“Kapan kamu tiba di Indonesia, Nak?” Tanya lembut Indira kala keduanya sudah terduduk di kursi yang berada di pinggir kasur Baim.
“Tadi siang” jawabnya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dengan tatapan mata yang sangat lembut.
“Di mana Azka?” Tanyanya kali ini kepada sang ibu.
“Dia berada di butik bersama Ashana. Azka setiap hari selalu menanyakan kapan papinya ini akan terbangun, begitu pula dengan Ashana, dia terlihat tegar jika di hadapan Mama, tapi jika dia sedang bersama dengan Baim di sini, tangisnya pun tak bisa dia bendung, hati rapuhnya akan terlihat” ungkap Indira, selama ini dia bingung harus berbagi cerita dengan siapa, semuanya wanita itu pendam sendiri.
“Baim benar-benar beruntung bisa memiliki Ashana dalam hidupnya, dia sama sekali tidak ingin meninggalkan kakakmu. Awalnya Asha akan menutup sementara butiknya dia pun berniat akan vacum dari dunia desainer yang sudah mencuatkan namanya, tapi Mama tidak mau Ashana hanya terfokus pada, Baim dia harus memiliki kegiatan yang bisa membuatnya sibuk dan tentu tidak membuat pikirannya semakin tidak karuan karena terus memikirkan kesembuhan, Baim” sambung Indira. Wanita paruh baya ini tidak ingin membuat menantunya terlalu stres karena terus menerus memikirkan Baim yang ntah kapan dia akan tersadar, Indira sangat menyayangi Ashana, dia menganggap Ashana adalah putri kandungannya sendiri dan bukanlah sebagai menantu.
Al terdiam mendengarkan setiap keluh kesah sang Ibu, hingga kedua sorot matanya menatap nanar tubuh sang kakak yang terbaring lemas di atas kasurnya dengan segala alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya.
“Al yakin, Kak Baim akan segera sadar, membuka kedua matanya dan kembali berkumpul bersama kita terutama bersama dengan keluarga kecilnya. Kak Baim pasti tahu jika Azka masih sangat membutuhkan sosok dirinya” ucap Altezza menenangkan sang ibu.
Cukup lama Al dan sang mama berada di kamar Baim, hingga malam pun tiba dan dia berpamitan pulang menuju apartemennya. Sorot mata Indira mengikuti pergerakan sang putra.
“Kamu akan ke apartemen?” Tanya Indira yang sudah mengetahui jika Al tidak akan mau jika di suruh untuk tinggal di rumah ini.
Al hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang Ibu.
“Besok Al kembali lagi untuk bertemu dengan Azka dan juga Kak Asha” ucapnya.
“Tidak bisakah jika malam ini kamu tidur di rumah ini, Nak?” Pinta sang Ibu.
Al pun lantas menatap sang ibu sebagai jawaban atas permintaan wanita paruh baya itu.
Indira pun paham maksud dari tatapan anaknya itu, dia hanya bisa mengembuskan nafasnya pasrah dengan kepala yang dia anggukkan.
“Baiklah, hati-hati di jalan, Nak” kata Indira dan barulah Al melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Baim ini.
“Kapan hubungan papa dan Al membaik ya Allah” ucap pasrah Indira, dia hanya ingin keluarga kecilnya ini rukun antara satu sama lainnya.
Al baru saja tiba di apartemen miliknya, pria itu pun segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, setelahnya dia pun membuat secangkir kopi untuk menemani malamnya. Terduduk di balkon apartemen dengan memandangi kelap kelip lampu di malam hari yang terlihat sangat indah, ntah apa yang tengah pria itu pikirkan hingga lamunannya terlihat nampak begitu dalam.
Sorot matanya pun mengisyaratkan kesedihan, rindu, dan penyesalan yang amat dalam. Satu tegukan kopi membuatnya sedikit merasa tenang, pria itu pun menarik nafasnya cukup dalam hingga hembusannya begitu melegakan d**a yang teramat sesak. Malam ini akan Al lewatkan dengan perasaannya yang belum selesai hingga membuat pria itu merasakan beban berat pada hatinya.
Hari ini seperti janjinya kepada sang ibu bahwa dia akan kembali berkunjung ke kediaman kedua orang tuanya untuk bertemu dengan keponakan kecilnya. Al bersiap dan tak lupa dia pun membawakan beberapa mainan serta makanan favorit untuk keponakannya itu.
Al baru saja tiba di kediaman orang tuanya, sepertia biasa rumah besar ini akan terlihat sepi seolah tak berpenghuni, hanya ada security saja yang terlihat. Pria itu pun segera berjalan masuk ke dalam rumah setelah pintu terbuka, berjalan di ruangan luas ini menuju lantai atas, namun saat dia baru saja akan menaiki anak tangga pertama suara seorang anak kecil mengintrupsinya membuat dia menghentikan langkahnya.
“Uncle Al!” teriak seorang anak laki-laki.
Al pun mencari asal suara tersebut dan udah di pastikan itu adalah suara Azka, keponakan satu-satunya yang Al miliki. Al tersenyum lebar setelah melihat Azka yang sedang berlari ke arah dirinya, terlihat sangat bahagia sekali anak itu melihat hadirnya sosok sang paman.
Azka segera memeluk Al begitu dirinya sudah berada di depan tubuh Al yang sudah berlutut agar menyamakan tinggi anak kecil ini.
“Hai tampan!” Jawab Al begitu keponakan kecilnya ini berada dalam pelukannya. “Bagaimana kabara keponakan, Uncle ini?” Lanjut Al bertanya.
“Aku baik, Uncle” jawabnya dan tentu saja membuat Al sangat senang mendengarnya.
Al melepas pelukannya lalu menatap Azka, mengacak rambutnya pelan dengan senyum yang masih terpancar di wajahnya.
“Apa kabar, Al?” Suara lembut seorang wanita membuat Al mendongakkan kepalanya menatap asal suara.
Lantas Al pun tersenyum ketika melihat ternyata Kakak iparnyalah yang bertanya.
“Aku baik, Kak Asha bagaimana?” Jawab dan tanya Al.
Ashana terenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Kakak pun baik”
“Kemarin malam Mama bilang kalau kamu baru saja tiba di Indonesia, Kakak senang mendengarnya mungkin dnegan hadirnya kamu bisa membuat Mas Baim bisa lebih cepat sadar” ucap Ashana penuh harap.
Karena Al sudah lama sekali tidak kembali ke Indonesia pria itu bertekad jika dirinya belum bisa menyaingi perusahaan sang Ayah, maka dia tidak akan kembali ke Indonesia, dan saat ini setelah perusahaannya lebih besar dari sang Ayah barulah dia kembali ke Tanah Air, sekarang rival terberat perusahaan Zahair adalah anaknya sendiri.
“Kapan kamu sampai, Al?” Kali ini suara seorang wanita paruh baya membuat mereka semua menatap ke arah tangga di mana suara itu berasal.
“Baru saja” jawabnya singkat.
“Kebetulan kita sarapan bersama ya, nak” ajak Indira.
Tak lama datanglah Adyatma dari belakang Indira yang juga tengah menuruni tangga, Al pun segera menatap ke arah sang Ayah dan diikuti oleh Indira, Ashana, seketika suasana di sini pun menjadi lebih canggung.
“Opah” panggil Azka membuat senyum terbit di bibir pria paruh baya itu.
Untuk kali pertama Al melihat sang Ayah tersenyum selebar itu, dan senyuman itu untuk Azka lagi dan lagi dia adalah keturunan dari Baim, tidak, Al tidakc cemburu terhadap keponakannya ini, hanya saja luka lama itu terasa nyata kembali rasanya saat ini.