bc

Dokter Cantik Itu Milikku

book_age16+
289
FOLLOW
2.5K
READ
HE
second chance
kickass heroine
drama
bxg
mystery
brilliant
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Masa lalu yang kelam membuat trauma tersendiri di hati Qyara. Dokter muda nan cantik itu pun belum bisa menerima hadirnya sosok tambatan hati karena ulah Altezza di masa lalu membuat wanita itu menjadi ragu untuk menerima cinta lagi.

“Ini hanyalah sebuah game. Aku hanya menjadikan dirimu sebagai taruhannya. Apa kamu ingat dengan kata-kata itu, Al?” Ucap Qyara Auristela sinis.

“Aku sadar bahwa aku benar-benar menyayangi dan mencintaimu, Qyara!” Altezza Akalanka Zahair.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, kaos putih yang berbalut sweater hitam di luarannya membuat setiap langkahnya menjadi pusat perhatian orang lain, hari ini di bandara benar-benar di hebohkan karena seorang pria tampan yang sedang berjalan mencari di mana keberadaan temannya, bak seperti aktor ternama dunia dia membuat semua perhatian tertuju padanya, hingga sorot matanya menangkap sebuah tangan yang melambai ke arahnya, dan ya tentu saja dia mengenalnya. Pria itu pun berjalan menghampiri kedua orang yang berdiri di belakang pembatas. Mereka saling berjabat tangan satu sama lain dan di akhiri dengan pelukan ala mereka. Senyum lepas terlihat dari raut wajah ketiganya dan pemandangan ini benar-benar mengalihkan segala perhatian orang-orang yang berada di bandara. ”Gila ya, pesona kita memang tiada tanding” ucap penuh percaya diri Rafael. Memang dari dahulu hingga sampai saat ini tingkat kepercayaan dirinya semakin meningkat. Faeyza dan Altezza hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. “Lo makin gede segala-galanya ternyata!” Sahut Al. “Berangkat sekarang, makin jadi yang ada temen lo!” Ajak Faeyza pada Al. Faeyza dan Al pun melangkahkan kaki mereka meninggalkan Rafael yang masih tebar pesona, hingga tersadar bahwa dirinya ditinggalkan oleh kedua sahabatnya, pria itu pun menyusul dengan sedikit berlari. Mobil sedan hitam melaju dengan cepat membelah jalanan Ibu Kota hingga mobil hitam itu berbelok pada sebuah club ternama di kota ini. Ketiga pria itu keluar dari mobil dengan sejuta pesona yang mereka tebarkan. “Akhirnya, kita bisa ke club lagi setelah sekian lama lo berdua sibuk” ucap Rafael yang merasa senang karen apada akhirnya dia bis akembali berkumpul bersama denganpara sahaatnya. “Tinggal menunggu kedatangan sang aktor tanah air kita” sambungnya. Andrea yang masih shooting sehingga membuat pria itu menyusul setelah pekerjaannya selesai. “Shooting di mana dia?” Tanya Al. “Di tengah-tengah hutan Ibu Kota, soalnya dia lagi berperan jadi Tarzan” jawab Rafael dengan candaannya. “Lo lebih cocok jadi Tarzannya, Raf!” Timpal Faeyz yang seperti biasa begitu saveage. “Lo ya bener-bener, Faey” jawabnya. Al hanya tersenyum melihat tingkah para sahabatnya, sungguh inilah momen yang sangat-sangat Al rindukan, bertemu dan kembali bercanda ria bersama dengan sahabat-sahabatnya. Faeyza melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam club disusul oleh Altezza dan juga Rafael. Pesona mereka memang tidak pernah pudar, malah semakin bertambah setiap waktunya begitu mereka masuk semua mata pun tertuju pada ketiganya, benar-benar bisa menjadi pusat perhatian orang-orang. Ketiganya duduk di sebuah kursi panjang dengan meja di tengahnya, Rafael pun memesan minuman dan beberapa koktail untuk menemani bincang-bincang ketiga pria ini. Di sela-sela mereka menikmati minumannya datanglah Andrea, nampaknya pria itu baru selesai dengan pekerjaannya. “What’s up brother!” Sapanya begitu dirinya tiba di meja sahabatnya. “Wih, aktor tanah air baru datang!” Sahut Rafael. Mereka pun saling menjabat tangan, “apa kabar wahai saudara-saudaraku?” Tanya Andrea seraya mendudukan dirinya di samping Al. “Pak Dokter, yang setiap hari keluar masuk rumah sakit, kapan sembuhnya?’ Canda Andrea pada Faeyza. “Wih, playboy yang beralih profesi jadi gamers, apa tingkat kepercayaan dirinya sudah berkurang?” Lanjutnya pada Rafael. “Bapak Direktur, hati masih aman, Pak?” Kali ini dia bertanya pada Altezza seraya merangkul pundak Al. “Wah, ini bocah sakit kayanya” ucap Rafael. “Nanti gue kasih surat rujukan buat lo periksa!” sambung Faeyza. “Banyakin istirahat, Drea!” Timpal Al. Andrea menggelengkan kepalanya menampis semua perkataan sahabat-sahabatnya ini. “Gue haus, kalian tega bener gak pesenin minuman buat gue!” Rajuknya. “Gue inget di mobil ada cairan infusan, sebentar gue ambil” kata Faeyza. “Si Faey, lo kira gue gak bisa minum langsung apa sampai harus di infus” keluhnya. “Siapa yang mau infus lo, mau gue siram biar kepala lo gak kering!” Sahutnya. Gelak tawa pun terdengar keras di meja mereka, inilah momen yang sangat Al rindukan selama dia tinggal di luar negeri, candaan para sahabatnya yang begitu membuat perut terasa mulas. Mereka pun melanjutkan perbincangan dengan pembahasan dari pengalaman mereka selama keempatnya tidak bersama, kesibukan mereka saat ini, hingga kisah cinta masing-masing dari mereka yang ternyata belum beruntung dalam soal percintaan. Tak terasa waktu pun semakin berjalan hingga sore menjelang ternyata mereka berbincang-bincang cukup lama, Faeyza mendapatkan panggilan dari rumah sakit karena pasien yang harus segera dia tangani, Andrea pun harus kembali melanjutkan proses shooting-nya, Rafael pun kembali dengan dunia gamers-nya, mereka pun berpisah dan kembali dengan pekerjaan masing-masing dengan kendaraan mereka. Untuk Altezza sendiri dia akan menuju rumah sang ayah lebih dahulu, pria itu sudah meminta supir untuk menjemputnya. Al baru saja tiba di rumah sang Ayah, hening itulah gambaran suasana rumah saat ini seperti tidak berpenghuni. Altezza melangkahkan kakinya masuk ke dalam ternyata ada seseorang yang tengah menurui tangga, terlihat dia adalah pria paruh baya yang masih sangat terlihat segar. “Kapan kamu tiba di Indonesia?” Tanya sang ayah, pria yang baru saja turun dari lantai atas adalah Adyatma Zahair yang tak lain ayah dari Altezza. “Baru saja tiba” jawab Al singkat. Karena hubungan Al dengan sang ayah tidaklah baik sejak dahulu, maka ketika mereka bertemu pun nampak seperti ada jarak di antara keduanya. Jangan harap kalian bisa melihat kehangatan antara ayah dan anak ini, Al lebih terlihat dekat dengan sang Ibunda Indira Dewi. Sang Ayah hanya mengganggukan kepalanya, lantas Al pun kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar di mana sang kakak berada. Tak ada kata yang dia ucapkan lagi kepada sang ayah. Di sisi lain, ternyata Adyatma masih ingin berbincang dengan sang anak setelah sekian lamanya mereka tidak berjumpa kini saat bertemu pun dia masih merasa jauh dengan sang anak bungsunya itu. Pria paruh baya itu hanya bisa mengembuskan napasnya pasrah dengan keadaan dia dan sang putra. “Banyak hal yang ingin Papa sampaikan kepadamu, Nak”, gumamnya seraya melihat punggung sang putra yang semakin menjauh. Al tiba di depan sebuah pintu bercat hitam, menarik nafasnya lebih dahulu sebelum dia membuka pintu yang trtutup rapat itu. Ternyata sang ibu, Indira sedang berada di dalam kamar ini menatap nanar sang putra sulung yang terbaring lemah dengan mata terpejam. Indira menolehkan kepalanya menyadari ada seseorang yang memasuki ruangan ini, betapa terkejutnya dia kala melihat ternyata putra bungsunyalah yang dia lihat saat ini. Indira berdiri dari duduknya dengan kedua mata yang berkaca-kaca lalu berjalan perlahan menghampiri sang putra, begitu pun dengan Altezza yang berjalan menghampiri sang Ibu. Sudah sangat lama mereka tak saling jumpa, Indira memegang pipi sang putra mengelusnya lembut lalu memeluknya erat. Melepas rindu yang sudah sangat lama dia pendam.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.1K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.1K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.6K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook