Dari mana dia mengetahui perjanjian itu? bisik Iva dalam hatinya.
Mata tajam Enzi masih terus menatapnya, menunggu jawaban terlontar dari bibir wanita yang tampak terkejut dengan ucapan Enzi.
Iva mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia sudah menandatangani perjanjian dengan kedua orang tua Enzi, dan tidak boleh sedikit pun mengatakan tentang perjanjian tersebut pada siapa saja, terutama pada Enzi. Hanya saja Enzi sudah mengetahuinya terlebih dulu, dan kini Iva menjadi bingung harus menjawab apa pada pemuda itu.
Tersungging senyum miring di wajah Enzi. Dia tahu jika Iva tidak akan pernah menjawab pertanyaannya. Iva sangatlah patuh pada perjanjian yang dibuat dengan kedua orang tuanya, bahkan Iva juga tidak pernah mengundurkan diri dari perusahaan karena hal itu menjadi poin perjanjian yang mereka tanda tangani.
"Kamu tidak bisa menjawabku?" tanya Enzi dengan nada menyudutkan.
Iva masih membungkam mulutnya dengan pandangan matanya menatap ke sembarang arah.
Enzi meraih tangan Iva, menggenggamnya erat sehingga Iva tidak bisa melepaskannya. Tatapan Enzi seakan menunjukkan dirinya ingin melahap Iva mentah-mentah. Kemudian pemuda itu memberikan penawaran.
"Kamu tahu, hanya dengan membongkar perjanjianmu dengan orang tuaku di hadapan mereka, aku bisa langsung memecatmu dari perusahaan. Pastinya hidupmu juga akan menanggung malu karena demi uang kamu rela menandatangani perjanjian seperti itu." Enzi semakin menyudutkan Iva.
"Lalu apa maumu?" tanya Iva dengan kerlingan mata yang tak kalah tajam dengan tatapan Enzi.
"Mauku? Aku rasa kamu tahu apa mauku." Enzi meraba bibir bawahnya dengan ibu jari tangan kanannya.
Kemudian Enzi melanjutkan kalimat yang belum dia sampaikan. "Aku mau kamu jadi milikku, Iva. Jadilah kekasihku, rahasiakan ini dari kedua orang tuaku, dan juga dari wanita yang dipilihkan oleh mereka."
Bola mata Iva membesar. Dia bingung apakah harus menerima tawaran tersebut atau menolaknya. Bukan hanya karena masalah perjanjian atau pekerjaan, tetapi Iva takut akan terlalu jatuh cinta pada pemuda bernama Enzi Cavero itu.
Perasaan yang sudah dia simpan sejak masih duduk di kursi sekolah menengah atas itu tak akan dia biarkan untuk semakin menguasai hatinya. Enzi bukanlah pemuda baik-baik. Dia hanyalah lelaki berengsek yang kaya raya dan juga cerdas. Level berengseknya juga yang nomor satu. Iva tidak mau seperti gadis-gadis di luar sana yang dengan pasrahnya menjadi 'pacar sehari' Enzi. Merelakan keperawanannya hanya untuk merasakan kesenangan satu hari.
"Jadi bagaimana? Kamu setuju kan, Iva?" Enzi menanyakan persetujuan Iva.
Iva menundukkan kepalanya, berpikir untuk mengambil keputusan dengan cepat. Setelah merasa yakin, Iva mengangkat wajahnya lalu menjawab penawaran Enzi.
"Baiklah. Asalkan kamu tidak bertindak yang berlebihan," ujar Iva.
"Berlebihan yang seperti apa?" Enzi mendekatkan wajahnya.
Dengan sigap Iva memundurkan wajahnya dan menjawab, "Berlebihan yang seperti ini."
Enzi tertawa. Dia tahu apa yang dimaksud dengan Iva, hanya saja dia sangat suka menggodanya. Setidaknya kali ini Enzi sudah maju satu langkah untuk bisa memiliki Iva sepenuhnya. Dia benar-benar menginginkan gadis itu bertekuk lutut padanya, dan memohon di hadapannya untuk memiliki sepenuhnya.
Saat itu akan datang, dan aku akan dengan sabar menunggu hari itu tiba. Karena aku tidak akan pernah memaksamu, Iva. Enzi bergumam di dalam hatinya.
"Baik kalau begitu, di luar pekerjaan kita adalah sepasang kekasih, dan aku akan dengan bebas merangkul dan mengecup kekasihku ini." Enzi semakin mendekat pada Iva bersiap mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis itu.
Namun, dengan sigap lagi Iva mendorong d**a bidang Enzi dan memalingkan wajahnya. "Aku sudah bilang, tak boleh berlebihan!" seru Iva.
Enzi terkekeh. "Hanya kecupan di kening saja, aku janji tidak akan menidurimu kalau kamu tak menginginkannya," katanya sambil mengangkat dua jari tangan membentuk huruf V.
Sangat sulit untuk mempercayai ucapan lelaki playboy kelas kakap seperti Enzi. Tetapi Iva akan mencoba mempercayainya kali ini. Tenang saja, ini hanya akan berlangsung sementara sampai pernikahan Enzi dengan gadis pilihan kedua orang tuanya berlangsung. Ya, begitulah yang tercantum di dalam perjanjian yang Iva dan orang tua Enzi sepakati.
Namun, tiba-tiba terlintas dalam benak Iva apakah pemuda di hadapannya itu mengetahui batas perjanjian antara dirinya dengan orang tuanya.
Hari semakin larut, Enzi mengeluarkan credit card dari dalam dompetnya dan diberikan pada seorang pelayan untuk membayar makanan dan juga sisa kekurangan pembayaran sewa tempat tersebut semalaman. Tentunya Enzi merogoh kocek cukup dalam untuk membayar semuanya. Tetapi hal tersebut bukanlah masalah bagi CEO muda dari CAVE company. Bahkan credit card miliknya saja sudah unlimited.
Setelah itu Enzi mengantarkan Iva pulang ke rumahnya. Sebelum Iva turun dari mobil, Enzi menarik tangan Iva lalu mengecup cepat kening gadis tersebut.
"Selamat malam gadisku," katanya sambil menyunggingkan senyum.
Kedua pipi Iva langsung bersemu kemerahan karena sikap lembut Enzi barusan. Akan tetapi hal tersebut membuat Iva lengah, dan membuka kesempatan untuk Enzi. Secepat kilat Enzi menempelkan bibirnya di bibir manis Iva, lalu melumatnya.
Sontak hal tersebut membuat kedua mata Iva terbuka lebar. Iva mendorong tubuh Enzi agar dia menghentikan aksinya tersebut. "Apa yang kamu lakukan? Aku bilang jangan berlebihan!" pekik Iva.
"Hihihi …," Enzi terkekeh. "Ini tidak berlebihan bagiku, aku hanya tidak akan menikmati tubuh indahmu tanpa izin, tetapi jika menciummu saja jangan mengira jika aku membutuhkan izin darimu," sambung pemuda itu.
Dahi Iva berkernyit mendengar ucapan Enzi tadi. "Dasar lelaki berengsek! Bisa-bisanya kamu menjilat ludahmu sendiri," geram Iva.
"HAHAHA!" Enzi tertawa lepas melihat reaksi Iva.
Kemudian Enzi menghentikan tawanya, lalu medengkus sambil melihat wajah Iva yang tampak geram padanya.
"Iva, aku tidak menjilat ludahku sendiri. Hal yang berlebihan untukmu, belum tentu berlebihan bagiku. Jadi jangan samakan standar berlebihan kita," terang Enzi. Dia ingin membuat Iva membungkam mulutnya dan menyesali keputusannya menerima tawaran Enzi.
Iva mencoba mengabaikan pemuda itu. Dia membuka pintu mobil lalu keluar dengan hati dongkol. Dia merasa sudah dikerjai oleh pemuda itu.
Setelah itu, Enzi menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya sampai menghilang dari pandangan Iva. Dia tersenyum senang, karena pada akhirnya Iva jatuh dalam perangkapnya. Ini semua berkat dokumen yang ditemukan Enzi kemarin malam di ruang kerja orang tuanya di rumah mewah mereka.
"Huh, aku tak menyangka jika seorang Iva Kalila berani menandatangani perjanjian itu," gumam Enzi.
"Tetapi aku akan pastikan jika pernikahan itu nantinya bukanlah dengan gadis yang dipilihkan oleh mereka, melainkan dengan gadis pilihanku," Enzi menambahkan.
Enzi sampai pada larut malam ke tempat tinggalnya. Sebuah rumah mewah dengan tiga lantai bergaya modern - vintage. Saat Enzi memasuki rumah tersebut, dia disambut oleh dua orang pelayan yang sengaja diperintahkan untuk menunggu pemuda tersebut pulang agar bisa melayaninya jika meminta makan malam.
"Tuan, biar saya bawakan tas anda." Seorang pelayan menghampiri Enzi dan mengambil tas yang ditenteng olehnya.
Pelayan lainnya menanyakan Enzi perihal makan malamnya. "Tuan ingin saya siapkan makan malam? Menu apa yang Tuan inginkan?"
"Saya sudah makan, dan ini sudah terlalu larut. Kenapa kalian masih terbangun?" tanya Enzi penasaran.
Selama ini dia selalu ingin menanyakan hal tersebut, tetapi dia memilih bersikap acuh. Kini dia tak lagi bersikap seperti itu, karena wajah kedua pelayan itu sangat lelah tetapi dipaksakan untuk tetap terjaga.
"Mama yang minta mereka menunggu kamu pulang!" seru seorang wanita paruh baya yang menuruni anak tangga dengan langkah anggunnya.
Dia adalah ibu kandung Enzi, wanita yang juga istri dari founder CAVE Company. Beliau kemudian memerintahkan kedua pelayan tersebut untuk pergi dan beristirahat.
"Kenapa kamu pulang selarut ini?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Aku ada meeting di luar," jawab Enzi dengan cepat.
"Meeting? Jangan berbohong. Mama sudah menelepon Rachel dan tidak ada meeting dengan klien malam ini. Dengan siapa kamu pergi?" Sang Mama tidak membiarkan Enzi mengelabuhinya.
Enzi mengabaikan ibu kandungnya itu dan melangkah menaiki anak tangga melewatinya. Namun, kemudian langkah Enzi terhenti oleh kalimat yang diucapkan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Untuk saat ini kamu boleh pergi kemana pun dan dengan siapa pun, tetapi kamu harus ingat jika pernikahan kamu nantinya hanya boleh dengan wanita pilihan Mama dan papa," kata sang mama pada putranya.
Sejenak Enzi mematung, tetapi kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Enzi tidak mau memperdulikan ucapan sang mama. Karena baginya, hidupnya hanya boleh ditentukan oleh dirinya sendiri. Tidak ada orang lain yang berhak mengatur hidupnya, sekali pun itu adalah orang tuanya sendiri.