Chapter 11 - Layaknya Sebuah Boneka

1468 Words
Iva berdiri tegak di depan lobi hotel menunggu taksi yang dipesannya datang. Angin malam saat itu bertiup cukup kencang sehingga Iva harus menahan rambutnya agar tidak berterbangan. Matanya menatap ke arah langit. Gelap, dan tak ada bintang-bintang. Entah mendung, atau memang karena kecerahan langit malam sudah tertutup oleh polusi kendaraan di ibu kota Jakarta. Dari arah kanan sebuah mobil yang sangat familiar melintas dan berhenti di lobi hotel tepat di hadapan Iva. Kaca jendela mobil sebelah kiri bagian depan diturunkan perlahan. Seorang lelaki di dalam sana menolehkan kepalanya pada Iva. "Jemputanmu masih lama kan? Mau aku antar?" tanya Enzi, lelaki yang mengendarai mobil tersebut. Iva menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak usah, terima kasih. Taksi yang aku pesan sebentar lagi sampai." "Kamu menolakku? Baiklah." Kaca jendela mobil dinaikan kembali. Kemudian Enzi menginjak gas di kaki kanannya sedikit dalam, lalu melepaskan kopling di kaki kirinya sehingga ban mobil Enzi berdecit saat mobilnya meninggalkan lobi. Mobil Enzi menghilang dari pandangan Iva dalam sekejap. Gadis itu menghela nafas kecewa dengan sikap Enzi barusan, tetapi dia tetap memasang raut wajah datar untuk menutupi perasaannya itu. "Ingat semua poin perjanjian yang sudah kamu tandatangani, Iva," gumam Iva seorang diri. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna silver berhenti di lobi. Dari plat nomor yang terpasang itu adalah taksi online yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Iva. Tanpa membuang waktu lebih lama Iva bergegas menaiki mobil tersebut agar dia bisa segera diantarkan sampai rumah. Di dalam perjalanan Iva lebih banyak melamun dan mengingat kembali ke masa dimana ia bertemu dengan Ibu Anne, ibu dari Enzi Cavero. - Beberapa tahun yang lalu - "Permisi, Bu. Ibu mencari saya?" tanya Iva yang tampak sangat muda dan polos. Rambut panjangnya diikat satu seperti ekor kuda. Dia memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok berwarna hitam seperti karyawan magang. Pada saat itu Iva memang baru direkrut oleh Enzi dan langsung menempati posisi yang sangat penting dalam perusahaan. Hal tersebut tentunya membuat Ibu Anne selaku pendiri perusahaan menjadi penasaran dengan gadis bernama Iva, yang ternyata digadang-gadang oleh Enzi akan menjadi kuda hitam dalam perusahaan nantinya. "Kamu yang bernama Iva Kalila?" balik Ibu Anne bertanya. Iva menjawab dengan cepat, "Betul, Bu. Saya Iva Kalila." Diperhatikannya Iva dengan seksama oleh Ibu Anne. Wajah polos Iva yang tampak biasa saja dan tidak menarik untuk Ibu Anne, juga penampilannya yang tidak elegan dan menunjukkan jika dia atau mungkin keluarganya bukanlah dari kalangan atas seperti dirinya. "Boleh saya lihat curriculum vitae yang kamu lampirkan?" Tangan wanita itu menengadah ke arah Iva. Menginginkan segera yang dia minta. Dikeluarkan sebuah map berwarna coklat dari dalam tas milik Iva. Kemudian map tersebut diberikan ke atas telapak tangan Ibu Anne. Bahkan cara Ibu Anne menerima dan membawa map tersebut pada dirinya terlihat sangat anggun. Dibacanya halaman demi halaman isi berkas yang dikeluarkan dari dalam map coklat tersebut. Nilai yang tertera dalam ijazah Iva bisa dibilang sangat sempurna. Lalu dalam curriculum vitae yang ditulis Iva, bisa dilihat jika dia sudah sangat berpengalaman di usianya yang masih terbilang muda. "Pantas saja Enzi merekomendasikan kamu menempati posisi penting dalam perusahaan ini," celetuk Ibu Anne. Kedua alis Iva naik secara bersamaan. "Merekomendasikan? Maksud Ibu?" tanyanya karena kurang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ibu Anne. "Tidak apa-apa," jawab Ibu Anne cepat seraya meletakkan berkas milik Iva tadi ke atas meja. "Saya ingin menawarkan kamu sesuatu, saya harap kamu mau menyetujuinya. Saya akan memberikan bonus jika kamu bisa menjalankan yang saya tawarkan itu dengan baik. Bagaimana? Kamu tertarik?" Ibu Anne memberikan penawaran. "Kalau boleh tahu tawaran apa yang Ibu maksud?" Iva penasaran. Ibu Anne menyunggingkan senyum simpul di wajahnya yang masih sangat cantik untuk wanita seusianya. Tangan kanan Ibu Anne menarik laci mejanya, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam sana. Dokumen tersebut kemudian diletakkan di atas meja, dan didorong ke hadapan Iva. "Silahkan kamu baca terlebih dahulu. Jika ada yang tidak kamu mengerti, kamu boleh tanyakan pada saya," titah Ibu Anne. Dengan sedikit kebingungan dalam diri Iva, dia pun menarik dokumen yang diberikan oleh Ibu Anne tadi. Dibacanya dengan sangat hati-hati setiap poin yang tertulis di sana. Mata Iva membesar saat membaca dokumen tersebut. Dia sangat tidak menyangka jika Ibu Anne akan meminta Iva melakukan semua itu, dan tidak segan-segan memberikan bonus besar pada Iva jika berhasil menjalankan semua yang tertulis dalam dokumen tersebut. "I-ini …," Iva terbata dan tak sanggup melanjutkan ucapannya. "Cukup mudah bukan? Hal yang paling penting yang termasuk dalam poin perjanjian di sana adalah, kamu tidak boleh jatuh cinta pada putra saya. Kamu harus menjaga putra saya agar tidak mencintai wanita lain, karena jodohnya sudah ditentukan." Ibu Anne menegaskan kembali poin penting yang tertulis dalam dokumen yang masih dipegang oleh Iva. "Ta-tapi saya … nggak tahu apa bisa menjalankan semua ini." Dikembalikan dokumen tadi pada Ibu Anne. "Jika Enzi bisa merekomendasikan kamu menempati posisi penting dalam perusahaan ini, maka saya akan sangat mempercayai kamu bisa menjalankan perintah saya tersebut," ucap Ibu Anne dengan penuh keyakinan. Iva masih terdiam. Otaknya berpikir dengan keras apakah dia harus menyetujui permintaan Ibu Anne atau tidak. "Bagaimana kalau saya menolak?" tanya Iva ragu-ragu. Tanpa beban Ibu Anne menjawab, "Jika kamu menolak maka kamu silahkan keluar dari perusahaan ini, dan bisa dipastikan jika kamu tidak akan diterima di perusahaan manapun setelahnya." "Apa???" Iva tampak tak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Kemudian Ibu Anne memberikan sebuah pulpen ke hadapan Iva. "Tidak ada pilihan lain lagi selain kamu menandatanganinya 'kan?" Nada bicara wanita itu seperti menyudutkan Iva. Benar, tak ada pilihan lain lagi selain menandatanganinya. Iva masih menginginkan masa depan yang cerah. Jika dia tidak mengikuti kemauan Ibu Anne, dia tidak akan bisa mengejar karir yang bagus lagi di luar sana. Karena semua perusahaan akan menolak Iva saat melamar pekerjaan di perusahaan manapun di luar sana. Kendali wanita di hadapan Iva tersebut benar-benar sangat besar dan berpengaruh. Tangan Iva sedikit gemetar saat menandatangani dokumen tersebut. Setelah itu Ibu Anne mengulurkan tangannya ke arah Iva. Mata Iva menatap wajah Ibu Anne dan uluran tangannya secara bergantian. Barulah kemudian dia menyambut uluran tangan tersebut, menjabatnya penuh ketakutan. "Terima kasih telah menyetujuinya," ucap Ibu Anne. "I-iya," balas Iva terbata. TIIINNN!! Suara klakson yang dibunyikan oleh taksi yang ditumpangi Iva menyadarkannya kembali dari lamunan yang menenggelamkannya sepanjang jalan tadi. "Maaf, Mbak. Mobil di depan tadi ngerem mendadak," kata supir taksi online yang mengantar Iva. "Nggak apa-apa, Pak. Tapi nggak ada masalah 'kan di depan?" tanya Iva memastikan sambil melempar pandangannya ke luar dari kaca mobil bagian depan. "Nggak kok, Mbak. Nggak ada masalah apa-apa. Cuma tadi mobil di depan ngerem mendadak saja. Kita lanjut jalan lagi ya, Mbak," jelas supir tersebut. Mobil tersebut kembali berjalan melewati mobil di depannya yang tadi berhenti secara tiba-tiba. Iva menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dalam mobil, melepaskan sejenak semua beban yang memenuhi hati dan pikirannya. Sementara di sebuah rumah mewah, Enzi baru saja menginjakkan kakinya pulang ke rumah tersebut. Seperti biasa dia disambut oleh beberapa pelayan yang langsung membantunya membawakan tas dan menawarinya makan malam. Namun, perut Enzi sudah terisi penuh oleh makanan yang Iva bawa tadi di hotel. Dia memilih untuk langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar. "Enzi Cavero, berhenti sebentar!" seru seorang wanita paruh baya yang sangat tidak ingin ditemui oleh Enzi saat ini. Langkah Enzi langsung terhenti di anak tangga pertama dari bawah. Tubuhnya kemudian berbalik ke arah suara. "Ada apa?" tanya pemuda itu pada ibunya. "Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu. Kita ke ruang tengah dulu untuk membicarakannya," pinta Ibu Anne. "Aku capek, dan ingin langsung istirahat. Kita bisa bicara besok, Ma." Enzi memutar kembali tubuhnya dan menaiki anak tangga. "Kalau kamu tidak mau berbicara sekarang, maka rencana tanggal pertunangan dan juga pernikahanmu dengan Bella akan Mama tentukan sendiri!" Ibu Anne berseru lantang. Enzi sempat menghentikan langkah kakinya untuk beberapa detik, tetapi kemudian dia melanjutkan kembali langkahnya. "Enzi! Kamu mengabaikan Mama? Baiklah jika mau kamu begitu. Pertunangan kalian akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari tiga bulan. Lalu pernikahan kalian akan dilangsungkan tidak lama setelahnya. Bella akan pulang ke Indonesia, dan kalian akan langsung menggelar pesta pertunangan kalian!" Suara Ibu Anne yang lantang menggema ke seluruh ruangan. Namun, Enzi tetap tidak mau mengindahkan ibunya. Baginya percuma saja mengutarakan protes atau penolakannya pada ibunya itu. Karena sudah pasti ibunya itu akan terus menekan dan menggunakan segala cara agar Enzi mengabulkan keinginannya. Sesampainya di kamar Enzi langsung menutup pintu kamarnya dengan bantingan yang keras. Ibu Anne yang berada di bawah tangga pun bisa mendengarnya. "SIAL!" teriak Enzi di dalam kamarnya. Pemuda itu kemudian melepaskan jas yang dikenakannya lalu dilemparkan ke sembarang arah. Kemudian kakinya menendang angin dengan sangat gusar. "Kenapa aku terus saja diperlakukan seperti boneka oleh dia!" kata Enzi dengan lantang. Kemudian dia berlutut, lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai. Ternyata dia sudah sangat lelah selalu diperlakukan layaknya sebuah boneka yang selalu diatur oleh ibunya. Bahkan Enzi sendiri tidak bisa menentukan masa depannya, karena semua itu sudah ditentukan oleh Ibu Anne, ibunya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD