Chapter 9 - Fake Love

1515 Words
"Rachel, saya akan pergi bersama tunangan saya. Jadi jika ada yang mencari saya, suruh titipkan pesan saja padamu, atau kembali lagi besok," titah Enzi pada sang sekretaris. Kedua mata Rachel tidak berkedip setelah mendengar Enzi mengatakan jika wanita itu adalah tunangannya. Bahkan saat mata Rachel bergerak turun, dia melihat tangan Enzi melingkar di pinggul wanita yang tampak manja pada pemuda itu. "Rachel, kamu dengar saya 'kan?!" tegur Enzi dengan tegas karena sekretarisnya itu tak kunjung memberi jawaban. Rachel tersentak. "Ba-baik, Pak. Saya dengar," jawabnya kemudian. "Ayo, Sayang!" seru Enzi mengajak Bella pergi dari sana. Wanita bernama Bella itu juga melingkarkan tangannya di pinggang Enzi dengan manja. Membuat Rachel yang melihatnya jadi terbakar api cemburu. "Kita belanja dulu, baru setelah itu kita habiskan waktu bermalam di hotel bintang lima," kata Enzi. Bella melirikkan matanya pada sang kekasih. "Hotel bintang lima? Maksud kamu kita bermalam di sana?" tanyanya. Mereka menghentikan langkah kaki mereka, lalu Enzi memutar tubuh Bella agar menghadap ke dirinya. Didekatkan wajah Enzi ke telinga Bella. "Kamu nggak mau?" bisik pemuda itu dengan suara menggoda. Senyum di wajah Bella langsung tersungging. Dia menolehkan kepalanya sehingga kini dirinya dan Enzi saling bertatapan dengan jarak yang hanya beberapa inchi saja. "Kamu mau 'kan?" tanya Enzi lagi sambil menatap mata Bella dalam-dalam. "Aku mau," jawab Bella yang tergoda oleh ajakan Enzi. Disambar bibir Bella dan dilumatnya cepat. Enzi tidak memikirkan sedang berada dimana mereka. Semua pasang mata yang memperhatikan mereka juga hanya bisa menundukkan kepala atau berpura-pura tidak melihat. Karena yang sedang mencium seorang wanita cantik di depan lift tersebut adalah bos mereka. Jadi mereka tidak berani protes, atau mereka akan diberhentikan saat itu juga oleh Enzi. Hanya saja ada beberapa staff perempuan yang langsung berharap di dalam hati jika suatu saat mereka bisa merasakan kecupan panas dari CEO tampan mereka tersebut. "Kamu nggak takut dilihat orang lain?" tanya Bella saat Enzi menyudahi tindakannya. "Kenapa harus takut? Justru mereka yang harus takut padaku," jawab Enzi dengan angkuh. Kemudian Enzi menuntun tangan Bella dan mengajaknya masuk ke dalam lift. Saat pintu lift tertutup rapat, Enzi mendorong tubuh Bella agar menempel di dinding lift. Kembali didaratkan ciuman panasnya di bibir Bella. Satu tangan Enzi memegang tengkuk wanita tersebut, dan satunya lagi memeluk pinggangnya. Sementara kedua tangan Bella meraba d**a bidang Enzi. Hasrat yang sudah memuncak tidak memungkinkan Enzi untuk menahannya lagi. Bibir Bella dikecup, lalu dilumat, hingga Enzi mengajak lidah Bella menari di dalam sana. Bella menerima semuanya dengan pasrah. Bahkan wanita itu juga menikmati ciuman panas Enzi. Kekasih Bella itu ternyata sangat pandai berciuman. Kedua lutut Bella sampai lemas dibuatnya. Bella memindahkan tangannya dari d**a kini melingkar di leher Enzi. Ting! Suara dari lift berbunyi, menandakan jika mereka sudah sampai di lantai tujuan mereka. Dengan sangat terpaksa mereka harus menyudahi ciuman panas mereka. "Ayo kita keluar, mobilku sudah menunggu," bisik Enzi dengan tatapan menggoda. Bella mengangguk dengan kedua pipi yang sudah merona kemerahan. Mereka berdua keluar dari lift dan melangkah menuju ke tempat dimana mobil Enzi diparkirkan. Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil, ponsel Enzi berbunyi. Dilihatnya terlebih dahulu siapakah yang mengiriminya pesan. Ternyata Iva mengiriminya pesan singkat. Di dalam pesan tersebut Iva memberitahu Enzi jika sudah memesankan kamar di sebuah hotel sesuai dengan perintahnya. Enzi menyempatkan diri membalas pesan tersebut. Aku akan menunggumu di sana setelah jam pulang kerja, begitulah isi pesan yang Enzi kirimkan pada Iva. "Siapa yang kirim pesan?" tanya Bella penasaran. Dia sudah menghabiskan waktu sekitar satu menit untuk menunggu kekasihnya membalas pesan yang masuk. Enzi pun menjawab sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya. "Iva. Tadi aku menyuruhnya untuk pesankan kamar hotel, dan dia mengabarkan jika kamar hotelnya sudah dipesan." "Kalian berdua tampak dekat," celetuk Bella. Dari raut wajahnya dia tampak cemburu. Jangan panggil pemuda itu Enzi Cavero jika tidak bisa menyenangkan hati wanita yang bersamanya. "Kedekatanku dengan Iva hanya sekedar bos dan karyawannya saja. Tidak seperti kedekatanku dengan kamu, bahkan di hotel nanti kita akan semakin dekat hingga tak berjarak." Enzi mengambil beberapa helai rambut Bella lalu diciumnya dengan tatapan kedua matanya yang menggoda. Mendengar hal tersebut tentunya membuat jantung Bella berdegup kencang. Kedua pipinya semakin memerah. Wanita itu jadi tidak sabar untuk berduaan dengan tunangannya. Merasakan kegagahan tunangannya di atas ranjang. "Bagaimana kalau … kita ke hotel sekarang saja? Kamarnya juga sudah dipesan 'kan?" Tangan Bella mulai membelai dagu Enzi. Tatapannya balas menggoda pria itu. "As you wish, My Love," jawab Enzi menyetujui ajakan Bella. Sementara itu, Iva membaca pesan balasan Enzi dengan dahi berkerut. "Lelaki macam apa yang bisa mengatakan hal seperti itu saat sedang bersama dengan tunangannya!" geram Iva sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja. "Lagipula sepertinya nggak mungkin jika kencannya dengan Bella hanya sampai jam pulang kerja. Katanya Bella akan pergi ke luar negeri 'kan? Jadi sudah pasti Enzi akan menikmati keindahan tubuh indah Bella semalaman, bahkan mungkin sampai pagi tiba," gumam Iva seorang diri. Sesaat kemudian ponsel Iva berdering, seseorang yang sangat penting menghubunginya. Dia adalah seseorang yang menawarkan perjanjian pada Iva dengan balasan Iva akan memperoleh bonus yang sangat besar jika perjanjian itu berakhir. Iva juga akan mendapat kesempatan untuk memiliki sekitar lima belas persen saham CAVE Company, dan pastinya akan mendapat keuntungan setiap tahunnya. "Halo," ucap Iva saat menerima panggilan telepon tersebut. Iva mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh orang di seberang telepon sana. Iva juga tampak sesekali mengangguk seperti mengerti perkataan si penelepon. "Baik, Bu. Saya mengerti, dan saya akan pastikan jika Pak Enzi akan menetapkan pilihannya pada Bella," pungkas Iva yang kemudian mengakhiri teleponnya. Ditariknya napas dalam dan dihembuskannya dengan perlahan. Iva sadar jika dia harus mengesampingkan perasaannya untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh orang yang mana adalah ibu kandung Enzi sendiri. Iva sangat dipercaya olehnya untuk memantau Enzi. Namun, dibalik semua itu Iva juga sebenarnya memiliki perasaan pada Enzi. Iva sudah sangat lama mengenal Enzi. Mereka berdua sudah saling kenal sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Pada saat itu Enzi adalah siswa yang terkenal playboy tetapi mempunyai banyak idola. Bahkan semua siswi kala itu menunggu antriannya masing-masing untuk bisa ngedate dengan Enzi. Sampai-sampai Iva sempat memergoki Enzi yang hampir melakukan sesuatu dengan seorang siswi di ruang laboratorium. Hanya saja pada saat itu Iva lebih memilih melarikan diri dan berpura-pura tidak melihat apapun. *** Di dalam sebuah kamar hotel berbintang lima, Enzi dan Bella sudah tak lagi ditutupi sehelai pakaian pun. Bella berbaring menerima hujaman Enzi sambil mengerang pelan. Kedua tangan Bella dicengkeram oleh Enzi di samping kepalanya. Membiarkan tubuh atas Bella yang polos terlihat dengan jelas oleh mata Enzi. Enzi menginginkan yang lain, dia menarik tangan Bella agar segera bangkit dan mengarahkan Bella agar berada di atasnya. Posisi yang ternyata sudah dinantikan oleh wanita itu. Bella memompa tubuhnya di atas Enzi, membuat Enzi mengerang nikmat. Kedua tangan Enzi meremas sesuatu yang empuk dari bagian tubuh atas Bella. Menghadirkan kenikmatan yang lebih bagi keduanya. Mereka terus melakukan aktifitas panas tersebut sampai mereka mencapai klimaks. Kini Enzi dan Bella berbaring dan saling berhadapan dengan tubuh yang dimiringkan. Bella membelai wajah tampan Enzi, kemudian Enzi mengecup kening Bella. "Istirahatlah, nanti sore akan kubangunkan dan kuantar pulang," kata Enzi. Bella langsung mengernyitkan dahinya. "Pulang? Bukannya kita ingin bermalam di sini?" "Penerbanganmu besok pagi 'kan? Aku tidak mau tunanganku kelelahan untuk penerbangan besok." Enzi mencari alasan. "Tapi aku tidak masalah." "Jangan khawatir, aku akan mengunjungimu sesekali di sana. Karena aku rasa aku akan sangat merindukanmu." Enzi tidak boleh kalah. Dia harus segera mengantar Bella pulang sebelum Iva benar-benar datang. Kedatangan Iva memang belum bisa dipastikan, tetapi entah mengapa Enzi sangat berharap jika gadis itu menerima undangannya dan datang menemuinya di kamar hotel tersebut. Pada akhirnya Bella menuruti perkataan Enzi. Dia juga baru ingat jika dia belum merapikan kopernya sama sekali. Kemudian Bella menggerakkan kepalanya mendekat ke d**a Enzi. Dia memejamkan matanya setelah menghirup bau tubuh Enzi. Tidak sampai lima menit Bella sudah terlelap. Sepertinya dia sangat kelelahan dengan permainan panas Enzi. Di saat Bella tertidur, Enzi menuruni ranjang dan mengambil ponselnya dengan kondisi tubuh yang masih polos tanpa tertutup sehelai benang pun. Dia mengetikkan pesan lagi pada Iva, mengatakan jika dia meminta Iva membawakan makanan untuknya dari restoran cepat saji favoritnya. Enzi sengaja meminta Iva melakukan hal itu agar Iva datang menemuinya di hotel. Saat sore menjelang, Enzi dan Bella sudah berpakaian rapi lagi seperti sedia kala. Enzi kemudian mengantarkan Bella pulang ke rumahnya. Lalu dia melajukan mobilnya dengan cepat kembali ke hotel. Dia akan menunggu Iva di sana. Di kamar yang sebelumnya dia gunakan untuk melampiaskan hasratnya pada Bella. Mencintai Bella sepenuh hati? Tampaknya itu suatu hal mustahil bagi Enzi. Seorang Enzi Cavero tidak mungkin benar-benar mencintai seorang wanita. Reaksi Iva saat menerima pesan Enzi sama seperti sebelumnya. Dahinya langsung berkerut, tetapi kini tampak pipinya merona kemerahan. "Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus menuruti pria ini? Atau tetap pada pendirianku menuruti ibunya?" Kegalauan mulai menyelimuti hati Iva. Selama sepuluh menit Iva berdiam diri sambil menyandarkan punggungnya dan menatap ke langit-langit ruangannya. Dia sedang berpikir mana yang harus dia turuti. Perasaannya ataukah pekerjaannya? "Baiklah. Itu hal yang tidak mungkin 'kan," ucap Iva setelah menemukan jawabannya. Wanita itu mengambil tas lalu melangkahkan kaki dengan anggunnya keluar ruangan. Apa yang akan Iva lakukan kemudian?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD