Chapter 7 - Bella?

1572 Words
Udara malam di Bandung yang dingin terasa menembus kulit. Enzi sudah mengganti pakaiannya dengan setelan jas dan dasi. Dia berdiri di hadapan cermin di salah satu kamar villa, menata rambutnya dengan gel. Setelah merasa yakin jika dirinya sudah rapi, dia mengambil ponsel di meja nakas di sudut kamar tersebut. Ibu jarinya dengan lincah melompat di layar ponselnya mengetikkan pesan pada seseorang. Pesan sudah terkirim, Enzi memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya. Lalu dia melirik lagi penampilannya di cermin sebelum melangkah keluar kamar. Dia menarik ujung jasnya satu kali dan mengangkat sedikit dagunya. Penampilannya selalu sempurna seperti biasanya. Kemudian pemuda itu keluar dari kamar dan melangkah dengan gagah menuju ke arah pintu. Iva yang kebetulan sedang duduk bersantai di kursi teras mendapati Enzi yang berpakaian sangat rapi. "Kamu mau kemana? Kok rapi sekali?" tanya Iva seraya bangkit dari kursi. Enzi menghentikan langkahnya di hadapan Iva dan menjawab, "Aku ada urusan sebentar malam ini. Kamu tunggu aku di villa ini ya." "Kamu ninggalin aku di villa sebesar ini sendirian? Kamu nggak khawatir aku diculik hantu?" Raut wajah Iva berubah ketakutan sambil mengedarkan pandangannya ke arah dalam. Enzi mendengkus dan tersenyum. "Kamu takut hantu, tapi nggak takut denganku?" "Kalau kamu tidak untuk ditakuti, tetapi untuk diwaspadai," balas Iva. Senyum Enzi menghilang dalam sekejap karena ucapan Iva. Dia kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan villa. Namun, Iva langsung menahannya dengan menarik lengan pemuda itu. "Kamu benar mau ninggalin aku sendirian? Aku ikut saja boleh ya," pinta Iva. "Sebentar, kenapa sikap kamu jadi manja seperti ini, Iva? Bukankah biasanya kamu selalu bersikap dingin dan ketus padaku?" Enzi menanyakan hal tersebut dengan alisnya yang bertautan. Tangannya langsung dilepaskan dari lengan Enzi. Iva juga langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Itu kan karena kamu akan ninggalin aku sendirian di villa besar ini," terangnya dengan raut wajah merengut. "Ya sudah, kalau begitu ganti pakaianmu dulu baru ikut denganku," titah Enzi. Iva langsung menundukkan kepalanya, melihat pakaian yang dikenakannya. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi. "Aku tidak bawa baju ganti sama sekali. Kamu 'kan tidak bilang jika kita akan menginap," celetuk Iva. Dia memang langsung dibawa Enzi tanpa pemberitahuan sebelumnya jika akan melewati malam di Bandung. "Kalau begitu kamu nggak usah ikut!" seru Enzi. "Aku ikut!" Iva tidak mau kalah. "Okay. Kamu ikut dan tunggu aku di mobil saja nanti," ujar Enzi. "Okay!" Iva tersenyum senang karena dia diperbolehkan ikut dengan Enzi. Baginya, daripada harus sendirian di villa besar tanpa penghuni lainnya, lebih baik dia menunggu Enzi di dalam mobil sampai urusannya selesai. Enzi dan Iva masuk ke dalam mobil, duduk dengan nyaman dan memasang sabuk pengamannya. Dinyalakan mesin mobil tersebut oleh Enzi. Tanpa menunggu lama Enzi menginjak gas di kakinya dan mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat. Akan ada sebuah perayaan di tempat tersebut nantinya. Selama perjalanan Iva sama sekali tidak bertanya akan kemanakah mereka pergi, atau urusan apa Enzi malam ini dengan pakaian rapi seperti itu. Bukan tidak penasaran, tetapi Iva menahan semua rasa penasarannya itu. Tidak semua hal yang menyangkut Enzi harus dia ketahui. Karena dia juga enggan untuk menceritakan segala hal pada pemuda itu ataupun pada orang lain. Iva mengusap kedua lengannya dengan tangan yang disilangkan. Semakin malam udara di Bandung terasa semakin dingin. Ditambah pendingin udara di mobil Enzi juga dihidupkan, membuat Iva harus menghangatkan dirinya dengan mengusapkan telapak tangan di lengannya. "Kamu kedinginan?" tanya Enzi. Ternyata dia menyadari hal tersebut. Iva menjawab, "Sedikit, karena aku tidak membawa sweater atau jaket sama sekali." Mobil yang mereka naiki berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Dengan sigap Enzi melepaskan jas yang dikenakannya lalu diberikan pada Iva. "Pakai ini," pinta Enzi saat memberikan jasnya. "Memangnya tidak apa-apa?" tanya Iva ragu. "Cepat pakai, tidak perlu banyak tanya!" ketus Enzi seraya meletakkan jas di pangkuan Iva. Iva menerima dan memakai jas Enzi dengan perasaan kesal. Di dalam benaknya, apakah pemuda itu tidak bisa jika tidak bersikap ketus terhadapnya. Setelah memakai jas yang diberikan Enzi, pandangan Iva dilempar keluar jendela karena tidak mau menatap pemuda yang selalu ketus dengannya itu. Sampailah mereka di sebuah restoran. Dari luar saja restoran tersebut tampak indah dengan lampu kecil berkerlap-kerlip menghiasi lantai dua restoran tersebut yang bergaya outdoor. "Tunggu aku di sini, aku nggak akan lama," pinta Enzi yang dijawab dengan sebuah anggukan kepala. Pemuda itu langsung keluar dari mobil, menutup kembali pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran. Mesin mobil dimatikan oleh Enzi, tetapi kuncinya tetap disangkutkan. Jadi Iva bisa membuka sedikit jendela mobil seperti celah kecil agar udara bisa masuk ke dalam. Iva juga menurunkan sandaran kursi sehingga dia bisa sedikit berbaring dengan nyaman. Setelah hampir dua jam Iva menunggu hingga mengantuk dengan perut kelaparan, akhirnya Enzi keluar dari restoran. Hanya saja pemuda itu tidak sendirian. Dia bersama orang tuanya, yang sudah pasti Iva kenal, dan juga seorang gadis cantik yang baru pertama kali dilihatnya. Gadis itu mengecup mesra pipi Enzi dan memberinya pelukan di hadapan kedua orang tua Enzi. Kemudian gadis itu mengikuti kedua orang tua Enzi menuju ke mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari mobil Enzi. "Apa dia yang jadi tunangan Enzi?" gumam Iva seorang diri. Dilihatnya Enzi melangkah mendekat ke mobilnya. Iva langsung menegakkan kembali sandaran kursinya sebelum Enzi masuk ke dalam mobil. Iva juga sedikit merapikan rambutnya agar tidak terlihat berantakan. "Maaf lama menunggu," kata Enzi setelah dia membuka pintu mobil. "Nggak masalah," jawab Iva. Pemuda itu pun duduk di kursinya, lalu memberikan sesuatu pada Iva. Sebuah kantung plastik berisi kotak makanan di dalamnya. "Untukmu, kamu pasti lapar," katanya tanpa mau melirik ke arah Iva. Iva menerima pemberian Enzi dengan senang hati sambil berucap, "Terima kasih ya …." Enzi bersiap mengemudikan mobilnya kembali ke villa. Sementara Iva bersiap menyantap makan malamnya di dalam mobil. Slurp! Iva menyeruput spaghetti hingga masuk semua ke dalam mulutnya. Saus spaghetti tampak tersisa di sudut mulutnya sehingga Iva harus menyempatkan diri menyeka sudut bibirnya dengan tissue. Begitu nikmat Iva menghabiskan spaghetti yang dibelikan oleh Enzi. "Terima kasih ya, Enzi. Aku memang sudah sangat lapar." Iva menolehkan kepalanya pada Enzi yang sedang fokus mengemudikan mobilnya dan tidak menjawab sama sekali. Sesampainya kembali di villa, Enzi mengajak Iva untuk berbincang sejenak di ruang tengah. Terdapat sofa besar dan juga LED TV lima puluh inch. "Iva, duduklah di sini, ada yang mau aku ceritakan." Ditepuk-tepuk tempat di sebelah Enzi meminta Iva agar duduk bersebelahan dengannya. Entah mengapa kali ini Iva menurut tanpa banyak bertanya. Gadis itu duduk, tetapi posisinya menyerong agar bisa menghadap ke arah Enzi. "Pejamkan matamu," pinta Enzi. "Mau apa kamu?" tanya Iva penuh curiga. Dengan entengnya Enzi menjawab, "Aku mau mencium bibirmu." Iva hendak bangkit dari duduknya, sayangnya Enzi lebih sigap menahan tangannya. Kemudian Enzi mendorong bahu Iva dan membaringkan tubuh gadis itu. Enzi menahan kedua tangan Iva di samping kepalanya. "Jangan pergi dulu, Iva. Tujuanku membawamu ke sini agar kamu bisa meredakan amarahku," lirih Enzi. Meredakan amarahnya? Apa maksudnya? Iva bertanya-tanya dalam hati. "Turuti saja perintahku, pejamkan matamu sekarang!" seru Enzi memberi perintah. "Tidak mau!" Iva menolak dengan lantang. Tersungging senyum miring di wajah Enzi. Dia tidak membutuhkan persetujuan dari Iva untuk bisa mencumbunya. Didaratkan ciuman dengan sedikit kasar di bibir manis Iva. Kemudian bibirnya turun menciumi leher Iva hingga meninggalkan tanda di sana. "Aku tidak mencintai Bella. Aku juga tidak menginginkannya. Aku hanya menginginkan kamu, Iva," racau Enzi sambil terus meninggalkan kiss mark di leher hingga kini semakin turun ke dadanya Iva. Bella? Siapa Bella? Iva terus bertanya-tanya di dalam hatinya. Namun, Enzi menghentikan semuanya dan menatap tajam Iva yang terbaring di antara kedua lengannya. "Bella tidak lebih menarik dari kamu, Iva. Sayangnya, kamu tidak terlalu menyenangkan seperti Bella. Bermanjalah sedikit padaku, Iva." Enzi mengatakan semua itu seperti sedang melontarkan sindirannya pada Iva. Gadis di bawahnya itu memang tidak mungkin bermanja pada seorang Enzi seperti wanita kebanyakan. Dia pun bukan pemuja pemuda itu. Namun, hal itu yang selalu membuat Enzi penasaran terhadapnya. Kedua tangan Iva dilepaskan, lalu Enzi bangkit dan berjalan meninggalkan Iva yang masih berbaring di tempatnya. Sambil berjalan Enzi menelepon seseorang untuk datang ke villa tersebut. Selang setengah jam kemudian, beberapa orang wanita dengan pakaian super minim datang ke villa. Mereka disambut dengan sangat baik oleh Enzi. Bahkan Enzi juga memberikan pelukan serta kecupan hangat pada masing-masing dari mereka. Enzi bersenang-senang dengan semua wanita tersebut. Meminum minuman beralkohol yang dibawa oleh wanita-wanita tersebut sambil menciumi dan tangannya bergerilya di tubuh semua wanita itu secara bergantian. Iva yang mengintip dari celah pintu kamar hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya. Bahkan nafas Iva semakin sesak saat melihat Enzi merangkul seorang wanita dan membawanya menuju kamar di seberang kamar yang Iva tempati. Dilihatnya tangan Enzi sempat meremas bokkong wanita itu sebelum menutup pintu kamarnya. Iva bisa memastikan jika Enzi melakukan aktifitas panas malam itu dengan wanita pilihannya tadi. Keesokan harinya saat Iva terbangun, semua wanita yang semalam sudah tidak terlihat lagi di villa tersebut. Bahkan Enzi juga sudah tidak berada di sana. Iva sampai mencari pemuda itu ke setiap ruangan yang ada di villa tersebut, tetapi batang hidung pemuda itu juga sudah tak terlihat. Iva berjalan cepat ke arah pintu keluar. Dilihatnya mobil Enzi juga sudah tidak terparkir di luar sana. "Sialan!" Iva berdecak kesal. "Berani sekali dia meninggalkan aku di sini!" sambungnya. Enzi sendiri kini sedang terkekeh dan tersenyum sumringah sambil mengemudikan mobilnya melintasi jalan tol ke arah Jakarta. "Itu akibatnya kalau kamu tidak bisa menyenangkan aku, Iva sayang!" seru Enzi. Bukankah Iva sudah menjadi kekasih Enzi walau secara sembunyi-sembunyi? Tetapi sikap Enzi benar-benar membuat Iva naik pitam kali ini. Iva akan membalas perbuatan Enzi di Jakarta nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD