan ibu dan anak tersebut tidak terdengar nantinya. “Kamu tidak mempersilahkan Mama duduk, Enzi?” tegur Ibu Anne. Enzi menghela nafas sejenak, lalu dia berdiri dan berjalan ke arah kursi yang ada di seberang mejanya. Kemudian Enzi menarik kursi tersebut. “Silahkan duduk, Ma,” katanya mempersilahkan Ibu Anne untuk duduk. Senyum di wajah Ibu Anne tersungging setelah melihat sikap sopan yang ditunjukkan oleh sang putra. Dia duduk di kursi yang ditarik oleh Enzi barusan, lalu meletakkan tas miliknya yang terbuat dari kulit buaya dari brand ternama di atas meja. Setelah memastikan mamanya sudah duduk dengan nyaman di kursi, barulah Enzi kembali ke kursinya. “Ada keperluan apa Mama datang ke sini?” tanya Enzi. “Tadi Mama berpapasan dengan Iva di depan ruangan kamu. Ada keperluan apa dia ke sini?” Bukannya menjawab pertanyaan Enzi, Ibu Anne malah bertanya padanya. Enzi menjawab dengan sinis, “Sudah pasti keperluan pekerjaan. Dia meminta tanda tangan karena ada dokumen yang harus segera dikirim.” “Iva yang meminta tanda tangannya? Kenapa bukan sekretarismu saja?” Ibu Anne balas menanggapi Enzi dengan sinis. “Sudahlah, tidak perlu kita bahas lagi,” geram Enzi. Kemudian Ibu Anne menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Melipat kedua tangannya di bawah dadanya. Melemparkan tatapan sinis ke arah putranya tersebut. “Mama datang ke sini ingin membicarakan pertunanganmu dengan Bella. Mama tidak mau ada penentangan darimu. Kamu harus bersedia bertunangan dan menikahinya,” tegas Ibu Anne. “Hanya itu saja keperluan Mama datang ke sini? Mama tidak mau menanyakan bagaimana kondisi perusahaan sekarang ini? Bagaimana perkembangan perusahaan dibawah kepemimpinanku?” Enzi memberondong mamanya itu dengan berbagai pertanyaan menyindir. Ibu Anne kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya. “Kalau itu, tanpa perlu Mama tanyakan juga Mama sudah mendapatkan jawabannya. Jangan lupa jika Mama punya beberapa orang kepercayaan di dalam perusahaan ini yang akan melaporkan tentang segala hal yang menyangkut perusahaan beserta orang-orang di dalamnya,” jawab wanita paruh baya tersebut dengan dingin. Ya, Enzi tentu tidak akan pernah lupa dengan hal tersebut. Mamanya mempunyai kendali besar dalam perusahaan, dan mempunyai beberapa orang yang sangat dia percaya. Enzi hanya ingin wanita paruh baya yang kini duduk di hadapannya itu sedikit lebih memperlakukan Enzi seperti seorang anak. Bukan seperti boneka yang ada di bawah kendalinya. “Dua minggu dari sekarang Bella akan pulang ke Indonesia. Kamu harus mempersiapkan diri kamu untuk bertemu dengan keluarganya dan membicarakan tanggal pertunangan kalian lebih lanjut,” desak Ibu Anne. “Apa aku boleh menolaknya?” tanya Enzi. Ibu Anne yang tadinya bersandar kini memajukan tubuhnya mendekat ke meja. “Tentu kamu tidak boleh menolak keinginan Mama,” jawabnya sambil tersenyum. “Kalau begitu Mama tak perlu mengajakku. Cukup tentukan tanggalnya sendiri dan aku akan hadir dalam acara pertunangan dan pernikahan nanti,” ketus Enzi. Ibu Anne kemudian berdiri dan mengambil tas yang dia letakkan di atas meja. “Mama tidak ingin mendengar apapun lagi. Persiapkan diri kamu untuk ikut bertemu dengan keluarga Bella. Mama tidak mau jika kamu sampai tidak hadir dalam pertemuan keluarga nanti,” tegas Ibu Anne. Inginnya Enzi berteriak untuk meluapkan emosi yang sudah tertahan. Tetapi Dia tidak pernah berani melakukan itu pada mamanya. Karena kendali yang mamanya miliki sangatlah besar. Hal itu juga pasti akan mencelakakan dirinya di kemudian hari jika menunjukkan sikap tidak hormat di depan mamanya. Setelah keluar dari ruangan Enzi, Ibu Anne mengajak sekretarisnya menuju ke ruangan Iva. Diketuk pintu ruangan Iva tiga kali lalu terdengar suara Iva dari dalam yang mempersilahkan mereka masuk. “Selamat pagi, Iva. Tadi kita berpapasan di depan ruangan Enzi,” kata Ibu Anne saat melangkah masuk ke ruangan Iva. Melihat Ibu Anne masuk dan berjalan mendekat ke meja Iva, dengan cepat Iva berdiri untuk menyambut wanita tersebut. “Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk,” sambut Iva yang kemudian mempersilahkan Ibu Anne duduk. “Saya tidak akan berlama-lama di sini,” kata Ibu Anne saat meletakkan bokkongnya di kursi. “ Saya hanya ingin menanyakan bagaimana dengan tugas yang saya berikan pada kamu. Apa ada hal yang ingin kamu laporkan pada saya?” lanjut Ibu Anne bertanya. Iva yang juga sudah kembali duduk di kursinya kini mengernyitkan dahinya. “Laporkan?” “Iya. Apa Enzi masih sering bergonta-ganti pasangan? Apa kamu bisa memastikan Enzi tidak menghamili salah satu dari wanita yang pernah menjadi pasangannya?” Ibu Anne ingin mendapat kepastian. “Ka-kalau itu … saya bisa pastikan jika tidak akan ada hal yang seperti itu,” jawab Iva. Iva sendiri pernah mencari tahu jika Enzi tidak akan melakukan apapun tanpa pengaman. Jadi dia bisa yakin jika tidak aka nada wanita yang hamil dan meminta pertanggungjawabannya pada Enzi. Kepala Ibu Anne tampak mengangguk. “Bagus kalau begitu. Tetapi saya ingin memastikan jika kamu sendiri tidak menaruh perasaan pada putra saya.” Untuk sepersekian detik raut wajah Iva sempat terkejut dengan ucapan Ibu Anne. Tetapi Iva pandai menyembunyikannya lagi dan tidak menunjukkan sikap yang membuat Ibu Anne curiga. “Saya tahu jika kamu pernah menghampiri Enzi di hotel. Saya harap kamu hanya membawakannya makanan tanpa melakukan apapun dengannya. Saya tidak mau jika kamu mengkhianati saya, Iva,” ungkap Ibu Anne dengan tatapan matanya yang sangat tajam seperti akan menguliti Iva hidup-hidup. Iva mengangguk dan berkata, “Baik, Bu.” “Bagus. Kamu masih menjadi orang kepercayaan saya untuk memastikan jika Enzi tidak akan dimiliki oleh wanita mana pun sampai pernikahannya dengan Bella berlangsung,” ucap Ibu Anne. Wanita paruh baya itu kemudian bangkit dan melangkah keluar dari ruangan Iva. Setelah wanita paruh baya itu sudah tidak berada di dalam ruangan, Iva bisa menghela nafas lega. Aura Ibu Anne benar-benar seperti memberikan tekanan padanya. Sangat menakutkan. Membuat nafasnya tercekat. Tiba-tiba terdengar ponsel Iva berdering. Diliriknya ponsel miliknya yang berada di samping laptop. Terlihat sebuah pesan masuk dari Enzi. Enzi : [Temani aku sepulang kerja. Jangan menolak. Ini perintahku sebagai kekasihmu.] Apakah Iva akan menuruti perintah Enzi untuk bertemu dengannya? Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD