"Baiklah. Itu hal yang tidak mungkin 'kan," ucap Iva setelah menemukan jawabannya.
Wanita itu mengambil tas lalu melangkahkan kaki dengan anggunnya keluar ruangan.
"Jika memang menjadi pasangan hidupnya adalah hal yang tidak mungkin, jadi tak apa-apa 'kan jika aku sebentar saja menghabiskan waktu dengannya?" Iva menanyakan hal tersebut entah pada siapa. Tak ada orang lain di sekitarnya.
Semua staff yang melihat Iva langsung membungkukkan tubuh mereka memberi hormat. Ada juga beberapa di antara mereka yang menyapa Iva dan memberi salam. Mereka semua sangat menghormati Iva sebagai General Manager di perusahaan mereka.
Iva memasuki lift bersama beberapa orang staff lainnya. Mereka langsung bersikap tahu diri dengan memberikan ruang yang sedikit lebih luas pada Iva agar tidak merasa sempit. Mereka lebih memilih merapat ke dinding lift dan membiarkan Iva punya cukup ruang di tengah.
Saat pintu lift terbuka, mereka semua juga memberi jalan agar Iva bisa keluar lebih dulu. Sambil melangkahkan kakinya keluar Iva berucap, "Terima kasih ya." Kalimat singkat yang tentu membuat semua staff semakin menghormati Iva.
Iva memesan taksi online untuk mengantarkannya ke tempat dimana Enzi berada. Tak lupa Iva juga mampir sejenak di restoran cepat saji favorit Enzi untuk membelikannya makanan. Karena yakin jika saat Iva sampai di sana hari sudah menjelang malam, maka Iva membelikan Enzi beef burger dengan ukuran paling besar, kentang goreng juga dengan ukuran yang paling besar, dan minuman bersoda yang juga ukuran gelasnya paling besar. Untuk dirinya sendiri Iva memesan menu yang sama hanya saja dalam ukuran yang sedang.
Sesampainya di lobi hotel, Iva turun dari taksi online tadi dengan menenteng tas kertas berisi makanan. Penggunaan plastik di Indonesia sedang dikurangi, jadi kebanyakan restoran cepat saji menggantinya dengan tas dari bahan kertas atau bahan kain yang sedikit kasar.
Iva tidak lupa memberikan uang tip pada supir taksi online karena sudah mau diajak mampir membeli makanan terlebih dahulu.
Tanpa bertanya terlebih dahulu pada bagian resepsionis, Iva langsung melangkahkan kakinya menuju lift. Dia tidak perlu menanyakan dimana kamar Enzi saat ini, karena dia yang memesankannya dan dia sudah tahu dengan pasti dimana Enzi berada.
"Kamar 707," ucap Iva saat berdiri di depan pintu dengan angka yang tertera di pintu tersebut.
Di samping pintu terdapat sebuah bel. Iva menekan bel tersebut agar Enzi membukakan pintunya. Tak lama setelahnya pintu terbuka dari dalam.
"Hai, Iva sayang!" sapa Enzi saat pintu baru saja terbuka.
Iva mendengkus. "Apa tadi kamu bilang? Sayang? Telingaku sakit mendengarnya," balas Iva ketus.
"Masuklah. Perutku sudah lapar," pinta Enzi.
Ditatapnya dulu wajah Enzi dengan mata memincing. Iva takut jika di dalam nanti pria itu akan melakukan sesuatu pada dirinya. Namun, Enzi menyunggingkan senyum yang lembut pada gadis di depannya tanpa menunjukkan pemaksaan sama sekali.
Dilangkahkan kakinya memasuki kamar hotel dengan perlahan. Setelah masuk lebih dalam, Iva melihat sesuatu yang membuat dahinya mengernyit. Kondisi ranjang di dalam kamar tersebut sangatlah berantakan.
"Berantakan sekali," sindir Iva.
"Tempat tidurnya?" tanya Enzi dengan senyum simpul.
Iva menjawab dengan ketus, "Ya sudah pasti tempat tidurnya! Tak ada yang berantakan lagi selain itu."
Pria itu melangkah mendekati Iva dan langsung memeluk gadis itu dari belakang. Harum parfum bercampur keringat di tengkuk Iva membuat hasrat Enzi memuncak dengan cepat.
"Ini sudah bukan jam kerja, dan kita juga sedang berduaan. Bagaimana kalau kita buat tempat tidur itu semakin berantakan?" Enzi membisikkan ajakannya di telinga Iva.
Mata kecoklatan Iva melirik kembali ke arah ranjang yang berantakan. Jantungnya langsung berdegup cepat membayangkan dirinya melakukan sesuatu dengan Enzi. Kemudian Iva memejamkan matanya sesaat untuk mengusir semua pemikiran tadi.
Dilepaskan tangan Enzi yang melingkar di pinggangnya. Lalu diberikan tas kertas berisi makanan ke jemari Enzi.
"Makanlah, bukankah kamu sudah lapar?" Iva tersenyum simpul seraya menjauh dari pria tersebut.
Iva berjalan menghampiri dua buah kursi dengan meja kaca bundar yang berada di samping jendela. Dia menarik salah satu kursi tersebut dan duduk di sana. Enzi pun mengikutinya untuk duduk bersama di sana.
Pemandangan kota Jakarta di malam hari selalu dihiasi oleh cahaya-cahaya lampu dari setiap gedung. Tampak indah dan terang, hanya saja terasa sekali sangat kurang ruang hijau. Menikmati pemandangan di luar sana membuat degupan jantung Iva perlahan kembali normal.
"Ayo kita makan!" seru Enzi seraya mengeluarkan beef burger, kentang goreng dan juga minuman bersoda serta menyusunnya di atas meja.
Iva mengangguk. Perutnya juga sudah lapar. Mereka berdua menikmati makan malam mereka tanpa ada yang mengeluarkan suara sepatah kata pun. Hanya terdengar suara kertas pembungkus burger yang dibuka, dilipat, dan juga diremas setelah selesai menghabiskannya.
"Aku sudah kenyang, sekarang aku mau tidur," kata Enzi. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju ke tempat tidur.
"Kalau begitu, aku pamit pulang." Iva merapikan sampah sisa makanan terlebih dahulu dan dibuangnya ke tempat sampah yang disediakan di sudut ruangan.
"Aku permisi," pamit Iva.
"Mau kemana kamu? Temani aku di sini malam ini!" seru Enzi dalam posisi berbaring.
Kaki Iva berhenti melangkah, lalu dia menolehkan kepalanya ke belakang. "Kemana tunanganmu? Bukannya kalian ingin bermalam bersama?"
"Dia sudah kusuruh pulang," jawab Enzi. Kemudian pria itu mengubah posisinya jadi setengah berbaring. "Karena aku ingin menikmati malam yang indah bersamamu, Iva," sambungnya.
Bibir Iva terbungkam mendengar hal tersebut dari mulut Enzi. Ini memang bukan untuk yang pertama kali Enzi berkata demikian, tetapi ini pertama kali Enzi mengatakannya dengan lembut sambil setengah berbaring di ranjang. Seolah benar-benar menginginkan malam yang indah bersama Iva.
Kuatkan hatimu, Iva. Gadis itu menyemangati dirinya sendiri di dalam hati. Pertahanan hatinya tak boleh tergoyahkan oleh pesona si CEO playboy tersebut.
"Iva …," panggil Enzi dengan lirih sambil menepuk-nepuk ranjang. Memberi kode pada Iva agar segera menghampirinya.
Jantung Iva berdegup semakin cepat saat Enzi memanggil namanya seperti itu. Pria itu tampak tersenyum miring dengan kedua mata yang menatap lurus pada Iva. Tangan Enzi kembali menepuk-nepuk ranjang. "Kemari, Iva. Memangnya kamu tidak menginginkanku?"
Ah, sial. Kenapa pesona Enzi begitu kuat saat dia berada di ranjang, gumam Iva yang hampir goyah oleh pesona pria tersebut.
"Cepatlah, Iva. Jangan berlama-lama kamu berdiri di sana. Atau kamu mau aku yang menggendongmu ke sini?" Enzi menawarkan dirinya.
"Baiklah jika kamu memaksaku," sahut Iva. Gadis itu mengubah arah langkahnya mendekati ranjang.
Senyum Enzi semakin lebar saat Iva semakin mendekat padanya. Enzi mengubah posisinya lagi menjadi duduk di sisi ranjang untuk menyambut kekasih rahasianya itu. Saat Iva berdiri tepat di hadapannya, gadis itu menjatuhkan tasnya ke lantai.
"Nikmati aku sesuka hatimu, Iva," ucap Enzi dengan suara menggoda.
Tatapan Iva lurus dan dalam, membuat degupan jantung Enzi perlahan semakin cepat. Tidak seperti biasanya dia merasakan degupan berbeda seperti ini. Biasanya dia yang membuat jantung semua wanita seperti berkejaran, juga membuat mereka bertekuk lutut memohon sesuatu yang lebih padanya.
Tapi kali ini berbeda. Iva tidak bisa disamakan dengan semua wanita di luar sana. Iva mendapat label 'wanita spesial' dan sanggup menempati sudut hati Enzi.
Iva meletakkan tangannya di pipi Enzi. Membelai pipi pria itu dengan lembut. Lalu Iva menggerakkan tangannya naik mengusap rambut Enzi.
"Kamu menginginkan diriku?" tanya Iva dengan nada suara menggoda.
"Tentu. Aku sudah lama menginginkanmu," jawab Enzi.
Ya, dia sudah lama sekali menginginkan Iva untuk menyerahkan dirinya. Namun, Iva adalah gadis yang terlalu serius. Sehingga Enzi sangat sulit menarik perhatiannya sejak masa sekolah. Tanpa Iva ketahui, sebenarnya Enzi sudah jatuh hati pada gadis itu, dan sangat menginginkan gadis itu memberikan hatinya tanpa harus dipaksa.
Iva maju satu langkah hingga kini kakinya berada di sela kedua p*ha Enzi. Melihat gadis yang diinginkannya sudah berada tepat di depan mata, Enzi berinisiatif membuka semua kancing kemeja yang dipakainya. Jasnya sudah sedari tadi dia geletakkan di ujung ranjang.
Tubuh bagian atas Enzi sudah mengintip di balik kemeja yang sudah terbuka. Perut kota-kotak yang tampak atletis itu seolah memanggil Iva untuk menyentuhnya.
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Iva memalingkan wajahnya agar tidak lagi melihat tubuh atletis Enzi.
"Lihat aku, Iva. Apa aku masih kurang menarik untukmu?" tanya Enzi dengan raut wajahnya yang seperti memohon agar Iva segera menjamah tubuh Enzi.
Digelengkan cepat kepala Iva, lalu gadis itu melangkah mundur. Dia tidak mau melakukannya. Dia tidak boleh membiarkan perasaannya membludak. Dia harus memperkuat pertahanan di hatinya.
Iva berlari ke arah pintu, membukanya dan bergegas keluar kamar. Dia harus segera meninggalkan tempat tersebut, atau akal sehatnya akan menghilang.
"Cih! Wanita sialan! Apa aku masih tidak menarik di matanya???" decak Enzi kesal setelah Iva pergi dari hadapannya.
Enzi mengancingkan kembali kemejanya dengan hati yang bergemuruh kesal. Dia gagal lagi mendapatkan Iva ke dalam pelukannya. Dia pun berpikir, harus dengan cara apa lagi agar Iva mau bertekuk lutut di hadapannya.
"Cara kasar, salah. Cara lembut, masih juga dia menolakku. Apakah aku harus benar-benar bertindak lebih kasar dan tanpa ampun?" Enzi mulai memikirkan semuanya.
Setelah semua kancing kemeja sudah terpasang lagi, Enzi segera bangkit dan menyambar jas yang digeletakkannya dengan kasar. Dia juga bergegas keluar dari kamar hotel tersebut. Tak ada gunanya lagi dia berlama-lama di sana.