Chapter 2 - Pertahanan Hati

1150 Words
Iva memeriksa dengan teliti dokumen yang baru saja diberikan oleh Rachel. Tak boleh ada satu pun kata atau angka yang salah di tiap halaman dokumen tersebut. Sedikit saja ada kesalahan, maka CAVE company langsung terlempar dari barisan pemenang tender.  Setelah merasa yakin, barulah Iva menandatangani satu per satu dokumen tersebut. Kemudian Rachel teringat jika sore ini Enzi akan mengadakan meeting para petinggi perusahaan. Dia belum mengabari Iva sama sekali. "Bu, Iva. Sore ini akan ada meeting untuk seluruh petinggi perusahaan," kata Rachel memberi tahu Iva. Mata kecoklatan Iva melirik ke arah Rachel, menatapnya penuh tanda tanya. "Benarkah begitu? Kenapa kamu baru mengabari saya sekarang? Saya sudah terlanjur mengatur janji temu dengan manager dari salah satu relasi perusahaan kita." "Maaf, saya lupa sebelumnya." Rachel menundukan pandangannya. Iva menghela nafas. Hatinya bergumam, "bagaimana tidak lupa, kamu terlalu asyik bermesraan dengan atasanmu. Dasar tidak profesional!" "Tolong katakan pada Pak Enzi jika saya tidak bisa hadir dalam meeting kali ini. Relasi kita akan marah jika saya mendadak membatalkan pertemuan dengannya," pinta Iva. Iva menganggukkan kepala dan menjawab, "Baik, Bu." Semua dokumen sudah selesai ditandatangani. Dikembalikan semua dokumen tersebut pada Rachel agar dia bisa membawanya ke ruangan Enzi untuk segera ditandatangani oleh CEO muda itu. Rachel kembali ke ruangan Enzi, berdiri di depan mejanya sambil meletakkan semua dokumen yang dibawanya. "Sudah ditandatangani oleh Bu Iva?" tanya Enzi dengan nada suaranya yang berat. Rachel pun menjawab, "Sudah, Pak. Bu Iva juga menitipkan pesan jika sore ini dia tidak bisa hadir dalam meeting para petinggi perusahaan. Dia sudah ada janji temu dengan salah satu relasi perusahaan kita, Pak." Brakk!!! Enzi menggebrak meja kerjanya dengan cukup kencang. Membuat Rachel tersentak sampai kakinya mundur satu langkah. "Meeting ini untuk para petinggi perusahaan, dia salah satunya. Jadi dia harus hadir dalam meeting sore ini!" Suara Enzi menggelegar memenuhi ruangan. Rachel tertunduk takut. Tangannya sedikit gemetar. Dia takut mengakui jika ini karena keteledorannya yang telat menyampaikan jadwal meeting pada Iva. Enzi adalah CEO yang tak kenal ampun. Rachel tidak mau ditendang dari perusahaan hanya karena hal kecil seperti itu. Enzi bangkit dari kursi dengan raut wajah yang menyeramkan. Dia melangkah dengan angkuh keluar ruangan menuju ke ruang kerja Iva.  Merasa bingung harus berbuat apa, mengikuti Enzi atau diam di tempat, akhirnya Rachel memilih untuk keluar dari ruangan Enzi dan kembali ke meja kerjanya yang berada tepat di depan ruangan Enzi. Pintu ruangan Iva dibuka dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang kencang. "Kenapa kamu tidak ingin hadir dalam meeting petinggi sore ini???" Sambil berjalan mendekat Enzi menanyakan hal tersebut dengan nada marah. Pulpen yang sedang digenggam Iva kini diletakkan di atas meja. Kemudian Iva menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menggerakkan kursi tersebut berputar ke kiri dan kanan. "Relasi kita yang ingin saya temui adalah salah satu yang paling royal dengan perusahaan kita. Apa anda mau mengecewakan dia, Pak Enzi?" tanya Iva sambil menatap Enzi dengan tajam. Brakk!!! Lelaki itu kemudian menggebrak meja Iva dengan kedua tangannya. Lalu dibalas tatapan Iva tak kalah tajam. "Saya adalah CEO perusahaan ini. Kamu berani dengan saya?" tanya Enzi dengan nada sinis. "Apa yang saya lakukan salah? Menjaga hubungan baik dengan relasi royal kita apakah sebuah kesalahan?" Dengan berani Iva membalas pertanyaan Enzi. Enzi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sinis. Iva yang dulu terkenal lugu dan cenderung penakut kini bisa membalas Enzi bahkan menatapnya setajam silet. "Baiklah kalau begitu, kali ini kamu menang, Iva!" seru Enzi. Dilangkahkan kaki Enzi memutari meja, lalu ditariknya kursi Iva dan dibungkukkan tubuh Enzi sehingga kini wajah mereka saling berhadapan. Seperti sebelum-sebelumnya, Iva memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun dengan cepat Enzi menarik dagu Iva, mencicipi manisnya bibir yang tertutupi lipstik berwarna pink nude tersebut. Iva mengerjapkan matanya beberapa kali merasakan sentuhan pada bibirnya yang untuk pertama kali dia rasakan. Merasa Enzi mulai melumat bibir bawahnya, sontak Iva mendorong Enzi agar menjauh darinya. Pipi Iva tampak merona kemerahan. Tak disangka pertahanannya hampir jebol karena pesona CEO muda dan tampan tersebut. Padahal Iva sudah berusaha bersikap angkuh pada Enzi. Namun hanya dengan satu sentuhan di bibir Iva membuat dinding pertahanan hati Iva bersiap runtuh. Ibu jari tangan Enzi mengelus bibir bagian bawah dan menatap Iva dengan tatapan menggoda. Samar-samar terlihat senyuman yang menuntut di wajah Enzi. Menuntut untuk melakukannya lagi, bahkan menuntut lebih. "Jika sudah tidak ada kepentingan lagi, silahkan kamu keluar dari ruanganku!" Teriak Iva sambil menunjuk ke arah pintu. Enzi mendengkus. Ditengadahkan wajah Iva dengan mengangkat dagunya. Diperhatikan wajah cantik natural wanita itu dengan riasan wajah yang tipis. Iva memegang pergelangan tangan Enzi, bersiap untuk melepaskan diri dari genggamannya. Tiba-tiba Iva terdiam saat Enzi berkata, "Kamu kira kamu yang paling cantik, sampai kamu terus menolakku? Seberapa mahal dirimu ini? Aku akan transfer langsung ke rekening pribadimu." Sontak Iva langsung menyingkirkan tangan Enzi dan menghempaskannya. Bangkit dan menatap Enzi penuh amarah. Dia bukanlah w************n yang bisa dengan mudah dibeli dengan uang.  "Tutup mulut anda, Pak Enzi Cavero!" teriak Iva dengan lantang. "Cih! Siapa kamu berani berteriak padaku?" Enzi tidak suka Iva berteriak padanya. "Silahkan keluar dari ruangan ini atau saya yang mengundurkan diri dari perusahaan ini," ancam Iva. Enzi tidak berkutik. Ancaman Iva itu adalah hal yang paling ditakuti oleh Enzi. Susah payah dia merekrut Iva agar mau bekerja di perusahaannya, tidak mungkin dia membiarkan wanita itu mengundurkan diri dengan mudah. "Okay, silahkan lanjutkan pekerjaan anda, Ibu Iva." Enzi mengalah. Dia berjalan menjauh lalu keluar dari ruangan Iva. Diingat kembali bagaimana tadi dia merasakan manisnya bibir Iva. Tersungging senyum di wajah lelaki tersebut karena merasa sudah selangkah lebih maju baginya untuk bisa mendapatkan Iva. "Sedikit lagi kamu akan menjadi milikku sepenuhnya, Iva Kalila," gumam Enzi pelan sambil masuk ke dalam ruangannya. Mengabaikan Rachel yang tampak ketakutan karena kehadiran Enzi. Sedangkan di dalam ruangannya, Iva menarik napas lega karena Enzi tidak lagi memaksanya. Tangan kanan Iva memegang d**a kirinya, merasakan degup jantung yang seperti berlari.  Walau sikap Enzi sangat menyebalkan, kasar dan angkuh, tetapi tidak bisa dipungkiri jika pesonanya sangatlah kuat. Iva hampir jatuh berkali-kali ke dalam pesona lelaki itu. Namun Iva masih bisa menahan dirinya, karena dia tidak mau masuk ke dalam daftar wanita 'satu hari' Enzi Cavero. Tak lama kemudian telepon di ruangan Iva berbunyi. Iva mengangkat gagang telepon tersebut dan berkata, "Halo." "Halo, Iva. Sore ini saya tunggu kamu datang ke meeting para petinggi." Suara Enzi terdengar dari seberang telepon. "Saya sudah bilang saya tidak-"  "Saya sudah batalkan jadwal kamu dengan relasi royal itu. Jangan tanya saya tahu dari mana kamu akan bertemu dengan relasi yang mana. Perusahaan ini adalah milikku, dan kamu juga adalah milikku." Enzi memotong kalimat Iva dan menyampaikan semua itu. Iva terdiam. Dia lupa jika Enzi memiliki kuasa penuh. Sudah pasti akan sangat mudah baginya mencari informasi dan bisa melakukan apa saja sesuka hatinya selama tidak merugikan perusahaan. Iva benar-benar lupa akan hal itu. "Jangan mencoba lari dariku, Iva," kata Enzi mengancam Iva, dan membuat bibir Iva terkatup tak bisa membantah. Apakah Iva akan sanggup bertahan dari segala usaha Enzi yang ingin memiliki diri Iva sepenuhnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD