Astaga. Aku tidak tahan menahan wajah julidku. Tanpa bisa ku tutupi lagi, aku memicingkan mata sambil mengangkat ujung bibir bagian atasku.
Apa coba maksudnya seperti itu?
"Nggak mau beneran, Jo?" tanyaku ulang berusaha memastikan.
"G."
Aku melirik Bima yang duduk di sebelahnya, berusaha mencari qlue tentang apa yang terjadi sebenarnya pada cowok aneh ini. Kenapa tiba-tiba acting ala-ala cowok cool sih? Nggak banget.
"Lagi bad mood dia, Ya," jelas Bima sambil merangkul pundak Jo. "Dari tadi pagi, nggak tahu gara-gara apa," lanjutnya.
"Karena nggak diucapin selamat pagi sama ayang kali," ceplos Sandra asal sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh iya, sekarang kan Jo udah punya ayang!" seru Bima penuh semangat, teriakannya persis seperti suporter sepak bola.
"Semangatin dulu dong, Ya. Kasian itu cemberut mulu," usul Dela dengan nada meledek.
"Apaan sih." Aku melirik Jo yang diam saja melihat tingkah laku 3 kunyuk yang tidak punya tata krama ini.
Tiba-tiba saja, mereka bertiga berdiri secara serempak. Dela dan Sandra membawa ge;as minuan dan mangkuk yang masih tersisa sedikit makanan, sedangkan Bimo membawa tasnya yang besar itu.
“Eh, kalian mau ke mana?” tanyaku panik, berusaha menghentikan mereka yang sudah berjalan mendekati meja lain.
“Kami makan di sini saja.” Bima menunjuk sebuah meja yang berjarak cukup jauh dari tempatku duduk. “Nggak mau ganggu orang pacaran,” lanjutnya sambil tersenyum menyebalkan.
Astaga. Kenapa pada salah paham, sih? Dengan segera, aku menyambar tasku, berniat menyusul mereka bertiga, namun urung saat menyadari lagi-lagi Jo hanya diam saja seperti patung. Aku membuang napasku. “Lo nggak mau ngumpul ke sana sama mereka, Jo?” tanyaku.
Tanpa menoleh ia menjawab, “G.”
Dengan segenap kesabaran yang hanya setipis bulu-bulu halus di kulitku, aku kembali bertanya, “Yakin?”
“Y.”
Astaga. Dunia memang sepertinya hobi sekali melihat mood-ku naik turun seperti roller coaster. Padahal tadi aku baru saja senang karena berhasil membalaskan sedikit dendamku pada Dimas, sekarang aku kembali emosi melihat tingkah aneh Dimas.
“Ya udah, kalau gitu lo sendirian di sini, ya. Gue mau nyusul mereka.” Aku berdiri. Tanpa berniat melirik Jo lagi, aku langsung melangkahkan kakiku.
“Aku lagi ngambek.”
Baru dua langkah, dan kini aku terpaksa berhenti karena ucapan Jo. Ini aku tidak b***k, kan? “Hah?” tanyaku untuk berusaha meyakinkan pendengaranku.
Dengan pandangan yang masih fokus dengan ponsel yang menampilkan game perang-perangan yang entah apa namanya, Jo kembali mengulang perkataannya, “Aku lagi ngambek.”
Sayang seribu sayang, ternyata pendengaranku tidak salah. “Ya … terus?” Apa hubungannya denganku?
Dapat kulihat dengan jelas Jo membuang napasnya dengan kasar. “Aku ngambek karena kamu.”
Dih. Apa salahku, coba?
Aku mengedikkan bahu. Rasanya jauh lebih seram daripada menonton film horor tengah malam. "Apaan sih, nggak jelas banget."
"Cewek emang suka ingkar janji, ya?" tanyanya sambil menatapku dengan sorot mata serius.
Oh, jadi beneran ngambek nih? "Loh, kok tiba-tiba bilang kayak gitu, sih?" karena aku tidak ingin terlihat seperti anak kucing yang ketakutan karena ditatap Jo dengan sorot datar seperti itu, akhirnya aku memilih berbicara dengan nada nyolot.
"Soalnya yang di depanku ingkar janji. Udah gitu nggak merasa bersalah lagi."
Posisi Jo sekarang menghadaku dengan sempurna. Tidak ada orang di belakang maupun samping ku yang sudah pasti, sindiran itu tertuju padaku. Sial banget, nih orang memang ngajak ribut.
"Lo nyindir gue?" tanyaku polos sambil menunjuk diriku sendiri.
Jo mengangkat bahunya acuh. "Ya terserah situ. Kalo situ nyadar ya syukur. Kalo enggak ya udah." Ia membuang muka.
Astaga, rasanya seperti mengurus bocil ngambek karena tidak dibelikan mainan. "Emangnya gue ingkar apaan sih?"
Bahkan setelah aku memutar otak sampai rasanya kepalaku mau pecah, aku masih tidak bisa menemukan letak kesalahanku dimana. Demi apapun, aku tidak pernah berjanji padanya.
"Tau. Tanya aja sama Milo."
"Milo siapa?"
"Kucingku."
Dih, apa hubungannya sama kucing dia?
Aku membuang napas dengan keras. Kesabaranku yang super tipis ini sudah habis. “Nggak jelas banget,” dumel ku sambil berusaha untuk kembali berdiri namun gagal karena salah satu pergelangan tanganku digenggam oleh Jo entah sejak kapan.
Bisa-bisanya aku tidak merasakan apapun.
“Kenapa sih? Katanya situ lagi ngambek. Jadi gue mending pergi aja, dong,” seruku tak sabaran.
“Masih ada 4 jam lagi,” ucap Jo yang kini bertambah aneh. Kenapa sih dia hobi ngomong setengah-setengah? Jadi greget sendiri.
“4 jam apa?” tanyaku frustasi. Coba saja sorot matanya tidak setajam itu, pasti aku sudah berani menjambak rambut cowok nggak jelas ini.
Jo membuang napas. “Masih 4 jam lagi sebelum stroy-ku hilang. Kamu masih bisa repost story-ku atau mau aku bantuin? Sini, mana hape kamu?” tangan Jo bergerak, hendak meraih ponselku dan segera aku gagalkan rencananya.
“Apaan, sih? Nggak jelas banget. Ngapain coba nge-repost story lo?”
Jo kini menggelengkan kepalanya, berlagak seperti seorang yang sedang frustasi. Seharusnya aku yang melakukan gerakan seperti itu! “Pikun.”
Dih, ngatain?
“Enak aja! Situ kali yang pikun.” Tentu saja aku tidak terima disebut pikun/. Aku ini Nataya Winata, salah satu mahasiswi
Universitas Petsada dengan ingatan terbaik. Berani sekali dia menyebutku pikun.
“Kalau nggak pikun berarti kamu ingat dong semalam janji apa sama aku,” serbu Jo yang sama sekali tak memberiku ruang untuk mengomel.
Aku berdecak. “Janji ya--”
“Kamu janji bakal nge-repost story-ku.”
Tiba-tiba saja, aku membeku. Kembali teringat di kepalaku segala hal yang terjadi semalam bersama Jo--yang tentu berusaha aku lupakan.
“Aku udah tag kamu, jangan lupa repost, ya.”
Aku ingat dengan sangat amat jelas bagaimana Jo mengatakannya lalu aku menjawab ….
“Hm.”
ASTAGA, AKU KENAPA SIH! BISA-BISANYA AKU MENYETUJUI PERMINTAAN JO.
“Diam aja berarti kamu ingat, nih?” sorot mata Jo menelisik setiap gerak-gerikku yang gelisah.
Sial. Apa yang harus kukatakan untuk membela diriku?
Tidak ada lagi sorot tajam di kedua netra cokelat gelap itu. Kini, sorot pandangan Jo berubah jail sambil menaik-turunkan sebelah alisnya dengan cepat.
Nyebelin banget.
“Ingat, kan?”
Aku membuang napas kasar. “Oke, aku repost sekarang.”
Baru saja aku hendak membuka aplikasi i********:, Jo sudah terlebih dahulu merampas ponselku secara semena-mena.
“Udah nggak berlaku lagi itu,” ucap Jo sambil tersenyum miring. Sinyal otakku langsung menangkap jika pria ini sudah merencanakan sesuatu yang tidak terduga.
“Loh, nggak bisa gitu dong! Kan itu masih ada 4 jam," protes ku dengan kedua tangan yang bergerak cepat, hendak merebut balik ponselku namun sialnya selalu gagal.
"Semalam kayaknya hasil fotoku kurang bagus, lupa pakai filter. Makanya kamu nggak mau repost. Jadi kita bikin yang baru aja di hape kamu. Pasti banyak filternya, kan?" tanpa segan-segan, Jo memilah-milah filter di akun i********:-ku meski aku menclak-menclak tidak terima.
"Nah, ini bagus!"
Sedetik setelahnya, Jo tiba-tiba saja menarik pinggangku. Aku yang sedang berdiri dengan posisi tidak siap langsung terhuyung, membuat tubuhku menabrak d**a Jo dan detik itu juga, terdengar bunyi cekrekan.
Jo sialan.
Dengan wajah nanar nan pasrah, aku menatap hasil foto kami yang kini sudah tersebar luas se-jagat raya. Posisi tubuh kami sangat dekat, dengan tangan Jo yang melingkar di pinggangku, pose kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku memposting sesuatu di media sosialku.