Chapter 4 - Dinner

1556 Words
Apa lagi yang akan dilakukan Enzi pada Iva? Iva kini berhati-hati pada pemuda itu. "Kita kan sedang berdua saja, aku tahu kalau kamu nggak akan mau menurutiku untuk bermesraan, jadi bagaimana kalau kamu ikut aku ke suatu tempat?" Enzi menanyakan kesediaan Iva. Mata Iva menyipit. Otaknya menerka-nerka kemana Enzi akan mengajaknya. Jika pemuda itu mengajak Iva ke tempat yang dipenuhi dengan musik yang menghentak, atau mungkin mengajak Iva bermalam di hotel, maka Iva akan menolaknya dengan keras. Enzi terkekeh lalu berkata, "Aku tahu kamu pasti sudah berpikir macam-macam, tapi maaf saja aku gak akan mengajak kamu ke tempat yang kamu pikirkan." "Kamu bisa menebak pikiranku?" tanya Iva terkejut. "Tentu saja, Iva!" jawab Enzi dengan mantap. Enzi merogoh saku jas bagian dalam mengambil ponsel miliknya. Kemudian dia menghubungi seseorang melalui ponsel tersebut. Terdengar dia meminta orang di seberang telepon sana memesankan sebuah tempat. Iva seperti pernah mendengar nama tempat tersebut. "Kita mau kemana? Cloud Lounge and Dining?" tanya Iva sesaat setelah Enzi mengakhiri percakapannya telepon. Enzi mengangguk dan menjawab Iva. "Benar sekali! Aku sudah meminta orangku untuk memesan seluruh restoran tersebut untuk kita berdua." "Memangnya kenapa?" Iva masih belum mengerti. "Jangan banyak tanya, ikut saja denganku sekarang!" tegas Enzi. Enzi menekan kembali remote yang membuat pintu ruangan tersebut tidak terkunci lagi. Kemudian ditariknya pergelangan tangan Iva sedikit kasar agar wanita itu mengikutinya. Iva mencoba melepaskan genggaman tangan Enzi, tetapi sayangnya Iva kalah tenaga dengan pemuda itu. Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian para karyawan saat mendekat ke arah lift. Semua karyawan yang berdiri di depan pintu lift langsung membukakan jalan untuk kedua petinggi mereka. Semua yang melihat pasti bertanya-tanya mengapa CEO mereka menggandeng Iva yang seorang General Manager dengan terburu-buru. Jika berpikir Iva adalah mangsa Enzi selanjutnya, sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi mereka. Mengingat sifat Iva yang sangat dingin pada Enzi. Pintu lift terbuka, Enzi melempar Iva masuk ke dalam terlebih dahulu, barulah dia menyusul kemudian. "Gak ada yang mau turun bareng saya kan?" tanya Enzi dengan tatapan matanya yang tajam. Seluruh karyawan yang ada di sana hanya menundukkan kepala mereka karena takut dengan CEO muda mereka yang tampak menyeramkan. Karena tidak mendengar jawaban sama sekali, maka Enzi tidak menahan dan membiarkan pintu lift tertutup dengan sendirinya. Di dalam ruangan berukuran satu setengah kali dua meter tersebut, Iva menjadi was-was karena hanya berdua saja dengan Enzi. Dia sudah memikirkan berbagai cara jika Enzi tiba-tiba berbalik dan melakukan sesuatu padanya. Namun, pikiran Iva salah. Enzi tidak melakukan apapun pada Iva sampai lift yang mereka tumpangi itu sampai ke basement. Bahkan Enzi mendahului Iva keluar dari lift tanpa mengatakan apapun. Sedikit bingung, Iva akhirnya ikut keluar dari lift dan mengikuti kemana Enzi melangkahkan kakinya. Tak jauh di depan mereka kini tampak mobil sedan mewah berwarna putih yang memiliki desain modern dan futuristik. Bisa dipastikan itu adalah mobil milik Enzi yang berjajar dengan mobil-mobil lainnya yang jadi tampak biasa karenanya. Enzi mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, membuka kuncinya secara otomatis saat sekiranya mereka tinggal satu meter sampai lagi sampai. Kemudian pemuda itu membukakan pintu untuk Iva terlebih dahulu. Mempersilahkannya masuk dan memastikan Iva duduk dengan nyaman. Setelah melihat Iva bersandar di kursi, Enzi menutup pintunya perlahan lalu berjalan memutari bagian depan mobil dan masuk ke dalamnya dari pintu di sebelahnya. "Okay, kita berangkat!" seru Enzi dengan raut wajah sumringahnya. Diinjak pedal gas di kakinya lalu dikendarai mobilnya dengan sangat hati-hati tetapi tetap dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untuk menghilangkan keheningan di dalam mobil, Enzi menyalakan musik yang menghentak sehingga dia tidak merasa kesepian. Sayangnya hal itu membuat telinga Iva sakit. "Enzi, matikan musiknya!" Iva berteriak, tetapi suara Iva tidak terdengar oleh Enzi. Pemuda itu sangat menikmati musiknya sambil kepalanya mengangguk-angguk. Kesal karena Enzi tidak kunjung mematikan musik tersebut, akhirnya Iva yang turun tangan mematikannya sendiri. "Kenapa dimatikan?" tanya Enzi bingung. Iva pun menjawab, "Telingaku sakit, jadi aku matikan." "Kenapa gak bilang dulu?" lanjut Enzi yang merasa tak terima. "Sudah, tetapi kamu mendadak tuli," balas Iva. Mata tajam Enzi mengerling ke arah Iva, tetapi dengan cepat Iva memalingkan wajahnya ke arah lain. Iva lebih senang mendengar klakson mobil yang berbunyi bergantian dibandingkan musik menghentak yang dinyalakan Enzi tadi. Untungnya tak sampai lima belas menit kemudian Enzi dan Iva sampai ke tempat tujuan. Tidak, belum sepenuhnya sampai, karena mereka harus menuju ke lantai 49 terlebih dahulu menuju ke tempat yang sudah dipesan oleh Enzi. Cloud Lounge and Dining, sebuah restoran dan bar rooftop yang ada di Jakarta. Bibir Iva berdecak kagum saat memasuki restoran. Matanya langsung tertuju pada suasana restoran berkelas yang romantis dilengkapi dengan pemandangan yang spektakuler di luar jendela sana. Iva bisa dengan jelas melihat suasana kota Jakarta dari atas sana. Pastinya akan lebih indah lagi saat malam hari, dimana lampu-lampu di luar sana akan melengkapi suasana romantis di restoran tersebut. "Aku sudah pesan seluruh tempat ini hanya untuk kita berdua, Iva," bisik Enzi di telinga Iva. "Apa? Satu restoran ini kamu pesan?" Iva tampak tak percaya. Namun, Enzi menjawab pertanyaan Iva dengan sebuah anggukan mantap. "Silahkan kamu duduk di tempat yang kamu suka, lupakan masalah pekerjaan untuk sementara waktu, karena aku ingin menikmati malam ini berdua denganmu, Iva." Enzi menyunggingkan senyum lembutnya setelah mengatakan semua itu. Sejujurnya Iva masih merasa sangat bingung kenapa Enzi membawanya ke tempat tersebut. Apa ada sesuatu yang direncanakan oleh Enzi? Mata Iva kini melirik ke sofa berwarna merah yang membentuk setengah lingkaran dan mengarah ke jendela. Iva akan memilih sofa tersebut untuk duduk dan menemani Enzi. Sedangkan Enzi sudah terlebih dahulu duduk di kursi bar tepat di sebelah sofa pilihan Iva. Duduk dengan pemandangan barisan botol minuman beralkohol yang menutupi jendela di depannya. "Kamu ingin minum-minum?" tanya Iva penasaran. "Jika kamu izinkan, aku akan buka satu botol yang ada di meja ini," jawab Enzi sambil melirikkan matanya ke botol yang dimaksud. Namun, dengan tegas Iva melarangnya. "Jangan. Aku tidak suka lelaki pemabuk." "Okay!" Tanpa perlawanan Enzi langsung menuruti kemauan Iva. Sesaat kemudian seorang pelayan datang menghampiri Enzi menanyakan pesanannya. Enzi langsung meminta pelayan tersebut untuk bertanya pada Iva. "Tanya saja sama wanita di sana, semua yang dia pesan akan saya makan. Pastikan dia memesan banyak makanan untuk dirinya juga." Iva menjadi semakin bingung dengan sikap aneh Enzi. Tidak lagi kasar, tidak juga pemaksa, malah cenderung lembut dan penurut. Pelayan tadi kini menghampiri Iva dan menanyakan pesanannya. Iva melihat buku menu dan memilihkan makanan untuk mereka berdua. Dua porsi steak dengan dua gelas minuman syrup. Setelah itu pelayan tersebut pergi dari hadapan Iva untuk menyiapkan semua pesanan Iva. Rasa penasaran Iva tak lagi bisa ditahan. Dia pun mulai mencari tahu dengan menanyakannya langsung pada Enzi. "Boleh aku tanya sesuatu? Sebenarnya kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?" Enzi yang sedang melempar pandangannya ke luar jendela hanya tersenyum menjawab pertanyaan Iva. Membuat rasa penasaran Iva tidak terjawab. "Kamu dengar aku kan? Kenapa kamu mengajakku ke sini?" Iva kembali menanyakan hal yang sama. Akhirnya Enzi angkat bicara. "Karena aku ingin makan malam berdua denganmu, tanpa memikirkan urusan pekerjaan di antara kita." "Hanya itu saja?" Iva masih belum yakin. "Ya, apa lagi memangnya?" Enzi berbalik dan memandang lurus pada Iva. "Tidak ada hal lain?" Pertanyaan Iva kali ini bernada menyudutkan. Enzi tersenyum meringis menanggapi pertanyaan tersebut. Kemudian dia kembali angkat bicara. "Hal lain apa maksud kamu? Memperkosa kamu? Tidak, aku tidak akan melakukan apapun jika kamu tidak mau. Apa selama ini aku benar-benar memperkosamu? Aku selalu melepaskanmu karena kamu terus menolak walau aku memaksa." Ucapan Enzi barusan menyadarkan Iva akan hal tersebut. Enzi memang selalu kasar dan memaksanya, tetapi tidak benar-benar sampai menidurinya. Iva mencoba mempercayai Enzi dan tidak mengatakan apapun lagi. Makanan yang dipesan datang sedikit lebih lama karena memang Iva memesannya untuk makan malam. Dalam jeda waktu yang lama itu suasana di antara mereka berdua cukup hening. Hanya ada lantunan musik memenuhi seisi ruangan. Bahkan saat hari sudah gelap, dan mereka menikmati makan malam dalam diam, duduk berdua dengan Iva di sofa yang ditempatinya. Sesekali Iva melirik ke arah Enzi yang sangat menikmati steak yang dipesankan oleh Iva. Setelah steak di piring mereka sudah habis, pelayan datang membawakan makanan penutup untuk mereka. Sepotong cake dengan buah strawberry di sebagai pemanis di atasnya. Kali ini gantian Enzi yang sesekali melirik ke arah Iva yang sangat menikmati makanan penutupnya itu dengan wajah yang bahagia. Enzi tersenyum tipis melihat kebahagiaan yang hadir karena hal sederhana. Sepotong kue nyatanya bisa membuat wanita yang biasanya berwajah dingin di depannya itu sangat bahagia. "Iva, aku ingin menceritakan sesuatu padamu," kata Enzi secara tiba-tiba menginterupsi kebahagiaan Iva yang sedang menikmati kue di piringnya. Tanpa menunggu balasan Iva, Enzi melanjutkan, "Besok, aku akan dikenalkan dengan seorang wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tuaku. Nantinya wanita itu juga akan jadi istriku." Bibir Iva mengatup. Dia memang pernah mendengar kalau Enzi akan dijodohkan oleh pilihan kedua orang tuanya, tetapi tidak tahu jika secepat ini. Enzi mengerlingkan matanya. "Melihat reaksimu yang seperti itu, aku rasa kamu juga sudah mengetahuinya kan?" Tak ada hal lain yang bisa Iva lakukan selain diam dan tak bersuara. Ya, dia sudah mengetahui semua dari sumber terpercaya. Tatapan mata Enzi menajam, membuat Iva merinding karena tatapannya itu. Enzi meletakkan kedua sikunya di meja bundar, lalu menatap Iva seakan menuntut Iva untuk angkat bicara. "Perjanjian apa yang sudah kamu buat dengan orang tuaku, Iva Kalila?" tanya Enzi dengan nada suara berat. Sontak Iva terperanjat lalu menoleh dengan cepat pada Enzi. Dari mana pemuda itu mengetahui perjanjian yang dibuat oleh Iva dengan orang tuanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD