"Cepat atau lambat aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku."
-Enzi Cavero-
***
Derap langkah kaki Iva sangat cepat menuju ke ruangan Enzi. Dia merasa geram dengan sikap Enzi yang seenaknya membatalkan janji temu antara Iva dan salah satu relasi perusahaan mereka.
Dibukanya pintu ruangan Enzi dengan kasar. Kemudian Iva melangkah masuk ke dalam ruang kerja Enzi. Di belakang Iva ada Rachel yang merasa harus mengikutinya. Rachel tahu kedua orang itu pasti akan saling adu mulut karena Enzi selalu saja mencari gara-gara pada Iva.
"Pak Enzi!" teriak Iva geram.
Dengan santai Enzi menyandarkan punggungnya, menyambut kedatangan Iva dengan tersenyum angkuh.
"Saya tahu jika anda punya kuasa di perusahaan ini, tetapi bukan berarti anda bisa seenaknya menggunakan kuasa anda hanya untuk kepentingan anda sendiri!" Iva menyampaikan protesnya dengan lantang.
Netra tajam Enzi melirik ke arah Rachel, kepalanya digerakkan ke arah kiri memberi kode pada sekretarisnya itu untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Rachel mengangguk, mengerti dengan kode yang diberikan. Rachel berbalik dan hendak melangkah, tetapi tiba-tiba Enzi berseru dengan nada suara berat. "Tutup pintunya, jangan sampai ada yang masuk karena saya ingin berbicara empat mata dengan Ibu Iva!"
"Baik, Pak," jawab Rachel.
Setelah Rachel sudah tidak ada di dalam ruangan, Enzi bangkit berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah menghampiri wanita yang sedang menatapnya penuh amarah.
"Iva Kalila, saya tidak menggunakan kuasa saya dengan seenaknya, tetapi saya menggunakan kuasa saya dengan sesuka hati saya. Tolong kamu garis bawahi itu," katanya sambil menunjuk ke arah Iva.
Kedua tangan Iva terkepal. Amarahnya sudah benar-benar memuncak. Baginya, lelaki seperti Enzi tidak pantas memimpin CAVE company. Selalu mendahulukan ego, bertindak sesuka hati, dan seperti tidak mementingkan perusahaan.
Mata Enzi tertuju pada kedua tangan Iva yang terkepal. Kemudian Enzi kembali tersenyum dan melangkah lebih mendekat pada Iva. Dengan sigap wanita tersebut langsung menghindar, tetapi Enzi juga sama sigapnya menahan pergelangan tangan Iva.
"Apa kamu membenciku?" tanya Enzi dengan nada suara berat.
Iva pun menjawab, "Ya, aku sangat membencimu."
Enzi menggenggam kepalan tangan Iva dengan lembut. Membiarkan suhu hangat dari telapak tangannya meleburkan amarah yang memuncak dalam diri Iva.
Lelaki itu tidak tahu saja jika sekarang Iva mati-matian menjaga amarahnya tetap berada di puncak agar dia tidak mudah luluh oleh sikap lembutnya itu. Iva mencoba menarik tangannya, tetapi Enzi menahan genggamannya.
Enzi tidak mau lagi gagal menaklukan Iva. Ditariknya tubuh Iva ke dalam pelukannya. Dieratkan kedua lengan Enzi agar wanita di dalam pelukannya itu tidak bisa memberi perlawanan.
"Enzi, apa-apaan sih ini!" seru Iva sambil berusaha melepaskan tubuhnya dengan cara menggeliat, karena kedua tangan Iva tertahan oleh lengan kokoh Enzi.
Karena Iva berusaha melepaskan diri, maka Enzi semakin mengeratkan pelukannya. Enzi memajukan wajahnya hingga ke sisi kanan wajah Iva. Kemudian digigitnya daun telinga Iva sehingga wanita itu memekik dan kedua lututnya terasa lemas.
"Ternyata telinga kamu sensitif ya, Iva," katanya sambil meringis.
"Lepasin aku, atau aku akan teriak!" seru Iva mengancam Enzi.
"Jangan lupa, dinding ruangan ini sangat tebal dan aku juga memasang kedap suara di tiap sudutnya. Jadi teriakanmu tidak akan terdengar sampai keluar." Ditatapnya Iva dengan sangat sinis.
Iva tidak bisa berkutik lagi. Jantungnya berdegup sangat cepat karena amarah yang kini berubah menjadi rasa takut.
"Lagipula, bukankah kamu senang berada di dekatku?" tanya Enzi yang hanya direspon dengan tatapan bingung dari Iva.
"Kamu tidak pernah benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan padahal kamu sudah sering melayangkan ancaman tersebut. Memang aku selalu menahanmu, tetapi jika memang kamu sudah muak, seharusnya kamu langsung pergi saja dari perusahaan ini. Bukankah seharusnya seperti itu?" Pertanyaan tersebut sangat sulit dijawab oleh Iva. Karena memang di sudut hatinya, Iva merasa senang bisa bekerja bersama Enzi.
"Cih! Sangat tidak menyenangkan bermain seperti ini," desis Enzi.
Pemuda melepaskan pelukannya kemudian kembali ke kursinya. Sedangkan Iva kini mematung tak tahu harus berbuat apa.
"Kamu tahu, kamu adalah wanita menyebalkan yang terlalu jual mahal. Enyahlah dari hadapanku sekarang juga!" dengan lantang Enzi mengusir Iva. Membuat bahu wanita itu bergetar menahan amarah bercampur kesedihannya.
Iva berusaha memasang wajah datar dan melangkah dengan anggun keluar ruangan Enzi. Namun, dengan sinisnya Enzi menatap punggung Iva yang semakin jauh dan menghilang setelah melewati pintu.
Rachel masuk ke dalam ruangan Enzi sesaat setelah Iva keluar dari sana. Enzi menggerakkan telunjuknya pada Rachel, memberi kode agar sekretarisnya itu mendekat padanya.
"Pak Enzi, bagaimana dengan meeting para petinggi nanti sore?" tanya Rachel.
"Batalkan meeting, beritahu semuanya, kecuali Iva!" tegas Enzi.
"A-apa? Tak perlu memberitahu Ibu Iva? Kalau boleh tahu, apa alasannya?" Rachel merasa penasaran.
Kedua mata Enzi menatap Rachel dengan tajam, tetapi juga tersenyum miring. Enzi kembali memberi kode pada Rachel agar semakin mendekat. Rachel yang sudah berdiri di samping Enzi kini membungkukkan tubuhnya. Memasang telinga karena mengira Enzi ingin menyampaikan sesuatu padanya.
Melihat wajah sang sekretaris yang sudah sangat dekat di depan wajahnya, Enzi berbisik, "Aku butuh pelampiasan, dan kamu harus layani aku sekarang juga. Tolong kunci pintunya."
Rachel menoleh dengan wajah yang tersipu malu. Wanita itu mengangguk dan menyerahkan dirinya dengan pasrah pada Enzi. Mudah sekali. Satu bisikan saja dari Enzi mampu membuat Rachel bertekuk lutut tanpa harus dipaksa. Tidak seperti Iva.
Namun, hal itulah yang membuat Iva berbeda dari wanita lain. Iva tidaklah mudah menyerahkan dirinya seperti kebanyakan wanita yang dekat dengannya. Oleh karena itu Enzi ingin sekali membuat Iva bertekuk lutut tanpa harus merasa dipaksa. Enzi ingin Iva mencintainya, dan memberikan dirinya sepenuh hati.
BLAM!!
Iva menutup pintu ruang kerjanya dengan kencang. Lalu Iva bersandar di belakang pintu. Mengatur nafasnya yang tersengal karena emosinya yang bercampur aduk.
Dipegang d**a kirinya, dan dirasakan degupan jantungnya yang sangat cepat. "Jika semudah itu aku mengundurkan diri dari tempat ini, maka sudah kulakukan sedari awal," ucap Iva.
Sekitar beberapa menit Iva bersandar di balik pintu, kini emosinya sudah stabil. Dia berjalan menuju ke kursinya, duduk di sana lalu memfokuskan pikirannya pada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sore nanti dia harus menghadiri meeting direksi dan para petinggi perusahaan. Iva akan membuat review pekerjaan seluruh karyawan di perusahaan tersebut yang akan disampaikannya saat meeting nanti.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Iva menyudahi pekerjaannya dan bersiap untuk menghadiri meeting yang diadakan oleh sang CEO. Dia merapikan dokumen yang diperlukan lalu membawanya ke ruang meeting.
Dengan penuh wibawa Iva berdiri di depan pintu lift, menunggunya terbuka dan Iva bisa masuk ke dalamnya. Dagunya sedikit diangkat agar dia tampak lebih berwibawa lagi saat berhadapan dengan para petinggi. Agar mereka bisa menunjukkan hormatnya pada seorang Iva.
Ting!
Pintu lift terbuka. Iva melangkah masuk ke dalamnya. Saat Iva berbalik, dilihatnya Rachel yang menenteng tas seperti ingin pulang berjalan menghampiri lift. Dahi Iva berkernyit dibarengi oleh pintu lift yang menutup. Iva tidak berniat menahan pintu lift menunggu Rachel. Karena masih ada satu lift lagi yang bisa dia gunakan.
"Rachel mau kemana? Kok kayak mau pulang? Memangnya dia gak ikut meeting?" Iva menerka-nerka.
"Tapi gak mungkin kalau Rachel gak ikut, kan dia sekretarisnya Enzi," timpal Iva kemudian.
"Ah, sudahlah. Mungkin memang meeting kali ini khusus para petinggi saja dan tertutup untuk yang lain," tambahnya lagi.
Lift meluncur ke lantai lima dengan cepat. Ruang rapat yang luas dan dilengkapi dengan slide show ada di lantai tersebut.
Iva langsung keluar dari lift saat pintu lift terbuka. Dibuka pintu ruangan yang dimaksud, lalu Iva hanya melihat Enzi yang sudah berada di dalam sana.
"Mana yang lainnya?" tanya Iva tanpa mencurigai apapun.
Enzi menjawab, "Sebentar lagi mereka akan datang. Kamu boleh duduk dulu, Iva."
Untuk berjaga-jaga Iva memilih kursi yang sedikit berjauhan dengan Enzi. Kemudian Enzi terkekeh, lalu dia menekan tombol di sebuah remote kecil yang di genggamnya. Pintu ruangan seketika terkunci.
"Kini hanya ada kita berdua di sini, Iva. Tak ada meeting, karena aku juga sudah membatalkannya," ucap Enzi sambil menatap lurus pada Iva yang duduk selang beberapa kursi dari tempat Enzi duduk.
Bola mata Iva membesar. Apa lagi yang akan dilakukan oleh Enzi sekarang?