Bab 3

1037 Words
Kini mereka terduduk di atas kursi makan inilah yang sangat Indira nantikan sedari dahulu meskipun masih tidak ada Baim di meja makan ini, namun yang membuat Indira senang adalah Al yang mau satu meja makan dengan sang Ayah. Momen langka yang sulit terjadi sedari Al masih bersekolah dahulu dia tidak pernah makan bersama di meja makan ini terlebih lagi jika ada sosok Adyatma, Ayah kandungnya sedniri. Al dan Adyatma tidak memiliki kenangan indah dari dahulu hingg sampai pertemuan mereka saat ini, karena sang Ayah yang sellau membandingkan dan membanggakan Baim di banding Al, itulah yang membuat Al tidak suka mengikuti aturan dan hidup sesuka hatinya. Hingga pria itu memiliki pemikiran untuk bisa sukses tanpa ada campur tangan sang Ayah, dan dia ingin menyaingi perusahaan besar sang Ayah. Semua itu sudah menjadi nyata saat ini. Tetapi tetap saja hubungan antara keduanya belum bia membaik karena keduanya snagatlah kerasa kepala. Indira mengambilkan bebrapa lauk yang menjadai kesukaan dari Al dengan senyum lebar terbit di wajahnya, wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ini. “Makanlah yang banyak, nak, kebetulan hari ini Mama masak semua makanan favorit kamu” ucapnya masih dengan senyum mengembang di wajahnya. Ashana melihat Ibu mertuanya ini begitu bahagia, semenjak Baim koma dan Al yang tak pernah pulang jarang sekali atau mungkin sama sekali tak terlihat wajah sebahagia itu terpancar pada wajah tua sang ibu mertua. Ashana tersenyum kecil sembari menyuapkan makanan pada mulutnya. Setelah sarapan selesai Al segera menuju kamar sang Kakak tentu ditemani oleh keponkannya. Azka terduduk di pangkuan Al dengan mata mereka yang menatap Baim. “Uncle, kapan Papi akan bangun? Papi sudah lama sekali tertidur, Azka rindu Papi, Azka mau main sama Papi” curahan hati Azka. Mendengar perkataan Azka membuat hati kecil Al terasa sakit, baru kali ini Al mendengar langsung perkataan, Azka selama ini dia hanya mendengarnya dari cerita, Faeyza karena, Faey adalah Dokter yang bertanggung jawab atas baim, Al mempercayakan semuanya kepada Faeyza. Hembusan nafas Al keluarkan. “Azka berdoa terus ya, agar Papi segera bangun dan bisa bermain lagi bersama, Azka” jawab Al dan lagi-lagi Azka menjawabnya yang semakin membuat hati Al merasa sedih. “Setiap hari aku sellau berdoa untuk, Papi, Uncle” Al pun mengelus lembut kepala anak laki-laki ini. Pintu terbuka menandakan seseorang memasuki kamar ini membuat Al dan Azka menoleh ke arah pintu. “Mami” panggil Azka, Asha pun tersenyum. Al akan bangkit dari duduknya namun Asha membiarkan Al dan Azka tetap duduk menemani Baim di sini. “Tidak perlu pergi, Kakak hanya akan pamit kepada Mas Baim, dan juga Azka” ucapnya membuat kening Al berkerut. “Pamit?” Ulangnya dan di angguki oleh sang kakak ipar. “Kakak ada urusan bebrapa hari di luar kota, jadi Kakak titip Azka juga Mas Baim bersama kamu dan mama dahulu” kata Ashana dan di angguki oleh Al. “Aku pergi dulu ya, Mas, hanya beberapa hari saja” ucapnya llau mengecup kening ssang suami, setelahnya barulah dia berpamitan kepada sang putra yang sudah berdiri di sampingnya. “Mama berangkat dulu ya, Nak. Kamu jangan nakal ya, jangan merepotkan Omah, Opah, dan Uncle” pesan Ashana kepada Azka dan di angguki oleh anak kecil itu, dia pun mengecup kening sang putra sebelum keluar dari kamar ini. “Kakak titip mereka berdua ya, Al” katanya dan lagi-lagi di angguki kepala oleh Al sebagai jawabannya. Sudah 2 hari Azka tinggal bersama Al di apartemennya, anak laki-laki itu yang meminta sendiri untuk tinggal dengan sang paman, setiap harinya Al selalu memanjakan dan membawa Azka bermain, membuat anak laki-laki itu senang sudah menjadi tanggung jawabnya. Namun malam ini badan Azka mengalami demam yang cukup tinggi Al merasa bingun harus bagaimana dia pun menghubungi sang Ibu dan menyuruh Al untuk mengompres Azka lebih dulu, Al pun mengikuti intruksi sang Ibunda, dia mengompres kening Azka dan malam ini Al tidak bisa tidur nyenyak karena kondisi Azka yang masih demam membuat Al cemas. Hingga pagi hari al langsung membawa Azka ke rumah sakit, di mana hari ini pun di akan bertemu dengan Faeyza untuk membahas mengenai perkembangan Baim. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun tetap hati-hati. ** Sementara itu Faeyza baru saja tiba di rumah sakit, dia tengah berjalan menuju ruangannya sorot matanya pun melihat sosok yang dia kenali, dokter cantik dan ramah di rumah sakit ini. Langkahnya segera mendekati dokter tersebut hingga mensejajarkan langkahnya dengan langkah snag dokter wanita. “Selamat pagi, Bu Dokter?” Sapanya membuat dokter wanita tersebut menolah dengan senyum ramahnya. “Pagi juga, dokter Faeyza” jawabnya. “Tumben baru sampai, Qy?” Tanyanya kembali kepada Qyara, ya dokter wanita yang Faeyza hampiri adalah Qyara, dia pun bertugas di rumah sakit ini. “Jalanan yang macet membuat aku telat sampai ke rumah sakit” jawabnya. “Kapan Ibu Kota ini bebas dari macet?” Sambung Qyara. “Kapan-kapan!” Jawab Faeyza membuat Qyara menggelengkan kepalanya. “Silakan lanjutkan perjalanan anda, Pak Dokter!” Ucap Qyara, ternyata dia sudah lebih dulu sampai di depan ruangannya. “Wah, sepertinya saya harus protes kepada Direktur rumah sakit ini, karena ruangan anda begitu dekat sedangkan ruangan saya masih berada di ujung sana!” Canda Faeyza dan di tanggapi dengan tawa oleh Qyara. “Silakan!” Jawab Qyara dengan candaan pula. “Aku duluan, Kak!” Pamitnya pada Faeyza dan di angguki olehnya. Setelah Qyara memasuki ruangannya Faey pun melanjutkan langkah kakinya menuju ruangannya berada. Setibanya di ruangan Faey segera merapihkan dirinya menggunakan jas putihnya lalu mengantung jaket yang dia kenakan. Baru saja Faeyza terduduk di kursi putarnya seseorang sudah mengetuk pintu ruangannya, ternyata perawat yang bertugas bersama denganya hari ini. “Pagi, Dok. Maaf, Dok ada pasien yang ingin bertemu dengan, Dokter dia mnegatakan sudah mebuat janji dengan, Dokter” kata si perawat. Faeyza sedikit berfikir dan dia baru sadar jika itu mungkin Altezza, karena mereka sudah membuat janji. “Suruh masuk” perintahnya dan di angguki oleh si perawat. Tak lama muncullah pria tampan sembari menggendong seorang anak kecil. “Kenapa Azka?” Tanya khawatir Faeyza. “Semalam badannya demam bawa gue ketemu Dokter Anak terbaik di sini!” Pinta Al. Awalnya Faeyza sedikit bingung harus bagaimana, hingga akhirnya dia pun menganggukkan kepala dan mengajak Al menuju ruang Dokter Anak di rumah sakit ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD