13. hot news

1232 Words
Sejak tadi, jantungku berpacu dengan cepat. Kedua mataku yang sudah merah lantaran terus membaca rentetan tweet dari akun-akun yang tidak aku kenali. Aku seperti orang gila. Dengan mata merah, rambut acak-acakan, serta baju tidur yang kupasang asal. Sama sekali tidak memedulikan fakta bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul 3 malam. Perasaan gila itu kembali lagi. Aku terobsesi membaca rentetan menfess kampus yang membahas tentang hubunganku dengan Jo. Aku akan menangis jika membaca ujaran kebencian padaku dan sebaliknya, aku akan tertawa terbahak-bahak jika mereka mendukungku. Keadaan seperti ini tidak asing. Persis seperti beberapa bulan yang lalu saat aku menjadi hot news seisi kampus lantaran “menghabisi” Dimas yang ketahuan berselingkuh. @cewekaneh: gila, Aya memang hobi banget buat drama. Lihat aja, beberapa bulan lagi pasti putus terus meski-maki Jo di depan umum “Cewek aneh! Username sama orangnya nggak ada bedanya. Aneh,” dumel ku meski untuk kesekian kalinya, air mata turun membasahi pipiku. Kenapa sih, ketikkan orang-orang jahat banget? Labelnya saja mahasiswa, tapi kelakuannya sama seperti unta gila. Aku terpanjat saat tiba-tiba saja beranda Twitter-ku berubah saat sebuah panggilan masuk datang tiba-tiba. Jo. Ck, pria ini sepertinya memang tidak ada kerjaan. Apa faedahnya nelpon tengah malam begini? Nggak jelas banget. Mood-ku sedang jelek-jeleknya saat ini. Jika aku mengangkat telepon dari Jo, sudah pasti mood-ku akan beribu-ribu kali lebih jelek. Jadi, lebih baik tidak usah. Jo: Ya, masih bangun? Jo: Teleponnya kenapa nggak diangkat? Jo: Angkat ya, mau ngomong sebentar aja kok Sedetik setelahnya, Jo kembali menelponku. Dasar cowok keras kepala. Aku bertaruh dia akan terus menerorku jika aku tidak mengangkat teleponnya. “Kok tadi nggak diangkat?” tanya Jo dari seberang sana. Tanpa salam tanpa permisi. “Gue mau ti--” “Kenapa belum tidur? Itu matanya kok bengkak? Kamu nangis? Udah makan?” Astaga, demi para robot dan kecebongnya, kenapa cowok ini berisik banget, sih? bagaimana bisa aku menjawab kalau dia terus bertanya tanpa koma seperti itu? “Kok malah diam? Pertanyaanku kenapa nggak dijawab?” Kan, sudah kukatakan sebelumnya. Mood-ku akan beribu-ribu kali lebih jelek dari sebelumnya jika mengangkat telepon dari cowok nggak jelas ini. “Ngapain sih, telepon malam-malam? Ganggu banget,” gerutu ku sambil mengacak-acak rambut. “Main, yuk!” Astaga … cobaan apalagi ini? “Gila, udam malam.” “Coba lihat video yang barusan aku kirim. Kalau berubah pikiran, kamu tinggal bilang biar aku jemput.” Setelah itu, Jo langsung menutup sambungan telepon yang membuatku semakin kesal. SEHARUSNYA AKU YANG MATIIN TELEPONNYA! Meski aku sebenarnya males banget lihat video yang beberapa detik lalu dikirimkan Jo, tapi jari nakalku ini malah memencet tombol putar dengan semena-mena, membuatku mau tak mau harus menontonnya. Sebuah tempat yang entah di mana. Terlihat sangat ramai dengan lampu-lampu yang tergantung di pohon-pohon rindang, puluhan gerobak pedagang yang menjual makanan yang enak banget disantap malam-malam begini, belum lagi suara musik yang amat memanjakan telinga. Aku jadi tergoda. Me: dmn? Jo: Mau ikut? Me: g. Dmn? Jo: Biar tahu sekarang makanya ikut Me: g Jo: Mau, ya? Aku udah di depan tempat kos kamu nih APA-APAAN SIH DIA? Tengah malam begini nangkring di rumah orang, cewek pula! Dikira maling baru tahu rasa. Dengan gerakan kasar, aku menyibak sedikit gordenku untuk melihat apakah ada seseorang diluar sana dan benar saja. Sebuah mobil putih HRV--Jo sepertinya punya banyak sekali stok mobil di rumahnya sampai bisa gonta ganti seenaknya begitu--sudah terparkir di depan kosku. Me: NGAPAIN SIH! Jo: Kan aku ngajak keluar Me: KAN GUE NGGAK MAU IKUT Jo: Ya sudah aku pergi Sial. Sial. Sial. Memang dunia tidak pernah berpihak padaku. Bahkan kini, diriku sendiri saja tidak dapat berkompromi. Buktinya, kaki sialan ini malah berjalan keluar kos, membuka pagar dengan gerakan se-pelan mungkin supaya tidak menimbulkan suara. Tidak hanya itu, hanya pakai baju tidur pula. Memang sudah gila. “Loh, katanya tadi nggak mau ikut,” suara menyebalkan Jo menyambut ku sepersekian detik setelah aku membuka pintu mobilnya. “Lo ngapain sih, di sini tengah malam? Dikira maling baru tahu rasa,” cibir ku sambil menutup pintu mobil dengan keras. “Memang ada maling seganteng ini?” Perkataan penuh percaya diri dari Jo itu membuatku sontak menoleh. Cahaya remang-remang dari lampu mobil yang masih menyala itu membuatku dapat melihat penampilan Jo meski tidak terlalu jelas--dan sialnya malah terlihat semakin tampan. Dengan celana kain berwarna abu tua, hoodie maroon bertuliskan Pull&Bear serta kacamata bulat. Heran, tengah malam gini kok orang masih bisa se-cakep itu, sih? “Ngaco.” Dalam sekejap, aku membelalakkan mataku saat menyadari mobil yang aku tumpangi sudah berjalan keluar dari gang kompleks. Sial. Dasar licik! Aku melirik Jo dengan tatapan membunuh dan yang aku lirik—sialnya malah senyum-senyum nggak jelas. ASTAGA! Rasanya aku ingin menjambak rambut yang sedikit berantakan itu jika saja aku tidak sayang nyawa. “Putar balik, nggak!” ucapku berteriak dengan suara yang sengaja aku cempreng-cempreng kan agar telinganya berdengung nyeri. “Kalau nggak mau gimana?” Wah … dia nantangin. “Gue laporin lo atas tuduhan penculikan. Cepat putar balik!” Tawa Jo terdengar. Suara beratnya itu memang melawan teriakan cempreng ku hanya dalam hitungan detik. “Penculikan gimana? Kan kamu sendiri yang masuk ke dalam mobilku. Lagi pula kita sudah sampai, kok.” Entah karena aku sedari tadi sibuk berteriak-teriak hingga tidak fokus pada jalan atau memang jarak tempat yang dituju Jo sangat dekat dengan tempatku tinggal, aku tidak sadar bahwa kini mobil Jo sudah terparkir. Aku menatap ke luar jendela dengan alis yang menyatu. Gelap. Tidak ada cahaya dari lampu warna warni yang tergantung di pohon rindang atau pun sura musik jazz yang menenangkan pikiran serta pedagang berbagai jenis makanan. Tempat ini benar-benar gelap. Jo sialan! Aku dibawa ke mana, sih? Awas saja kalau berani macam-macam, akan kupotong anu-nya. “TEMPAT APA SIH, INI! LO BENERAN MAU CULIK GUE, YA?” teriakku frustasi. Biarkanlah suaraku serak nantinya yang penting aku bisa menumpahkan semua kemarahanku. “Kita sudah sampai,” jawab Jo dengan ringan. “SUDAH SAMPAI DARI MANA COBA? INI TEMPAT APAAN! AWAS AJA LO BERANI MACAM-MACAM. JAUH-JAUH SANA!” Bukannya menurut atau minimal memberi penjelasan, dia malah ketawa-ketawa nggak jelas sambil mematikan mesin mobil, membuat kami kini dalam kegelapan total. Kedua tanganku terkepal erat dalam posisi siaga, bersiap meninju apapun yang bergerak mendekatiku. “Jo, kalo lo berani macam-macam, gue jamin masa depan lo terancam. Gue mantan atlet silat," ancamku penuh penekanan. Beberapa detik berselang, lampu kabin mobil dinyalakan, membuatku kembali bisa melihat wajah Jo yang malah tersenyum lebar. "Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok, tenang aja." "TENANG AJA GIMANA!" teriakku tak setuju. "Lo aja berhenti di lapangan gelap kaya gini." "Ini masih daerah kos kamu, kok. Nggak sampai 5 menit dari kosmu kalau jalan. Kata kamu kalau parkir di depan tempat kos mu ntar aku dikira maling, jadi kita parkir di sini aja." Apaan sih cowok ini? Nggak jelas banget. "Katanya mau ngajak pergi, kok malah ke sini?" jelas sekali aku bete setelah kena tipu. "Sudah malam, kamu juga cuma pakai baju tidur. Nanti kedinginan." "Jadi di sini mau ngapain? Mending gue pulang aja deh!" tanganku yang baru saja menyentuh pintu mobil langsung digenggam Jo dengan erat. "Jangan gitu dong, aku udah beliin makanan yang banyak buat kamu." Mata Jo melirik ke arah kursi belakang, membuat refleks mengikuti arah tatapannya. Dan … aku semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran cowok pemilik mobil HRV putih yang kini kursi belakangnya dipenuhi oleh puluhan kotak makanan seperti seseorang yang hendak memberi makan 20 orang alias BANYAK BANGET!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD