Bangun tidur ku disambut dengan salah satu orang yang paling ingin aku hindari seumur hidup. Aku tidak tahu bagaimana penampilanku karena tidak ada cermin di sini tapi aku berani jamin, aku kelihatan jelek sekali. Meski begitu, Mama Jo malah menyodorkan apel yang sudah dipotong kecil-kecil. “Selamat pagi, Aya! Mau apel?” tawarnya dengan senyum cerah. Aku tersenyum canggung sambil mengambil piring berisikan apel yang disodorkannya dengan gugup. Kalau Mama Jo tahu apa yang telah aku lakukan pada anak sulungnya itu, apa dia masih akan sebaik ini padaku? Subuh-subuh tadi, tiba-tiba saja Mama Jo datang dengan membawa buah-buahan. Setelah memakan habis bubur jagung sambil berbincang dengannya, aku langsung disuruh tidur. Aku pikir dia akan pulang dan tidak akan kembali lagi ke sini. api tid

