14. gagal mukbang

1287 Words
Dengan senyuman lebar, Jo mengangkat kantong plastik berisi berbagai macam makanan itu dengan penuh semangat dengan kedua tangannya. “SURPRISE!!!” teriaknya dengan heboh dan … krik krik. Ya, reaksiku biasa saja. “Ngapain, sih?” dia pikir aku tergoda dengan makanan segitu banyak? Tidak--tapi bohong. “Kita makan di sini aja. Nih, aku beliin kamu semua makanan yang dijual di sana. Ada telur gulung, popcorn, seblak, banyak deh pokoknya. Kamu buka aja sendiri.” Seblak? Sial. Pertahanan ku mulai goyah. “Nggak banget. Mana ada orang makan di mobil dengan pemandangan gelap gulita kayak gini?” gerutuku tak senang meski diam-diam, aku terbuai dengan aroma makanan yang semakin lama semakin jelas. “Kalau gitu nonton Netfl*x di hp ku mau, nggak? Aku punya rekomendasi film seru nih!” Jo beralih untuk mengambil ponselnya dari saku celana. “Nggak ah!” tolak mentah-mentah. “Gue mau pulang aja,” lanjut ku, kembali berusaha membuka pintu mobil tapi sialnya malah terkunci. “Bukain, dong! Gue mau pulang. Nggak guna banget di sini berdua sama lo. Mending gue tidur,” cercaku yang tanpa sadar berhasil membuyarkan senyuman yang dari tadi terpasang di wajah Jo. Jo menghela napas, menatapku dalam dengan tatapan yang … entahlah apa maksud dari tatapan sayu itu. “Jangan gitu dong, Ya. Kan aku beli ini semua untuk kamu. Masa kamu malah mau pergi, sih?” Mendengar suaranya yang terdengar putus asa, aku jadi sedikit melunak. Aku menatap puluhan kotak makanan dengan nanar. “Tapi lo nggak jelas banget. Masa di sini, sih? Entar kalau kita dituduh ngaa-ngapain gimana?” “Ya kan kita nggak ngapa-ngapain. Cuma makan sambil nonton doang, kok,” jawab Jo yang jelas sekali tidak paham kemana ranah pembicaraanku. “Ya nggak bisa gitu dong, Jo. Pokoknya gue nggak mau di sini,” putusku sepihak sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a. “Kalau nggak mau di sini jadi di mana, Ya?” tanya Jo dengan wajah memelas. “Katanya kalau di depan kosmu ntar dikira maling.” Aku berdecak. Tuh kan, baru saja aku melunak sedikit dia sudah bersikap menyebalkan lagi. “YA NGGAK DI SANA JUGA!” “Jadi di mana?” “Terserah.” Jo menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis. Wajahnya seperti sapi yang tidak diberi makan berhari-hari a.k.a lemas banget. Hahaha, aku merasa sedikit puas sekarang. “Kalau kamu jawab terserah aku jadi bingung, Ya.” “Lo pikir cuma situ yang bingung, gue juga kali! Udah jalan aja terserah mau ke mana.” Sekali lagi, mampus. Dengan wajah pasrah, Jo akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya. Setengah mampus aku menahan ketawa lantaran melihat wajah Jo yang bad mood lantaran harus pindah tempat. Rasain. Lagian, mukbang kok di tengah lapangan, gelap pula. Mobil yang kami tumpangi berjalan dengan kecepatan pelan sekali meski kami tengah melintasi jalan raya, membuatku setengah mampus menahan rasa kantuk karena udara yang dingin ditambah suasana hening tanpa interupsi radio mobil. “Jangan tidur loh, Ya. Sebentar lagi kita sampai,” suara rendah Jo membuat mataku yang nyaris terpejam kembali terbuka lebar. Baru aku sadar kalau sekarang kami tidak lagi membelah jalan raya, melainkan jalan tanpa aspal dengan bebatuan kecil dan sekali lagi, tanpa lampu penerangan yang cukup. Ck, sebenarnya apa sih yang ada di otak Jo? Sudah jelas tadi aku protes karena lapangan yang gelap, kenapa marah dibawa ke tempat gelap lagi? “Lo kalau bawa gue ke tempat aneh awas lo ya, Jo. Besok gue jamin otak lo tinggal setengah,” ancamku dengan nada was-was. Sial banget, seharusnya aku bawa pisau lipat atau apa kek untuk mengamcam cowok aneh ini biar dia takut. “Nggak aneh, kok. Tenang aja,” elaknya. “Nggak aneh pala lo! Ini aja kita masuk ke semak-semak ngapain coba!” gerutuku sambil memukul ringan bahu Jo. Sumpah, kesel banget. Jo berdecak. “Ini sebentar lagi juga sampai. Belok sedikit, parkir sampai! Lagian ini tuh pohon-pohon, bukan semak-semak. Udah kamu tenang aja,” jelas Jo dengan suara yang sedikit meninggi. Demi menjaga tekanan darahku agar tetap berada di status normal, aku memilih untuk diam. Untung saja, Jo menepati janjinya. Belok sedikit, parkir, sampai. “Lihat tuh, ngga gelap kan?” dia menunjuk lampu-lampu yang bergantung di atas meja-meja dengan kursi sepasang. “Ayo keluar!” ajaknya. “Nggak mau, ah.” Aku menggeleng. “Nggak ada orang.” Jo menghembuskan napasnya dengan kasar. “Ya kan tempatnya tutup. Nggak ada orang, lah.” Aku meliriknya dengan satu alis terangkat. “Terus ngapain kesini kalau tempatnya tutup?” tanyaku sewot. “Tutupnya buat orang lain aja, Ya. Buat kita enggak,” jawab Jo sambil sibuk mengambil satu-persatu plastik makanan. Dia terlihat kesulitan, tapi sayang sekali aku tidak berniat membantunya. “Apaan, sih. Nggak jelas banget. Nanti di grebek yang punya baru tahu rasa.” “Nggak akan digerebek, Aya ….” ucapnya dengan panjang. “Sok tahu.” “Mau digrebek sama siapa? Kan aku yang punya.” Seketika, aku langsung membeku. Apa Jo tengah membuat lelucon garing sekarang? Tempat ini ... dia yang punya? Mana mungkin! Dengan cepat, aku menoleh padanya. “Lo bo--” Bruk! Tanpa ba bi bu, pintu mobil telah ditutup dengan kasar tanpa memperdulikanku yang tengah berbicara. Lihatlah, bahkan tanpa menoleh sedikitpun, Jo dengan teganya langsung duduk di salah satu kursi yang menghadap pada gemerlap lampu di dataran yang lebih rendah. Sama sekali tidak memperdulikan aku yang masih ada di dalam mobil. Jahat banget. Awalnya, aku ingin tetap di mobil sampai Jo bosan menatap pemandangan gemerlap lampu dan mengantarkanku pulang. Tapi nyatanya, baru lima menit saja rasanya aku sudah akan bertelur alisas lama banget! Mana aku tidak membawa hape lagi. Akhirnya, setelah berkutat dengan rasa gengsi yang tinggi, aku turun dari mobil dan berjalan ke arah Jo dengan langkah sekecil mungkin agar memakan waktu lama sambil berharap, Jo tidak akan mengejekku. “Nah, akhirnya keluar. Ini makanan nya udah dingin. Mau beli yang baru aja?” tawar Jo sambil menunjuk puluhan plastik makanan yang belum tersentuh. Wow … diluar dugaan. “Eee … nggak usah deh,” jawabku kaku sambil duduk di kursi kosong tepat di samping kanannya. “Yakin? Ini rasa makannya udah nggak enak lagi kalau dingin, nanti kamu sakit perut. Kita beli yang baru aja, ya?” Jo menatapku dalam dengan rait khawatir di balik kacamatanya. Deg. Deg. Deg. Sial. Sial. Sial. Kenapa aku jadi deg-degan nggak karuan begini, sih? Padahal aku cuma ditawari makanan baru. Kaya ABG baru dapat pacar aja! “Alay!” sahutku setelah berhasil mengusir rasa gugup yang tiba-tiba saja datang. Dengan cepat, menyambar satu plastik yang ternyata berisi sepuluh tusuk cilor dan langsung memakannya. “Masih enak, kok! Kalau jadi orang tuh jangan suka boros, Jo. Ya … meski kayaknya uang lo nggak akan habis cuma buat beli makanan lagi. Kalau belum basi ya dimakan aja, jangan mubazir. Kasian orang diluar sana yang susah nyari makanan meski cuma cireng lima ribuan,” cerocos ku panjang sambil mengunyah cireng yang ternyata enak juga. Jo menggaruk tengkuknya, persis seperti orang yang lagi saling. “Iya deh iya, aku nggak boros lagi.” Aku mengangguk puas. “Btw, lo punya tisu nggak? Mulut gue kena minyak banyak, nih,” tanyaku. Jo menggeleng. “Yah … aku nggak bawa.” Aku membuang napas lemas. Astaga, rasanya nggak nyaman banget. Mana minyaknya belepotan sampai ke pipi, lagi. Kalau aku lap pakai baju tidurku, otomatis aku harus mengangkatnya dan … perutku bakal keliatan. Ogah banget kasih tontonan gratis untuk Jo di tengah malam, mana tempat sepi pula. "Sini aku lap pakai jaketku aja." Tanpa menunggu kesiapanku, jaket denim Ko sudah mendarat dengan halus di bibirku. Tercium aroma parfum maskulin yang rasanya lembut saat dihirup oleh hidung kala Jo menggerakkan jaketnya dengan penuh kehati-hatian. "Maaf aku nggak beli tisu aja, soalnya kata kamu aku disuruh hemat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD