Chapter 8 - Pembalasan

1431 Words
Hari Senin adalah hari yang sibuk bagi hampir setiap orang. Sama halnya dengan Iva dan Enzi. Mereka sudah kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka di hari Senin ini. Bedanya, Enzi hanya tinggal menerima, memeriksa dan menandatangani dokumen yang dikerjakan oleh karyawannya. Bahkan pekerjaannya tadi bisa dikerjakan oleh sekretarisnya, Rachel. "Pak, semua dokumen sudah saya periksa dan bisa langsung ditandatangani," kata Rachel seraya meletakkan tumpukan dokumen di meja kerja Enzi. Diraihnya pulpen yang juga tergeletak di atas meja tepat di samping tumpukan dokumen. Dibukanya map dokumen tersebut satu per satu, lalu dibubuhkan tanda tangan di tempat yang tersedia di setiap dokumen tersebut. "Apa ada jadwal meeting hari ini?" tanya Enzi pada sekretarisnya. Rachel pun menjawab, "Tidak ada, Pak." "Kalau begitu tolong sampaikan pada bu Iva jika saya ingin bicara padanya," titah Enzi. Rachel menganggukan satu kali lalu memutar badannya dan melangkah keluar ruangan. Dia berjalan menuju ke ruangan Iva. Tok … tok … tok …. Diketuk pintu ruangan Iva menunggu untuk dipersilahkan masuk. "Silahkan masuk!" seru Iva dari dalam ruangan. "Permisi, Bu Iva," ucap Rachel setelah pintu terbuka. Langkah kaki Rachel tampak anggun dengan pinggulnya yang bergoyang ke kiri dan kanan sesuai dengan irama kakinya. Rok yang digunakan oleh Rachel hari ini tampak lebih pendek dari biasanya. Membuat dahi Iva berkernyit saat wanita itu sudah berdiri di depan meja kerjanya. "Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Iva. Matanya menatap ke arah Rachel, tetapi jemarinya tidak beranjak dari keyboard laptopnya. "Permisi, Bu. Saya ingin menyampaikan jika Pak Enzi ingin bicara dengan Ibu." "Pak Enzi? Mau bicara tentang apa?" Iva penasaran. "Saya kurang tahu, saya hanya diminta untuk menyampaikan hal itu saja," jawab Rachel. Setelah itu tanpa pamit Rachel bergegas keluar dari ruangan Iva. Sepertinya sopan santun si sekretaris itu juga mulai berkurang sejak Enzi sering meminta si sekretaris itu untuk menemaninya. Namun, Iva tidak mau ambil pusing. Dia harus fokus bekerja tanpa melibatkan perasaannya. Iva menekan tombol CTRL lalu S di keyboard laptopnya untuk menyimpan file pekerjaannya. Kemudian barulah Iva bangkit dan berjalan keluar ruangan menuju ke ruangan Enzi. Sedikit jauh di depannya tampak Rachel berjalan dengan anggun seperti tadi. Tetapi jika dilihat dari belakang seperti ini kedua bokkong Rachel bergerak naik turun secara bergantian. Entah dia memang sengaja atau tidak berjalan seperti itu. Pastinya hal tersebut menjadi pemandangan yang kurang indah bagi wanita seperti Iva. "Apa bokkong yang besar seperti itu yang Enzi suka? Ah, sudahlah. Bukan urusanku," gumam Iva. Kemudian Rachel tampak sedikit merapikan penampilannya terlebih dahulu sebelum membuka pintu ruangan Enzi. Dia mengeluarkan botol spray kecil seperti parfum dari saku jas yang dikenakannya, lalu disemprotkan beberapa kali ke tubuhnya. Iva mendengkus pelan lalu bergumam, "Dasar! Sampai segitunya dia ingin menarik perhatian Enzi." Rachel pun membuka pintu ruangan Enzi. Melangkahkan kakinya masuk dengan senyuman menggoda tercetak di wajahnya. Di dalam ruangan tersebut Enzi sudah menyelesaikan tugasnya untuk menandatangani semua dokumen. "Sudah kamu sampaikan pada bu Iva?" tanya Enzi sesaat setelah Rachel masuk ke ruangannya. "Sudah, Pak. Ibu Iva sebentar lagi datang," jawab Rachel. Baru juga Rachel berkata demikian, Iva masuk ke dalam ruangan Enzi. "Permisi, sekretaris anda bilang jika anda ingin bicara dengan saya?" "Ya, benar," sahut Enzi cepat. Enzi melirik Rachel dan memberi kode dengan sedikit menggerakkan kepalanya agar sekretarisnya itu keluar dari ruangannya. Hatinya kecewa, tetapi Rachel menganggukkan kepalanya pelan. Dia mengambil semua dokumen yang sudah selesai ditandatangani oleh Enzi dan membawanya keluar ruangan. "Jangan lupa tutup pintunya!" seru Enzi pada Rachel. Dahi Iva langsung berkernyit saat dia meminta sekretarisnya untuk menutup pintu. "Memang kenapa kalau tidak ditutup?" tanyanya. "Nanti semua orang bisa melihat kita berduaan," jawab Enzi. Senyum pria itu sudah terpampang jelas di wajahnya. "Apa yang ingin anda bicarakan pada saya? Tentunya tentang pekerjaan 'kan?" Iva ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan Enzi. Namun, tiba-tiba Enzi tertawa kecil. Wajahnya menunduk dengan kedua tangannya saling menggenggam di atas meja. "Sebenarnya …," Enzi mengangkat wajahnya kembali. "Tidak ada yang ingin aku bicarakan," lanjutnya. "Aku hanya merindukan Iva-ku tersayang," tambahnya lagi. Iva berusaha tidak terbuai dengan ucapan Enzi. Dia tetap memasang raut wajah datar dan menatap lurus pada Enzi. "Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, saya pamit kembali ke ruangan saya," pamit Iva dengan dingin. Gadis itu berbalik dan hendak melangkah, tetapi Enzi langsung berseru menghentikan langkahnya. "Bagaimana tidurmu malam itu di villa? Pasti sangat nyenyak, sampai-sampai kamu tidak sadar jika aku sudah pergi dari sana." Kepala Iva menoleh pada Enzi. "Malam itu pasti kamu terlalu bersenang-senang sehingga lupa jika aku juga berada di sana," balas Iva. "Hmm … bisa jadi. Aku terlalu senang karena semua wanita itu benar-benar melayaniku, tidak seperti dirimu." Mata Enzi mendelik tajam pada gadis yang masih berdiri di depannya. "Kalau begitu, nikmati saja lagi malam-malam yang menyenangkan bersama mereka. Saya permisi," pamit Iva lagi kemudian. Tangan Enzi yang menyatu mulai mengerat mendengar ucapan Iva barusan. Tidak bisakah dia menunjukkan sedikit saja rasa cemburu di wajahnya itu? "Iva, kamu tahu? Tak akan ada lelaki yang tahan bersama denganmu jika kamu terus bersikap dingin seperti itu," celetuk Enzi saat Iva beberapa langkah lagi sampai ke pintu. Dipejamkan untuk sesaat matanya, lalu dia menghela nafas. Barulah kemudian Iva membalas ucapan Enzi. "Aku tidak butuh lelaki sama sekali jika memang seperti itu." "Cih! Kenapa kamu selalu jual mahal? Kamu bisa merayuku, bermanja padaku, maka akan kuberikan semua yang kamu minta!" geram Enzi. "Kenapa kamu tidak mencari wanita lain yang lebih jual murah dan mau melakukan hal itu hanya untuk uang?" Iva tak mau kalah. "Dasar kurang ajar! Kamu lupa siapa kamu? Kamu hanyalah wanita biasa yang memiliki jabatan di perusahaanku ini!" Bahkan kini Enzi menunjuk Iva dengan raut geram yang terpasang di wajahnya. "Saya memang wanita biasa, tidak seperti anda yang pemuda luar biasa tetapi memiliki jabatan karena orang tua anda!" balas Iva dengan lantang. Iva membuat Enzi naik pitam. Dia bangkit berdiri dan menatap Iva penuh kebencian. Alisnya saling bertautan dengan kedua mata yang berkilat. Hanya tinggal menunggu dua buah tanduk keluar di kepalanya. "IVA KALILA!" teriak Enzi. Namun, Iva menjawabnya dengan santai dan penuh wibawa. "Ya, Pak Enzi." "Beraninya kamu berkata seperti itu!" bentak Enzi. Iva menyunggingkan senyumnya. "Kenapa saya takut?" tantang Iva. "Kamu itu-" Tok … tok … tok …. "Permisi, Pak. Seorang wanita bernama Bella mencari Bapak." Rachel memotong kalimat Enzi dan memberitahu jika ada yang mencarinya. "Bella?" Alis kiri Enzi terangkat. Senyum di wajahnya juga mulai terkembang. "Suruh dia masuk," titah Enzi. Rachel pun mempersilahkan wanita bernama Bella masuk ke ruangan Enzi. Wanita yang bernama Bella itu tampak sangat cantik jika dilihat dari dekat. Rambut panjang bergelombangnya yang tergerai begitu saja tampak sangat indah dan menyempurnakan kecantikannya. Pipi tirus Bella yang dipoles sedikit blush on, dan juga bibir tipis berwarna merah bergradasi membuat kecantikannya tampak natural dan tidak berlebihan. "Hai, Sayang!" sapa Bella saat masuk ke ruangan Enzi. "Hai juga, Sayang!" Enzi membalas sapaan Bella. Tubuh langsing Bella mendekat pada Enzi. Lalu Bella membuka kedua tangannya untuk memeluk Enzi. "Kita kencan yuk, Sayang!" seru Bella sambil mendaratkan kecupan di pipi sang kekasih. "Boleh saja. Apa sih yang nggak buat kamu," jawab Enzi, tetapi dengan kedua mata mengerling pada Iva. Kepala Bella menoleh ke arah Iva. Kemudian wanita cantik itu tersenyum simpul pada Iva. Kedua tangan Bella melingkar di leher Enzi, dan semakin dieratkan setelah wanita itu merasa terancam dengan keberadaan Iva di sana. "Saya permisi," pamit Iva untuk yang kesekian kalinya. "Tunggu dulu, Iva!" seru Enzi menahan kepergian Iva. "Tolong siapkan hotel untuk kami bermalam. Besok Bella akan pergi untuk ke luar negeri, mengambil foto-foto yang indah di sana. Saya ingin malam ini menjadi malam yang spesial yang akan Bella rindukan," lanjut Enzi memberi perintah pada Iva. Di dalam hatinya Iva meracau, Memangnya aku sekretarismu! Berani sekali dia merendahkanku di depan tunangannya! Sayangnya kata-kata yang keluar dari mulut Iva adalah, "Baik, Pak. Saya akan menyiapkan semuanya." Enzi tertawa geli di dalam hatinya. Hahaha ... ini adalah balasan untukmu, karena kamu sudah berkata yang tidak sopan padaku. Sebelum Iva berbalik, Enzi dengan sigap menarik dagu Bella dan mencium bibir tunangannya itu di hadapan Iva. Hal tersebut tentu membuat Iva langsung memalingkan wajah dengan mata terpejam. Dia juga kemudian melangkah keluar tanpa berpamitan lagi. Saat Iva sudah sampai ke ruangannya kembali, Iva duduk di kursinya sambil memegangi dadanya yang sebelah kiri. d**a Iva terasa nyeri dan membuatnya ingin mengeluarkan air mata. Enzi, orang yang mengajaknya untuk menjadi kekasih, malah menyakiti hatinya dengan mencium wanita lain di hadapannya. "Dasar pria berengsek!" Iva berdecak kesal. Seharusnya Iva yang memberi pembalasan pada Enzi karena telah meninggalkannya di villa. Tetapi Iva malah menelan pil pahit karena dia sudah gagal melayangkan pembalasan. Dia malah harus melihat kemesraan Enzi dengan kekasih pilihan orang tuanya tersebut. Sanggupkah Iva terus menjadi kekasih rahasia Enzi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD