Chapter 6 - Bandung

1315 Words
Iva masih meringkuk di kasurnya yang empuk. Semalam dia pulang sangat larut, dan dia masih sangat mengantuk untuk membuka kedua matanya. Tetapi dia sanggup untuk menarik selimutnya karena merasakan udara dingin dari pendingin ruangan yang menembus kulitnya. Ponselnya sengaja dimatikan sebelum dia tidur, karena Iva tak ingin tidur berkualitasnya terganggu. Hanya saja ada orang lain yang terus menerus berusaha menghubungi Iva hingga merasa geram, karena panggilannya tak kunjung tersambung. "Kemana sih wanita ini? Apa dia tidak tahu kalau aku membutuhkannya hari ini?" Enzi masih terus mencoba menghubungi Iva. Karena masih juga tidak tersambung, akhirnya Enzi nekat menghampiri Iva di rumahnya. Kebetulan Enzi mengetahui jika Iva tinggal seorang diri di rumahnya. Kedua orang tuanya tidak tinggal bersamanya, karena mereka berada di kota lain. Tak sampai hitungan jam Enzi sampai di rumah Iva. Rumah yang hanya mempunyai satu lantai dengan pekarangan yang dihiasi oleh tanaman tampak sangat indah dan asri. Enzi ingin membuka gerbang rumah Iva, akan tetapi gerbangnya masih digembok. "Kita tak perlu kunci jika bisa memanjat 'kan," katanya sambil mengendikkan bahu. Dia meyakinkan dirinya jika harus memanjat pagar rumah Iva. Pemuda itu mundur satu langkah, lalu kedua matanya mengukur ketinggian pagar rumah Iva. Kepalanya mengangguk, merasa lebih yakin jika dia akan memanjat pagar tersebut dengan mudah. Kemudian dia memegang besi di pagar, kakinya ditumpukan juga ke pagar dan dia berusaha memanjat pagar rumah tersebut. "Hop!" serunya saat melompat melewati pagar. "Ternyata lebih mudah dari yang aku bayangkan," sambungnya. Enzi melangkahkan kaki dengan sangat ringan ke arah pintu. Pintu rumahnya tentu saja juga dikunci. Pemuda itu menghentikan langkah tepat di depan pintu. Merogoh saku celananya mengambil dompet dari dalamnya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet. Sebuah kunci berwarna perak yang membuat Enzi tersenyum miring. "Untung saja aku pernah menduplikat kunci rumahmu, Iva," ucap Enzi sambil memasukan kunci ke lubangnya. Diputar kunci tersebut dan pintu pun terbuka. Entah bagaimana caranya Enzi bisa menduplikat kunci rumah Iva. Pastinya dia menyimpan kunci tersebut memang untuk keperluan seperti ini. Masuk tanpa izin ke rumah Iva. Baru pertama kali Enzi masuk ke dalam rumah Iva. Rumah sederhana yang tampak cozy karena interiornya. Iva benar-benar pintar memilih interior dan mengatur posisi barang di rumah itu, sehingga membuat siapapun yang masuk ke dalam sana langsung merasa nyaman dan tak ingin segera pulang. Di hadapan Enzi sekarang terdapat sebuah pintu dengan papan kayu berukuran 10 x 25 sentimeter di depannya. IVA KALILA, itulah yang tertulis pada papan kayu tersebut. Sehingga membuat siapapun yang melihatnya langsung tahu jika itu adalah kamar Iva, dan kini Iva pasti ada di dalamnya. Dengan senyum yang tersungging di wajahnya, Enzi membuka pintu kamar Iva dan melangkah mengendap-endap masuk ke dalam. Saat memasuki kamar, Enzi disuguhkan pemandangan Iva yang terlelap tidur dengan tubuh meringkuk dan dengan wajah polosnya. Tatapan Enzi melembut, senyumnya pun ikut melembut. Wajah Iva tampak lebih menarik saat dia terlelap seperti sekarang. Tanpa make up, tanpa ada riasan apapun. Iva lebih cantik dengan wajah polosnya itu. Enzi tak ingin mengganggu tidur Iva, tetapi dia tidak tahan ingin memeluk wanita itu. Akhirnya, Enzi membaringkan tubuhnya di samping Iva. Menghadap Iva dan memeluk pinggang Iva, kemudian memejamkan mata. Untuk beberapa waktu ke depan Enzi ingin terlelap bersama wanitanya itu. Sekitar satu jam kemudian, Iva menggeliat dengan kedua tangan terangkat ke atas kepalanya. Kedua matanya perlahan terbuka, lalu matanya mengerjap beberapa kali memastikan apa yang ada di hadapannya. "KYAAA!" teriak Iva sambil bangkit dari posisi tidurnya. "Argh, berisik!" balas Enzi yang terganggu dengan teriakan Iva. Mata Iva langsung memeriksa pakaian yang dikenakannya. Tak ada satupun yang terlepas dari tubuhnya. Piyamanya masih menempel di tubuhnya. Kemudian Iva menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga leher, karena khawatir jika Enzi akan melakukan sesuatu setelah ini. "Kamu kenapa bisa ada di kamarku?" tanya Iva bingung. Dia menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka. Enzi bangkit dari posisi tidurnya, menggaruk kepala belakangnya lalu menjawab, "Karena kamu tidak bisa dihubungi." "Tapi, gimana caranya kamu masuk?" tanya Iva lagi. "Pertanyaan kamu aneh, Iva. Aku masuk melalui pintu, memangnya bagaimana lagi?" Enzi bertanya balik. "Tapi kenapa bisa?" Sepertinya Iva masih sangat kebingungan dengan kehadiran Enzi di kamarnya. "Sudahlah, kamu segera mandi. Aku akan menunggumu di ruang tamu. Temani aku hari ini," titah Enzi. Pemuda itu kemudian berdiri dan melangkah keluar kamar. Iva yang masih tampak bingung kini hanya duduk sambil mengira-ngira bagaimana caranya Enzi masuk. Jika melalui pintu, bagaimana Enzi membuka kuncinya? Sekitar satu jam Enzi menunggu Iva hingga selesai berpakaian. Saat Iva keluar dari kamarnya, mata Enzi langsung menilai penampilan Iva dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Cantik juga," puji Enzi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian Enzi bangkit dan memimpin Iva berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah tersebut. Iva mengikuti di belakang Enzi. Namun, tiba-tiba langkah Enzi terhenti. Dia berbalik menatap Iva. "Buka dulu pintu gerbangnya," pinta Enzi. Iva melirik ke pintu gerbang yang masih rapi tergembok, lalu dia mengerlingkan matanya pada Enzi. "Kamu masuk ke sini loncatin gerbang?" tanyanya sinis. "Jangan berisik, cepat buka gerbangnya!" Tidak mau menjawab pertanyaan Iva, Enzi malah memerintah Iva dengan kasar. Saat pintu gerbang terbuka, Enzi kembali mendahului Iva berjalan di depan. Dia enggan membukakan pintu mobil untuk Iva. Membiarkan Iva membukanya sendiri dan duduk di kursi samping pengemudi. "Seharian ini tugas kamu hanya menemaniku. Aku tak mau dengar ada protes atau apapun yang keluar dari mulut kamu. Mengerti?" Enzi menolehkan kepalanya menunggu jawaban Iva. Iva menjawab sambil mengangguk pelan, "Iya, mengerti." "Bagus," sambut Enzi. Pemuda itu kemudian melajukan mobilnya membawa Iva pergi dari rumahnya. Bahkan membawa Iva pergi keluar Jakarta. "Kita mau kemana?" tanya Iva penasaran. Tapi sayangnya Enzi tidak mau menjawab pertanyaan Iva. Pemuda itu terus menginjak gas dan mengendalikan roda kemudi dengan serius. Jika dilihat dari papan penanda jalan yang ada di jalan tol, sepertinya Enzi akan membawanya ke Bandung. Iva melirik ke arah Enzi, tatapan Enzi masih sangat fokus memperhatikan jalan di depannya. Kemudian Iva mengubah arah pandangnya ke luar jendela yang ada di sebelah kirinya. Memperhatikan mobil-mobil yang dilewati oleh mereka. "Aku lapar, kita makan dulu ya," kata Enzi saat memarkirkan mobilnya di sebuah restoran di daerah Lembang. "Kemarin malam kita sudah makan banyak, aku masih belum lapar," sahut Iva. "Itu kan kemarin malam, sekarang sudah jam makan siang. Aku lapar. Kalau kamu tidak lapar, kamu temani aku makan saja," jawab Enzi yang kemudian keluar dari mobilnya. Mau tidak mau Iva ikut turun dan mengikuti Enzi. Mereka berdua masuk ke restoran dan duduk di sebuah meja yang berada di tengah restoran. Meja persegi dengan empat kursi yang mengelilinginya. Enzi memilih makan siang untuknya. Dia sama sekali tidak menawari Iva setelah gadis itu mengatakan jika ia belum lapar. Pemuda itu juga menikmati makan siangnya seorang diri tanpa memperdulikan Iva yang duduk di depannya. Bahkan tidak sedikit pun pemuda itu melirik ke arah Iva sampai makanan di hadapannya habis tak tersisa. Mereka pun melanjutkan perjalanan setelah perut Enzi sudah terisi penuh. Mobil yang dikendarai Enzi membawa Iva ke sebuah villa mewah. Villa satu lantai namun sangat luas dan memiliki private pool di dalamnya. "Ayo turun!" ajak Enzi. "Kita mau ngapain di sini?" tanya Iva sambil memperhatikan villa dari dalam mobil. "Kita mau menginap di villa ini," jawabnya terkekeh. Kedua mata Iva membesar. Ditatapnya wajah Enzi yang tampak senang karena berhasil membawa Iva tanpa perlawanan ke villa tersebut. Kemudian Enzi berjalan lebih dulu masuk ke dalam villa, meninggalkan Iva yang masih tidak menyangka jika dirinya di bawa ke sana. "Halo?" Enzi menerima panggilan yang masuk ke ponselnya saat dirinya berada di ruang tamu. "Iya, aku tahu. Malam ini kan? Gak usah khawatir, aku akan datang." Enzi langsung mengakhiri panggilannya setelah berjata dirinya akan datang malam ini. Enzi menoleh ke belakang lalu tersenyum miring melihat Iva mengikutinya masuk ke dalam villa tersebut. Malam ini akan menjadi malam yang melelahkan bagi Enzi Cavero. Ternyata ada maksud lain Enzi mengajak Iva ke Bandung. Hanya saja Enzi tidak mengatakan hal itu pada Iva. Enzi akan sangat membutuhkan Iva malam ini. Karena Enzi percaya jika hanya Iva seorang yang bisa membantunya malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD